Kebanyakan pasangan punya satu pertengkaran yang sudah terjadi ratusan kali. Setiap kali datang, wujudnya berbeda. Minggu ini soal cucian piring, minggu depan soal chat yang tidak dibalas, minggu berikutnya soal caramu menghabiskan hari Sabtu. Tapi di baliknya, itu pertengkaran yang sama, dan kalian berdua tahu begitu itu mulai, karena rasa gentar yang familiar itu muncul bahkan sebelum salah satu dari kalian selesai mengucapkan kalimat pertama.
Kalau ini terasa familiar, ada satu hal yang perlu kamu dengar sejak awal: ada kemungkinan besar pertengkaran itu tidak akan pernah benar-benar selesai. Bukan karena kamu salah pilih pasangan. Bukan karena salah satu dari kalian sengaja menyulitkan. Tapi karena beberapa perbedaan memang tidak dirancang untuk diselesaikan. Perbedaan itu memang harus dikelola, perlahan-lahan, untuk waktu yang lama.
Gagasan ini berasal dari John Gottman, peneliti hubungan yang bertahun-tahun mengamati pasangan sungguhan bertengkar di laboratorium dan melacak mana yang akhirnya bertahan. Salah satu temuannya yang paling sering dikutip cukup mengejutkan. Sekitar 69 persen hal yang diperdebatkan pasangan adalah apa yang ia sebut masalah abadi (perpetual problems), jenis masalah yang tidak akan pernah benar-benar hilang. Hanya sebagian kecil yang benar-benar bisa diselesaikan. Kebanyakan dari kita tidak pernah diberi tahu soal ini, jadi kita menganggap setiap pertengkaran yang berulang sebagai sebuah kegagalan. Padahal bukan. Itu hanya matematika dari dua orang yang menjalani hidup bersama.
Dua jenis masalah yang sangat berbeda
Langkah pertama untuk keluar dari pertengkaran yang mandek adalah mengenali jenis pertengkaran itu sebenarnya. Ada dua jenis, dan masing-masing menuntut hal yang sama sekali berbeda darimu.
Masalah yang bisa diselesaikan berkaitan dengan situasi tertentu. Bentuknya bisa dilihat oleh kalian berdua, dan di dalamnya ada jawaban yang bisa diusahakan. Siapa yang membuat jadwal ke dokter gigi. Seberapa keras suara TV setelah jam sepuluh malam. Apakah ibumu menginap tiga malam atau lima malam. Masalah semacam ini bisa terasa panas saat terjadi, tapi panasnya hanya di permukaan. Begitu kalian menemukan rencana yang sama-sama bisa dijalani, masalah itu kurang lebih selesai. Mungkin muncul lagi suatu saat, tapi tidak membuka luka lama yang sama setiap kali.
Masalah abadi berbeda sampai ke akarnya. Masalah ini tumbuh dari siapa kalian sebenarnya: perbedaan yang bertahan lama dalam kepribadian, dalam temperamen, dalam apa yang masing-masing butuhkan untuk merasa aman dan nyaman. Satu orang suka spontanitas, yang lain butuh rencana. Satu orang hangat dan senang bergaul, yang lain butuh waktu sendiri untuk mengisi ulang energi. Satu orang belanja untuk menikmati hidup sekarang, yang lain menabung untuk merasa aman nanti. Semua itu bukan kekurangan. Itu hanya perbedaan yang nyata dan bertahan lama antara dua sistem saraf, dan tidak peduli berapa lama kalian berdebat, perbedaan itu tidak akan hilang. Kamu bisa membahas soal belanja selama tiga puluh tahun, dan pada akhirnya kamu tetap akan menjadi si penabung dan si pembelanja.
Penelitian Gottman menemukan bahwa masalah abadi ini muncul pada semua pasangan, termasuk pasangan yang bahagia. Perbedaan antara pasangan yang berkembang baik dan yang tidak, bukan soal apakah mereka punya masalah semacam ini. Semua pasangan punya. Perbedaannya ada pada cara mereka memikulnya.
Mengapa berusaha "memenangkan" pertengkaran justru memperburuk keadaan?
Saat kamu salah mengira masalah abadi sebagai masalah yang bisa diselesaikan, kamu terus mengejar garis akhir yang sebenarnya tidak ada. Setiap percakapan jadi upaya baru untuk akhirnya menuntaskannya, untuk membuat pasanganmu mengakui bahwa kamu benar dan mau berubah. Dan karena perbedaan itu nyata dan tidak akan hilang, setiap upaya berakhir gagal. Kegagalan itu terasa perih, jadi lain kali kamu datang dengan sedikit lebih keras, sedikit lebih berperisai.
Proses mengeras yang perlahan ini punya nama dalam karya Gottman: gridlock, atau kebuntuan. Konflik yang buntu punya rasa yang khas. Kalian bicara terus tanpa sampai ke mana-mana. Kamu mulai merasa ditolak oleh orang yang paling kamu cintai. Topiknya bukan lagi sekadar topik, tapi berubah jadi titik sensitif, begitu penuh muatan hingga kamu sudah bersiap-siap bahkan sebelum mengangkatnya. Lama-lama kehangatan menguap. Kamu berhenti membawa humor, berhenti membawa rasa ingin tahu, dan kalian berdua semakin bertahan di sudut masing-masing. Kalau dibiarkan cukup lama, kebuntuan tidak hanya merusak satu isu itu saja. Ia perlahan mendinginkan seluruh hubungan, saat kalian berdua diam-diam menyerah untuk dipahami.
Jalan keluarnya bukan solusi yang lebih baik. Jalan keluarnya adalah percakapan yang lebih baik. Gottman menyebut tujuannya sebagai bergerak “dari kebuntuan ke dialog,” dan tujuan dialog itu sebenarnya sangat sederhana, hampir mengejutkan. Kamu tidak sedang berusaha untuk sepakat. Kamu berusaha membicarakan hal itu tanpa menyakiti satu sama lain, dan memahami apa arti sebenarnya bagi orang yang duduk di hadapanmu.
Apa yang biasanya tersembunyi di baliknya?
Pertengkaran soal uang jarang benar-benar soal uang. Pertengkaran soal keterlambatan jarang benar-benar soal jam. Pertengkaran abadi biasanya berdiri di atas sesuatu yang rentan, sebuah harapan, ketakutan, atau kebutuhan yang sangat berarti bagi salah satu dari kalian, tapi belum benar-benar dilihat oleh yang lain.
Seorang penulis yang membahas penelitian ini di Psychology Today menjelaskannya dengan sederhana: pasangan bertengkar soal hal yang tampak, pekerjaan rumah atau jadwal, tapi topik-topik di permukaan itu biasanya menutupi kebutuhan yang lebih dalam. Satu orang merasa kebebasannya terhimpit. Yang lain merasa sendirian, seperti dirinya tidak cukup berarti. Kalau kamu hanya bertengkar soal permukaannya, kalian terus gagal saling menemukan, karena hal yang sebenarnya tidak pernah dibahas.
Jadi pertanyaan yang lebih berguna dalam pertengkaran yang berulang bukan “bagaimana kita menyelesaikan ini.” Pertanyaannya lebih pelan dari itu. Mengapa ini begitu penting bagimu? Apa yang kamu takutkan akan terjadi kalau ini berjalan sebaliknya? Ini mengingatkanmu pada apa, waktu kamu masih kecil? Di balik si penabung, sering ada anak yang dulu melihat keluarganya kesulitan mencari uang. Di balik si pembelanja, sering ada seseorang yang belajar bahwa kebahagiaan itu rapuh dan sebaiknya dinikmati selagi ada. Tidak ada yang salah di antara keduanya. Mereka hanya dua orang yang wajar, yang masing-masing melindungi sesuatu yang nyata.
Bagaimana menghadapi pertengkaran yang akan terus terjadi?
Kamu tidak akan bisa membuat masalah abadi lenyap. Tapi kamu bisa membuatnya jauh lebih ringan untuk dijalani. Ada beberapa hal yang benar-benar membantu.
- Sebutkan masalah itu apa adanya, dengan suara, bersama-sama. Ada kelegaan yang muncul hanya dengan berkata, “Aku rasa kita tidak akan menyelesaikan ini, dan aku rasa kita memang tidak harus.” Menyebut sebuah pertengkaran sebagai masalah abadi membuat rasa panik sedikit berkurang. Kamu berhenti memperlakukan setiap ronde sebagai krisis, dan mulai memperlakukannya sebagai cuaca yang sudah familiar.
- Jadilah penasaran sebelum jadi persuasif. Lain kali masalah ini muncul, tahan diri dari dorongan untuk meyakinkan. Ajukan satu pertanyaan yang sungguh-sungguh tentang mengapa hal ini penting baginya, dan benar-benar dengarkan jawabannya, bukan sambil menyiapkan balasan. Kamu sedang mengumpulkan informasi tentang orang yang kamu cintai, bukan menyusun argumen untuk memenangkan perdebatan.
- Tenangkan tubuhmu sendiri dulu. Percakapan seperti ini cepat sekali memicu sistem saraf. Kalau jantungmu berdebar kencang dan pikiranmu jadi sempit dan tajam, kamu sudah kehilangan akses ke dirimu yang terbaik, dan tidak ada keputusan baik yang lahir dari kondisi itu. Tidak masalah kalau kamu bilang, “Aku mau lanjutkan bicara soal ini, tapi aku butuh dua puluh menit dulu untuk menenangkan diri.” Lalu benar-benar tenangkan dirimu, dan kembali lagi.
- Cari titik kecil yang bisa ditemukan bersama. Kamu tidak perlu sepakat sepenuhnya. Kamu hanya perlu jalan tengah yang bisa dijalani, yang menghormati apa yang tidak bisa dilepaskan oleh masing-masing. Cari tahu bagian mana yang benar-benar tidak bisa kamu ubah, sebutkan bagian mana yang masih ada ruang untuk bergerak, lalu susun kesepakatan sementara berdasarkan itu. Kemudian tinjau lagi nanti. Masalah abadi dinegosiasikan ulang sepanjang hidup, bukan diselesaikan sekali untuk selamanya.
- Jaga agar kasih sayang tetap ada di ruangan itu. Sedikit kehangatan mengubah seluruh percakapan. Sentuhan tangan di lengan, sedikit humor bersama tentang betapa bisa ditebaknya pertengkaran ini, sebuah pengingat bahwa kalian tetap satu tim meski sedang tidak sepakat. Pasangan yang bisa mengelola masalah ini dengan baik adalah mereka yang bisa membicarakan hal yang sulit tanpa kehilangan kelembutan.
Biarkan dirimu sedikit tergerak
Ada satu hal lagi yang diam-diam merangkai semua ini, dan Gottman memberinya nama yang sederhana: menerima pengaruh (accepting influence). Artinya tetap benar-benar terbuka terhadap sudut pandang pasanganmu, bersedia sedikit berubah karena apa yang ia katakan, bahkan pada isu-isu yang tidak akan pernah kalian sepakati sepenuhnya. Ini adalah perbedaan antara mendengarkan untuk mencari kesalahan dalam ucapannya, dan mendengarkan untuk benar-benar menyerap sebagian darinya.
Ini kedengarannya lembut, dan memang sama sekali tidak dramatis. Tapi ini adalah penopang utama. Saat kamu membiarkan sudut pandang pasanganmu menggerakkanmu sedikit saja, keseluruhan nada pertengkaran yang berulang itu berubah. Ia berhenti merasa seperti bicara pada dinding, yang berarti ia tidak perlu meninggikan nada untuk didengar, yang berarti kamu tidak perlu bertahan mati-matian. Pertengkarannya jadi lebih kecil. Kamu tetap si penabung dan dia tetap si pembelanja. Kalian hanya dua orang yang masing-masing memberi ruang bagi kebenaran yang lain, bukan dua orang yang masing-masing menunggu yang lain akhirnya menyerah.
Menerima pengaruh juga sesuatu yang bisa kamu latih. Lain kali pertengkaran lama ini muncul, coba cari satu hal dalam ucapan pasanganmu yang bisa kamu sepakati dengan jujur, dan katakan itu sebelum kamu mengatakan apa pun yang lain. “Kamu benar, aku memang jadi ketus soal ini.” “Itu masuk akal, aku memang sudah menjauh.” Sedikit pengakuan, yang diberikan lebih dulu, cenderung melembutkan seluruh percakapan dengan cara yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh bantahan paling cerdas sekalipun.
Semua ini bukan berarti setiap perbedaan bisa dijalani, dan bukan berarti kamu harus menerima diperlakukan buruk. Rasa hina, kontrol, dan kekejaman bukan masalah abadi yang perlu dikelola. Itu adalah alasan untuk mencari bantuan atau mempertimbangkan ulang hubungan itu. Kerangka yang dibahas di sini untuk dua orang yang pada dasarnya punya niat baik, tapi terus tersangkut pada perbedaan yang sama dan jujur.
Kapan sebaiknya mencari bantuan?
Terkadang sebuah pertengkaran sudah buntu terlalu lama, sampai kamu tidak bisa lagi menemukan jalan kembali ke percakapan yang sungguh-sungguh dengan sendirinya. Topiknya sudah terlalu sensitif, setiap upaya berakhir di tembok yang sama, dan kamu mulai merasa seperti teman sekamar yang kebetulan sedang sedih. Itu bukan tanda bahwa hubunganmu gagal. Itu tanda bahwa masalah ini sudah mengeras melewati titik di mana kalian berdua bisa melunakkannya sendiri, tanpa bantuan tambahan.
Terapis pasangan yang baik memang mengerjakan hal semacam ini, membantu meredakan rasa perih dari masalah yang buntu supaya kalian bisa bicara lagi. Kalau keadaan mood-mu sendiri turut membuat konflik jadi sulit, kalau kamu membawa kecemasan, depresi, atau luka lama yang muncul di saat-saat seperti ini, bicara dengan dokter atau terapis untuk dirimu sendiri juga sangat berharga. Dan kalau sebuah hubungan pernah membuatmu merasa takut atau tidak aman, itu sudah jauh melampaui konflik biasa, dan menghubungi tenaga profesional atau layanan pendukung adalah hal baik yang bisa kamu lakukan untuk dirimu sendiri.
Pasangan yang bertahan jauh bukanlah mereka yang menemukan pasangan tanpa gesekan sama sekali. Mereka adalah pasangan yang belajar untuk bertengkar soal hal yang sama, dengan sedikit lebih lembut, setiap dekade yang berlalu. Kamu bisa mencintai seseorang dan tetap punya pertengkaran yang tidak pernah selesai. Kebanyakan orang yang saling mencintai memang begitu.
Sumber
- The Gottman Institute, Managing Conflict: Solvable vs. Perpetual Problems
- The Gottman Institute, Managing Conflict: Recognizing Gridlock
- Psychology Today, Why 69 Percent of Couples' Conflict Will Never Go Away