Di sekitar kencan kedua atau ketiga, sebuah pertanyaan muncul. Kamu lebih merasakannya daripada memikirkannya. Apa aku cerita soal putus cinta yang menghancurkanku? Terapi yang sedang kujalani? Hal yang belum pernah kuucapkan ke siapa pun? Kamu ingin jujur. Tapi kamu juga tidak mau jadi orang yang menumpahkan seluruh kisah hidupnya di piring pasta pertama, lalu tidak pernah dibalas chat-nya lagi.
Ketegangan itu nyata, dan itu bukan cacat kepribadian. Kamu sedang berusaha melakukan dua hal yang saling tarik-menarik ke arah berlawanan. Kamu ingin dikenal, karena tidak ada orang yang jatuh cinta pada brosur yang dipoles rapi. Dan kamu ingin merasa aman, karena orang yang duduk di seberangmu, untuk saat ini, masih orang asing. Menahan keduanya sekaligus adalah pekerjaan sesungguhnya dari masa-masa awal berkencan.
Kabar baiknya, sudah cukup banyak yang diketahui tentang bagaimana kepercayaan terbentuk antara dua orang. Prosesnya bertahap, berjalan dua arah, dan punya ritme yang bisa kamu pelajari untuk kamu rasakan.
Kenapa kita ingin cepat-cepat membuka diri?
Wajar kalau kamu ingin langsung lompat ke pembicaraan yang dalam. Obrolan basa-basi bisa terasa sia-sia kalau kamu berharap sesuatu yang berarti. Dan kalau sebuah kencan berjalan lancar, dorongan untuk membuktikan bahwa kamu nyata, bahwa kamu punya kedalaman, bahwa kamu sudah banyak makan asam garam kehidupan, bisa terasa sangat kuat.
Ada juga alasan yang lebih licik, dan ini layak kamu akui jujur-jujur ke diri sendiri. Kadang kita berbagi banyak hal, terlalu cepat, sebagai cara untuk mengendalikan apa yang terjadi selanjutnya. Ceritakan semuanya ke semua orang sejak awal, dan kamu akan dapat jawaban dengan cepat: mereka bertahan atau mereka kabur, dan bagaimanapun hasilnya, kamu terhindar dari pedihnya rasa tidak tahu yang berlarut-larut. Peneliti Brené Brown punya istilah untuk versi ini yang justru berbalik jadi bumerang. Dia menyebutnya floodlighting, dan dia blak-blakan soal apa artinya.
Terlalu banyak membuka diri bukanlah kerentanan. Justru, itu sering berujung pada keterputusan, ketidakpercayaan, dan keterasingan.
Paradoksnya, menumpahkan segalanya justru bisa jadi cara untuk menghindari kerentanan yang sesungguhnya. Kalau kamu membanjiri orang lain dengan informasi, kamu tidak perlu duduk dalam ketidakpastian membiarkan mereka mengenalmu pelan-pelan. Kamu sudah mengambil risikonya sekaligus, lalu selesai. Tapi kamu juga baru saja menyerahkan keintiman yang belum mereka minta dan belum pantas mereka dapatkan, dan kebanyakan orang akan mundur saat itu terjadi.
Bagaimana kedekatan sebenarnya terbentuk?
Ini bagian yang bisa melegakan. Kedekatan punya pola yang sudah diketahui, dan sifatnya timbal balik.
Pada tahun 1990-an, psikolog Arthur dan Elaine Aron merancang sebuah studi yang kini terkenal. Mereka mempertemukan pasangan-pasangan orang asing dan meminta mereka saling bertanya lewat serangkaian pertanyaan yang dimulai dari yang ringan lalu perlahan makin personal selama sekitar empat puluh lima menit. Di akhir sesi, pasangan-pasangan itu merasa jauh lebih dekat dibanding pasangan yang cuma basa-basi biasa. Konon, salah satu pasangan bahkan menikah. Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian viral dengan sebutan "36 pertanyaan yang membawa ke cinta".
Tapi keajaibannya tidak pernah ada pada satu pertanyaan tertentu. Keajaiban itu ada pada dua hal yang dijaga oleh rancangan studinya. Keterbukaan itu meningkat bertahap, ringan dulu sebelum mendalam. Dan prosesnya bolak-balik, kedua orang membuka diri dengan kecepatan yang kurang lebih sama. Struktur ini memastikan tidak ada satu pihak yang jauh melangkah lebih dulu dari yang lain.
Itulah keseluruhan prinsipnya, dan kamu bisa bawa ini ke kencan mana pun tanpa perlu lembar kerja. Kepercayaan dibangun secara bergiliran. Kamu berbagi sedikit. Mereka berbagi balik sedikit. Kamu melangkah sedikit lebih dalam. Mereka menyambutmu di titik itu. Setiap putaran membuka jalan untuk putaran berikutnya. Ketika lingkaran ini berjalan lancar, jadi personal terasa aman, bahkan mendebarkan. Tapi ketika satu orang berlari jauh ke depan sementara yang lain belum sampai, kedekatan itu justru runtuh, bukan makin kuat.
Jadi pertanyaan sesungguhnya bukan seberapa banyak yang bisa kuungkapkan. Tapi apakah bolak-baliknya ini berjalan seimbang.
