Tips singkat
- Kenali tipe sulit seperti apa dia.
- Kirim kabar singkat sebelum dia minta.
- Tetapkan batas pribadi soal berapa lama kamu bertahan.
Ada satu jenis kecemasan Minggu malam yang muncul dari atasan yang sulit. Bukan soal pekerjaannya. Pekerjaan, kamu bisa kerjakan. Yang berat adalah ketidaktahuannya: versi dirinya yang mana yang muncul Senin nanti, apakah hal yang kamu kirim Jumat akan diterima baik-baik saja atau malah menyeretmu ke masalah, seberapa banyak waktu seminggu yang habis untuk mengurus suasana hatinya alih-alih mengerjakan tugasmu.
Kalau itu yang sedang kamu alami, mulailah dari satu hal yang benar-benar nyata dan sedikit melegakan. Kamu tidak bisa membuat orang dewasa lain menjadi berbeda. Kamu tidak bisa berdebat sampai atasanmu jadi lebih tenang, lebih jelas, atau lebih baik. Yang bisa kamu lakukan adalah menjadi lebih cerdik dalam bekerja sama dengan orang yang ada di depanmu, melindungi pijakanmu sendiri, dan memutuskan, dengan jujur, sampai kapan ini masih bisa dijalani. Itulah arti sebenarnya dari menghadapi atasan ke atas. Bukan menjilat. Bukan main akal-akalan. Sebuah usaha yang disengaja untuk membuat hubungan yang berat bisa berjalan cukup baik supaya kamu tetap bisa bekerja dengan baik di dalamnya.
Pertama, kenali tipe sulit yang mana
"Sulit" mencakup banyak hal, dan respons yang tepat tergantung pada tipe yang kamu hadapi. Ada baiknya kamu jujur dan cermat pada diri sendiri, karena tiap strategi menarik ke arah yang berbeda.
Ada atasan yang berantakan dan reaktif. Prioritas berubah tiap jam, tidak ada yang tercatat, dan kamu selalu membereskan akibat dari keputusan yang kamu sendiri tidak tahu sudah dibuat.
Ada micromanager, yang merasa perlu ikut campur dalam segala hal, menulis ulang email-mu, dan membaca setiap kemandirian sebagai ancaman.
Ada atasan yang moody atau temperamental, di mana ketidakpastian itu sendirilah bebannya. Kamu menghabiskan energi untuk meramal cuaca.
Dan ada atasan yang perilakunya melewati batas yang nyata: perundungan, perendahan, pelecehan. Kategori terakhir ini berbeda jenis, bukan sekadar berbeda kadar, dan sebagian besar tulisan ini membahas tiga yang pertama. Tipe yang melewati batas itu akan kita bahas nanti.
Mengenali tipemu itu penting karena solusi untuk yang satu justru langkah keliru untuk yang lain. Banjir kabar proaktif yang menenangkan micromanager malah akan menyesakkan atasan yang lepas tangan dan membuang-buang waktumu. Diagnosis dulu sebelum mengobati.
Seperti apa itu dalam praktik
Untuk atasan yang berantakan, tugasmu adalah menjadi ingatan dan tulang punggung pekerjaan. Catat apa yang diputuskan lalu kirimkan kembali. Simpan daftar berjalan soal hal-hal yang belum kelar dan munculkan sebelum semuanya berantakan. Kamu bukan sedang mengoreksinya. Kamu diam-diam menyediakan struktur yang tidak ia berikan, dan seiring waktu kamu jadi orang yang tanpamu ia tidak bisa berfungsi.
Untuk micromanager, kamu sedang berusaha membangun kepercayaan dalam cicilan kecil yang terlihat. Komunikasikan berlebih di awal, kerjakan persis seperti yang kamu janjikan, dan perlahan lebarkan jeda antar pengecekan begitu ia mulai tenang. Tahan dorongan untuk menyembunyikan pekerjaanmu karena dongkol; dengan tipe ini, makin sedikit yang terlihat justru makin erat genggamannya.
Untuk atasan yang moody atau temperamental, keunggulanmu ada di soal waktu dan konsistensi. Pelajari iramanya, kapan ia mudah didekati dan kapan tidak, lalu arahkan percakapan penting ke jendela yang tepat. Tetaplah sama tak peduli suasana hati mana yang masuk ke ruangan. Kemantapanmu jadi satu hal kecil yang bisa diandalkan dalam harinya, dan biasanya itu berbalas.
Penasaranlah dengan tekanan yang ia tanggung
Ini satu cara pandang baru yang hasilnya melebihi yang terlihat. Atasanmu juga karyawan seseorang. Ia punya atasan, punya angka yang dipakai untuk menilainya, punya ketakutan yang sedang ia kelola, punya tenggat yang menekannya yang mungkin tak pernah kamu lihat.
Panduan klasik dari Harvard Business Review soal ini, *Managing Your Boss* karya John Gabarro dan John Kotter, menyampaikan satu poin yang terdengar jelas tapi hampir tak ada yang menjalankannya: hubungan ini berjalan dua arah. Kamu bergantung pada atasanmu, dan atasanmu bergantung padamu, lebih dari yang ditunjukkan bagan organisasi. Kebanyakan orang mengelola hubungan itu secara pasif, bereaksi pada apa pun yang turun dari atas. Orang yang berhasil mengelolanya dengan sengaja, dengan sungguh-sungguh memahami tujuan, tekanan, titik buta atasannya, serta cara ia suka menyerap informasi.
Bagian terakhir itu konkret dan bisa dipakai. Ada atasan yang cuma mau inti beritanya saja. Ada yang mau seluruh alasannya atau ia tidak percaya pada kesimpulannya. Ada yang membaca; ada yang perlu membahasnya lewat bicara. Banyak gesekan yang terasa personal sebenarnya hanya soal ketidakcocokan cara dua orang bertukar informasi. Cari tahu formatnya lalu berikan itu, dan banyak ketegangan yang ternyata mereda.
Tidak satu pun dari ini memaklumi perilaku buruk. Memahami kenapa seseorang seperti itu bukan berarti menerimanya. Itu hanya memberimu informasi yang lebih baik untuk dikelola.
Bangun jenis kepercayaan yang memberimu kelonggaran
Dengan atasan yang berat, naluri kita adalah diam. Menunduk, berbagi lebih sedikit, berharap tak terdeteksi. Biasanya itu malah menjadi bumerang, apalagi dengan atasan yang cemas atau suka mengontrol, karena diam dibaca sebagai masalah yang disembunyikan. Micromanager yang tidak bisa melihat apa yang kamu kerjakan akan berasumsi yang terburuk dan mengencangkan cengkeraman.
Langkah yang berlawanan dengan naluri adalah memberi lebih banyak, sebelum diminta. Sebuah kabar singkat dan teratur dengan irama yang bisa ia andalkan. Apa yang sudah kamu selesaikan, apa yang sedang kamu kerjakan, apa yang kamu butuhkan darinya, dan apa pun yang sebentar lagi bisa melenceng. Kamu bukan sedang berpura-pura sibuk. Kamu sedang menghapus ketidakpastian yang membuat atasan yang cemas merebut kemudi. Keterbukaan, yang diberikan dengan sukarela, sering kali justru yang akhirnya memberimu ruang untuk bekerja tanpa diawasi.
Beberapa kebiasaan yang membangun kepercayaan itu:
- Sampaikan kabar buruk lebih dini dan dari mulutmu sendiri. Atasan yang mendengar masalah pertama kali darimu, lengkap dengan rencana, belajar bahwa ia bisa mengandalkanmu. Yang tahu dari orang lain, belajar sebaliknya.
- Jadilah orang yang menuntaskan janji. Apalagi dengan atasan yang kacau, keandalan yang sederhana dan membosankan membuatmu jadi satu titik tetap yang tak perlu ia khawatirkan.
