Langsung ke konten utama

HUBUNGAN · KONFLIK & PEMULIHAN

Memaafkan: apa itu, apa bukan, dan cara sampai ke sana

Memaafkan sering dijual sebagai sesuatu yang kamu utang ke orang lain, atau sebagai sesuatu yang berarti luka itu tak penting. Bukan keduanya. Ini cara berpikir yang lebih jernih dan lebih lembut soal memaafkan, dan jalan yang benar-benar bisa kamu tempuh.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Seorang pria duduk di meja sambil berbincang dengan seorang perempuan

Foto oleh Vitaly Gariev di Unsplash

Jika kamu sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri, kamu tidak sendirian. Di AS, telepon atau SMS 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), SMS HOME ke 741741 (Crisis Text Line), atau telepon 911 dalam keadaan darurat. Di mana pun kamu berada di dunia, findahelpline.com memuat daftar layanan krisis yang gratis dan rahasia di negaramu sendiri dan dalam bahasamu sendiri. Kalau kamu sedang dalam bahaya langsung, hubungi nomor darurat setempat.

Seseorang pernah menyakitimu, dan kamu terus memikulnya. Mungkin sudah berminggu-minggu. Mungkin sudah bertahun-tahun. Kamu memutar ulang momen itu saat mandi, di dalam mobil, jam 2 dini hari. Kamu sudah membayangkan apa yang akan kamu katakan kalau kesempatan itu datang. Dan entah kapan, ada yang bilang kamu harus memaafkan dan melanjutkan hidup, seolah itu tombol yang tinggal kamu tekan asal kamu cukup baik sebagai orang.

Nasihat semacam itu biasanya terasa seperti tekanan, bukan kelegaan. Salah satu masalahnya, hampir tidak ada yang sepakat tentang apa sebenarnya arti memaafkan. Orang mendengar kata itu dan langsung membayangkan membebaskan pelaku begitu saja, berpura-pura semuanya baik-baik saja, atau kembali seperti sebelum kejadian. Pantas saja rasanya mustahil. Kamu diminta melakukan sesuatu yang terdengar seperti mengkhianati dirimu sendiri.

Jadi, mari kita perlambat dan bicara lebih spesifik tentang apa yang dimaksud dan tidak dimaksud dengan kata ini. Semakin jelas definisinya, semakin mudah dijangkau hal itu.

Sebenarnya, apa itu memaafkan?

Para psikolog yang meneliti hal ini seumur hidup cenderung mendefinisikan memaafkan secara cukup sempit. Ini adalah keputusan sadar dan internal untuk melepaskan kebencian dan keinginan membalas dendam terhadap orang yang menyakitimu. Itu saja. Prosesnya terjadi di dalam dirimu. Ini soal melonggarkan cengkeraman kebencian atas hari-harimu, bukan soal apa yang dilakukan atau pantas diterima orang lain.

Perhatikan apa yang tidak ada dalam definisi itu. Tidak ada syarat orang itu harus minta maaf. Tidak ada keharusan menganggap luka itu wajar. Tidak ada keharusan untuk kembali seperti dulu. Memaafkan, dalam arti ini, adalah pergeseran dalam hubunganmu sendiri dengan apa yang terjadi. Mayo Clinic menggambarkannya sebagai melepaskan dendam dan kepahitan yang muncul karena terus memutar ulang kesalahan orang lain, agar hal itu berhenti mengendalikan hidupmu dari dalam.

Inilah alasan mengapa ini penting secara praktis. Ketika kamu terus memendam dendam yang berat, tubuhmu tidak memperlakukannya sebagai kenangan lama. Tubuhmu memperlakukannya sebagai ancaman yang masih berlangsung. Detak jantung dan tekanan darahmu naik. Kamu terus dalam keadaan siaga. Para peneliti dan klinisi, termasuk tim di Johns Hopkins Medicine, mengaitkan kemarahan kronis yang tak terselesaikan dengan biaya fisik yang nyata: tekanan darah lebih tinggi, tidur lebih buruk, beban lebih besar pada jantung dari waktu ke waktu. Orang yang menyakitimu mungkin tidur nyenyak-nyenyak saja. Kamulah yang menanggung bebannya.

Apa yang bukan memaafkan?

Bagian ini yang biasanya paling melegakan, jadi penting untuk dijelaskan dengan gamblang.

Memaafkan bukan berarti melupakan. Kamu tetap boleh mengingat persis apa yang terjadi dan menjadikannya pelajaran untuk melindungi dirimu ke depannya. Ingatan yang jelas justru membuatmu tetap aman.

Ini juga bukan berarti membenarkan atau memaklumi. Kamu bisa sepenuhnya memaafkan seseorang dan tetap yakin sepenuh hati bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Melepaskan kebencian tidak mengubah fakta. Greater Good Science Center di Berkeley menegaskan hal ini: memaafkan seseorang tidak berarti menutup-nutupi kesalahan itu atau berpura-pura bahwa itu bukan hal serius.

Ini juga bukan rekonsiliasi. Poin ini penting. Rekonsiliasi adalah membangun kembali hubungan dan kepercayaan. Memaafkan bisa kamu lakukan sendiri, di dalam hatimu, untuk orang yang tidak menyesal, jauh darimu, atau bahkan sudah tiada. Kamu bisa memaafkan seseorang dan tidak pernah lagi bicara dengannya. Kadang itu justru pilihan yang paling sehat.

Dan ini bukan satu momen heroik yang sekali jadi. Orang sering membayangkan memaafkan sebagai satu tindakan bersih, setelah itu perasaannya hilang untuk selamanya. Memaafkan yang sesungguhnya lebih mirip merawat luka. Rasa sakit itu bisa kembali. Sebuah lagu, hari raya, nomor telepon yang dikenal, dan amarah lama itu menyala lagi. Itu bukan berarti kamu gagal. Itu berarti kamu manusia, dan kamu boleh memaafkan hal yang sama lagi, sedikit lebih ringan setiap kali.

Lalu, kenapa ini layak diperjuangkan?

Kalau memaafkan menuntut sesuatu yang berat darimu, wajar untuk bertanya apa yang kamu dapatkan sebagai gantinya. Jawaban jujurnya, yang paling diuntungkan biasanya adalah kamu sendiri.

Ketika orang menjalani proses memaafkan secara terstruktur, hasilnya terlihat dalam data, bukan hanya dalam kata-kata mutiara. Tinjauan atas berbagai studi klinis menemukan bahwa orang yang menjalani proses ini cenderung mengalami penurunan kecemasan, depresi, dan permusuhan, serta peningkatan harapan. Tim Greater Good menemukan pola yang sama: seiring dendam mengendur, respons stres tubuh mereda, dan orang yang berhasil memaafkan relatif lebih terlindungi dari keausan yang ditinggalkan amarah yang dipendam lama.

Bayangkan kebencian sebagai satu ruangan di rumahmu yang kamu tutup rapat tapi tetap kamu panaskan terus-menerus. Memaafkan adalah membuka pintunya dan membiarkan suhunya kembali normal. Ruangan itu selama ini menyedot biayamu. Kamu hanya berhenti menyadari tagihannya.

Jalan yang bisa benar-benar kamu tempuh

Tidak ada satu cara yang cocok untuk semua orang, dan semakin dalam lukanya, semakin penting mencari bantuan profesional. Tapi para peneliti memaafkan sudah memetakan langkah-langkah yang terus muncul berulang kali. Berikut versi sederhananya yang bisa kamu coba.

  1. Sebutkan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Jadi spesifik, tuliskan kalau itu membantu. Apa yang mereka lakukan? Apa yang itu rugikan darimu? Mencoba memaafkan sesuatu yang samar tidak akan berhasil. Kamu perlu tahu betul bentuk asli dari beban yang kamu bawa.
  2. Biarkan dirimu merasakan amarah dulu sebelum berusaha melepaskannya. Memaafkan yang melompati rasa sakit hanyalah penekanan perasaan berbaju rapi. Kebencian itu adalah informasi. Duduki dulu rasa itu dengan jujur.
  3. Putuskan bahwa kamu ingin bebas darinya. Ini pilihan yang kamu ambil demi dirimu sendiri, terlepas dari perasaanmu terhadap orang itu. Kamu tidak sedang memutuskan bahwa dia benar. Kamu sedang memutuskan bahwa kamu selesai dirantai olehnya.
  4. Coba, kalau kamu sudah siap, untuk melihat sosok manusia di balik pelaku. Ini langkah tersulit dan tidak wajib, tapi membantu. Orang yang menyakiti orang lain sering bertindak dari ketakutan, luka, atau keterbatasannya sendiri. Memahami itu bukan berarti setuju dengannya. Ini hanya membuat mereka tampak lebih kecil di pikiranmu daripada sosok penjahat raksasa yang biasa dibentuk oleh kebencian.
  5. Ambil kembali kendali atas ceritamu. Apa yang diajarkan oleh proses bertahan dari ini? Batasan apa yang akan kamu pegang sekarang? Mengubah pengalaman ini menjadi sesuatu yang kamu bawa dengan sengaja, bukan sesuatu yang membawamu, seringkali di situlah pelepasan yang sesungguhnya terjadi.
  6. Bersiaplah untuk mengulangnya. Ketika perasaan itu kembali, dan pasti akan kembali, ulangi langkah-langkah ini tanpa menghakimi dirimu sendiri. Setiap kali, biasanya rasa sakitnya sedikit lebih ringan.

Satu hal soal memaafkan diri sendiri, karena bagi banyak orang ini justru yang paling sulit. Caranya sama. Sebutkan apa yang kamu lakukan, rasakan penyesalannya dengan jujur, perbaiki apa pun yang bisa diperbaiki, lalu putuskan untuk berhenti menjadikan masa lalu sebagai senjata melawan hidupmu sekarang. Memaafkan diri sendiri bukan berarti berpura-pura kamu tidak melakukan kesalahan. Ini soal memutuskan bahwa kamu berhak untuk tumbuh melampaui itu.

Kapan sebaiknya kamu mencari bantuan?

Ada luka yang terlalu berat untuk diangkat sendirian, dan tidak ada yang salah kalau kamu tidak sanggup melakukannya sendiri. Kalau luka itu melibatkan trauma, kekerasan, atau kehilangan yang masih membanjirimu setiap kali kamu mendekatinya, tolong jangan jadikan memaafkan sebagai proyek solo. Seorang terapis bisa membantumu menjalani ini dengan kecepatan yang sanggup ditahan tubuhmu, dengan urutan yang tidak melukaimu lagi.

Waspadai juga tanda-tanda bahwa kebencian itu sudah lebih dari sekadar kenangan: ketika ia mengganggu tidurmu, merusak hubungan lain dalam hidupmu, atau menyeretmu ke titik terendah yang sulit kamu tinggalkan. Itu layak dibicarakan dengan dokter atau profesional kesehatan mental. Dan kalau menekan luka itu pernah membuatmu merasa seolah tidak ada jalan keluar, hubungi layanan krisis atau seseorang yang kamu percaya hari ini juga, bukan nanti-nanti. Kamu tidak harus memikul hal-hal terberat sendirian.

Memaafkan, ketika akhirnya datang, jarang muncul sebagai perasaan damai yang megah. Lebih sering, ia datang lebih diam-diam dari itu. Suatu hari kamu sadar ingatan itu muncul lagi dan seluruh tubuhmu tidak menegang. Pikiran itu lewat begitu saja dan berlalu. Itulah pintu yang mulai terbuka. Kamu boleh membiarkannya.

Sumber

  1. Mayo Clinic, Forgiveness: Letting go of grudges and bitterness
  2. Johns Hopkins Medicine, Forgiveness: Your Health Depends on It
  3. Greater Good Science Center, UC Berkeley, Forgiveness Defined: What Is Forgiveness?

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi