He said he'd text after work jadi bilang akan mengirim pesan setelah kerja. Sekarang jam 8:40, dan ponselmu sudah terbalik menghadap meja selama satu jam karena kamu nggak tahan terus-terusan mengeceknya, tapi tetap saja kamu mengeceknya. Kamu sudah membaca ulang pesan terakhir yang dia kirim. Kamu sudah menulis setengah jadi tiga versi pesan santai dan menghapus semuanya. Sebagian dirimu tahu ini mungkin bukan apa-apa. Sebagian lain sudah membayangkan rasanya kalau dia menghilang.
Kalau kamu kenal betul dengan spiral ini, kamu nggak sendirian. Apa yang kamu rasakan punya nama, dan itu bukan “gila” atau “clingy”. Itu adalah gaya kelekatan cemas (anxious attachment style), dan biasanya paling terasa di masa-masa awal yang belum pasti dalam berpacaran, saat kamu sudah peduli sama seseorang tapi belum punya bukti bahwa dia akan bertahan.
Kabar baiknya dari awal: ini adalah pola, bukan sifat bawaan. Pola bisa diubah.
Dari mana pola ini terbentuk?
Teori kelekatan (attachment theory) berawal dari pengamatan sederhana tentang bayi dan orang-orang yang merawat mereka. Ketika pengasuh merespons dengan hangat dan bisa diandalkan, seorang anak belajar bahwa kedekatan itu aman, dan bahwa dirinya layak diperjuangkan. Ketika kasih sayang datang penuh di satu hari lalu hilang atau tak terduga di hari lain, anak itu belajar untuk selalu waspada, berusaha keras demi mendapatkan kedekatan, dan tidak pernah benar-benar bisa santai di dalamnya. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa kelekatan cemas tumbuh justru dari ketidakkonsistenan semacam itu: sejak kecil kamu belajar bahwa kebutuhanmu mungkin terpenuhi, mungkin juga tidak, jadi kamu tidak pernah benar-benar melepas kewaspadaanmu.
Pelajaran dini itu tidak berhenti di masa kecil. Ia menjadi semacam pengaturan bawaan tentang bagaimana kamu memaknai kedekatan saat dewasa. Peneliti Jeffry Simpson dan W. Steven Rholes, yang sudah meneliti kelekatan orang dewasa selama puluhan tahun, menjelaskan bahwa orang dengan kelekatan cemas cenderung memandang diri sendiri secara negatif, sekaligus memandang pasangannya dengan penuh harap tapi tetap berhati-hati. Kamu ingin kedekatan itu sekuat-kuatnya. Tapi kamu juga separuh yakin akan kehilangannya.
Menurut sebagian besar perkiraan, kira-kira satu dari lima orang dewasa punya kecenderungan kelekatan cemas. Jadi kalau ini menggambarkan dirimu, kamu jauh dari sendirian.
Rasanya seperti apa saat kamu berpacaran?
Kelekatan cemas biasanya jadi tenang saat semuanya terasa aman, dan jadi sangat ribut saat tidak. Masa berpacaran kebanyakan masih “belum aman”, itulah sebabnya rasanya seperti volume dalam dirimu tersangkut di titik paling keras.
Beberapa cara kelekatan cemas ini muncul:
- Kamu bergerak cepat. Baru beberapa kali kencan yang menyenangkan, kamu sudah membayangkan hubungan ke depannya, karena kepastian terasa seperti kelegaan, dan ketidakjelasan terasa seperti bahaya.
- Balasan yang terlambat terasa seperti sebuah keputusan akhir. Secara logika kamu tahu orang bisa sibuk. Tapi tubuhmu bereaksi seolah ada yang salah.
- Kamu mengamati perubahan sekecil apa pun, nada bicaranya, kecepatan balasan, energinya, lalu membangun cerita lengkap dari situ.
- Saat rasa cemas memuncak, kamu mencari kepastian. Kamu bertanya apakah dia marah. Kamu mengirim pesan lagi. Kamu mencari bukti bahwa semuanya baik-baik saja.
Poin terakhir ini layak diperhatikan lebih pelan-pelan, karena justru bagian inilah yang diam-diam merugikan dirimu sendiri. Rasanya seperti solusi yang jelas. Padahal sering kali bukan.
Jebakan mencari kepastian
Saat rasa takut memuncak, bertanya “kita baik-baik kan?” rasanya seperti akan menenangkan semuanya. Dan untuk beberapa menit, memang begitu. Lalu keraguan itu merambat kembali, dan kamu perlu bertanya lagi.
Ada riset tentang lingkaran yang sama persis ini. Satu studi tentang kelekatan dan kepercayaan dalam hubungan menemukan bahwa pada orang dengan kelekatan cemas, terlalu sering mencari kepastian justru memprediksi kepercayaan yang *lebih rendah* keesokan harinya, bukan lebih tinggi. Kepastian itu tidak benar-benar melekat, karena kecemasannya sebenarnya tidak pernah soal pesan yang belum dibalas. Itu soal ketakutan lama akan ditinggalkan. Jadi buktinya cepat hilang, dan kamu kembali mencari lebih banyak lagi.
Simpson dan Rholes menjelaskan hal yang sama dengan lebih sederhana: orang dengan kelekatan cemas cenderung mencari kedekatan dan kepastian secara intens, terkadang obsesif, yang sering gagal mengurangi kegelisahan mereka, dan bisa lama-lama membuat pasangan lelah. Semua ini bukan berarti kebutuhanmu itu salah. Artinya, satu strategi tertentu untuk memenuhinya cenderung berbalik jadi bumerang, dan ada strategi yang lebih baik untuk dicoba.
