Ada satu jenis penyesalan yang muncul keesokan paginya. Kamu bersikap tegas pada seseorang, dan itu memang hal yang benar untuk dilakukan. Tapi kata-katanya keluar lebih dingin dari yang kamu maksud, atau lebih keras, atau diakhiri dengan pintu yang dibanting. Mungkin kamu sudah menahannya berbulan-bulan dan akhirnya meledak sekaligus. Sekarang batasnya sudah ditarik, tembok pun ikut berdiri, dan kamu jadi tidak yakin lagi mana yang memang sengaja kamu bangun.
Pertama, tarik napas dulu. Menetapkan batasan itu berat, apalagi kalau kamu tumbuh dengan keyakinan bahwa kenyamanan orang lain harus didahulukan daripada kenyamananmu sendiri. Fakta bahwa caramu menyampaikannya kasar, tidak menghapus fakta bahwa kamu memang membutuhkannya. Banyak batasan yang baik justru datang dengan cara yang buruk. Yang perlu kamu kerjakan sekarang bukan meminta maaf karena punya batas. Tapi memisahkan batasnya dari cara penyampaiannya, pertahankan yang pertama, dan perbaiki yang kedua.
Batasan dan hukuman itu dua hal yang berbeda
Ada baiknya kita perjelas dulu apa itu batasan sebenarnya, karena batasan yang keras biasanya melenceng jadi sesuatu yang lain.
Batasan adalah pernyataan tentang dirimu: apa yang akan dan tidak akan kamu lakukan, untuk apa kamu bersedia hadir, dan bagaimana kamu perlu diperlakukan agar tetap mau berada di ruang itu. Seperti kata Cleveland Clinic, batasan yang sehat tidak berusaha mengendalikan orang lain. Batasan menyampaikan kebutuhanmu, sambil tetap memberi ruang untuk kebutuhan orang lain. "Aku nggak bisa ngobrol kalau ada yang teriak-teriak, jadi aku mau pergi dulu dan kita lanjutkan nanti" adalah sebuah batasan. Itu soal perilakumu dan batasmu sendiri.
Hukuman ditujukan ke luar. Tujuannya membuat orang lain merasakan sesuatu: bersalah, kecil, menyesal karena sudah melewati batasmu. Diamkan yang berlarut-larut selama berhari-hari. Pintu dibanting untuk menegaskan maksud. Kalimat yang dilontarkan untuk melukai, bukan untuk menyampaikan. Ketika batasan berubah jadi hukuman, orang lain biasanya sudah tidak bisa lagi mendengar batasannya. Yang mereka rasakan hanya sakitnya, mereka jadi bersiap bertahan, dan pesan yang sebenarnya jadi hilang begitu saja.
Jadi saat kamu menengok kembali apa yang terjadi, pilah jadi dua bagian. Batasnya sendiri hampir selalu layak dipertahankan. Panasnya, rasa merendahkan, volume suara, bagian yang memang dirancang untuk terasa seperti tamparan, itu bagian yang perlu diperbaiki. Kamu bukan sedang membatalkan batasanmu. Kamu hanya melepas senjatanya.
Kenapa keluarnya jadi panas?
Memahami mekanismenya bisa membantu mengurangi rasa malu.
Sebagian besar batasan yang meledak berlebihan sebenarnya bukan tentang momen saat itu terjadi. Itu tentang kejadian yang kedua puluh kalinya. Kamu membiarkan sesuatu terjadi, lalu lagi, lalu lagi, meyakinkan diri sendiri bahwa itu tidak sepadan dengan konfliknya, sementara kekesalan diam-diam menumpuk. Saat akhirnya kamu bicara, kamu bukan sedang menanggapi satu ucapan. Kamu sedang menanggapi semuanya sekaligus, dan tekanan yang sudah menumpuk selama berminggu-minggu keluar dalam satu tarikan napas.
Ada juga alasan yang lebih sederhana dan bersifat fisik. Ketika kamu dibanjiri stres, bagian otak yang cepat dan defensif mengambil alih kendali, sementara bagian yang berpikir hati-hati jadi diam. Dalam kondisi seperti itu, orang cenderung berkata-kata lebih tajam dan lebih mutlak dari yang sebenarnya mereka maksud. "Kamu selalu begini." "Aku sudah selesai." Itu bukan posisimu yang sebenarnya. Itu suara sistem alarmmu yang berbicara. Memahami hal ini tidak membenarkan kata-kata yang kejam, tapi menjelaskan kenapa kebutuhan yang sebenarnya wajar bisa keluar dari mulutmu terdengar seperti vonis.
Memperbaikinya tanpa menyerahkannya
Ini bagian yang sering bikin orang salah langkah: mereka pikir satu-satunya cara berdamai adalah menarik kembali semuanya. Jadi mereka minta maaf untuk segalanya, termasuk batasannya, dan seminggu kemudian mereka kembali terjebak di sudut yang sama, merasa tidak didengar. Kamu tidak perlu memilih antara bersikap baik dan bersikap jelas. Kamu bisa melakukan keduanya dalam satu percakapan yang sama.
Riset tentang apa yang sebenarnya membuat permintaan maaf berhasil cukup konsisten soal hal ini. Sebuah studi yang dipimpin oleh Roy Lewicki dari Ohio State membagi permintaan maaf menjadi enam komponen, dan menemukan bahwa satu-satunya hal yang paling penting adalah mengakui tanggung jawab, sekadar menyebut apa yang sudah kamu lakukan, dengan jelas, tanpa dibungkus alasan pembenaran. Greater Good Science Center di Berkeley merangkumnya jadi tiga langkah: sampaikan penyesalanmu yang tulus, tunjukkan bahwa kamu memahami dampak yang kamu timbulkan, dan tawarkan cara untuk memperbaikinya. Perhatikan apa yang tidak ada di kedua daftar itu. Tidak ada satu pun yang mengharuskan kamu mengakui bahwa batasan yang mendasarinya itu salah.
Jadi, permintaan maaf yang baik bisa terdengar seperti ini:
- Akui cara penyampaiannya, secara spesifik. Bukan "maaf kalau kamu jadi kesal." Coba, "Aku tadi bicara sambil meninggikan suara, dan aku bilang sesuatu yang sebenarnya nggak aku maksud. Itu nggak adil buat kamu, dan aku minta maaf." Sebutkan perilaku sebenarnya. Permintaan maaf yang samar terasa palsu.
- Tunjukkan kamu memahami dampaknya. "Aku sadar itu terasa seperti aku menyerangmu, bukan cuma meminta sesuatu." Ini bagian yang sering dilewati orang, padahal ini yang bikin orang lain bisa mulai melunak.
- Ulangi lagi batasannya, dengan lembut dan utuh. "Tapi yang aku butuhkan tetap sama. Aku nggak bisa terus menerima telepon soal ini setelah jam sembilan malam. Aku cuma mau minta itu tanpa harus meledak-ledak." Batasnya sama, tanpa perisai.
- Beri ruang untuk sudut pandang mereka. Permintaan maaf itu ajakan, bukan vonis. Tanyakan bagaimana rasanya dari sisi mereka, dan benar-benar dengarkan. Kamu tetap bisa mempertahankan batasmu, sambil menyadari bahwa kamu sudah menyakiti seseorang yang juga sedang mempertahankan batasnya sendiri.
Langkah ketiga itulah kuncinya. Permintaan maafnya membahas cara kamu menyampaikannya. Batasannya tetap ada di tempat yang sama. Kebanyakan orang hampir selalu bisa menerima keduanya sekaligus, karena sebenarnya mereka tidak pernah benar-benar mempermasalahkan kebutuhanmu. Mereka bereaksi terhadap rasa merendahkan yang membungkusnya.
Kalau mereka balik menyerang batasannya
Kadang kamu sudah minta maaf dengan tulus, tapi orang lain justru menjadikannya celah, menganggap kata maafmu sebagai bukti bahwa batasnya juga tidak masuk akal. Tetap teguh. "Maafku itu untuk cara aku bicara. Aku tetap butuh apa yang sudah aku minta." Kamu bisa tetap hangat sekaligus tidak tergoyahkan dalam kalimat yang sama. Permintaan maaf atas nada bicaramu bukan pengakuan bahwa kebutuhanmu bisa dinegosiasikan.
Kapan perbaikan ini bukan sepenuhnya tanggung jawabmu sendiri?
Ada beberapa catatan jujur, karena saran ini juga ada batasnya.
Kalau dalam hubungan itu, menyebutkan batasan apa pun selalu berujung kamu dihukum, diejek, atau dibalik sehingga kamu yang selalu jadi pihak yang salah, masalahnya bukan pada cara penyampaianmu. Pola berulang seperti itu perlu dibawa ke terapis, yang bisa membantumu melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi, dan memahami apa yang benar-benar menjadi tanggung jawabmu dan apa yang bukan. Tidak semua batasan yang kasar adalah kesalahan yang perlu kamu perbaiki. Ada kalanya itu justru hal paling jujur yang sudah lama tidak kamu ucapkan.
Dan kalau kekasaran yang kamu khawatirkan ini terjadi dalam hubungan di mana kamu merasa takut, di mana menetapkan batasan apa pun bisa membahayakan keselamatanmu, tolong perlakukan itu sebagai situasi tersendiri. Itu bukan masalah komunikasi yang bisa diperhalus begitu saja. Mencari bantuan di situasi seperti itu adalah kebijaksanaan, bukan kelemahan, dan kamu tidak perlu menghadapinya sendirian.
Tapi untuk kasus yang lebih umum, di mana kamu menyayangi seseorang, kamu sempat berkata tajam, dan kamu ingin kembali dekat dengannya tanpa harus menyerah pada batasmu, jalannya sebenarnya lebih sederhana dan lebih ramah dari yang terasa sekarang. Kamu kembali padanya. Kamu minta maaf untuk ketajamannya, bukan untuk batasnya. Kamu tetap pertahankan batasnya. Kebanyakan orang, kalau diberi ruang seperti itu, akan bertemu kamu di tengah jalan, dan hubungan kalian pun kembali dengan sedikit lebih jujur dari sebelumnya.
Sumber
- Cleveland Clinic, How To Set Healthy Boundaries
- Association for Psychological Science, Effective Apologies Include Six Elements
- Greater Good Science Center, UC Berkeley, The Three Parts of an Effective Apology