Cara sederhana membaca situasi
Kamu tidak butuh aturan tentang topik apa yang boleh dibahas di kencan keberapa. Kamu perlu memperhatikan bola yang bolak-balik ini. Beberapa hal yang bisa kamu perhatikan:
- Apakah mereka menyambutmu? Ketika kamu menawarkan sesuatu yang agak personal, apakah mereka menawarkan balik, atau mereka mengelak dan mengalihkan pembicaraan? Timbal balik adalah sinyal paling jelas yang kamu punya. Kalau kamu terus menyerahkan potongan-potongan dirimu dan hanya dibalas anggukan sopan, pelankan lajunya. Itu sebuah informasi.
- Samakan kedalamannya, baru dorong sedikit lebih jauh. Kurang lebih cerminkan apa yang sudah ada di meja sebelum kamu melangkah lebih dalam dari itu. Kalau obrolannya baru sampai "keluargaku memang rumit," itu level yang berbeda dari "ini hal terburuk yang pernah dilakukan orang tuaku." Ambil satu langkah berikutnya, jangan langsung tiga.
- Sadari motifmu sendiri. Sebelum berbagi sesuatu yang berat, tanyakan pada dirimu sendiri. Apakah kamu menawarkan ini karena kamu benar-benar ingin orang ini mengenalmu, atau karena kamu ingin reaksi, rasa lega, atau semacam vonis? Yang pertama membangun kedekatan. Yang kedua biasanya cuma floodlighting yang berdandan rapi.
- Beberapa hal pantas diberi lebih banyak waktu. Babak-babak paling berat dalam hidupmu bukan bahan uji coba untuk orang yang baru kamu kenal seminggu. Diagnosis serius, trauma mendalam, masa lalu yang masih kamu pulihkan. Semua ini layak diceritakan ke orang yang tepat, sepenuhnya, pada waktunya. Boleh saja ditunda sampai ada cukup kepercayaan yang terbangun untuk menampungnya. Menyimpannya bukan berarti tidak jujur. Itu bijak.
Semua ini bukan berarti menyembunyikan jati dirimu. Kamu tetap bisa hangat, lucu, jujur, dan benar-benar jadi dirimu sendiri sejak jam pertama. Menjadi apa adanya dan menjadi luka terbuka adalah dua hal yang berbeda.
Kapan proses pelan-pelan ini sepadan?
Membiarkan sesuatu berkembang dengan ritme yang wajar bukan berarti bermain-main atau menutup diri. Terapis pasangan sering menekankan hal ini: hubungan yang bermakna dibangun seiring waktu, dan terburu-buru membangun keintiman emosional biasanya menghasilkan kelelahan, bukan cinta. Bahkan ada sesuatu yang layak dinikmati dalam fase awal saling mengenal ini, bagian yang hanya kamu alami sekali dengan orang tertentu.
Ritme yang terjaga juga melindungimu. Ketika kamu membuka diri dengan kecepatan yang stabil, kamu jadi bisa melihat bagaimana seseorang menyikapi setiap lapisan sebelum kamu mempercayakan lapisan berikutnya. Apakah mereka tetap baik saat kamu menunjukkan sesuatu yang rapuh? Apakah mereka ingat apa yang kamu ceritakan sebelumnya? Apakah mereka berbagi balik, atau cuma mengumpulkan cerita? Kamu belajar siapa yang aman dengan mengamati apa yang mereka lakukan terhadap hal-hal kecil, jauh sebelum kamu mempertaruhkan hal-hal besar. Ini bukan kehati-hatian tanpa alasan. Ini caranya kamu mencari tahu apakah dia orang yang pantas mengenalmu seutuhnya.
Catatan tentang pola yang menyakitkan
Bagi sebagian dari kita, takaran yang pas ini memang sulit dibaca. Kalau kamu tumbuh di lingkungan di mana kasih sayang terasa bersyarat atau perhatian harus diperjuangkan, membuka diri secara berlebihan bisa terasa seperti satu-satunya cara masuk, seolah-olah kamu harus memberikan segalanya di depan supaya diinginkan. Atau kamu mungkin malah jadi benar-benar tertutup, tidak bisa membiarkan siapa pun dekat sama sekali. Keduanya adalah pola yang dipelajari, dan keduanya bisa dilunakkan.
Kalau masa-masa awal berkencan terus-menerus membuatmu cemas, terkuras habis, atau terjebak dalam lingkaran yang sama menyakitkannya, seorang terapis bisa membantumu memahami dari mana pola ini berasal dan berlatih cara terhubung yang berbeda. Kamu tidak perlu mencari tahu seluruh riwayat hubunganmu sendirian, dan menginginkan bantuan untuk itu adalah tanda kamu menghargai diri sendiri, bukan kelemahan.
Orang yang pantas mendapatkan kisah lengkapmu tidak akan buru-buru memintanya. Mereka akan dengan senang hati mendapatkannya perlahan, satu percakapan baik demi satu percakapan baik.
Sumber
- Greater Good in Action, UC Berkeley, 36 Questions for Increasing Closeness
- Aron, Melinat, Aron, Vallone & Bator (1997), The Experimental Generation of Interpersonal Closeness, Personality and Social Psychology Bulletin
- Brené Brown, on oversharing versus vulnerability ("floodlighting")
- Laurel van der Toorn, LMFT, How to Pace Yourself in Dating