Skip to main content
Sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri? Kamu tidak sendirian. Cari layanan bantuan →

HUBUNGAN · KONFLIK & PERBAIKAN

Cara berbaikan setelah bertengkar

Pertengkarannya sudah usai tapi udaranya masih terasa berat. Apa yang kamu lakukan dalam satu jam berikutnya lebih penting daripada apa pun yang kalian ucapkan saat panas-panasnya. Ini cara menemukan jalan kembali ke satu sama lain.

Seorang pria mengenakan kaus polo bergaris hitam-putih duduk di kursi

Photo by Toa Heftiba on Unsplash

Tips singkat

  • Ambil jeda sungguhan untuk mendinginkan diri.
  • Buang kata 'tapi' dari permintaan maafmu.
  • Sebut dengan suara luka yang kamu timbulkan.

Teriakannya sudah berhenti. Mungkin sebuah pintu ditutup sedikit terlalu keras, atau mungkin kalian berdua cuma terdiam lalu hanyut ke ujung-ujung rumah yang berseberangan. Apa pun itu, kamu ditinggali keheningan yang pekat dan menyebalkan itu serta perut yang penuh penyesalan. Sebagian dirimu ingin masuk lagi dan menuntaskan pendapatmu. Bagian lain cuma ingin kedekatannya kembali tapi tak tahu sama sekali bagaimana memintanya.

Ruang di antara itu tidak nyaman, dan di situ pula kerja yang sesungguhnya terjadi. Pasangan yang tetap dekat selama bertahun-tahun bukanlah yang tak pernah bertengkar. Mereka adalah yang pandai menemukan jalan kembali sesudahnya.

Tulisan ini tentang menemukan-jalan-kembali itu. Tentang perbaikannya.

Pertengkaran bukanlah masalahnya

Inilah sesuatu yang mengejutkan banyak orang. Konflik, dengan sendirinya, tidak meramalkan apakah sebuah hubungan akan bertahan. Dua orang yang saling mencintai akan saling bergesekan di tepi masing-masing. Pengasuhan yang berbeda, kebutuhan yang berbeda, gagasan yang berbeda tentang cara menata mesin cuci piring. Gesekan itu normal, dan hubungan tanpa gesekan sama sekali biasanya hubungan di mana seseorang sudah berhenti bersuara.

Yang sebenarnya memisahkan pasangan yang berkembang subur dari yang perlahan berantakan adalah perbaikan. Peneliti hubungan John Gottman, yang sudah mempelajari pasangan di labnya selama puluhan tahun, menemukan bahwa kemampuan memperbaiki setelah konflik adalah salah satu pertanda terkuat apakah sebuah kemitraan akan bertahan. Perbaikan bisa hampir berupa apa saja yang menghentikan pusarannya dan mengulurkan tangan kembali ke arah kedekatan. Nada yang dilembutkan. Gurauan kecil. Tangan di pundak. "Bisa kita mulai dari awal?"

Jadi kalau kamu baru saja bertengkar hebat, kamu tidak gagal dalam hubunganmu. Kamu sampai di bagian yang penting.

Pertama, biarkan tubuhmu turun dulu

Kamu tidak bisa memperbaiki apa pun selagi kamu masih kebanjiran. Saat pertengkaran memanas, tubuhmu dibanjiri kimia stres. Jantungmu berdebar, pikiranmu menyempit, dan bagian otak yang menangani empati dan kepekaan sebagian mati suri. Dalam keadaan itu, setiap kata yang diucapkan pasanganmu terdengar seperti serangan, dan semua yang kamu ucapkan keluar lebih tajam dari yang kamu maksud.

Berusaha membicarakannya saat itu juga biasanya malah memperburuk keadaan. Jadi langkah pertama sering kali adalah berhenti bicara.

Ambil jeda yang sungguhan. Bukan jeda menghentak-hentak kaki dan membanting barang, tapi jeda yang jujur. Katakan sesuatu seperti, "Aku mau menuntaskan ini bersamamu, dan aku terlalu terbawa emosi untuk melakukannya dengan baik sekarang. Bisa kita lanjutkan sebentar lagi?" Lalu benar-benar pergi menenangkan diri.

Beri waktu. Dua puluh menit kira-kira waktu yang dibutuhkan sistem saraf yang kelelahan untuk mulai mengendap, dan banyak orang butuh lebih lama. Pakai waktunya untuk benar-benar mendingin, bukan untuk melatih argumen penutupmu. Berjalan kaki membantu. Begitu juga bernapas pelan, atau apa pun yang mengeluarkanmu dari kepalamu dan mengembalikanmu ke tubuhmu. Tujuannya adalah kembali sebagai versi dirimu yang sebenarnya menyukai orang ini.

Permintaan maaf yang sungguhan, dan apa yang merusaknya

Kebanyakan kita payah dalam meminta maaf, dan itu bukan karena kita kejam. Itu karena permintaan maaf yang sejati meminta kita duduk dalam rasa tidak nyaman karena telah salah, dan itu mengancam. Jadi kita meraih versi murahnya. "Maaf ya kamu merasa begitu." "Maaf, tapi kamu yang mulai."

Itu bukan permintaan maaf. Itu pembelaan diri yang mengenakan baju permintaan maaf.

Karina Schumann, psikolog yang mempelajari bagaimana orang menebus kesalahan, menemukan bahwa permintaan maaf yang paling kuat cenderung berbagi beberapa bahan yang jujur. Ucapkan kata-katanya yang sebenarnya, dengan jelas. Pikul tanggung jawab atas peranmu tanpa syarat. Dan sebut lukanya. Yang terakhir itu paling sering dilewati, dan justru itulah yang paling ingin didengar orang lain. "Aku bisa lihat bahwa yang aku katakan menyakitimu" jatuhnya sangat berbeda dari sebuah "maaf" cepat yang asal-asalan.

Beberapa hal yang perlu diingat:

  • Buang kata "tapi." Begitu kamu berkata "Maaf, tapi," kamu sudah mengembalikan kesalahannya. Kalau ada sesuatu yang perlu kamu angkat, simpan untuk kalimat terpisah, atau percakapan terpisah.
  • Akui bagianmu, bukan seluruh kuenya. Kamu tidak harus memikul tanggung jawab atas segalanya untuk memikul tanggung jawab atas sesuatu. "Aku seharusnya nggak mengeraskan suara" itu benar dan berguna sekalipun perselisihannya sendiri belum terselesaikan.
  • Lewati kata "kalau." "Maaf kalau aku membuatmu kesal" diam-diam menyiratkan dia mungkin tidak benar-benar kesal. Padahal iya. Kamu melihatnya.

Dan kalau kamu yang menerima permintaan maaf yang tulus, cobalah membiarkannya masuk. Perbaikan adalah olahraga dua orang. Satu orang mengulurkan tangan cuma berhasil kalau yang satunya bersedia menemuinya di tengah jalan.

Mengulasnya kembali, dengan lembut

Begitu kalian berdua sudah mendingin dan sebagian kehangatan kembali, akan membantu kalau kalian benar-benar membicarakan apa yang terjadi. Bukan untuk mengadili lagi siapa yang benar. Untuk memahami satu sama lain.

Versi yang baik dari percakapan ini punya bentuk yang kira-kira begini. Kalian masing-masing mengatakan bagaimana perasaan kalian saat bertengkar, tanpa mendebat siapa yang perasaannya benar. Kalian masing-masing mencoba menggambarkan seperti apa momen itu tampak dari dalam kepala kalian sendiri. Kalian berbagi apa yang tersenggol, titik-titik lembut lama yang punya kebiasaan ditemukan oleh pertengkaran. Dan kalian mengambil sedikit tanggung jawab atas peran kalian dalam jalannya pertengkaran itu.

Gunakan sudut pandang orang pertama. "Aku merasa diabaikan waktu kamu melihat ponselmu" membuka pintu. "Kamu selalu mengabaikan aku" membantingnya. Tujuan obrolan ini bukan vonis. Melainkan rasa dipahami, yang biasanya memang yang kalian berdua cari sejak awal.

Kalau kalian tak bisa sampai ke sana dalam sekali duduk, itu tidak apa-apa. Beberapa hal butuh beberapa kali putaran.

Saat perbaikan terus tidak berhasil

Kebanyakan pertengkaran, bahkan yang jelek sekalipun, bisa diperbaiki di antara dua orang yang sama-sama bersedia. Tapi tidak setiap situasi adalah pertarungan yang adil, dan itu layak dikatakan dengan jujur.

Kalau perdebatan yang sama terus berputar tak peduli bagaimana kalian berdua mencoba, atau kalau setiap upaya memperbaiki berubah jadi luka baru, terapis pasangan bisa membantumu menemukan pola di bawahnya. Itu kerja yang terampil dan biasa, bukan tanda hubunganmu rusak.

Ada juga garis yang lebih tegas yang layak disebut. Kalau kamu takut pada pasanganmu, kalau meminta maaf cuma kamu yang melakukannya, kalau kamu merasa dikendalikan, direndahkan, atau tidak aman, itu bukan konflik yang perlu diperbaiki. Itu hal yang lain, dan kamu pantas mendapat dukungan yang menanggapinya dengan serius. Dokter, konselor, atau saluran bantuan rahasia bisa jadi titik mulai yang mantap saat kamu tak yakin sedang menghadapi apa.

Perbaikan ditujukan untuk dua orang yang, di bawah amarahnya, sama-sama masih di pihak yang sama. Ketika itu benar, jalan kembalinya biasanya lebih pendek daripada yang terasa dalam keheningan. Kamu mengulurkan tangan. Mereka mengulurkan tangan kembali. Dan hubungannya, yang sedikit lebih teruji, pun bertahan.

Sumber

Sebelum kamu pergi, sepatah kata soal perawatan

KEEP CALM menyediakan alat bantu diri edukatif yang gratis. Ini bukan nasihat medis, diagnosis, atau terapi, dan bukan pengganti perawatan profesional. Jika ada sesuatu di sini yang terasa lebih dari sekadar stres sehari-hari, menghubungi profesional adalah langkah yang kuat dan masuk akal.

If you are in crisis or thinking about harming yourself, you are not alone. In the US, call or text 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), text HOME to 741741 (Crisis Text Line), or call 911 in an emergency.