Langsung ke konten utama

HUBUNGAN · KONFLIK & PERBAIKAN

Cara berbaikan setelah bertengkar

Memperbaiki hubungan setelah bertengkar adalah hal yang membedakan pasangan yang bertahan lama dari pasangan yang perlahan menjauh satu sama lain. Pertengkarannya sudah selesai, tapi suasananya masih terasa berat. Apa yang kamu lakukan di satu jam berikutnya lebih penting daripada apa yang kalian ucapkan saat sedang panas tadi. Berikut cara untuk menemukan jalan kembali satu sama lain.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Seorang pria mengenakan kaus polo bergaris hitam-putih duduk di kursi

Foto oleh Toa Heftiba di Unsplash

Jika kamu sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri, kamu tidak sendirian. Di AS, telepon atau SMS 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), SMS HOME ke 741741 (Crisis Text Line), atau telepon 911 dalam keadaan darurat. Di mana pun kamu berada di dunia, findahelpline.com memuat daftar layanan krisis yang gratis dan rahasia di negaramu sendiri dan dalam bahasamu sendiri. Kalau kamu sedang dalam bahaya langsung, hubungi nomor darurat setempat.

Teriakan sudah berhenti. Mungkin ada pintu yang tertutup agak terlalu keras, atau mungkin kalian berdua diam dan menjauh ke ujung-ujung rumah yang berbeda. Apa pun yang terjadi, kamu tertinggal dengan keheningan yang pekat dan menyesakkan, serta perut yang penuh penyesalan. Sebagian dirimu ingin masuk lagi dan menyelesaikan argumenmu. Sebagian lagi hanya ingin kembali dekat, tapi tidak tahu caranya.

Ruang di antara itu memang tidak nyaman, tapi di situlah kerja yang sesungguhnya terjadi. Pasangan yang tetap dekat selama bertahun-tahun bukanlah mereka yang tidak pernah bertengkar. Mereka adalah pasangan yang jago menemukan jalan kembali sesudahnya.

Tulisan ini membahas soal menemukan jalan kembali itu. Soal memperbaiki hubungan.

Pertengkaran bukan masalahnya

Ada satu hal yang sering mengejutkan banyak orang. Konflik itu sendiri tidak menentukan apakah sebuah hubungan akan bertahan. Dua orang yang saling mencintai pasti akan bergesekan satu sama lain. Latar belakang yang berbeda, kebutuhan yang berbeda, cara pandang yang berbeda soal cara menyusun piring di mesin pencuci piring. Gesekan seperti itu wajar, dan hubungan yang sama sekali tanpa gesekan biasanya justru berarti ada pihak yang berhenti bersuara.

Yang benar-benar membedakan pasangan yang tumbuh makin erat dari yang perlahan renggang adalah kemampuan memperbaiki hubungan. John Gottman, peneliti hubungan yang telah mempelajari pasangan-pasangan di laboratoriumnya selama puluhan tahun, menemukan bahwa kemampuan memperbaiki hubungan setelah konflik adalah salah satu penanda paling kuat apakah sebuah hubungan akan bertahan. Perbaikan itu bisa berupa apa saja yang menghentikan spiral negatif dan membuka jalan kembali ke kedekatan. Nada suara yang melembut. Lelucon kecil. Tangan yang hinggap di bahu. “Bisa kita mulai lagi dari awal?”

Jadi kalau kamu baru saja bertengkar hebat, itu bukan berarti hubunganmu gagal. Kamu baru sampai di bagian yang sebenarnya paling penting.

Pertama, biarkan tubuhmu tenang dulu

Kamu tidak bisa memperbaiki apa pun saat tubuhmu masih dibanjiri emosi. Ketika pertengkaran memanas, tubuhmu dipenuhi hormon stres. Jantungmu berdebar kencang, cara berpikirmu menyempit, dan bagian otak yang mengurus empati serta kepekaan sedikit “mati lampu”. Dalam kondisi ini, setiap kata dari pasanganmu terasa seperti serangan, dan setiap kata yang kamu ucapkan keluar lebih tajam dari yang sebenarnya kamu maksud.

Mencoba membicarakannya saat itu juga biasanya hanya memperburuk keadaan. Jadi langkah pertama yang paling sering justru adalah berhenti bicara.

Ambil jeda yang sungguhan. Bukan jeda dengan pergi sambil membanting pintu, tapi jeda yang jujur. Kamu bisa bilang, “Aku mau menyelesaikan ini denganmu, tapi aku terlalu emosi untuk membahasnya dengan baik sekarang. Bisa kita lanjutkan lagi sebentar lagi?” Lalu benar-benar pergi untuk menenangkan diri.

Beri waktu. Sekitar dua puluh menit biasanya cukup untuk sistem saraf yang kelewat tegang mulai mereda, dan banyak orang butuh waktu lebih lama dari itu. Gunakan waktu ini untuk benar-benar tenang, bukan untuk menyusun argumen penutup. Jalan kaki bisa membantu. Bernapas perlahan juga membantu, atau apa pun yang membuatmu keluar dari pikiranmu dan kembali merasakan tubuhmu. Tujuannya adalah kembali sebagai versi dirimu yang benar-benar menyayangi orang ini.

Permintaan maaf yang sungguhan, dan yang bisa merusaknya

Kebanyakan dari kita payah dalam meminta maaf, dan itu bukan karena kita kejam. Itu karena permintaan maaf yang sungguhan mengharuskan kita duduk dalam rasa tidak nyaman karena telah bersalah, dan itu terasa mengancam. Jadi kita malah memilih versi yang murahan. “Maaf ya kamu jadi merasa begitu.” “Maaf, tapi kamu yang mulai.”

Itu bukan permintaan maaf. Itu pembelaan diri yang menyamar sebagai permintaan maaf.

Karina Schumann, psikolog yang mempelajari cara orang meminta maaf, menemukan bahwa permintaan maaf yang paling kuat biasanya punya beberapa bahan yang jujur. Ucapkan kata-katanya secara langsung dan jelas. Ambil tanggung jawab atas bagianmu tanpa embel-embel. Dan sebutkan luka yang kamu timbulkan. Bagian terakhir ini yang paling sering terlewat, padahal itu justru yang paling ingin didengar oleh orang lain. “Aku lihat kata-kataku tadi menyakitimu” terasa sangat berbeda dibanding “maaf” yang diucapkan buru-buru dan seadanya.

Beberapa hal yang perlu diingat:

  • Buang kata “tapi”. Begitu kamu bilang “maaf, tapi,” kamu langsung melempar kembali kesalahan itu. Kalau ada hal yang perlu kamu sampaikan, simpan untuk kalimat lain, atau percakapan lain.
  • Ambil bagianmu, bukan semuanya. Kamu tidak perlu bertanggung jawab atas segalanya untuk bisa bertanggung jawab atas sesuatu. “Aku seharusnya tidak membentak” tetap benar dan berguna, meski perbedaan pendapatnya sendiri belum terselesaikan.
  • Hindari kata “kalau”. “Maaf kalau kamu jadi kesal” secara diam-diam menyiratkan bahwa mungkin dia sebenarnya tidak kesal. Padahal dia memang kesal. Kamu sudah melihatnya sendiri.

Dan kalau kamu yang menerima permintaan maaf yang sungguhan, coba biarkan dirimu menerimanya. Memperbaiki hubungan adalah usaha dua orang. Satu orang yang mengulurkan tangan hanya berarti kalau yang lain juga bersedia menyambutnya.

Membahasnya lagi, dengan lembut

Setelah kalian berdua sudah tenang dan sedikit kehangatan kembali, bisa membantu untuk benar-benar membicarakan apa yang terjadi. Bukan untuk membahas ulang siapa yang benar. Tapi untuk saling memahami.

Percakapan seperti ini biasanya punya bentuk kasar yang sama. Masing-masing dari kalian menceritakan apa yang dirasakan selama pertengkaran, tanpa berdebat soal siapa yang perasaannya lebih benar. Kalian masing-masing mencoba menggambarkan bagaimana momen itu terlihat dari dalam kepala sendiri. Kalian berbagi soal apa yang tersentuh, luka-luka lama yang entah bagaimana selalu ditemukan oleh pertengkaran. Dan kalian sama-sama mengakui sedikit bagian dari peran masing-masing dalam apa yang terjadi.

Gunakan sudut pandang orang pertama. “Aku merasa diabaikan waktu kamu lihat ponsel” membuka pintu. “Kamu selalu mengabaikan aku” menutup pintu itu. Tujuan dari percakapan ini bukan mencari siapa yang benar. Tujuannya adalah merasa dipahami, yang biasanya memang itulah yang sebenarnya kalian berdua cari sejak awal.

Kalau kamu belum bisa sampai ke titik itu dalam satu kali percakapan, tidak apa-apa. Beberapa hal memang butuh dibahas berkali-kali.

Bagaimana kalau perbaikan itu tetap tidak berhasil?

Kebanyakan pertengkaran, bahkan yang paling buruk, bisa diperbaiki di antara dua orang yang sama-sama bersedia. Tapi tidak semua situasi adalah pertengkaran yang adil, dan penting untuk jujur soal itu.

Kalau perdebatan yang sama terus berulang meski kalian sudah sama-sama berusaha, atau kalau setiap usaha memperbaiki hubungan malah menjadi luka baru, terapis pasangan bisa membantu menemukan pola yang mendasarinya. Itu adalah kerja yang membutuhkan keahlian, bukan tanda bahwa hubunganmu rusak.

Ada juga batas yang lebih tegas yang perlu disebutkan. Kalau kamu takut pada pasanganmu, kalau hanya kamu yang selalu meminta maaf, kalau kamu merasa dikendalikan, direndahkan, atau tidak aman, itu bukan konflik yang bisa diperbaiki. Itu adalah hal lain, dan kamu berhak mendapatkan dukungan yang menanggapinya dengan serius. Dokter, konselor, atau layanan bantuan rahasia bisa menjadi titik awal yang mantap kalau kamu belum yakin apa yang sedang kamu hadapi.

Memperbaiki hubungan itu untuk dua orang yang, di balik kemarahannya, tetap berada di pihak yang sama. Kalau itu benar, jalan kembali biasanya lebih dekat dari yang terasa saat dalam keheningan. Kamu mengulurkan tangan. Dia menyambutnya. Dan hubungan itu, yang kini sedikit lebih tahan uji, tetap bertahan.

Sumber

  1. The Gottman Institute, How We Used the Aftermath of a Fight to Repair Our Relationship
  2. American Psychological Association, Speaking of Psychology: Why you should apologize even when it's hard to, with Karina Schumann, PhD
  3. HelpGuide.org, Conflict Resolution Skills

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi