Langsung ke konten utama

HUBUNGAN · CINTA YANG BERTAHAN

Cara terus mengencani pasanganmu setelah bertahun-tahun bersama

Berpacaran dengan pasangan setelah bertahun-tahun bersama itu kerja kecil yang berulang, dan percikan cinta merespons seperti otot: makin dilatih, makin kuat. Rasa berdebar itu enggak harus pudar hanya karena hubungan sudah terasa akrab. Ini yang benar-benar membuat dua orang terus memilih satu sama lain, tahun demi tahun, dan cara memulainya lagi dari titik kamu berada malam ini.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Seorang pria memeluk seorang wanita dari belakang di dekat tangga

Foto oleh andrew welch di Unsplash

Entah sejak kapan, kencan itu berhenti. Bukan karena disengaja. Tidak ada yang mengumumkannya. Hidup saja jadi makin ramai, dan malam-malam yang dulu milik kalian berdua terisi oleh segala hal lain: anak-anak, kotak masuk email, cucian piring, embusan napas panjang di sofa di penghujung hari yang mengambil lebih banyak daripada yang diberikannya. Kamu dan pasangan masih saling mencintai. Kamu akan mengatakannya tanpa ragu. Tapi kamu mungkin sulit mengingat kapan terakhir kali kamu duduk berhadapan dengan orang ini dan benar-benar merasakan percikan yang dulu kamu cari.

Kalau itu yang kamu rasakan sekarang, kamu tidak gagal. Kamu normal. Hubungan yang panjang cenderung melayang ke mode otomatis, seperti air yang mengalir ke bawah. Kabar baiknya, percikan itu bukan sumber daya terbatas yang habis terpakai di awal. Percikan itu lebih seperti otot. Ia merespons ketika dilatih.

Dan menjaganya tidak perlu muluk-muluk. Cukup hal-hal kecil, yang bisa diulang, dan jauh lebih mudah dilakukan daripada bayangan kata "romantis".

Mengapa kedekatan bisa memudarkan percikan itu?

Di awal hubungan, semuanya terasa seperti penemuan yang tak ada habisnya. Setiap obrolan mengungkap sesuatu yang baru. Setiap jalan-jalan terasa seperti petualangan kecil karena kamu melakukannya dengan seseorang yang masih baru, dan pemahamanmu tentang dirimu sendiri terus bertambah untuk memberi tempat baginya. Psikolog yang meneliti hubungan punya nama untuk pertumbuhan ini. Mereka menyebutnya self-expansion, perasaan menjadi versi dirimu yang lebih luas dan lebih menarik lewat orang yang kamu cintai.

Masalahnya, penemuan itu ada batasnya. Setelah beberapa tahun, kamu berdua sudah saling mengenal luar dalam. Cerita-cerita sudah diceritakan. Kebaruan yang dulu banyak berperan di awal perlahan menghilang, dan yang tersisa hanyalah rasa nyaman. Rasa nyaman itu indah. Tapi kalau berdiri sendiri, rasanya agak datar.

Bagian ini penting untuk dipahami dengan jelas, karena akan mengubah cara kamu menghadapinya. Rasa datar itu bukan tanda bahwa kamu salah pilih pasangan atau sudah tidak cinta lagi. Itu hal yang wajar terjadi ketika kamu sudah mengenal seseorang dengan sangat baik. Peneliti yang mengkaji model self-expansion dari Arthur Aron menemukan bahwa pasangan yang terus melakukan hal-hal baru dan sedikit menantang bersama-sama melaporkan kedekatan dan kepuasan yang lebih tinggi dibanding pasangan yang bertahan pada rutinitas yang sama-sama nyaman. Artinya, kebaruan bisa dihadirkan kembali. Percikan itu tidak hilang. Ia hanya menunggu sesuatu yang baru untuk dipantulkan.