Menenangkan diri di saat itu juga
Ketika gelombang itu datang, tugasmu bukan berdebat dengan diri sendiri untuk melenyapkan perasaan itu. Tugasmu adalah tidak langsung bertindak karenanya sejenak, supaya bagian otakmu yang lebih tenang bisa menyusul. Beberapa hal yang benar-benar membantu:
Beri nama pada apa yang sebenarnya terjadi
Ucapkan pada dirimu sendiri dengan jelas. “Sistem kelekatanku sedang aktif sekarang. Aku takut, tapi aku tidak dalam bahaya.” Memberi kata-kata pada perasaan itu menarikmu keluar dari cerita rekaan dan mengembalikanmu ke momen ini. Perasaannya nyata. Tapi bencana yang dibayangkannya biasanya tidak.
Tunggu sebelum mengirim
Kamu tidak perlu menghapus rasa cemas itu. Kamu hanya perlu menunda reaksinya. Beri jarak dua puluh menit, atau tunda sampai besok, sebelum mengirim pesan yang lahir dari kecemasan. Kebanyakan dorongan itu akan reda sendiri, dan pesan yang akan kamu kirim saat panik memuncak bukanlah pesan yang sebenarnya kamu ingin dia baca.
Cari bukti, bukan ketakutan
Tanyakan pada dirimu: apakah memang ada tanda nyata sesuatu yang salah, atau ini hanya pola lama yang mengisi keheningan dengan cerita paling buruk? Balasan yang terlambat biasanya berarti orang itu sibuk, bukan pergi. Biarkan bukti yang sesungguhnya menentukan.
Punya kehidupan yang menjadi tempat hubunganmu bersandar
Kalau satu orang baru menjadi pusat dari seluruh cuaca emosionalmu, setiap sinyal kecil dari orang itu akan terasa luar biasa besar. Teman-teman, pekerjaan yang kamu pedulikan, hal-hal yang murni milikmu sendiri, semua ini bukan pengalih perhatian dari berpacaran. Justru inilah yang mencegah satu pesan yang lambat sampai bisa meruntuhkan seluruh harimu.
Tenangkan tubuhmu, bukan hanya pikiranmu
Kamu tidak bisa berpikir logis untuk jadi tenang selagi tubuhmu masih dalam mode siaga. Beberapa tarikan napas panjang, kaki menapak di lantai, jalan kaki sebentar. Redakan dulu alarm fisiknya, dan pikiran yang lebih jernih akan datang sendiri.
Menyampaikan kebutuhanmu, tanpa berspiral
Semua ini bukan berarti kamu harus menyembunyikan kebutuhanmu atau berpura-pura santai padahal tidak. Orang dengan kelekatan aman juga punya kebutuhan. Bedanya, mereka bertanya secara langsung, bukan menguji diam-diam.
Ada jarak nyata antara “Kamu marah sama aku? Aku salah apa?” yang dikirim lima kali, dengan “Hei, aku jadi lebih baik harinya kalau dengar kabar darimu di malam hari. Kira-kira bisa nggak?” Yang pertama adalah usaha mencari kepastian yang justru menguras energi kalian berdua. Yang kedua adalah permintaan yang jelas dan bisa benar-benar dipenuhi oleh pasangan yang baik. Menyampaikan kebutuhan dengan tenang juga memberi tahumu sesuatu yang berguna sejak awal: bagaimana seseorang merespons permintaan yang wajar adalah informasi nyata tentang apakah dia cocok untukmu.
Kapan kamu perlu bantuan lebih?
Menghadapi ini sendirian itu mungkin, dan banyak orang mengalami kemajuan nyata hanya dengan memahami pola mereka dan mempraktikkan langkah-langkah di atas. Tapi kamu tidak harus melakukannya sendirian, dan bagi sebagian orang, prosesnya jauh lebih cepat kalau tidak sendirian.
Kalau rasa cemas ini terus-menerus, kalau ia mendorongmu masuk ke hubungan yang menyakitkan atau justru keluar dari hubungan yang sebenarnya baik, atau kalau ia terjalin dengan luka yang lebih dalam dari masa lalumu, seorang terapis bisa membantu. Ini adalah wilayah yang sudah sangat mereka pahami. Pola kelekatan adalah salah satu hal yang paling banyak diteliti dan paling bisa ditangani dalam psikologi hubungan, dan tenaga profesional punya alat-alat khusus untuk itu. Banyak orang benar-benar bergerak menuju apa yang para peneliti sebut “kelekatan aman yang diperjuangkan” (earned secure attachment), lewat terapi, lewat hubungan yang stabil, lewat waktu. Ini bukan hukuman seumur hidup.
Dan kalau rasa cemas ini berubah menjadi sesuatu yang lebih berat, rasa putus asa, kepanikan yang tidak bisa kamu lewati sendiri, perasaan tidak mampu bertahan, tolong perlakukan itu sebagai hal yang berbeda dan segera cari bantuan. Peduli sedalam itu bukan kekuranganmu. Itu hanya sedang mencari tempat yang lebih aman untuk mendarat. Dan tempat itu bisa ditemukan.
Sumber
- Cleveland Clinic, Attachment Styles: Causes, What They Mean
- Simpson, J.A. & Rholes, W.S. (PubMed Central), Adult Attachment, Stress, and Romantic Relationships
- PubMed Central, The Contribution of Attachment Styles and Reassurance Seeking to Trust in Romantic Couples
- Simply Psychology, Anxious Attachment Style: Signs, Causes, and How to Heal