Kamu sudah mengatakan hal itu. Mereka membalasnya. Sekarang kalian berdua berdiri di dapur, jantung berdegup kencang, dan ada bagian tenang dalam dirimu yang bertanya-tanya, apakah saling mencintai memang seharusnya terasa sesulit ini.
Memang begitu. Hubungan yang paling dekat justru menghasilkan gesekan paling banyak, karena kamu dan pasanganmu adalah dua manusia utuh yang berbagi hidup, dan tidak ada dua orang yang menginginkan hal yang sama persis di waktu yang sama persis. Tujuannya memang bukan hubungan tanpa konflik sama sekali. Hubungan yang tak pernah ada perbedaan pendapat biasanya berarti salah satu pihak memilih diam demi menjaga kedamaian, dan diam itu punya harga yang panjang. Dendam tumbuh subur di ruang-ruang yang dulunya diisi kejujuran.
Jadi pertanyaan yang lebih pantas ditanyakan bukan bagaimana caranya berhenti bertengkar. Melainkan bagaimana caranya bertengkar dengan cara yang membuat kalian justru semakin dekat sesudahnya.
Apa yang benar-benar jadi tanda bahaya?
Para peneliti yang sudah puluhan tahun mengamati pasangan bertengkar di laboratorium menemukan sesuatu yang berguna. Apakah sebuah hubungan bertahan atau justru bubar, ternyata sedikit sekali kaitannya dengan seberapa sering mereka berselisih, atau seberapa keras suara mereka. Yang menentukan justru bagaimana mereka memperlakukan satu sama lain saat berselisih.
American Psychological Association mengatakannya dengan jelas: pasangan yang menghadapi konflik dengan kebiasaan yang merusak, berteriak, menyerang pribadi, atau menarik diri dari percakapan, lebih mungkin berpisah dibanding pasangan yang bertengkar secara konstruktif, dengan mendengarkan pasangannya dan berusaha memahami apa yang dia rasakan. Jumlah perselisihannya sama. Hasilnya bisa sangat berbeda.
Tim peneliti John Gottman menamai empat kebiasaan yang benar-benar merusak. Perhatikan ini pada dirimu sendiri, bukan cuma pada pasanganmu:
- Kritik yang menyerang pribadi, bukan masalahnya. “Kamu lupa telepon” itu keluhan. “Kamu memang egois, nggak pernah mikirin orang lain selain diri sendiri” itu serangan terhadap siapa dirinya.
- Penghinaan (contempt), yang paling merusak dari semuanya. Memutar mata, sarkasme, ejekan, bicara merendahkan. Ini menunjukkan kamu sudah berhenti menghormati pasanganmu, dan dampaknya paling parah dibanding yang lain.
- Bersikap defensif, membalas keluhan dengan alasan atau balik menyalahkan. Ini cara untuk bilang bahwa masalahnya sepenuhnya salah pasangan.
- Menutup diri (stonewalling), diam membatu dan menarik diri, meninggalkan ruangan secara emosional meski tubuhmu tetap di situ.
Semua ini bukan cacat karakter. Ini yang hampir semua orang lakukan saat merasa diserang dan kewalahan. Yang perlu dilatih adalah menyadari saat kamu sudah memegang salah satunya, lalu melepaskannya.
Sebelum kamu mengucapkan sepatah kata pun
Kebanyakan pertengkaran bukan kalah di isinya. Tapi kalah di sembilan puluh detik pertama, saat sistem saraf salah satu pihak masuk ke mode siaga penuh dan otak yang bisa berpikir jernih diam-diam mati sejenak.
Kamu pasti kenal keadaan ini. Jantung berdebar, wajah panas, tiba-tiba merasa yakin bahwa kamu benar dan pasanganmu keterlaluan. Itu bukan saat yang tepat untuk menyelesaikan apa pun. Tidak ada orang yang bisa berunding dengan baik saat tubuhnya masih dalam posisi siap bertarung. Para klinisi Cleveland Clinic mengatakan tidak apa-apa untuk menunggu sehari dua hari sebelum percakapan sulit, agar kamu benar-benar tenang dan jernih sebelum memulainya.
Jadi, saat kamu merasa emosimu mulai naik:
- Namai perasaan itu, bahkan cukup dalam hati. “Aku lagi kewalahan sekarang.” Memberi nama pada perasaan itu sedikit meredakan panasnya.
- Minta jeda, bukan jalan keluar. Ada perbedaan nyata antara “Aku butuh lima belas menit, aku nggak lagi pergi meninggalkan ini” dengan pergi begitu saja sambil marah. Yang pertama menjaga percakapan tetap hidup. Yang kedua mengakhirinya.
- Lakukan sesuatu yang benar-benar menenangkan tubuhmu. Jalan santai, menghela napas panjang, segelas air. Kamu tidak bisa berpikir jernih menuju ketenangan selama sistemmu masih dalam mode siaga. Tubuhmu dulu yang harus diturunkan.
Aturan yang membuat jeda ini berhasil: siapa pun yang meminta jeda, dialah yang bertanggung jawab untuk kembali. Time-out bukan cara untuk menang dengan menghilang. Ini cara untuk kembali sebagai versi diri yang lebih baik.
Bagaimana menyampaikan hal yang sulit tanpa melukai?
Saat kalian akhirnya bicara, kalimat pembuka lebih penting dari hampir apa pun yang datang sesudahnya. Mulai dengan lembut, dan pasanganmu akan tetap bersamamu. Mulai dengan tuduhan, dan kalian akan menghabiskan satu jam berikutnya bertengkar soal tuduhan itu, bukan soal hal yang sebenarnya menyakitkan.
Ada struktur sederhana yang terbukti berhasil, diambil dari cara klinisi mengajarkan komunikasi asertif: namai masalahnya, namai perasaanmu, lalu sampaikan permintaanmu. Semua dari sudut pandangmu sendiri.
“Waktu rencana berubah mendadak dan aku nggak dikasih tahu, aku jadi merasa nggak dilibatkan. Bisa nggak kita cari cara supaya saling kasih kabar?”
Bandingkan dengan “Kamu selalu begini.” Yang satu mengajak pasanganmu untuk bergabung. Yang lain menempatkannya di kursi terdakwa. Bukan soal sopan santun semata. Perasaan tidak bisa dibantah. Pasanganmu bisa memperdebatkan apakah dia “selalu” telat. Tapi dia tidak bisa membantah bahwa kamu merasa tersisih, jadi tidak ada yang perlu dibela, dan kalian berdua bisa tetap berada di sisi meja yang sama.
Beberapa hal lain yang menjaga perselisihan agar tidak berubah jadi buruk:
- Fokus pada satu topik. Begitu kamu menarik keluhan bulan lalu dan komentar yang pernah diucapkan ibunya, kamu bukan lagi sedang menyelesaikan masalah, tapi sudah mulai membangun tuntutan. Tetap pada satu hal yang sedang dihadapi.
- Dengarkan untuk memahami, bukan untuk membalas. Kebanyakan dari kita mendengarkan sambil menyiapkan sanggahan. Coba dengarkan demi ketepatan sebaliknya. “Jadi yang bikin sakit hati itu karena aku ambil keputusan tanpa nanya kamu dulu, gitu ya?” Orang jadi lebih lunak dengan cepat begitu merasa benar-benar didengar.
- Biarkan pasanganmu punya sedikit benar. Kamu hampir tidak pernah sepenuhnya benar. Menemukan sepuluh persen yang kamu setujui bukan berarti menyerah. Itu cara sebuah tembok berubah kembali menjadi percakapan.
Bagaimana kalau salah satu melewati batas?
Kamu masih akan melakukan kesalahan sesekali. Semua orang begitu. Kamu akan membentak, mengucapkan kata-kata tajam, memutar mata padahal maksudnya mau mendengarkan. Pasangan yang bertahan lama bukanlah mereka yang tidak pernah saling melukai. Mereka adalah yang memperbaiki, dan melakukannya dengan cepat.
Laboratorium Gottman menemukan bahwa usaha kecil untuk memperbaiki keadaan saat bertengkar, sedikit humor, sentuhan tangan di lengan, “tunggu, bisa kita mulai lagi dari awal?”, adalah salah satu tanda paling jelas dari hubungan yang akan bertahan. Usaha memperbaiki itu tidak harus sempurna. Yang penting tulus, dan yang penting benar-benar dilakukan.
Seperti apa permintaan maaf yang tulus:
- Akui bagian kesalahanmu sendiri secara spesifik, tanpa embel-embel yang membatalkannya. “Aku tadi ketus sama kamu, dan itu nggak adil” terasa tulus. “Maaf ya aku teriak, tapi kan kamu duluan yang mulai” bukan permintaan maaf, itu babak kedua.
- Katakan apa yang akan kamu lakukan berbeda, secara jelas, bukan janji samar untuk “jadi lebih baik.”
- Beri ruang bagi pasanganmu untuk tetap merasa terluka. Permintaan maaf yang baik tidak berhak menuntut pengampunan seketika. Kadang tindakan paling baik adalah menyampaikan permintaan maaf, lalu memberi ruang bagi mereka untuk merasakannya.
Dan saat kamulah yang terluka, memperbaiki keadaan juga bisa kamu tawarkan. Menyampaikan apa yang kamu butuhkan, dengan lembut, adalah bentuk kepercayaan tersendiri. “Aku masih agak sakit hati soal tadi, tapi aku nggak mau tidur dengan hati dingin ke kamu,” menjembatani jarak tanpa berpura-pura jaraknya tidak ada.
Satu batas yang penting untuk diketahui
Semua yang dibahas di sini mengandaikan dua orang yang, di balik momen buruk itu, tetap saling menghormati dan ingin membuat hubungannya berhasil. Kebanyakan cinta cocok dengan gambaran ini, bahkan di malam terburuknya sekalipun.
Tapi ada situasi yang tidak cocok, dan itu butuh respons yang berbeda, bukan sekadar komunikasi yang lebih baik. Kalau perselisihan sering membuatmu ketakutan, kalau ada intimidasi, kontrol, atau bentuk kekerasan apa pun, itu bukan konflik yang bisa diselesaikan dengan kata-kata yang lebih lembut. Itu masalah keselamatan, dan kamu berhak mendapat dukungan nyata dari orang yang terlatih untuk itu, bukan sekadar sudut pandang self-help.
Di luar situasi seperti itu, kalau pertengkaran yang sama terus berulang meski sudah kamu tangani dengan hati-hati, atau kalau penghinaan sudah menyusup dan tak mau pergi, terapis pasangan bukan tanda kegagalan. Itu yang dilakukan orang-orang yang cukup serius menjaga hubungannya sehingga ingin mendapat bantuan untuknya. Banyak pasangan yang kuat dan penuh cinta pernah duduk di sofa itu. Mencari bantuan adalah salah satu hal paling penuh harapan yang bisa dilakukan dua orang bersama-sama.
Percakapan sulit yang dijalani dengan penuh perhatian tidak akan membuat kalian menjauh. Kalau dilakukan cukup sering, justru itu yang membuat ikatan kalian cukup kuat untuk menghadapi pertengkaran berikutnya.
Sumber
- American Psychological Association, Happy couples: How to keep your relationship healthy
- The Gottman Institute, The Four Horsemen: Criticism, Contempt, Defensiveness, and Stonewalling
- Cleveland Clinic, How To Become More Assertive