- Konfirmasikan keputusan secara tertulis, dengan baik. "Sekadar memastikan aku menangkapnya dengan benar, kita pakai opsi kedua dan menggeser tenggatnya ke tanggal 14, betul?" Ini melindungimu saat prioritas berubah, dan ia melakukannya tanpa setitik pun nada menuduh.
Kenapa bersuara terasa begitu berisiko di sini
Kalau kamu pernah memendam keresahan yang nyata karena menyuarakannya terasa berbahaya, kamu tidak lemah dan kamu tidak mengada-ada soal risikonya. Amy Edmondson, peneliti Harvard yang sudah puluhan tahun mempelajari ini, menyebut bahan yang hilang itu rasa aman psikologis: keyakinan bahwa kamu bisa menyampaikan ide, pertanyaan, atau kesalahan tanpa takut dihukum atau dipermalukan karenanya. Ketika ada, orang menandai masalah lebih dini dan hasil kerja jadi lebih baik. Ketika tidak ada, orang memilih bungkam, dan kebungkaman itu merugikan semua orang.
Atasan yang sulit sering kali, secara sederhana, adalah orang yang membuat bersuara jadi tidak aman. Jadi keraguanmu itu masuk akal. Soalnya, diam tidak membuat masalah hilang; ia hanya muncul belakangan, lebih besar, dan biasanya atas tanggunganmu. Tujuannya bukan jadi tak kenal takut dalam semalam. Tujuannya adalah menemukan hal jujur sekecil mungkin yang bisa kamu katakan, pada momen paling aman yang tersedia, lalu membangun dari sana.
Tangani percakapan berat tanpa memantik api
Kadang kamu memang harus mengangkat sesuatu secara langsung. Bayaran yang mereka mau terlalu rendah, tenggatnya mustahil, cara ia bicara padamu di rapat itu terasa salah. Menghindarinya selamanya bukan rencana. Meluapkan emosi padanya juga bukan.
Beberapa hal membuat percakapan seperti ini berjalan lebih baik:
- Pilih momennya. Jangan di depan orang lain, jangan saat salah satu dari kalian sedang panas. Atasan temperamental yang tertangkap di saat buruk akan mengubahnya jadi soal tantangan terhadap otoritasnya, bukan soal masalahnya. Tunggu sampai tenang lalu minta waktu beberapa menit.
- Bicarakan masalahnya, bukan orangnya. "Aku khawatir kita akan meleset dari tenggat kalau menambahkan ini tanpa melepas yang lain" memberinya masalah untuk diselesaikan bersamamu. "Kamu terus menumpuk pekerjaan ke aku" memberinya serangan untuk dibela. Fakta yang sama, percakapan yang sama sekali berbeda.
- Datang dengan usulan, bukan sekadar keluhan. Bawa opsi yang akan kamu pilih beserta konsekuensinya. Atasan, bahkan yang sulit sekalipun, jauh lebih mudah mengatakan ya pada sebuah rekomendasi daripada membereskan keluhan yang menggantung.
- Targetkan keselarasan, bukan persetujuan. Kamu tidak perlu atasanmu mengakui bahwa kamu benar. Kamu perlu mendarat pada satu rencana bersama yang bisa kalian berdua jalani. Itu dua hal yang berbeda, dan mengejar yang pertama biasanya merenggut yang kedua.
Lindungi kemantapanmu sendiri
Banyak kerusakan dari atasan yang sulit bukan terletak pada peristiwanya. Tapi pada apa yang kamu pikul di antaranya: percakapan yang kamu putar ulang pukul 11 malam, permintaan maaf yang kamu rangkai untuk sesuatu yang bukan salahmu, kepercayaan pada penilaianmu sendiri yang perlahan terkikis.
Jagalah itu dengan sengaja.