Berkencan lagi dimulai dari hal yang lebih kecil dari bayanganmu

Ketika orang memutuskan untuk "berkencan lagi dengan pasangannya," biasanya yang terbayang adalah reservasi restoran. Ada yang menjaga anak, kemeja rapi, restoran dengan serbet kain. Malam-malam seperti itu penting, dan nanti kita bahas juga. Tapi kalau kamu menunggu malam yang besar itu, kamu akan menunggu lama sekali, sementara hubunganmu tetap harus dijalani setiap hari.

Justru di keseharian itulah kerja yang sebenarnya terjadi. John Gottman, yang sudah puluhan tahun mengamati pasangan-pasangan sungguhan di sebuah apartemen penelitian yang dipenuhi kamera dan sensor, menemukan bahwa pasangan yang hubungannya sehat bukanlah mereka yang paling sering melakukan gestur spektakuler. Mereka adalah yang terus menanggapi sinyal-sinyal kecil, yang mudah terlewat, dari pasangannya yang minta diperhatikan. Ia menyebut sinyal-sinyal ini bids: komentar soal cuaca, tangan di bahumu, "coba lihat ini deh," embusan napas yang bisa kamu tanggapi atau kamu biarkan saja. Setiap sinyal itu seperti ketukan pelan di pintu. *Kamu di sana? Kamu lihat aku?*

Angkanya cukup mencolok. Dalam penelitiannya, pasangan yang masih bahagia bersama enam tahun kemudian ternyata menanggapi sinyal-sinyal itu sekitar 86 persen dari waktu. Pasangan yang akhirnya berpisah hanya menanggapinya 33 persen. Perbedaan antara pernikahan yang bertahan dan yang tidak, sering kali terletak pada momen-momen kecil yang mudah terlupakan itu, bukan pada perayaan ulang tahun pernikahan.

Jadi sebelum merencanakan apa pun, mulailah dari sini:

  • Ketika pasanganmu mengatakan sesuatu yang kecil, angkat pandanganmu dari ponsel dan tanggapi seolah itu penting. Karena memang penting. Itu saja sudah cukup untuk melatih "otot" ini.
  • Tanyakan satu pertanyaan sungguhan setiap hari, jenis pertanyaan yang kamu ajukan di kencan pertama. "Apa bagian terbaik dari harimu?" berhasil. "Baik, kamu?" tidak.
  • Sentuh dengan cara yang berarti. Tangan di punggung, ciuman yang bertahan sedikit lebih lama dari ciuman selamat jalan biasanya.

Semua ini tidak butuh uang atau waktu ekstra. Ini soal mengubah cara pandang. Kamu berhenti memperlakukan pasanganmu seperti perabot yang sudah ribuan kali kamu lewati, dan mulai memperlakukannya seperti orang yang layak diperhatikan lagi.

Bangun kencan di atas kebaruan, bukan sekadar hal yang enak

Ketika akhirnya punya waktu untuk keluar malam, lawan dorongan untuk memilih hal yang biasa. Restoran yang sama, dua topik yang sama, tempat parkir yang sama. Tidak ada yang salah dengan favorit yang nyaman, tapi favorit yang nyaman kebanyakan hanya mempertahankan. Ia jarang memicu percikan.

Yang memicu percikan adalah melakukan sesuatu yang belum pernah kalian coba berdua. Penelitian soal self-expansion cukup praktis di sini: aktivitas bersama yang sedikit baru dan sedikit menantang biasanya memberi dampak lebih besar bagi kedekatan dibanding aktivitas yang sekadar menyenangkan. Kegembiraan yang sedikit awkward karena sama-sama jadi pemula, tertawa karena kalian berdua sama-sama payah melakukan sesuatu, membawa kembali sedikit rasa dari hari-hari awal ketika segalanya masih baru.

