Kamu sedang berusaha membicarakan sesuatu. Suaramu makin tegang, suara mereka makin pelan, lalu mereka benar-benar pergi. Mata menunduk ke lantai atau ke ponsel. Jawaban satu kata, atau tidak ada jawaban sama sekali. Kamu tanya ada apa, dan yang keluar cuma "nggak apa-apa" yang datar. Makin keras kamu mendesak, makin jauh mereka menghilang, sampai kamu seperti sedang bicara dengan seseorang yang sudah "pergi" padahal fisiknya masih duduk di depanmu.
Menutup diri seperti itu punya nama. Para peneliti menyebutnya stonewalling, dan kalau kamu pernah berada di salah satu sisinya, kamu tahu betapa sepinya rasanya. Orang yang mengejar merasa terdampar dan diabaikan. Orang yang menutup diri biasanya juga merasakan sesuatu, meski dari luar kamu nggak akan pernah menebak apa itu.
Yang terlihat seperti sikap tidak peduli, lebih sering justru sebaliknya.
Sebenarnya, apa yang terjadi pada tubuh yang "menutup diri"?
Peneliti hubungan John Gottman menghabiskan puluhan tahun mengamati pasangan bertengkar di laboratorium, dengan tubuh terhubung ke alat pemantau. Ia melihat bahwa sebagian orang, di tengah konflik, tiba-tiba berhenti merespons. Mereka berpaling, menunduk, mengaku, dan berhenti memberi sinyal-sinyal kecil yang biasanya berarti "aku masih di sini bersamamu." Ia menamai ini sebagai salah satu pola yang paling merusak hubungan dalam jangka panjang.
Tapi alat pemantau bercerita hal yang berbeda. Orang-orang yang tampak kosong di luar justru sering "menyala" di dalam. Detak jantung naik melewati 100 kali per menit. Hormon stres membanjir. Seluruh sistem lawan-atau-lari aktif penuh. Gottman menyebut kondisi ini flooding (kebanjiran emosi), dan begitu seseorang sudah flooding, bagian otak yang berpikir mundur, dan bagian yang berbunyi alarm mengambil alih.
Jadi, diam bukan strategi. Ini lebih mirip pemutus arus listrik. Ketika tubuh merasa arusnya terlalu deras, ia memutus koneksi supaya kabelnya nggak terbakar. Orang yang menatap kosong ke karpet bukan sedang mengabaikanmu. Mereka menabrak tembok di dalam diri sendiri, dan diam adalah yang tersisa saat sistemnya kewalahan dan kata-kata nggak bisa keluar.
Ini penting, karena mengubah cara kita memahami situasinya. Kamu nggak bisa mengajak orang keluar dari kondisi flooding dengan logika, sama seperti kamu nggak bisa membujuk orang untuk berhenti bersin. Sistem sarafnya sedang mengambil alih kendali, dan sedang tidak menerima pertanyaan.
Kenapa ini terjadi begitu cepat
Klinisi punya istilah klinis untuk kondisi flooding ini: diffuse physiological arousal (gairah fisiologis menyeluruh). Ini seluruh tubuh masuk mode siaga sekaligus, dan ini bagian lama dan mendalam dari cara kita "diprogram". Sistem yang memicunya nggak berhenti dulu untuk memastikan apakah ancamannya seekor harimau atau cuma percakapan tegang di dapur. Ia langsung menyala.
Ini bagian yang terasa nggak adil. Orang tidak flooding dengan kecepatan yang sama. Sebagian tubuh jauh lebih cepat masuk mode siaga penuh dibanding yang lain, dan mereka juga lebih lambat turun kembali setelahnya. Jadi bisa saja dua orang dalam pertengkaran yang sama mengalami pengalaman fisik yang benar-benar berbeda. Yang satu masih bisa berpikir dan bicara. Yang lain sudah melewati batasnya tiga kalimat lalu dan sekarang hanya berusaha bertahan. Bagi orang pertama, orang kedua terlihat seperti tiba-tiba "hilang" tanpa alasan. Padahal dari dalam, ada alasan yang sangat kuat. Cuma nggak terlihat.
Memahami ini bikin persoalannya terasa nggak terlalu personal. Menutup diri sering kali bukan soal seberapa peduli atau seberapa dewasa seseorang. Banyak juga soal "bawaan tubuh", seberapa cepat tubuh tertentu mencapai batasnya.
Menutup diri berbeda dari silent treatment
Ini layak diperlambat, karena keduanya sering tertukar dan kekeliruan ini menimbulkan luka yang nyata.
Silent treatment adalah sebuah tindakan yang disengaja. Ini menahan diri dengan sengaja, diam untuk menghukum, untuk menang, untuk membuat orang lain merasa tersiksa. Ada tujuan di baliknya, dan tujuannya adalah untuk melukai.
Stonewalling, dalam pengertian yang dimaksud Gottman, biasanya nggak punya tujuan sama sekali. Ini yang dilakukan orang yang flooding saat kapasitasnya habis. Seperti yang dikatakan Gottman Institute dengan jelas, silent treatment ditujukan untuk melukai orang lain, sementara stonewalling adalah flooding dan bentuk perlindungan diri. Dari kejauhan, keduanya bisa terlihat identik. Tapi di baliknya, keduanya adalah hal yang sangat berbeda.
Kenapa perbedaan ini penting sekali? Karena kalau kamu membaca sikap menutup diri yang kewalahan sebagai kekejaman yang disengaja, kamu akan merespons dengan lebih banyak "panas", dan panas itu justru yang membuat sistemnya semakin banjir. Kamu akhirnya menghukum seseorang atas kondisi yang nggak bisa mereka kendalikan, dan kalian berdua makin tenggelam. Membaca situasinya dengan akurat adalah langkah pemulihan pertama.
(Bukan berarti ini jadi alasan pembenaran untuk semuanya. Kalau diam digunakan sebagai senjata, dengan sengaja dan berulang, itu masalah nyata yang perlu diakui dan dicari bantuannya. Poinnya bukan untuk membenarkan setiap bentuk menarik diri. Poinnya adalah berhenti langsung menduga yang terburuk, padahal yang terburuk biasanya bukan yang sedang terjadi.)
Kejar-kejaran yang justru memperburuk keadaan
Ada semacam tarian yang suram dan bisa ditebak, yang cenderung terbentuk. Satu orang ingin membicarakannya sampai tuntas dan mendesak lebih dalam. Orang yang lain merasa tertekan, flooding, lalu menarik diri. Menarik diri ini terasa seperti penolakan, jadi orang pertama mendesak lebih keras lagi. Yang membuat orang kedua makin flooding. Peneliti menyebut ini pola demand-withdraw (menuntut-menarik diri), dan ini salah satu dinamika yang paling banyak diteliti dalam hubungan pasangan.
Sebuah studi oleh Lauren Papp dan rekan-rekannya, yang mengamati pasangan menangani perselisihan nyata di rumah, bukan di laboratorium, menemukan bahwa kedua versi pola ini, satu pasangan menuntut sementara yang lain menarik diri, sama-sama berkaitan dengan perasaan yang lebih negatif dan lebih sedikit penyelesaian masalah. Peran-peran ini nggak melekat pada gender atau karakter tertentu. Ini adalah posisi yang bisa ditempati siapa saja, dan kamu bisa jadi pihak yang mengejar dalam satu topik dan pihak yang menutup diri di topik berikutnya.
Jebakannya adalah, insting masing-masing orang justru memperburuk reaksi yang lain. Mengejar lebih keras terasa seperti satu-satunya cara untuk menjangkau seseorang yang menjauh. Padahal itu justru yang mendorong mereka semakin jauh.