Simpan catatan diam-diam untuk dirimu sendiri, tanggal dan rinciannya, bukan untuk menyusun perkara, tapi supaya kenyataan tetap kokoh ketika ada yang memutarbalikkan ingatanmu tentangnya. Pelihara satu atau dua orang di luar situasi yang bisa memberitahumu mana yang wajar dan mana yang tidak, karena atasan yang buruk bisa diam-diam menggeser tolok ukurmu soal apa yang normal. Dan pisahkan isi masukan dari cara penyampaiannya. Seorang atasan bisa benar-benar tidak menyenangkan dan sesekali tetap benar soal pekerjaan. Ambil bagian yang berguna. Letakkan bagian yang sekadar stresnya yang jatuh menimpamu.
Ini penting melampaui kenyamananmu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kondisi kerja yang buruk, termasuk pengawasan yang otoriter, pelecehan, dan ketiadaan kendali atas pekerjaanmu sendiri, sebagai risiko nyata bagi kesehatan mental, bukan keluhan yang manja. WHO memperkirakan depresi dan kecemasan menelan sekitar 12 miliar hari kerja per tahun di seluruh dunia. Atasan yang sulit bukan sekadar merepotkan. Kalau dibiarkan terus-menerus, ia jadi soal kesehatan, dan memperlakukan kesejahteraanmu sendiri sebagai sesuatu yang layak dilindungi adalah respons yang masuk akal, bukan berlebihan.
Kenali batasnya, dan tahu kapan harus pergi
Semua di atas mengandaikan atasan yang sulit diajak bekerja tapi berniat baik. Sebagian tidak. Perundungan, ancaman, diskriminasi, pelecehan, atau apa pun yang menyentuh keselamatanmu adalah situasi yang berbeda, dan di sana tujuannya bukan mengelola hubungan dengan lebih baik. Tujuannya adalah mendokumentasikan apa yang terjadi dan mencari bantuan, lewat HRD, lewat orang senior yang kamu percaya, atau lewat saluran apa pun yang disediakan organisasimu. Kamu tidak berutang kesabaran tanpa batas kepada orang yang memperlakukanmu seperti itu.
Bahkan sebelum batas itu, ada baiknya kamu menentukan lebih dulu apa yang bersedia kamu terima dan untuk berapa lama. Bertahan tanpa ujung adalah cara orang-orang baik berakhir kelelahan dan yakin bahwa merekalah masalahnya. Pasang sebuah penanda. "Kalau ini belum berubah sampai akhir kuartal, aku mulai cari yang lain." Memiliki batas itu, sekalipun hanya untuk diri sendiri, mengubah rasanya gesekan sehari-hari, karena kamu berhenti merasa terjebak dan mulai jadi orang yang sedang mengambil pilihan.
Menghadapi atasan dengan baik bisa mengubah banyak atasan yang sulit menjadi atasan yang bisa kamu ajak bekerja, dan itu keterampilan nyata yang akan berguna sepanjang sisa kariermu. Ia tidak bisa memperbaiki setiap situasi, dan memang bukan untuk itu. Kalau ongkos untuk kesehatanmu, kepercayaan dirimu, atau kehidupan rumahmu terus naik apa pun yang kamu coba, itu juga sebuah informasi. Kadang langkah terkuat yang akan kamu ambil adalah keputusan tenang bahwa yang satu ini bukan tugasmu untuk diperbaiki, dan ada ruangan yang lebih mantap di luar sana.
Kalau ketegangannya sudah merembet melampaui pekerjaan, ke tidurmu, suasana hatimu, atau cara kamu memperlakukan orang-orang yang kamu sayangi, itu layak dibicarakan dengan dokter atau terapis. Kamu tidak seharusnya memikul pekerjaan yang berat sendirian, dan butuh dukungan untuk melewatinya sama sekali tidak menandakan hal buruk tentang dirimu.
Sumber
- Harvard Business Review, Managing Your Boss (John J. Gabarro and John P. Kotter)
- Harvard Business Review, How Do I Work with a Difficult Boss? (Coaching Real Leaders, Muriel Wilkins)
- Harvard Business Review, In Tough Times, Psychological Safety Is a Requirement, Not a Luxury (Amy C. Edmondson)
- World Health Organization, Mental health at work