Langsung ke konten utama

Energi & pemulihan

Mengelola energi mengalahkan mengelola waktu

Manajemen energi lebih efektif daripada manajemen waktu karena jam tetap jumlahnya, tapi energi tidak. Kamu bisa memaksa lebih banyak jam dalam sehari, tapi kamu tidak bisa memaksa lebih banyak dari otak yang sudah lelah. Mengatur kapan kamu bekerja dan kapan kamu istirahat sering kali lebih berpengaruh pada hasil kerjamu daripada trik kalender apa pun.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Pria berkaus tangki putih dan celana pendek hitam melakukan push-up di siang hari

Foto oleh Michael DeMoya di Unsplash

Kamu sudah coba banyak sistem. Kalender berwarna-warni, time-blocking, aplikasi yang janji bikin kamu akhirnya produktif. Tapi tetap saja, begitu siang beranjak sore, kamu masih menatap layar, membaca kalimat yang sama sampai empat kali, tidak ada yang beres sementara jam terus berjalan.

Waktu bukan masalahnya. Jamnya ada, kok. Yang habis adalah energi, dan sebanyak apa pun kamu atur jadwal, itu tidak akan mengisi ulang tangki yang sudah kosong.

Ada cara yang lebih tenang untuk memandang satu hari. Alih-alih bertanya berapa jam yang kamu punya, tanyakan berapa banyak energi baik yang kamu punya dan kapan, lalu susun harimu berdasarkan itu. Kedengarannya sepele. Tapi dampaknya besar.

Jam itu tetap. Energi tidak.

Semua orang punya dua puluh empat jam yang sama, dan kebanyakan nasihat manajemen waktu memperlakukan jam-jam itu seolah unit yang identik untuk diisi. Padahal tidak. Satu jam kerja fokus di pagi hari, saat pikiranmu masih tajam, jauh lebih berharga daripada beberapa jam yang buram di penghujung hari yang panjang.

Inilah inti gagasan yang dipopulerkan oleh Tony Schwartz dan Catherine McCarthy di Harvard Business Review, bahwa yang perlu kamu kelola adalah energimu, bukan waktumu. Memaksakan diri bekerja makin lama tidak membuatmu makin banyak menyelesaikan sesuatu. Kamu justru akan kehabisan tenaga. Tapi kalau kamu mengelola kualitas energimu dan sengaja memulihkannya, kamu bisa menyelesaikan lebih banyak dalam waktu lebih singkat, dan merasa lebih baik saat melakukannya.

Bedanya terlihat nyata dalam hasil. Dalam salah satu program yang mereka ceritakan, sekelompok karyawan bank yang belajar mengelola energi dengan cara ini tampil lebih baik dibanding kelompok pembanding dalam pekerjaan yang paling penting bagi peran mereka, dan mereka juga merasa lebih puas.

Fokusmu datang bergelombang

Ini sesuatu yang tubuhmu sudah tahu, meski kalendermu mengabaikannya. Perhatian bukan garis lurus yang bisa kamu pertahankan sepanjang hari. Ia datang bergelombang.

Fokus yang dalam biasanya bertahan selama satu rentang waktu, sering kali sekitar satu jam sampai sembilan puluh menit, lalu menurun. Otakmu benar-benar butuh jeda. Para peneliti kadang menggambarkan kerja yang menuntut kognisi tinggi seperti membakar semacam bahan bakar mental, dan ketika tangkinya menipis, memaksakan diri lebih keras bukannya mengisi ulang, malah membuat hasil kerja makin buruk.

Orang yang melawan pola ini akan kalah. Mereka memaksakan diri melewati masa lesu itu, menghasilkan kerja yang lambat dan penuh kesalahan sambil menganggap diri sendiri disiplin. Orang yang bekerja selaras dengan pola ini justru menang. Mereka fokus penuh untuk satu rentang waktu, lalu berhenti dan benar-benar memulihkan diri sebelum lanjut ke sesi berikutnya.

Pola itu, fokus intens diikuti pemulihan sungguhan, lebih berkelanjutan dan lebih produktif dibanding memaksakan diri terus-menerus. Bukan karena caranya lebih lembut, meski memang begitu, tapi karena caranya selaras dengan cara kerja perhatianmu yang sesungguhnya.

Sebenarnya, apa arti "pemulihan"?

Jeda hanya benar-benar memulihkanmu kalau memang jeda sungguhan. Menggulir ponsel di meja kerja sambil setengah memikirkan pekerjaan bukanlah pemulihan. Pikiranmu tidak pernah benar-benar pergi dari sana. Jeda yang mengisi ulang tangkimu adalah jeda yang membuatmu benar-benar lepas dari tugas.

Berdasarkan riset tentang jeda kerja, ini yang terbukti efektif:

  • Gerakkan tubuhmu. Jalan kaki singkat pun berdampak lebih besar dari perkiraanmu. Gerakan fisik adalah salah satu cara paling memulihkan di antara sesi kerja mental.
  • Keluar sebentar. Waktu di alam, atau bahkan sekadar dekat jendela, memulihkan perhatian dengan cara yang tidak bisa dilakukan ruang istirahat tanpa jendela.
  • Lakukan sesuatu yang benar-benar kamu nikmati. Beberapa menit melakukan hal yang menyenangkan me-reset suasana hati sekaligus fokusmu.
  • Benar-benar melepaskan diri. Manfaatnya datang dari secara mental melepaskan pekerjaan, bukan sekadar menjedanya. Setengah-setengah mengecek email saat "istirahat" akan menghilangkan sebagian besar manfaatnya.

Ada juga trik soal waktu yang perlu kamu tahu. Jeda yang diambil lebih awal di hari cenderung memulihkanmu lebih baik dibanding yang kamu simpan untuk sore hari. Logikanya, sumber dayamu belum terkuras habis, jadi lebih mudah untuk kembali ke kondisi semula. Jangan tunggu sampai benar-benar habis tenaga baru berhenti sejenak. Ambil jeda selagi masih ada sisa di tangki.

Menyusun hari berdasarkan energimu

Kamu tidak perlu merombak seluruh hidupmu. Beberapa penyesuaian kecil sudah cukup berarti.

  1. Temukan jam puncakmu dan jaga baik-baik. Perhatikan kapan pikiranmu paling tajam, bagi kebanyakan orang itu pagi hari, lalu lindungi jam itu untuk pekerjaan tersulit dan terpenting. Jangan habiskan jam terbaikmu hanya untuk membalas email.
  2. Kerjakan dalam rentang fokus, lalu berhenti. Pilih durasi yang cocok untukmu. Banyak orang cocok dengan sekitar satu jam fokus penuh, lalu jeda yang disengaja. Pasang alarm kalau itu membantumu benar-benar berhenti.
  3. Buat jedamu benar-benar berarti. Berdiri, jalan kaki, keluar sebentar, lihat sesuatu selain layar. Jeda singkat tapi nyata lebih baik daripada jeda panjang yang setengah hati.
  4. Sesuaikan tugas dengan tingkat energimu. Simpan pekerjaan yang tidak butuh fokus tinggi, seperti mengarsipkan, merapikan, atau membalas email rutin, untuk saat energimu sedang turun, saat kamu memang tidak bisa melakukan kerja mendalam dengan baik. Kamu jadi tidak menyia-nyiakan jam terbaikmu untuk hal-hal remeh.
  5. Jaga hal-hal yang mengisi ulang energimu semalaman. Tidur, bergerak, makan yang layak, dan waktu bersama orang-orang yang kamu sayangi bukan bonus yang baru kamu dapat setelah kerja selesai. Itu semua yang membuat kerja yang baik jadi mungkin sejak awal.

Bagaimana kalau tangkinya memang selalu kosong?

Ada batas yang jujur dari semua ini. Mengelola energi dengan baik membantu kalau masalahnya adalah hidup yang sibuk dan padat seperti biasa. Ini bukan solusi untuk kelelahan kronis yang tidak kunjung membaik apa pun yang kamu lakukan.

Kalau kamu merasa lelah terus-menerus, kalau istirahat rasanya tidak memulihkanmu, kalau kamu kehilangan minat pada hal-hal yang dulu kamu sukai, atau kalau rasa berat itu sudah bertahan berminggu-minggu, itu patut ditanggapi serius. Kelelahan yang terus berlangsung bisa punya sebab fisik yang nyata, dan bisa jadi tanda depresi atau burnout. Semua itu tidak akan membaik hanya dengan jadwal yang lebih pintar. Bicara dengan dokter adalah langkah yang tepat, bukan trik produktivitas.

Dan satu cara pandang lain yang lebih lembut soal semua ini: tujuan mengelola energimu bukan untuk memeras hasil sebanyak-banyaknya dari dirimu sendiri seperti memeras spons. Tujuannya adalah agar di penghujung hari, masih ada cukup sisa untuk bagian-bagian hidupmu yang tidak muncul di daftar tugas mana pun. Pekerjaan seharusnya menyesuaikan diri dengan hidupmu. Bukan sebaliknya.

Sumber

  1. Harvard Business Review, Manage Your Energy, Not Your Time
  2. American Psychological Association, Give me a break
  3. National Center for Biotechnology Information, A systematic review and meta-analysis on the efficacy of micro-breaks

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi