Langsung ke konten utama

ENERGI & PEMULIHAN

Istirahat sebagai keterampilan yang bisa kamu latih

Istirahat yang sebenarnya tak datang dengan sendirinya pada pikiran yang tegang dan kelebihan rangsangan. Ia keterampilan, dan seperti keterampilan apa pun, ia jadi lebih mudah makin sering kamu melatihnya. Ini cara benar-benar membiarkan tubuh dan otakmu pulih.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Orang-orang berolahraga di atas matras yoga di sebuah studio.

Foto oleh Christian Harb di Unsplash

Ini pertanyaan yang layak direnungkan. Kapan terakhir kali kamu benar-benar istirahat, bukan sekadar ambruk kelelahan?

Bagi banyak dari kita, jawaban jujurnya sulit ditemukan. Kita punya waktu luang, secara teknis. Kita duduk di sofa sambil scroll. Kita menonton sesuatu sambil membalas pesan. Kita berbaring di kasur, memikirkan besok berulang-ulang. Semua itu bukan istirahat, bukan yang sebenarnya, dan sebagian dirimu tahu itu, karena kamu bangun dalam keadaan sama lelahnya seperti saat kamu duduk tadi.

Kenyataan yang tidak nyaman adalah, beristirahat dengan baik lebih sulit dari kedengarannya. Pikiran yang sudah bekerja keras seharian tidak akan otomatis mati hanya karena tubuhmu berhenti bergerak. Istirahat itu sebuah keterampilan. Bisa dipelajari, dan makin sering dilatih, makin mudah dilakukan, kabar baik yang sungguh melegakan kalau kamu merasa sudah lupa caranya.

Kenapa otakmu butuh tombol "off"?

Otakmu bukan mesin yang bisa bekerja penuh terus-menerus tanpa henti. Ada batasnya sebelum semuanya jadi jenuh, lalu segalanya terasa lebih berat, lebih lambat, dan lebih mudah kacau. Para ahli dari Cleveland Clinic merujuk pada penelitian yang menunjukkan bahwa istirahat yang sungguhan bisa memperbaiki suasana hati, mempertajam konsentrasi, dan benar-benar meningkatkan performa. Istirahat bukan hadiah setelah bekerja. Istirahat adalah bagian dari cara pekerjaan itu diselesaikan.

Ada hal khusus yang terjadi saat kamu berhenti memaksakan diri. Ketika pikiranmu mengembara, sekelompok area otak yang berkaitan dengan kreativitas, ingatan, dan rasa benar-salah justru menjadi lebih aktif. Mengambil jarak sejenak bisa diam-diam menyelesaikan masalah yang tidak terpecahkan meski kamu memaksakan diri terus. Kamu pasti pernah merasakannya. Jawaban yang tiba-tiba muncul saat mandi, saat jalan kaki, atau sesaat sebelum tertidur. Itulah otakmu yang sedang beristirahat, mengerjakan sesuatu yang tidak sanggup dikerjakan oleh otakmu yang sibuk.

Kalau ini terus diabaikan, biayanya menumpuk. Stres berkepanjangan tanpa pemulihan adalah resep untuk burnout, yang oleh Cleveland Clinic digambarkan sebagai kelelahan fisik, emosional, dan mental yang datang perlahan, meredupkan motivasimu dan membuat pandanganmu terhadap diri sendiri dan orang lain jadi lebih suram. Ini tidak datang dalam sehari. Ia menumpuk, diam-diam, dari semua waktu pemulihan yang terus kamu tunda.

Scroll HP bukan istirahat

Ini bagian yang paling sering salah dipahami banyak orang, jadi perlu dikatakan dengan jelas. Hal-hal yang biasa kita lakukan untuk "santai" biasanya sama sekali tidak membuat kita beristirahat. Menonton acara, scroll HP, membaca berita, bahkan membaca buku, semuanya tetap membuat otakmu terus memproses informasi. Semua itu menyibukkanmu. Bukan memulihkanmu.

Waktu istirahat yang sesungguhnya hampir tidak menuntut apa pun dari pikiranmu. Psikolog dari Cleveland Clinic menggambarkannya sebagai kebebasan untuk duduk diam menatap ruang kosong, atau melakukan sesuatu yang begitu sederhana, seperti menyapu atau mencabuti rumput, sampai pikiranmu bisa mengembara bebas. Rasa "tidak melakukan apa-apa" itu, yang selama ini kita anggap sebagai waktu yang terbuang, justru adalah kondisi yang dibutuhkan otakmu untuk pulih. Kita sudah terlalu terbiasa mengisi setiap jeda, sampai-sampai jeda kosong itu sendiri terasa tidak nyaman. Belajar kembali untuk menoleransi kekosongan itu adalah setengah dari keterampilan ini.

Istirahat punya banyak bentuk

Ada satu kesalahan yang perlu disebut: mengira tidur sudah mencakup semuanya. Tidur memang penting, tapi kamu bisa tidur delapan jam dan tetap merasa kosong, karena kamu terkuras dengan cara yang tidak tersentuh oleh tidur saja. Istirahat bukan satu hal saja. Ada gunanya memikirkan jenis istirahat apa yang sebenarnya sedang kamu butuhkan.

  • Istirahat fisik. Ini mencakup jenis yang pasif (tidur, tidur siang, berbaring) dan yang aktif (peregangan ringan, jalan santai, gerakan pelan yang melonggarkan tubuh alih-alih membebaninya).
  • Istirahat mental. Jeda singkat di sepanjang hari, bahkan lima atau sepuluh menit di antara tugas, untuk membiarkan pikiran yang terlalu bekerja keras berhenti mencengkeram.
  • Istirahat sensorik. Jeda sungguhan dari layar, suara bising, dan notifikasi. Memejamkan mata. Keheningan. Ini lebih penting dari yang kita kira, di dunia yang ramai dan penuh cahaya seperti sekarang.
  • Istirahat emosional dan sosial. Waktu ketika kamu tidak perlu tampil baik, mengatur, atau "on" untuk siapa pun, termasuk waktu menjauh dari orang-orang yang menguras energimu.
  • Istirahat kreatif. Membiarkan imajinasimu terisi kembali dengan menikmati keindahan, alam, atau seni, tanpa tekanan untuk menghasilkan apa pun.

Kalau istirahatmu terasa tidak membantu, mungkin kamu sedang mengistirahatkan hal yang keliru. Tidur siang tidak akan memperbaiki kelelahan akibat sehari penuh menopang emosi orang lain. Keheningan tidak akan memperbaiki kaki yang belum digerakkan. Sesuaikan jenis istirahat dengan sumber kelelahanmu.

Bagaimana cara melatihnya?

Karena istirahat adalah keterampilan, kamu akan makin mahir dengan melakukannya secara sengaja, sedikit demi sedikit. Beberapa cara untuk memulai:

  1. Masukkan ke jadwal. Terdengar kaku, tapi ini benar-benar berhasil. Istirahat yang tidak dijadwalkan akan habis "dimakan" oleh hal-hal lain. Sisihkan walau hanya lima belas menit, dan perlakukan seperti janji yang harus kamu tepati.
  2. Mulai dari yang sangat kecil. Dua menit menatap keluar jendela di antara rapat sudah terhitung. Kamu sedang membangun toleransi terhadap keheningan, bukan mengejar rekor. Kecil dan sering lebih baik daripada jarang tapi heroik.
  3. Beri kekhawatiran jatah waktunya sendiri. Salah satu alasan istirahat gagal adalah karena begitu kamu berhenti, kekhawatiran langsung membanjiri pikiran. Cleveland Clinic menyarankan untuk menyisihkan waktu khusus untuk khawatir, supaya kekhawatiran itu berhenti "membajak" waktu tenangmu. Kalau pikiran cemas muncul saat kamu sedang istirahat, kamu bisa bilang padanya bahwa waktunya sudah dijadwalkan tersendiri.
  4. Redupkan rangsangan indramu. Redupkan lampu. Diamkan HP. Pejamkan mata selama enam puluh detik. Mengurangi asupan rangsangan sering kali lebih cepat daripada mencoba menenangkan pikiran secara langsung.
  5. Biarkan gerakan menjadi bentuk istirahat, bukan hukuman. Jalan santai yang pelan, tanpa tujuan tertentu, sudah terhitung sebagai istirahat aktif. Ini menenangkan sistem sarafmu, bukan malah memacunya.
  6. Wajar kalau awalnya terasa aneh. Tidak melakukan apa-apa memang tidak nyaman kalau kamu belum terbiasa. Rasa tidak nyaman itu akan berkurang seiring latihan. Itu bukan tanda kamu buruk dalam beristirahat. Itu justru awal dari mulai terampil melakukannya.

Hubungan yang lebih lembut dengan istirahat

Di balik semua teknik itu, ada sesuatu yang lebih besar: izin untuk diri sendiri. Banyak dari kita diam-diam percaya bahwa istirahat harus "dipantaskan" dulu, bahwa berhenti sejenak berarti malas, bahwa kita baru boleh santai kalau semuanya sudah beres. Padahal, semuanya tidak akan pernah benar-benar beres. Kalau istirahat baru boleh dilakukan setelah semua tugas selesai, kamu tidak akan pernah "memenuhi syarat" untuk istirahat.

Hidup yang tenang, stabil, dan bertahan lama tidak dibangun hanya dari usaha. Ia dibangun dari irama antara usaha dan pemulihan, mendorong dan melepaskan. Pemulihan bukan bagian lunak yang boleh dicoret saat sedang sibuk. Justru itulah separuh yang membuat usaha bisa terus dijalani. Memperlakukan istirahat sebagai sesuatu yang boleh kamu lakukan hari ini juga, tanpa harus dipantaskan dulu, mungkin adalah perubahan cara pandang paling berarti dari semuanya.

Bagaimana kalau istirahat saja tidak cukup?

Kadang, kelelahan itu lebih dalam daripada yang bisa dijangkau oleh sebuah keterampilan. Kalau kamu sudah tidur dan istirahat cukup, tapi tetap merasa lelah, hampa, atau tidak bisa menikmati apa pun selama berminggu-minggu, ini layak dibicarakan dengan dokter. Kelelahan yang terus-menerus bisa punya penyebab fisik, dan bisa juga jadi tanda depresi, yang bisa diobati dan bukan sesuatu yang harus dihadapi sendirian. Burnout yang tidak membaik meski sudah libur akhir pekan, apalagi kalau sudah memengaruhi cara kamu memandang dirimu sendiri, layak mendapat dukungan yang sesungguhnya, dan seorang terapis bisa benar-benar membantu. Membutuhkan lebih dari sekadar istirahat bukan berarti istirahatmu gagal. Itu adalah informasi, dan layak untuk didengarkan.

Kamu boleh berhenti sejenak. Mulailah dengan dua menit tidak melakukan apa-apa, dan biarkan itu sudah cukup.

Sumber

  1. Cleveland Clinic, Why Downtime Is Essential for Brain Health
  2. Cleveland Clinic, Signs of Burnout: What It Is, How It Feels and How To Recover
  3. Harvard Health Publishing, The mental side of recovery

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi