Kamu hampir bisa merasakannya akan datang. Nada bicara tertentu, topik tertentu, dan kalian berdua sudah tahu persis bagaimana sepuluh menit ke depan akan berjalan, karena kalian sudah pernah mengalaminya. Mungkin sudah ratusan kali. Kata-kata yang sama, luka yang sama, keheningan yang sama setelahnya. Sekarang kamu bahkan bisa memerankan kedua peran itu sendiri.
Kalau ini terasa familier, tarik napas dulu. Ini salah satu hal paling wajar dalam hubungan jangka panjang. Bukan berarti kamu salah pilih, dan bukan berarti salah satu dari kalian bermasalah. Artinya, kalian sudah menemui jenis perselisihan yang memang akan selalu muncul di antara dua orang dengan sejarah masing-masing yang khas.
Sebagian besar konflik memang tidak pernah selesai, dan itu wajar
Peneliti hubungan John Gottman menghabiskan puluhan tahun mengamati pasangan bertengkar di laboratorium, lalu mengikuti mereka selama bertahun-tahun untuk melihat siapa yang bertahan. Salah satu temuannya bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Sekitar 69 persen hal yang diperdebatkan pasangan adalah apa yang ia sebut masalah abadi (perpetual problems). Masalah ini tidak pernah benar-benar terselesaikan. Sumbernya adalah perbedaan nyata dalam kepribadian atau dalam apa yang dibutuhkan masing-masing orang agar merasa baik-baik saja, dan biasanya masalah ini muncul lagi dan lagi sepanjang perjalanan hubungan.
Jadi, tujuan untuk menyelesaikan pertengkaran itu untuk selamanya memang sejak awal tidak realistis. Pasangan yang bahagia pun mengalami kebuntuan seperti ini. Bedanya ada pada bagaimana mereka menyikapinya.
Gottman menemukan bahwa pasangan yang tetap dekat bukanlah mereka yang berhasil menghilangkan pertengkaran berulang itu. Mereka adalah pasangan yang tetap bisa membicarakan topik sensitif itu dengan kehangatan yang masih terasa di ruangan, sedikit humor, dan rasa bahwa kita ada di pihak yang sama meski sedang tidak sependapat. Ketika kehangatan itu hilang dan percakapan membeku, masalahnya berubah menjadi apa yang ia sebut kebuntuan (gridlock). Kebuntuan adalah pertengkaran yang sama, tapi kini dengan pintu tertutup rapat. Setiap putarannya membuat kalian sedikit demi sedikit semakin menjauh satu sama lain.
Pergeseran yang membantu ini kecil saja, tapi mengubah segalanya. Kamu berhenti berusaha memenangkan perdebatan, dan mulai berusaha tetap terhubung selama perdebatan itu berlangsung.
Sebenarnya kamu bertengkar soal apa?
Ini pertanyaan yang layak direnungkan. Saat pertengkaran soal piring kotor di wastafel terjadi untuk yang keempat puluh kalinya, apakah ini benar-benar soal piring?
Biasanya bukan. Topik di permukaan itu memang nyata, tapi di bawahnya ada sesuatu yang lebih rapuh. Satu orang mendengarnya sebagai apakah aku berarti bagimu. Yang lain mendengarnya sebagai apakah aku pernah cukup baik. Piring itu cuma tempat pertanyaan yang lebih lama dan lebih dalam itu keluar untuk bertarung.
Inilah sebabnya pertengkaran ini terus berulang, tidak peduli berapa kali kalian merundingkan jadwal pembagian tugas rumah. Kalian terus menyelesaikan lapisan yang salah. Jadwal itu menangani piringnya. Ia tidak menyentuh perasaan bahwa kamu menanggung semua ini sendirian, atau perasaan dikritik di rumah sendiri.
Jadi sebelum putaran berikutnya, coba penasaran dengan lapisan di bawah topik itu. Kamu bisa melakukannya sendiri, cukup dengan bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya aku butuhkan di sini? Rasa dihargai. Rasa diyakinkan. Merasa menjadi satu tim. Tidak menjadi satu-satunya orang dewasa yang memperhatikan cucian kotor. Menamai itu, bahkan hanya dalam hati, mengubah caramu memasuki percakapan itu.
Tubuhmu juga harus ikut siap
Ada alasan fisik mengapa percakapan seperti ini bisa jadi kacau, dan ini penting diketahui karena bukan soal kemauan.
Saat pertengkaran memanas, sistem sarafmu bisa berubah ke mode siaga. Gottman menyebutnya flooding (kebanjiran emosi). Detak jantungmu meningkat, napasmu memburu, dan tubuhmu bersiaga seolah menghadapi ancaman. Dalam kondisi ini, kamu benar-benar kehilangan akses ke bagian dirimu yang bisa mendengarkan dengan baik, tetap berbesar hati, dan menemukan kata-kata yang tepat. Kamu tidak sengaja menyulitkan keadaan. Kamu sedang "dibajak" oleh responsmu sendiri.
Saat salah satu atau kalian berdua sedang dalam kondisi ini, tidak ada keputusan baik yang bisa diambil. Jadi, langkah paling berguna dalam pertengkaran yang memanas seringkali adalah menghentikannya.
- Ucapkan sebelum meledak. Sepakati sejak awal sebuah sinyal sederhana, satu kata atau mengangkat tangan, yang bisa digunakan siapa saja untuk berarti aku sedang kewalahan, aku butuh jeda. Tanpa rasa malu, tidak ada yang sedang dalam masalah.
- Ambil waktu yang sungguh-sungguh. Biasanya butuh sekitar 20 menit bagi tubuh yang kewalahan untuk kembali tenang. Ambil setidaknya waktu itu. Lalu lakukan sesuatu yang benar-benar menenangkan, jalan kaki, mendengarkan musik, mandi, apa pun asal bukan pertengkarannya.
- Jangan menyusun argumen saat jeda. Ini bagian yang paling sering salah dilakukan orang. Kalau kamu menghabiskan 20 menit itu untuk menyusun pembelaan dan memutar ulang kata-kata terburuk pasanganmu, tubuhmu tetap dalam mode siaga dan kamu kembali dengan emosi yang lebih panas. Jeda hanya berhasil kalau kamu benar-benar melepaskannya sejenak.
- Berjanjilah untuk kembali. Jeda bukan cara untuk menghindari percakapan. Sebutkan waktu kapan kalian akan melanjutkannya lagi, misalnya "setelah makan malam," supaya pasanganmu tidak dibiarkan menunggu tanpa kepastian.
Bagaimana membuka kembali percakapan tanpa memulai perang baru?
Setelah kalian berdua tenang, tujuan dari mengulang percakapan ini bukanlah mencari siapa yang benar. Tujuannya adalah saling memahami. Dua hal ini membuatnya jauh lebih mungkin terjadi.
Mulai dengan lembut
Cara sebuah percakapan dimulai sangat menentukan bagaimana akhirnya. Keluhan yang dimulai dengan apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu butuhkan akan diterima jauh berbeda dibanding keluhan yang dimulai dengan apa yang salah pada pasanganmu. "Aku merasa sendirian mengurus rutinitas tidur anak-anak minggu ini, aku ingin dibantu" membuka pintu. "Kamu tidak pernah bantu urus anak-anak" membanting pintu itu. Masalahnya sama. Malamnya bisa sangat berbeda.
Penasaran, bukan menyusun pembelaan
Saat kalian membahas kembali pertengkaran itu, tahan keinginan untuk membuktikan siapa yang benar. Cobalah memahami mengapa hal ini terasa begitu berat bagi masing-masing kalian. Tanyakan apa yang mereka rasakan, apa yang mereka khawatirkan, apa yang mereka butuhkan saat itu. Lalu sampaikan juga apa yang kamu rasakan. Kamu tidak perlu sependapat untuk bisa memahami seseorang. Dan dipahami adalah sebagian besar dari apa yang sebenarnya diperjuangkan orang.
American Psychological Association menyampaikannya dengan jelas: pasangan yang berhasil bukanlah mereka yang tidak pernah berkonflik, melainkan mereka yang menghadapinya dengan mendengarkan dan usaha yang tulus untuk memahami sudut pandang pasangannya, bukan dengan berteriak, meremehkan, atau menutup diri. Satu perubahan kecil dalam cara bicara bisa membantu lebih dari yang kamu duga. Bicarakan masalah itu sebagai milik kita, sesuatu yang kalian berdua hadapi bersama, bukan sesuatu yang salah satu pihak lakukan terhadap yang lain.
Kapan memperbaiki lebih penting daripada menyelesaikan?
Kamu tetap akan membuat kesalahan. Semua orang bisa meledak, mengucapkan kata-kata tajam, atau pergi begitu saja padahal seharusnya tidak. Yang membedakan pasangan yang stabil bukanlah tidak pernah retak. Yang membedakan adalah bagaimana mereka memperbaikinya setelahnya.
Perbaikan itu bisa hal kecil. "Tadi aku terlalu keras, maaf ya." Sentuhan tangan di bahu. Lelucon garing yang membuat kalian berdua bisa menghela napas lega. Gestur-gestur kecil ini adalah cara kalian saling memberi tahu bahwa ikatan itu masih utuh meski pertengkarannya sempat buruk. Pasangan yang bisa melakukan ini, yang bisa kembali menjangkau satu sama lain setelah pertengkaran besar, adalah pasangan yang cenderung bertahan lama. Bahayanya bukan pertengkarannya. Bahayanya adalah menjadi dingin dan tidak pernah kembali.
Jadi kalau ada satu hal yang bisa kamu ambil dari semua ini: usahakan untuk mengakhiri pertengkaran berulang dengan lembut, bukan mengakhirinya selamanya. Bagian yang berulang itu mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Tapi kekejaman, sikap meremehkan, dan jarak dingin setelahnya, itu semua bisa hilang.
Kapan sebaiknya kamu mencari bantuan?
Terkadang lingkaran ini terlalu kuat untuk diputus sendiri, dan itu bukan sebuah kegagalan. Jika pertengkaran kalian sering berujung pada sikap meremehkan atau saling menghina, jika kalian sudah berhenti benar-benar berbicara, jika kalian takut berada di ruangan yang sama, atau jika kamu sudah mencoba semua hal di atas dan tidak ada yang berubah, seorang terapis pasangan bisa membantu kalian melihat pola yang terlalu dekat untuk kalian lihat sendiri. Mencari bantuan lebih awal, sebelum semuanya mengeras, cenderung jauh lebih efektif daripada menunggu sampai terjadi krisis.
Dan jika konflik itu pernah terasa tidak lagi aman, jika ada intimidasi, kontrol berlebihan, atau segala bentuk kekerasan fisik maupun emosional, itu situasi yang berbeda dan pantas mendapatkan dukungan yang memang dirancang khusus untuk itu. Kamu tidak perlu memastikan dulu apakah situasimu "cukup layak" sebelum mencari bantuan. Meminta bantuan selalu diperbolehkan, dan kamu tidak harus melalui ini sendirian.
Sumber
- The Gottman Institute, Managing Conflict: Solvable vs. Perpetual Problems
- The Gottman Institute, Does Flooding Play a Role in Your Perpetual Conflict?
- American Psychological Association, Happy couples: How to keep your relationship healthy