Skip to main content
Sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri? Kamu tidak sendirian. Cari layanan bantuan →

Makan dengan Baik

Lapar vs. ngidam: cara membedakannya

Lapar yang sebenarnya dan ngidam bisa terasa hampir sama persis pada saat itu, tapi keduanya meminta hal yang berbeda. Belajar membedakannya bukan soal tekad sekuat baja, melainkan soal mendengarkan sedikit lebih saksama.

Gelas anggur bening di atas meja kayu cokelat

Photo by Julia Rekamie on Unsplash

Tips singkat

  • Tanyakan apakah apel biasa akan memuaskanmu; kalau tidak, itu kemungkinan ngidam.
  • Tunggu lima menit sebelum bertindak; lapar sejati bertahan, ngidam sering berlalu.
  • Makan teratur dan memuaskan supaya kamu tak pernah tiba di meja dalam keadaan kelaparan.

Kamu membuka kulkas untuk ketiga kalinya dalam satu jam. Tak ada yang berubah di dalamnya sejak terakhir kali kamu melihat, dan kamu bahkan tak yakin kamu lapar. Kamu cuma ingin sesuatu. Kalau itu terasa akrab, kamu bukan rakus atau rusak. Kamu sedang mengalami tarik tambang sehari-hari antara lapar dan ngidam, dua sinyal yang terasa mirip tapi datang dari tempat yang sama sekali berbeda.

Memilah yang satu dari yang lain tidak butuh disiplin sekeras baja. Kebanyakan ia cuma minta jeda singkat dan beberapa pertanyaan yang jujur.

Dua sinyal yang berbeda

Lapar fisik adalah tubuhmu meminta bahan bakar. Ia cenderung naik perlahan, seiring berapa lama sejak terakhir kamu makan, dan ia muncul di tubuhmu, perut yang kosong, energi yang rendah, mungkin sedikit mudah tersinggung mulai merayap. Yang penting, lapar sejati itu berpikiran terbuka. Saat kamu benar-benar lapar, sepotong buah atau semangkuk sisa makanan terdengar enak. Hampir semua makanan bisa menuntaskannya.

Ngidam berperilaku berbeda. Ia tiba tiba-tiba, sering entah dari mana, dan ia pilih-pilih. Ia tidak menginginkan makanan secara umum. Ia menginginkan makanan itu, cokelatnya, keripiknya, satu hal yang spesifik, dan pengganti yang masuk akal tak akan menenangkannya. Ngidam cenderung datang dari pusat penghargaan dan emosi otakmu alih-alih dari perutmu, itulah kenapa ia begitu sering terkait dengan suatu perasaan alih-alih tangki yang kosong.

Perasaan di baliknya

Sebagian besar ngidam adalah perasaan yang berkostum makanan. Menurut Cleveland Clinic, pemicu emosional yang paling umum bahkan bukan kesedihan atau stres, melainkan rasa bosan. Stres, kekhawatiran, rasa lelah, dan energi yang rendah melengkapi para tersangka biasa. Kamu mungkin meraih cokelat saat cemas atau makanan penghibur saat sedang murung, dan makanan itu sebagian menggantikan hal yang sebenarnya kamu butuhkan, sebuah jeda, sedikit istirahat, sedikit kenyamanan.

Itu bukan cacat karakter. Makan demi kenyamanan itu manusiawi, dan sesekali kue-karena-harinya-berat bukanlah masalah yang harus dipecahkan. Masalahnya baru mulai saat makanan jadi satu-satunya alat yang kamu raih, untuk perasaan yang sebenarnya tak bisa diperbaiki makanan.

Cara cepat untuk memeriksa diri

Lain kali dorongan untuk makan muncul, coba perlambat sebelum kamu bertindak. Cleveland Clinic menyarankan beberapa langkah yang memakan waktu kurang dari satu menit:

  • Wawancarai dorongannya. Jeda dan tanyakan dirimu terus terang: aku lapar, atau aku sesuatu yang lain? Mengganti pertanyaan dari “apa yang aku inginkan?” jadi “apa yang aku butuhkan?” sering memunculkan jawaban yang sebenarnya.
  • Jalankan tes apel. Tanyakan apakah makanan biasa yang sehat akan menuntaskanmu. Kalau ya, kamu mungkin lapar. Kalau cuma satu hal spesifik yang bisa, itu kemungkinan ngidam.
  • Beri lima menit. Sisihkan dorongan itu selama beberapa menit dan lakukan sesuatu yang lain, jalan kaki singkat, segelas air, sebuah tugas cepat. Lapar yang sebenarnya bertahan. Lapar yang emosional sering berlalu begitu perasaan di baliknya bergerak.
  • Sadari polamu. Kalau kamu bisa melihat bahwa pukul 4 sore selalu jam goyahmu, kamu bisa mencegahnya, dengan camilan yang direncanakan atau jeda yang sudah disiapkan, alih-alih disergap.

Tujuannya bukan membujuk dirimu untuk tidak makan. Kadang jawabannya iya, kamu lapar, makanlah. Tujuannya cuma untuk tahu sinyal mana yang sedang kamu jawab.

Makan dengan cara yang menenangkan kebisingan

Banyak lapar palsu datang dari makan secara otomatis, di depan layar, sambil berdiri, nyaris tanpa mencicipi. Saat kamu makan sambil terdistraksi, kamu melewatkan baik isyarat kenyang tubuh maupun pemicu emosional di baliknya. Memperlambat di meja makan, benar-benar memperhatikan makanannya, membuat keduanya lebih mudah dibaca.

Membantu juga untuk tidak tiba di meja makan dalam keadaan kelaparan. Membiarkan dirimu sangat lapar cenderung mematikan bagian otak yang berpikir dan menyalakan bagian sambar-apa-saja, tempat ngidam menang setiap kali. Makan teratur dengan porsi yang memuaskan, cukup protein dan serat, menjaga lapar sejati agar tak menyergapmu dan disalahartikan sebagai sesuatu yang bukan dirinya.

Saat layak mendapat lebih banyak dukungan

Bagi kebanyakan orang, ini hal biasa, dan sedikit kesadaran sudah jauh membantu. Tapi kalau makan sudah jadi cara utamamu mengatasi masalah, kalau kamu merasa lepas kendali di sekitar makanan, atau kalau pikiran soal makan dan tubuhmu mengambil banyak ruang dalam harimu, itu tanda yang layak ditanggapi serius. Dokter, ahli gizi terdaftar, atau terapis bisa membantu, dan menjangkau bantuan itu bukan bereaksi berlebihan. Itu tanggapan yang wajar terhadap sesuatu yang lebih berat daripada seharusnya kalau ditangani sendirian.

Tapi kebanyakan, ini soal jadi sedikit lebih penasaran dan sedikit kurang keras pada dirimu sendiri. Kulkasnya akan tetap ada lima menit lagi. Sering kali itu satu-satunya waktu yang kamu butuhkan untuk mengetahui apa yang sebenarnya kamu cari.

Sumber

Sebelum kamu pergi, sepatah kata soal perawatan

KEEP CALM menyediakan alat bantu diri edukatif yang gratis. Ini bukan nasihat medis, diagnosis, atau terapi, dan bukan pengganti perawatan profesional. Jika ada sesuatu di sini yang terasa lebih dari sekadar stres sehari-hari, menghubungi profesional adalah langkah yang kuat dan masuk akal.

If you are in crisis or thinking about harming yourself, you are not alone. In the US, call or text 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), text HOME to 741741 (Crisis Text Line), or call 911 in an emergency.