Kamu tidak butuh budget besar atau paspor. Beberapa ide yang bisa dicoba:

  1. Ikuti kelas yang kalian berdua kemungkinan besar akan payah melakukannya. Membuat keramik, teknik memasak tertentu, menari, memanah. Sama-sama tidak jago itu justru intinya.
  2. Jadi turis di kotamu sendiri. Pilih satu daerah yang belum pernah kamu kunjungi dan jalan-jalan saja di sana. Temukan museum yang unik, tempat makan kecil yang antrenya panjang.
  3. Bergiliran merencanakan. Biarkan masing-masing merancang acara kejutan yang satunya belum tahu sama sekali. Melihat sisi baru dari orang yang kamu kira sudah kamu kenal seluk-beluknya adalah kesenangan kecil tersendiri.
  4. Buat jadi aktivitas fisik kalau bisa. Hiking, kayak, bersepeda jarak jauh. Sedikit adrenalin bersama, bagi otak, terasa mirip dengan rasa antusias terhadap satu sama lain.

Tujuannya bukan memaksa munculnya kembang api atas permintaan. Tujuannya adalah terus memberi hubunganmu bahan baru untuk diolah, sehingga kamu dan pasangan kembali menemukan satu sama lain, bukan sekadar memastikan apa yang sudah kamu tahu.

Lindungi waktunya, atau ia akan menghilang

Ini kebenaran yang agak tidak nyaman dari semua niat baik di atas. Kalau kamu serahkan pada kapan-kapan-saat-berdua-lagi-mau, itu tidak akan pernah terjadi. Waktu yang tidak kamu pertahankan akan diambil oleh siapa pun yang lebih dulu memintanya, dan yang biasanya lebih dulu meminta adalah anak-anak, atasan, dan ponsel. Hubunganmu adalah satu-satunya bagian hidupmu yang jarang mengirim undangan kalender. Jadi kamu yang harus mengirimkannya.

Ini mungkin terdengar seromantis jadwal ke dokter gigi, dan banyak orang menolaknya justru karena alasan itu. Menjadwalkan cinta rasanya seperti mengakui bahwa cinta itu sudah mendingin. Padahal tidak. Kencan rutin, sekecil apa pun, hanyalah pagar di sekeliling sesuatu yang kamu putuskan untuk terus dijaga. Beberapa cara membuat pagar itu kuat:

  • Pilih slot waktu tetap dan perlakukan seperti komitmen yang tidak akan pernah kamu batalkan demi orang lain. Malam yang sama setiap minggu atau setiap dua minggu, sudah tercatat di kalender berdua, dan dijaga.
  • Turunkan standarnya supaya tetap bisa bertahan di minggu yang berat. Jalan santai sesudah makan malam sudah cukup terhitung. Ngopi Sabtu pagi sebelum rumah bangun juga terhitung. Yang penting jam yang dilindungi itu, bukan seberapa mewah acaranya.
  • Buat aturan kecil soal ponsel. Simpan di laci, layar menghadap bawah, mode senyap, selama waktu itu. Satu jam perhatian yang benar-benar penuh lebih berarti daripada tiga jam yang setengah hati.
  • Tukar jaga anak dengan keluarga lain, atau berbagi biaya pengasuh, supaya urusan biaya dan logistik tidak lagi jadi alasan kencan terus dibatalkan.

Pasangan yang terus berkencan bukan mereka yang punya lebih banyak waktu luang. Mereka adalah yang memutuskan jam ini tidak bisa ditawar, lalu benar-benar menjalankannya.

Ucapkan hal-hal yang biasanya cuma dipikirkan

Ada satu hal lagi, dan ini yang paling mudah terlewat karena rasanya terlalu sederhana untuk repot-repot dilakukan. Katakan pada pasanganmu apa yang kamu hargai darinya. Secara spesifik. Diucapkan. Sesering mungkin.

Pasangan yang sudah lama bersama sering diam-diam tentang hal-hal baik. Kita memperhatikan handuk yang jatuh dan langsung bilang. Kita memperhatikan kopi yang dibawakan untuk kita, cara mereka menghadapi telepon yang sulit, fakta bahwa mereka masih di sana, dan kita tidak bilang apa-apa, karena itu dianggap sudah semestinya, dan hal yang sudah semestinya jadi tidak terucap. Itu kebocoran kecil yang perlahan mengalir.

Peneliti yang mengkaji rasa syukur dalam hubungan menemukan bahwa apresiasi kecil sehari-hari bekerja seperti suntikan penguat. Dalam satu studi yang cukup dikenal, orang yang merasakan dan mengungkapkan terima kasih atas kebaikan-kebaikan sederhana melaporkan merasa lebih terhubung dengan pasangannya keesokan harinya, dan pasangannya pun merasakan hal yang sama. Penelitian lain menemukan bahwa pasangan cenderung meremehkan seberapa besar rasa syukur yang sebenarnya dirasakan pasangannya terhadap mereka. Kehangatan itu sering kali sudah ada. Hanya belum pernah diucapkan, jadi tidak ada yang benar-benar merasakannya.

Coba tutup jarak itu dengan sengaja. Ketika pasanganmu melakukan sesuatu yang penuh perhatian, sebut secara spesifik. "Terima kasih sudah urus jam tidur anak-anak, aku benar-benar butuh itu." Ketika kamu menangkap dirimu mengagumi mereka dari seberang ruangan, katakan itu nanti. Beberapa kali pertama mungkin terasa agak canggung. Lakukan saja. Kamu bukan menyatakan hal yang sudah jelas. Kamu memberi bukti bahwa mereka masih terlihat.

Bagaimana jika jaraknya terasa lebih besar daripada yang bisa diperbaiki satu kencan?

Bukan setiap masa kering hanyalah masa kering biasa. Kadang keterputusan itu lebih luas dan lebih lama, dan beberapa kali makan malam yang enak tidak akan cukup menjangkaunya. Kalau kamu dan pasanganmu terasa lebih seperti teman sekamar daripada pasangan, kalau obrolan selalu berujung pada pertengkaran yang sama atau keheningan yang hati-hati, kalau ada kekesalan yang terus menumpuk selama bertahun-tahun, itu semua nyata dan pantas mendapat perhatian sungguhan.

Itu bukan tanda hubunganmu sudah tidak bisa diselamatkan. Itu tanda bahwa hubunganmu butuh lebih dari yang bisa diurai oleh dua orang saja. Terapis pasangan bukan pilihan terakhir sebelum berakhir. Banyak pasangan yang hubungannya kuat justru menemui terapis seperti menemui pelatih, untuk belajar keterampilan baru dan membersihkan hal-hal yang diam-diam sudah menumpuk. Kalau menghubungi terapis berdua terasa terlalu berat, berbicara dengan terapis sendirian tentang apa yang kamu rasakan adalah titik awal yang sepenuhnya sah.

Dan kalau ada bagian mana pun dari hubunganmu yang membuatmu merasa takut, dikendalikan, atau tidak aman, itu sudah di luar jangkauan malam kencan, dan pantas mendapat dukungan dari orang yang terlatih untuk membantumu memikirkannya dengan jelas. Mencari bantuan semacam itu adalah salah satu hal paling kuat yang bisa dilakukan seseorang.

Tapi untuk kebanyakan pasangan, jaraknya adalah jenis yang biasa, pergeseran perlahan dari dua orang sibuk yang berhenti memberi perhatian. Jenis ini bisa dijangkau lagi. Ia merespons usaha kecil yang konsisten. Kamu tidak perlu merebut kembali persis apa yang kamu miliki di awal. Kamu bisa membangun sesuatu yang tidak akan pernah dimiliki versi awal itu, kedekatan khusus dari dua orang yang sudah saling menemani melewati bertahun-tahun dan malam ini pun masih memilih untuk saling mendekat.

Mulai dari satu pertanyaan saat makan malam. Lihat ke mana ia membawa kalian.

Sumber

  1. The Gottman Institute, Want to Improve Your Relationship? Start Paying More Attention to Bids
  2. PubMed Central, Planning date nights that promote closeness: The roles of relationship goals and self-expansion
  3. Greater Good Science Center (UC Berkeley), It's the Little Things: Everyday Gratitude as a Booster Shot for Romantic Relationships
  4. PubMed Central, Understanding the Links Between Perceiving Gratitude and Romantic Relationship Satisfaction

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi