Tiga minggu berjalan. Atau mungkin tiga bulan. Semuanya baik-baik saja, sebagian besar, lalu kamu meletakkan ponsel dan pikiran dingin kecil itu muncul: sebenarnya kita ini apa? Kamu tidak bertanya. Kamu bilang ke diri sendiri, ini masih terlalu cepat, atau nanti kelihatan terlalu butuh, atau membahasnya bisa merusak semua yang sudah baik. Jadi kamu menunggu. Dan menunggu itu sendiri jadi dengung kecil yang mengikutimu sepanjang hari.
Obrolan itu sudah punya julukan. DTR, singkatan dari define the relationship. Obrolan di mana kamu berhenti menduga-duga dan mengatakan langsung apa yang sebenarnya kamu mau dari hubungan ini. Hampir semua orang takut menghadapinya. Rasa takut itu penting dipahami, karena begitu kamu lihat apa yang sebenarnya ada di baliknya, obrolan ini jadi jauh lebih ringan.
Kenapa ketidaktahuan itu bagian yang paling berat?
Ada satu hal yang sering mengejutkan orang. Rasa takutnya sebenarnya bukan soal mendengar “tidak”. Tapi soal tidak tahu.
Ada banyak riset soal apa yang psikolog sebut intolerance of uncertainty, kesulitan sebagian dari kita untuk duduk tenang dengan pertanyaan yang belum terjawab. Ketika otak tidak bisa menebak apa yang akan terjadi, ia tidak diam saja. Ia cenderung mengisi kekosongan itu dengan skenario terburuk, lalu memperlakukan tebakan itu seolah fakta. Sebuah ulasan di jurnal *Neural Plasticity* menjelaskan bagaimana ketidakpastian soal sesuatu yang akan terjadi mengganggu kemampuan kita untuk bersiap dengan tenang, yang membuat kita melebih-lebihkan seberapa besar kemungkinan hal buruk terjadi, sekaligus seberapa buruk itu nanti rasanya. Yang belum jelas terasa menakutkan justru karena belum jelas.
Itu sebabnya jawaban samar seperti “kita lihat saja nanti gimana” bisa terasa lebih berat daripada jawaban jelas yang sebenarnya tidak kamu suka. Sistem sarafmu lebih memilih fakta yang tegas daripada teka-teki yang menggantung. Jadi ketika akhirnya kamu bertanya, kamu tidak mempertaruhkan ketenanganmu. Justru sebaliknya, kamu melindunginya. Kamu menukar tetesan ketidaktahuan yang pelan-pelan menggerogoti, dengan sesuatu yang benar-benar bisa kamu pegang.
Sebelum kamu mengucapkannya
Waktu yang tepat dan sedikit kejujuran pada diri sendiri sudah mengerjakan sebagian besar tugas ini. Ada beberapa hal yang perlu kamu bereskan di kepalamu sendiri dulu.
Ketahui apa yang sebenarnya kamu inginkan. “Ini akan berakhir ke mana?” itu pertanyaan yang sulit dijawab karena sebenarnya bukan pertanyaan, itu kekhawatiran yang menyamar jadi pertanyaan. Coba lebih spesifik pada dirimu sendiri. Kamu mau berhenti dekat dengan orang lain? Kamu mau status yang jelas? Kamu mau tahu apakah dia melihat masa depan bersamamu, atau cukup tahu apakah kalian sepaham untuk bulan ini saja? Kamu tidak harus menginginkan cincin. Tapi kamu harus tahu apa yang sebenarnya kamu minta.
Pilih momen ketika kalian berdua tenang. The Gottman Institute, yang sudah puluhan tahun meneliti bagaimana pasangan sebenarnya berbicara satu sama lain, menyarankan menyimpan obrolan penting untuk waktu ketika emosi sudah mengendap, bukan saat suasana memanas, dan bukan pas seseorang baru mau pergi. Jangan mulai DTR lewat teks tengah malam atau di bar yang ramai. Jalan santai berdua, pagi yang tenang, atau perjalanan mobil. Tempat di mana kalian berdua bisa berpikir jernih.
Lepaskan skenario di mana kamu mengontrol akhir ceritanya. Kamu bisa memilih bagaimana kamu menghadapinya. Kamu tidak bisa memilih apa yang dia inginkan. Memutuskan sejak awal bahwa kamu akan baik-baik saja apapun jawabannya, bahkan kalau “baik-baik saja” itu butuh beberapa hari, akan mengangkat beban yang lumayan besar dari ruangan itu.
Bagaimana cara mengatakannya?
Tujuannya sederhana dan hangat, bukan seperti persidangan. Kamu tidak menyampaikan ultimatum, dan kamu tidak perlu minta maaf karena punya kebutuhan. Kamu sedang berkata jujur, dan mengajak dia untuk melakukan hal yang sama.
Riset komunikasi dari Gottman menunjukkan satu pola sederhana yang cukup kuat: mulai dari apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu inginkan, bukan dari apa yang dia lakukan salah. Bentuknya kira-kira seperti *Aku merasa ___, dan aku ingin ___.* Cara ini membuat lawan bicara tidak langsung bersikap defensif, karena tidak ada yang sedang dituduh apa-apa.
Jadi, daripada bilang “Jadi kita ini beneran jadian atau nggak sih?”, coba:
- “Aku sebenarnya suka banget dengan apa yang terjadi di antara kita, dan aku sadar aku pengen sesuatu yang lebih jelas. Boleh kita ngobrol soal ke mana masing-masing dari kita melihat ini?”
- “Aku mau jujur sama kamu. Aku sedang cari hubungan yang serius, bukan yang santai-santai aja, dan aku pengen tahu apakah kamu juga mau hal yang sama.”
- “Nggak harus jawab sekarang juga. Aku cuma nggak mau terus menduga-duga, aku lebih nyaman tahu daripada bertanya-tanya sendiri.”
Lalu bagian yang lebih sulit. Dengarkan jawaban yang benar-benar diucapkan, bukan yang sudah kamu latih di kepala sepanjang jalan tadi. Seperti kata tim Gottman, dengarkan untuk memahami, bukan untuk membalas. Biarkan dia menyelesaikan ucapannya. Tahan keinginan untuk melunakkan permintaanmu begitu kamu merasakan ada keraguan. Beberapa detik hening itu wajar. Biarkan kejujuran punya ruang untuk bernapas.
Satu cara memandang yang bisa membantu di momen itu: kamu bukan sedang mengaudisi diri. Kamu sedang mencari tahu apakah dua orang menginginkan hal yang sama. Itu informasi yang kalian berdua butuhkan, dan dengan mengangkatnya, kamu sedang berbuat baik untuk kalian berdua.
Bagaimana kalau jawabannya bukan yang kamu harapkan?
Kadang kamu bertanya, dan dia tidak menginginkan hal yang sama denganmu. Rasanya sakit. Bisa sangat sakit. Tapi lihat juga apa yang kamu dapatkan. Kamu tidak lagi menghabiskan minggu demi minggu untuk pertanyaan yang diam-diam sudah lama terjawab.
American Psychological Association mencatat, pasangan yang bertahan lama bukan yang tidak pernah berbeda pendapat. Mereka adalah yang bisa menghadapi momen sulit tanpa membentak, menjatuhkan satu sama lain, atau menutup obrolan lalu pergi. DTR adalah semacam audisi kecil untuk itu. Bagaimana seseorang memperlakukanmu saat kamu meminta kejelasan, apakah dia menyambut kejujuranmu dengan kejujurannya sendiri, atau malah jadi dingin dan menghindar, itu bisa memberitahumu banyak hal soal bagaimana rasanya kalau kamu tetap bertahan. Jawaban “tidak” yang jujur dan jelas adalah hadiah. Jawaban hangat “eh, aku juga” lebih bagus lagi. Jawaban yang kabur pun sebenarnya sebuah jawaban, meskipun itu yang paling menyakitkan.
Apapun jawabannya, kamu sudah melakukan hal yang berani. Kamu mengatakan yang sebenarnya dan meminta apa yang kamu butuhkan. Itu seperti otot, makin sering dipakai, makin kuat.
Kalau rasa takutnya lebih besar dari situasinya
Bagi sebagian orang, rasa takut soal obrolan ini terasa jauh lebih besar dari yang seharusnya. Panik yang mencekam saat memikirkan untuk benar-benar dilihat orang lain, keyakinan bahwa menginginkan apapun akan membuatmu ditinggalkan, kebiasaan diam saja di satu hubungan ke hubungan lain sampai akhirnya kekesalan yang bicara untukmu. Kalau itu terasa familiar, mungkin masalahnya bukan soal orang ini, tapi soal cerita lama yang kamu bawa setiap kali jatuh cinta.
Itu hal yang baik untuk dibicarakan dengan terapis. Bukan karena ada yang salah denganmu, tapi karena pola-pola seperti ini bisa dikerjakan, dan kamu tidak perlu mengurainya sendirian. Kalau kecemasannya sudah merambat sampai ke tidurmu, nafsu makanmu, atau rasa baik-baik sajamu sehari-hari, itu juga layak dibicarakan dengan dokter atau konselor. Menginginkan kejelasan dari orang lain itu sehat. Belajar memberi sedikit kejelasan itu untuk dirimu sendiri, apapun jawaban yang kamu terima nanti, mungkin justru bagian yang bisa mengubah segalanya.
Kamu berhak menginginkan apa yang kamu inginkan. Mengatakannya dengan lantang adalah caramu menemukan orang-orang yang menginginkan hal yang sama.
Sumber
- American Psychological Association, Happy couples: How to keep your relationship healthy
- The Gottman Institute, Effective Communication in a Relationship: 5 Ways to Communicate Better
- Neural Plasticity (PubMed Central), From Uncertainty to Anxiety: How Uncertainty Fuels Anxiety in a Process Mediated by Intolerance of Uncertainty