Ada semacam kesunyian tertentu yang muncul saat kamu sadar sudah berbulan-bulan tidak bertemu teman, teman yang sungguhan. Bukan rekan kerja. Bukan orang yang kamu sapa di gym. Teman. Yang bisa kamu telepon jam sembilan malam di hari Selasa karena ada sesuatu yang terjadi dan kamu perlu cerita ke seseorang. Kamu gulir kontakmu dan semua nama itu adalah orang-orang yang dulu dekat denganmu, di kota yang dulu kamu tinggali, dalam hidup yang dulu tidak menuntut banyak darimu.
Kalau ini yang kamu rasakan sekarang, ada dua hal yang perlu kamu tahu lebih dulu. Kamu tidak rusak, dan kamu sama sekali tidak sendirian dalam hal ini. Kebanyakan orang dewasa merasa pertemanan lebih sulit didapat daripada yang mereka duga, dan alasannya hampir tidak ada hubungannya dengan apakah kamu orang yang mudah disukai atau tidak.
Kenapa jadi sesulit ini, dan kenapa itu bukan salahmu?
Masa kecil dan masa kuliah menyuguhkan pertemanan begitu saja. Kamu tidak perlu berani atau strategis. Kamu cukup datang ke tempat yang sama, hari demi hari, dengan orang-orang yang sama, dan koneksi pun tumbuh sendiri karena seringnya bertemu. Lalu semua penyangga itu runtuh. Ruang kelas yang sama, lorong asrama, latihan tim, semuanya hilang. Hidup dewasa menyebarkan orang ke berbagai pekerjaan, kota, jadwal, dan layar-layar kecil, dan hidup tidak pernah repot-repot membangun ulang kondisi yang dulu bekerja untukmu.
Ini penting untuk disampaikan dengan jelas karena banyak orang diam-diam menyalahkan diri sendiri. Mereka mengira kalau berteman sekarang rasanya mustahil, pasti ada yang salah dengan diri mereka. Yang sebenarnya salah adalah lingkungannya. Surgeon General Amerika Serikat mengeluarkan peringatan publik pada 2023 yang menyebut kesepian dan keterasingan sosial sebagai masalah kesehatan yang sungguhan, bukan kegagalan pribadi, dan memperingatkan bahwa keterputusan sosial bisa membawa risiko kesehatan setara dengan merokok. Peringatan itu ada karena ini terjadi pada jutaan orang sekaligus. Kamu terjebak dalam masalah struktural, dan masalah struktural punya solusi yang tidak menuntutmu jadi orang lain.
Ada baiknya juga kamu tahu, rasa tidak nyaman yang kamu rasakan tentang semua ini justru pertanda sesuatu yang sehat. Dorongan untuk dekat dengan orang lain, rasa sesak ketika itu tidak ada, itu bukan kebutuhan yang berlebihan. Itu cara kerja bawaanmu, sesuai fungsinya. Kita memang dirancang untuk saling terhubung, dan tubuh yang memberontak saat sendirian adalah tubuh yang bekerja sebagaimana mestinya.
Sebenarnya apa yang dibutuhkan pertemanan (lebih membosankan dari yang kamu kira)?
Ini bagian yang anehnya melegakan begitu kamu memahaminya. Pertemanan tidak dibangun dari karisma atau kecocokan yang sempurna. Pertemanan dibangun dari jam-jam yang dihabiskan bersama.
Seorang peneliti komunikasi bernama Jeffrey Hall meneliti hal ini secara langsung. Penelitiannya menemukan bahwa mengubah seseorang dari kenalan menjadi teman biasa butuh sekitar 50 jam waktu bersama. Untuk jadi teman sungguhan, butuh sekitar 90 jam. Sahabat, yang bisa kamu telepon jam sembilan malam di hari Selasa, butuh lebih dari 200 jam. Dan jam-jam yang benar-benar berarti adalah yang santai, sekadar berkumpul, bercanda, menghabiskan waktu tanpa tujuan tertentu. Jam yang dihabiskan duduk di sebelah seseorang di kantor hampir tidak berpengaruh.
Baca lagi kalimat itu, karena itu mengubah cara kamu memandang masalah ini. Alasan kamu belum punya sahabat di kota baru atau bab hidupmu yang baru sama sekali tidak ada hubungannya dengan tidak disukai orang. Kamu cuma belum menghabiskan 200 jam santai bersama siapa pun. Belum ada yang begitu. Itu bukan penilaian tentang dirimu. Itu soal matematika, dan soal matematika bisa kamu kerjakan.
Artinya dalam praktiknya: satu obrolan yang menyenangkan saja tidak akan cukup, dan memang tidak pernah diharapkan cukup. Kamu tidak gagal ketika kenalan baru yang menjanjikan tidak langsung jadi sahabat setelah dua kali ngopi. Kamu masih di jam keempat dari lima puluh. Yang perlu kamu lakukan hanyalah terus datang, di tempat yang sama, dengan orang-orang yang sama, sampai jam-jam itu terkumpul. Dan itu justru yang berhenti dilakukan hidup dewasa untukmu, dan justru yang bisa kamu bangun kembali dengan sengaja.
Rekayasa pengulangan, karena itulah yang hilang
Kalau bahan rahasianya adalah waktu bersama yang berulang dan santai dengan orang yang sama, maka langkahnya adalah menciptakan pengulangan itu sendiri. Bukan pergi keluar untuk "cari teman" dalam arti besar. Cukup masuk kembali ke sebuah ruang yang akan kamu datangi lagi minggu depan, dan minggu setelahnya.
Beberapa cara yang benar-benar berhasil:
- Pilih kegiatan yang rutin, bukan yang sekali jalan. Kelas mingguan, jadwal main bola bareng, kegiatan sukarelawan, klub buku, kelompok lari, atau ibadah dan pertemuan komunitas yang rutin. Bagian rutinnya inilah intinya. Satu acara networking saja tidak memberimu apa-apa untuk dibangun. Ruang yang sama setiap hari Kamis memberimu jam-jam yang berarti.
- Pilih dulu berdasarkan jadwal, baru minat. Hobi yang kamu cintai tapi hanya kamu jalani dua kali setahun tidak akan pernah jadi pertemanan. Hal yang sedikit kurang menarik tapi benar-benar kamu datangi setiap minggu, itu yang akan jadi. Keteraturan mengalahkan gairah di sini.
- Biarkan kedekatan lokasi bekerja untukmu. Kenali tetanggamu. Jadilah pelanggan tetap di suatu tempat, kedai kopi yang sama, jalur jalan kaki yang sama, taman anjing yang sama. Wajah yang familier berubah jadi kenalan yang saling sapa, dan kenalan yang saling sapa adalah titik awal pertemanan.
- Sambungkan kembali daripada mulai dari nol. Beberapa pertemanan paling mudah adalah dengan orang yang sudah setengah kamu kenal. Teman lama yang perlahan menjauh, rekan kerja lama yang kamu suka, sepupu yang memang menyenangkan diajak ngobrol. Satu pesan singkat yang jujur, “Aku kepikiran kamu terus, bisa nggak kita ngobrol lagi?”, melewati seratus jam proses kenal-kenalan.
Mayo Clinic, yang memantau hal ini karena pertemanan memang baik untuk kesehatan fisikmu, menyarankan langkah-langkah sederhana seperti ini: ikut kelas, jadi sukarelawan, gabung kelompok yang dibangun di sekitar sesuatu yang kamu pedulikan, dan mengajak duluan daripada menunggu diundang. Semuanya tidak butuh kecerdikan khusus. Itu kabar baiknya. Kamu tidak perlu jadi cerdik. Kamu perlu hadir, berulang-ulang.
Satu peringatan pelan soal pengganti yang mudah. Scroll, chat, dan menonton hidup orang lain bisa terasa seperti terhubung padahal hampir tidak memberimu apa-apa, dan itu menghabiskan malam yang sama yang bisa saja kamu pakai untuk berada di ruangan bersama orang-orang sungguhan. Layar adalah jalan yang paling mudah, dan ia akan dengan senang hati menemanimu sambil membuatmu tetap kesepian. Perlakukan malam-malam kosongmu sebagai bahan mentah dari pertemananmu, dan habiskan setidaknya sebagian darinya di tempat di mana tubuh-tubuh benar-benar berada di ruang yang sama.
Bagian yang tidak ada yang memperingatkanmu: kamu harus jadi yang bergerak duluan
Inilah tembok yang dihantam kebanyakan orang. Mereka datang ke acara, bertemu seseorang yang klik, lalu... tidak ada apa-apa. Kedua orang pulang mengira yang lain akan menghubungi lebih dulu, dan tidak ada yang melakukannya. Kenalan yang menjanjikan itu menguap, dan keduanya diam-diam menyimpulkan bahwa mereka payah dalam hal ini.
Pertemanan orang dewasa hampir selalu terhenti di titik ini, dan ada alasannya yang layak disebutkan. Kita terlalu melebih-lebihkan kemungkinan ditolak. Kita mengira orang lain tidak ingin direpotkan, bahwa kita akan mengganggu, bahwa mereka sudah punya banyak teman. Biasanya mereka juga sedang duduk di rumah merasakan kesepian yang persis sama denganmu, menunggu ada yang bergerak duluan.
Jadi, bergeraklah duluan. Jadilah orang yang berkata, “Aku pengen banget makan siang bareng suatu waktu, minggu ini kamu ada waktu kapan?” Jadilah orang yang menindaklanjuti. Ya, kadang-kadang tidak akan berhasil, dan itu memang menyakitkan. Tapi harga satu pesan yang tidak dibalas jauh lebih kecil dibanding harga satu tahun lagi dalam kesendirian, dan kebanyakan waktu, orang lain justru diam-diam merasa lega kamu yang menghubungi.
Ada baiknya kamu ingat, tindak lanjut yang hangat hampir tidak pernah terkesan terlalu mengejar bagi orang yang menerimanya, meskipun dari sisimu rasanya begitu. Ketika seseorang mengirim pesan lebih dulu untuk membuat rencana, kamu tidak jadi memandang rendah orang itu. Kamu justru merasa dipilih. Orang lain merasakan hal yang sama saat kamu melakukannya untuk mereka. Suara dalam kepalamu yang bilang ini berlebihan jarang benar-benar mewakili perasaan orang di ujung sana.