Kalau kamu yang menutup diri
Tujuannya di sini bukan memaksa diri terus bicara di tengah kondisi flooding. Kamu nggak bisa, dan mencoba biasanya malah bikin spiralnya makin ketat. Tujuannya adalah keluar dari percakapan dengan cara yang nggak terasa seperti meninggalkan, dan benar-benar kembali setelahnya.
- Kenali tanda-tanda awalnya. Flooding punya "bayangan peringatan". Wajah panas, rahang mengeras, pikiran kosong, dorongan tiba-tiba untuk kabur atau membungkam orang lain. Makin cepat kamu menyadarinya, makin banyak pilihan yang kamu punya.
- Ucapkan, jangan menghilang begitu saja. Beberapa kata jujur bisa mengubah segalanya: "Aku mulai kewalahan dan nggak bisa berpikir jernih. Aku nggak akan pergi dari ini. Aku cuma butuh waktu sebentar." Kalimat itu adalah perbedaan antara jeda dan tembok. Yang satu bilang tunggu aku; yang lain bilang kamu sendirian.
- Ambil jeda yang sungguhan, dan cukup lama. Tubuh butuh kira-kira dua puluh menit untuk turun dari kondisi flooding penuh, kadang lebih. Beberapa tarikan napas dalam saja nggak cukup. Jalan kaki, duduk di luar, lakukan sesuatu dengan tanganmu.
- Jangan latihan berdebat dalam kepala. Ini yang sering terlewat kebanyakan orang. Kalau selama jeda kamu terus memutar ulang kata-kata terburuk mereka dan menyusun bantahanmu, tubuhmu tetap flooding sepanjang waktu itu dan jedanya jadi sia-sia. Biarkan perdebatannya reda dulu. Kamu bisa melanjutkannya nanti, saat pikiranmu sudah kembali jernih.
- Kembalilah. Ini bagian yang membuat jeda bisa dipercaya. Kalau kamu bilang dua puluh menit lalu menghilang dua hari, jeda berikutnya nggak akan lagi dipercaya. Kembali, sekadar bilang "oke, aku rasa aku sudah bisa bicara sekarang," itulah yang mengajarkan orang lain bahwa diammu bukan akhir dari segalanya.
Kalau kamu yang selalu ditutup pintunya
Sisi ini benar-benar berat, karena hampir semua insting yang kamu punya justru salah untuk momen seperti ini.
Ketika orang yang kamu sayangi jadi diam dan kosong, dorongan yang muncul adalah mengejar, menuntut respons, menaikkan tensi sampai mereka akhirnya bereaksi. Menghadapi sistem saraf yang flooding, itu adalah langkah paling buruk. Kamu menuangkan bensin ke api dan bertanya-tanya kenapa apinya makin besar.
Yang justru membantu:
- Turunkan "suhu" ruangan, mulai dari dirimu sendiri. Kamu nggak bisa menarik seseorang keluar dari flooding kalau kamu sendiri juga flooding. Lembutkan suaramu. Lepaskan ketegangan. Duduklah. Ketenanganmu adalah hal paling berguna yang kamu punya saat itu.
- Tawarkan jalan keluar yang mereka harap bisa mereka ambil. Coba ucapkan sesuatu seperti, "Aku lihat ini terlalu berat sekarang. Yuk berhenti dulu dan kita lanjutkan lagi nanti." Menyebutkan jeda untuk mereka bisa jadi kelegaan saat mereka nggak bisa menemukan kata-kata untuk memintanya sendiri.
- Jangan anggap diam sebagai keseluruhan cerita. Godaan untuk mengisi keheningan dengan tafsiran paling kejam itu nyata. Coba tahan dulu. Sikap menutup diri karena kewalahan jarang sekali menjadi "vonis" bagi hubungan seperti yang terasa saat itu.
- Rawat lukamu sendiri secara terpisah. Ditutup pintunya itu menyakitkan, dan rasa sakit itu nyata dan layak dirawat. Cuma coba jangan membebankan tanggung jawab itu ke orang yang sedang flooding, di saat yang sama mereka sedang berusaha pulih.
Kenapa kembali adalah inti dari semuanya?
Jeda hanya berfungsi kalau ia berupa koma, bukan titik. Pemulihannya bukan pada saat pergi. Ini ada pada saat kembali, dengan suara yang lebih lembut dan kesediaan untuk mencoba lagi percakapannya dari tempat yang lebih tenang.
Seiring waktu, pasangan yang terbiasa dengan ini membangun semacam kesepakatan bersama: kalau salah satu dari kita flooding, kita jeda, kita nggak saling menghukum karena itu, dan kita kembali. Kesepakatan itulah yang mencegah momen kewalahan mengeras menjadi pola yang diam-diam menghancurkan sebuah hubungan.
Ada kekhawatiran yang sering muncul di sini, dan ini wajar. "Kalau kita terus-terusan ambil jeda, bukannya kita jadi terus menghindari masalah sebenarnya selamanya?" Ketakutannya adalah timeout jadi pintu pelarian permanen dan masalahnya nggak pernah benar-benar disentuh. Itu bisa saja terjadi, tapi hanya kalau jedanya nggak punya "titik kembali" yang jelas. Jeda menjadi penghindaran kalau nggak ada ujungnya. Ia menjadi pemulihan kalau ada batas waktunya dan seseorang benar-benar kembali lewat pintu itu. Bedanya bukan pada jedanya. Bedanya ada pada janji yang menyertai jeda itu, dan apakah janji itu ditepati cukup sering sampai orang lain belajar untuk mempercayainya.
Ini juga membantu untuk mengingat apa yang sebenarnya sedang kamu coba perbaiki di momen itu, yang sebenarnya lebih kecil dari yang terasa. Kamu nggak perlu menyelesaikan seluruh perselisihan supaya jedanya berhasil. Kamu cuma perlu membuat dua tubuh cukup tenang untuk bisa berada di ruangan yang sama lagi dengan niat baik. Masalah sebenarnya, entah soal piring kotor, uang, mertua, atau apa pun yang memicunya, hampir selalu lebih mudah diselesaikan begitu nggak ada yang flooding lagi. Tenang dulu, baru isinya. Kalau urutannya terbalik, kamu nggak dapat keduanya.
Kapan sebaiknya mencari bantuan lebih lanjut?
Kadang temboknya terlalu tinggi untuk dipanjat sendiri, dan itu bukan kegagalan siapa pun. Kalau siklus menutup diri yang sama terus berulang apa pun yang kalian berdua coba, kalau diam digunakan untuk mengendalikan atau menghukum, atau kalau kamu mulai merasa kecil, cemas, atau nggak aman di rumahmu sendiri, itu semua tanda untuk mencari dukungan. Terapis pasangan bisa membantu kalian membangun kebiasaan timeout-dan-kembali, dan menyentuh apa yang ada di balik flooding itu. Kalau ada rasa takut apa pun soal keselamatanmu, bicaralah dengan profesional atau sumber daya kekerasan dalam rumah tangga sendiri, secara pribadi, sebelum hal lainnya.
Menjadi diam di bawah tekanan itu manusiawi. Kebanyakan dari kita pernah melakukannya. Pintu yang tertutup keras di momen yang berat hampir selalu bisa dibuka kembali, dengan lembut, dari kedua sisi, begitu tubuh di baliknya sudah punya kesempatan untuk tenang.
Sumber
- The Gottman Institute, The Four Horsemen: Stonewalling
- The Gottman Institute, Stonewalling vs. The Silent Treatment: Are They the Same?
- Papp, Kouros & Cummings, Demand-Withdraw Patterns in Marital Conflict in the Home (Personal Relationships)
- Psychology Today, What Is Stonewalling and Why Does It Damage Relationships?