Di suatu titik dalam hubungan yang sudah lama, ada hal aneh yang bisa terjadi. Kamu dan pasangan masih menjalani peran sebagai pasangan. Kalian berbagi tagihan, menyusun jadwal bersama, saling bertanya apakah yang satu ingat soal itu. Lalu kamu sadar, kamu bahkan tidak ingat kapan terakhir kali benar-benar menikmati kebersamaan dengannya, seperti saat bertemu teman yang bikin kamu senang.
Ini lebih umum terjadi daripada yang orang mau akui. Bukan berarti cintanya sudah hilang. Biasanya artinya, pertemanan yang ada di balik cinta itu jadi agak sepi, terkubur di bawah urusan logistik, rasa lelah, dan daftar panjang hal yang harus diselesaikan. Kabar baiknya, pertemanan itu bagian yang bisa kamu bangun kembali, dan justru bagian inilah yang paling menentukan apakah hubungan itu akan bertahan.
Pertemanan adalah fondasi, bukan bonus
Ada kecenderungan menganggap pertemanan dalam hubungan hanya sebagai bonus manis. Romansa dianggap acara utamanya, sementara pertemanan cuma efek samping yang menyenangkan kalau kamu beruntung. Padahal riset menunjukkan sebaliknya.
Ketika ekonom Shawn Grover dan John Helliwell meneliti data kesejahteraan dari ribuan orang yang sudah menikah, mereka menemukan bahwa lonjakan kebahagiaan akibat pernikahan sekitar dua kali lebih besar pada orang yang menganggap pasangannya sebagai sahabat terbaik. Dua kali lipat. Status pernikahan di formulir itu sama saja untuk keduanya. Pertemanan di dalamnyalah yang paling banyak berperan.
Peneliti hubungan John Gottman, yang menghabiskan puluhan tahun mengamati pasangan asli di laboratorium, sampai pada kesimpulan serupa lewat jalan yang sama sekali berbeda. Dalam modelnya, pertemanan yang dalam adalah fondasi tempat seluruh hubungan berdiri, tempat kepercayaan, komitmen, bahkan kehidupan seksual yang baik dibangun di atasnya. Bukan atapnya. Lantainya.
Jadi kalau pertemanan itu terasa tipis sekarang, itu layak kamu perhatikan. Dan ini bisa diperbaiki, dengan cara yang lebih sederhana dari yang kamu kira.
Pertemanan hidup di ajakan-ajakan kecil
Ini bagian yang bikin banyak orang kaget. Pertemanan antara dua pasangan sebagian besar tidak dibangun lewat gestur romantis yang besar. Ia dibangun, atau justru terkikis, dalam momen-momen kecil sehari-hari yang gampang terlewat.
Gottman menyebut momen-momen ini sebagai ajakan (bid). Ajakan adalah setiap usaha kecil untuk terhubung. Pasanganmu bilang, “eh, lihat deh burung ini” atau “aku baru mimpi aneh banget” atau cuma menghela napas dengan cara yang punya arti. Di detik itu, kamu melakukan salah satu dari tiga hal. Kamu menoleh dan menanggapinya, meski sebentar saja. Kamu berpaling dan mengabaikannya. Atau kamu menanggapinya dengan kesal.
Tidak satu pun dari ini terasa penting saat itu terjadi. Tapi selama bertahun-tahun, hal-hal kecil ini yang menentukan hampir segalanya. Pasangan yang terus menanggapi ajakan-ajakan kecil satu sama lain akan tetap hangat. Pasangan yang terus melewatkannya, perlahan-lahan berubah jadi teman serumah yang kebetulan berbagi ranjang. Ajakannya kecil. Polanya tidak.
Mengetahui ini justru terasa melegakan. Artinya kamu tidak perlu merencanakan malam kencan yang rumit untuk memperbaiki keadaan. Kamu punya belasan kesempatan setiap hari, dan sebagian besar cuma berlangsung sepuluh detik.
Terus perbarui petamu tentang siapa dirinya
Orang berubah. Sosok yang dulu jadi pasanganmu lima tahun lalu kini punya kekhawatiran baru, obsesi-obsesi kecil yang baru, dan gambaran hidup yang ingin dijalaninya sedikit berbeda. Teman biasanya terus mengikuti perubahan ini. Pasangan sering berhenti, karena merasa sudah tahu semuanya.
Istilah Gottman untuk terus mengikuti perubahan ini adalah peta cinta (love map), pengetahuan mendetail dan terus diperbarui tentang dunia batin pasanganmu. Apa yang sedang membuatnya stres sekarang. Apa yang diam-diam dia banggakan. Nama rekan kerja yang bikin dia jengkel setengah mati. Kamu membangun peta cinta ini dengan cara yang sama seperti menjaga kedekatan dengan sahabat lama. Kamu bertanya, lalu benar-benar mendengarkan.
Beberapa pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar “gimana harimu”:
- Apa yang belakangan ini ada di pikiranmu tapi belum kamu ucapkan?
- Ada nggak sesuatu yang lagi kamu tunggu-tunggu sekarang?
- Apa yang bisa bikin minggu ini terasa sedikit lebih ringan?
- Ada yang berubah dari dirimu yang mungkin belum aku sadari?
Pertanyaannya sendiri tidak sepenting sikap yang ada di baliknya. Kamu memperlakukan pasanganmu sebagai orang yang terus berkembang, bukan sesuatu yang tetap dan sudah selesai kamu pelajari bertahun-tahun lalu.
Sengaja luangkan waktu untuk bersenang-senang
Teman melakukan sesuatu bersama tanpa alasan lain selain karena itu menyenangkan. Entah bagaimana, banyak pasangan sepenuhnya kehilangan hal ini. Setiap kegiatan bersama berubah jadi tugas rumah, urusan yang harus diselesaikan, atau rapat logistik soal anak-anak.
Bersenang-senang di sini bukan hal sepele. Justru dari situ kamu diingatkan kenapa dulu kamu suka padanya. Jadi, jaga waktu yang tidak punya agenda dan tidak perlu berguna. Masak sesuatu bareng meski hasilnya berantakan. Tonton acara yang konyol. Jalan-jalan tanpa tujuan. Pertahankan satu kegiatan bersama yang murni untuk kalian berdua dan tidak boleh berubah jadi sesuatu yang “berguna”.
Jaga juga sopan santun dalam pertemanan itu. Pada teman, kamu akan bilang terima kasih, kamu akan menyadari saat mereka berbuat baik, kamu akan berprasangka baik dulu sebelum menyimpulkan yang buruk. Kesopanan semacam ini justru sering paling cepat luntur pada orang yang paling dekat dengan kita, dan layak dijaga dengan sengaja. Gottman menemukan bahwa kebiasaan tetap untuk menyayangi dan menghargai, sekadar menyadari apa yang kamu kagumi dari pasanganmu lalu mengatakannya, adalah salah satu penanda paling jelas dari pasangan yang bertahan lama.
Satu catatan penting
Ada versi saran ini yang bisa berlebihan, dan perlu disebutkan di sini. “Jadikan pasanganmu segalanya” bukan tujuannya.
Sebuah studi tahun 2025 di *Journal of Social and Personal Relationships* menemukan bahwa orang yang menganggap pasangan romantisnya sebagai satu-satunya sahabat terbaik merasa lebih dekat dan lebih ditemani, tapi mereka juga melaporkan dukungan yang lebih sedikit dari lingkaran pertemanan yang lebih luas. Ketika satu orang menjadi seluruh dunia sosialmu, dunia itu jadi lebih kecil dan lebih rapuh. Pertemanan di luar hubungan bukan ancaman baginya. Itu justru bagian dari yang menjaganya tetap sehat.
Ini sejalan dengan yang sudah kita tahu tentang pertemanan secara umum. American Psychological Association mencatat bahwa pertemanan yang dekat berkaitan dengan stres yang lebih rendah, kesehatan mental yang lebih baik, bahkan usia yang lebih panjang. Kamu ingin pasanganmu jadi teman yang hebat. Tapi kamu tidak ingin dia jadi satu-satunya.
Kapan jarak ini lebih dari sekadar kelesuan sesaat?
Sebagian besar masa lesu dalam pertemanan bisa membaik lewat perhatian. Kamu mulai menanggapi lagi ajakan-ajakan kecil itu, kamu jadi penasaran lagi satu sama lain, kamu menjaga sedikit waktu untuk bersenang-senang, dan kehangatan itu pun kembali dalam beberapa minggu.
Tapi kadang situasinya lebih berat dari itu. Kalau kalian sudah terjebak dalam sikap merendahkan yang terus-menerus atau saling menutup diri, kalau percakapan selalu berakhir di titik yang sama-sama menyakitkan, kalau salah satu atau kalian berdua diam-diam sudah menyerah, itu butuh lebih dari sekadar artikel semacam ini. Terapis pasangan yang baik bukan pilihan terakhir atau tanda kegagalan. Lebih tepatnya seperti menyewa pemandu yang paham medannya, dan banyak pasangan sebenarnya bisa mulai lebih awal dari yang mereka kira perlu.
Dan kalau hubungan itu terasa tidak aman, kalau ada rasa takut, kontrol, atau kekerasan yang terlibat, itu situasi yang berbeda dari sekadar pertemanan yang memudar, dan itu layak mendapat dukungan sungguhan dari orang-orang yang terlatih untuk itu.
Tapi untuk kelunturan yang biasa terjadi, mulailah malam ini, dan mulai dari yang kecil. Lain kali pasanganmu mencoba terhubung denganmu lewat komentar kecil yang sepertinya tidak penting, angkat kepalamu. Tanggapi. Sepuluh detik itulah intinya, yang diulang terus selama bertahun-tahun.
Sumber
- The Gottman Institute, F is for Friendship
- National Bureau of Economic Research, How's Life at Home? New Evidence on Marriage and the Set Point for Happiness (Grover & Helliwell)
- American Psychological Association, The science of why friendships keep us healthy
- Phys.org, Companionship rises but support from friends falls when romantic partners become best friends, study shows