Jangan remehkan koneksi yang lebih kecil
Sambil kamu memainkan permainan panjang menuju sahabat dekat, jangan remehkan hal-hal yang lebih ringan. Psikolog menyebutnya ikatan lemah (weak ties), barista yang tahu pesananmu, tetangga yang kamu sapa di tangga, langganan tetap di gym-mu. Menggoda rasanya untuk menganggap ini bukan pertemanan sungguhan. Tapi ini tetap koneksi yang nyata, dan artinya lebih besar dari yang terlihat.
Riset yang disorot American Psychological Association menemukan bahwa orang cenderung lebih bahagia pada hari-hari ketika mereka mengalami lebih banyak interaksi kecil seperti ini dari biasanya, dan bahwa percakapan dengan orang yang hampir tidak dikenal cenderung lebih hangat dan tidak seaneh yang kita bayangkan. Jadi, ngobrollah dengan orang. Tanyakan hal-hal kecil. Koneksi-koneksi ringan ini sendiri sudah mengangkat mood-mu, dan sesekali salah satunya diam-diam tumbuh jadi sesuatu yang lebih dalam.
Beberapa hal yang bisa membuat jam-jam itu lebih mudah terkumpul
- Turunkan standar tentang apa yang dianggap "cukup". Jalan-jalan, ngopi, duduk-duduk di teras. Tidak harus jadi acara besar. Waktu santai tanpa struktur justru yang membangun pertemanan.
- Jadilah orang yang bisa diandalkan dan spesifik. “Kapan-kapan kita harus main” tidak akan berujung ke mana-mana. “Kamu ada waktu Sabtu pagi?” berubah menjadi jam yang benar-benar terjadi bersama. Undangan yang samar-samar adalah cara niat baik mati begitu saja.
- Biarkan dirimu sedikit dikenal. Pertemanan mendalam saat kamu berbagi sesuatu yang jujur, bukan saat kamu berpura-pura baik-baik saja. Kamu tidak perlu menceritakan seluruh hidupmu. Cukup sesekali jawab “gimana kabarmu” dengan sesuatu yang jujur.
- Bersiaplah kalau ini lambat, dan jangan anggap kelambatannya sebagai kegagalan pribadi. Kamu sedang mengumpulkan tabungan jam. Ada minggu kamu menambah tiga jam, ada minggu kamu tidak menambah sama sekali. Tabungannya tetap naik.
Bagaimana kalau kesepiannya lebih berat dari ini?
Ada jenis kesepian yang bisa mereda seiring waktu dengan nasihat baik dan kelas mingguan. Ada juga jenis yang terasa lebih berat, yang datang bersama rasa hampa dan datar yang tidak mau hilang, di mana memikirkan untuk menghubungi siapa pun terasa mustahil secara fisik, atau di mana berada di antara orang-orang tetap membuatmu merasa sama sendirinya seperti sebelumnya. Kalau ini lebih dekat dengan yang kamu rasakan, tolong perlakukan dengan lembut dan serius.
Kesepian yang terus-menerus bisa berjalan beriringan dengan depresi, kecemasan sosial, dan duka, dan ini adalah hal-hal yang bisa membaik dengan dukungan yang tepat. Dokter atau terapis bisa membantumu memahami apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang benar-benar bisa membantu, dan tidak ada yang salah dengan mulai dari sana daripada dari klub buku. Justru, bekerja sama dengan seseorang untuk mengatasi kecemasan atau mood rendah yang membuatmu terus di rumah bisa jadi hal yang justru membuat klub buku itu mungkin nantinya. Kalau semuanya terasa benar-benar tidak tertahankan, atau kamu mulai berpikir kamu akan lebih baik kalau tidak ada, segera cari bantuan daripada menunggunya sendirian. Menginginkan koneksi sebesar ini bukan kelemahan. Ini salah satu hal paling manusiawi tentang dirimu, dan layak untuk mendapatkan dukungan yang tepat untuk menemukannya.
Pertemanan di usia dewasa lebih lambat dan lebih berantakan dibanding saat kamu berusia dua puluh, dan menuntut lebih banyak darimu, terutama keberanian untuk bergerak duluan dan kesabaran untuk terus datang. Tapi ia masih benar-benar bisa kamu dapatkan. Orang-orang yang bisa jadi sahabat terdekatmu ada di luar sana sekarang, di suatu ruang rutin yang belum kamu masuki, merasakan tepat seperti yang kamu rasakan, berharap ada yang menyapa lebih dulu.
Sumber
- U.S. Department of Health and Human Services, Our Epidemic of Loneliness and Isolation: The U.S. Surgeon General's Advisory on the Healing Effects of Social Connection and Community
- University of Kansas, Study reveals number of hours it takes to make a friend
- Mayo Clinic, Friendships: Enrich your life and improve your health
- American Psychological Association, The science of why friendships keep us healthy