Tips singkat
- Sebut hal persis yang mereka lakukan.
- Hargai usahanya, bukan cuma kemenangannya.
- Tinggalkan catatan di tempat yang akan mereka temukan.
Bayangkan terakhir kali kamu berkata "makasih ya, kamu emang yang terbaik" pada seseorang yang kamu sayangi. Apakah dia bahkan mengangkat wajahnya? Mungkin tidak. Kata-katanya tidak salah. Tapi kata-katanya juga sudah jadi hiasan dinding, jenis yang kamu ucapkan sambil meraih kunci, dan orang di seberang sana mendengarnya sebagai derau latar karena memang persis seperti itulah jadinya.
Inilah masalah senyap dengan apresiasi dalam hubungan jangka panjang mana pun. Perasaannya masih nyata. Cara mengungkapkannya yang sudah basi. Kamu sungguh-sungguh memaksudkannya, tapi ia berhenti berarti apa-apa, karena kamu sudah mengaus jejak alur pada tiga kata yang sama dan sekarang kata-kata itu cuma melorot lewat begitu saja.
Kabar baiknya, perbaikannya kecil dan gratis. Sebagian besar intinya adalah bersikap spesifik, dan sesekali mengatakan bagian yang biasanya kamu tinggalkan.
Kenapa terima kasih yang umum berhenti berhasil
Ada alasan kenapa "kamu luar biasa" jatuhnya makin lembut makin sering kamu mengucapkannya. Otak menyetel diri untuk mengabaikan pengulangan. Sebuah frasa yang datang tepat waktu, dengan kata-kata yang sama, dengan penyampaian datar yang sama, terarsip di bawah label derau. Pasanganmu tidak sedang tidak tahu terima kasih saat dia tidak bereaksi. Dia cuma sudah mendengar kalimat persis itu cukup sering sampai ia tidak lagi membawa informasi.
Di bawah kata-katanya, ada sesuatu yang lebih besar yang dipertaruhkan. Ketika para peneliti mempelajari apa yang sebenarnya dilakukan rasa syukur di antara dua orang, keajaibannya bukan pada kesopanannya. Melainkan apakah orangnya merasa *dilihat*. Psikolog Sara Algoe menggambarkan rasa syukur sebagai semacam lem hubungan, dan karyanya menunjuk pada satu mekanisme yang spesifik: terima kasih yang baik memberi tahu orang lain bahwa kamu memperhatikan bukan cuma apa yang dia lakukan tapi juga bahwa itu memakan sesuatu darinya, dan bahwa itu berarti bagimu. Pengakuan itulah yang mengikat orang jadi lebih dekat. Sebuah "makasih" yang umum melewati semua itu. Ia mengakui perbuatannya tanpa mengakui orangnya.
Jadi versi rutin itu gagal bukan karena kamu kurang sering mengucapkannya. Ia gagal karena ia tidak membawa bukti bahwa kamu memperhatikan.
Kembalikan detailnya
Satu perubahan paling berguna yang bisa kamu lakukan adalah menyebut hal yang spesifik. Bukan "makasih untuk segalanya," tapi perbuatan yang sebenarnya, dengan kata-kata yang terus terang.
Bandingkan ini:
- "Makasih ya udah jadi orang yang hebat banget."
- "Makasih ya udah bangun ngurus bayi jam 3 pagi biar aku bisa tidur. Hari ini aku ngerasa jadi manusia lagi."
Yang kedua butuh lima detik tambahan. Ia juga memberi tahu pasanganmu tiga hal yang tak bisa disampaikan yang pertama: bahwa kamu tahu apa yang dia lakukan, bahwa kamu tahu itu berat, dan bahwa itu mengubah bagaimana rasa harimu. Gottman Institute, yang sudah puluhan tahun mengamati pasangan sungguhan, menyebut apresiasi kecil dan sering semacam ini sebagai salah satu setoran termudah yang bisa kamu lakukan ke dalam sebuah hubungan, jenis hal yang bahkan pasangan yang sangat tidak terhubung pun bisa mulai lakukan besok.
Ini bentuk sederhana yang menjauhkanmu dari alur yang sama. Kamu tidak harus mengenai ketiganya setiap kali, tapi meraih dua di antaranya mengubah hiasan dinding kembali jadi pesan yang sungguhan.
- Sebut perbuatannya. Katakan hal konkret yang dia lakukan. "Kamu menangani telepon dari ibuku."
- Sebut usahanya. Akui apa yang dibutuhkannya. "Aku tahu itu bukan percakapan favoritmu."
- Sebut dampaknya. Beri tahu apa yang itu berikan padamu. "Itu mengurai satu simpul utuh dari pekanku."
Perhatikan bahwa tak satu pun dari ini menuntut tesaurus atau gestur megah. Detailnyalah yang melakukan kerjanya, bukan kata-kata sifatnya.
Hargai usahanya, bukan cuma kemenangannya
Sebuah kebiasaan yang layak dibangun: berterima kasih pada orang karena mencoba, bukan cuma karena berhasil. Makan malam yang tak sepenuhnya jadi. Perbaikan yang butuh tiga kali coba. Obrolan berat yang dia mulai meski jadinya melenceng. Kalau apresiasi cuma muncul saat segalanya berhasil, orang-orang di sekitarmu belajar bahwa usaha itu tak terlihat dan cuma hasil yang dihitung. Menyebut usahanya memberi tahu mereka bahwa upaya itu sendiri terlihat, dan justru itulah yang membuat mereka bersedia mencoba lagi.
Ini paling penting untuk hal-hal yang sudah bertahun-tahun tak diperhatikan. Orang yang selalu mengurus tagihan. Teman yang selalu jadi yang pertama mengirim pesan. Rekan kerja yang diam-diam menangkap kesalahanmu sebelum orang lain melihatnya. Sebuah terima kasih yang akhirnya menyebut hal yang sudah lama berjalan dan dianggap wajar sering jatuh lebih keras daripada hadiah apa pun, justru karena mereka sudah menyerah berharap itu akan pernah diperhatikan.
Cara-cara kecil supaya ia tidak basi
Kespesifikan adalah hal yang utama. Beberapa langkah lain menjaga apresiasi terasa hidup alih-alih terjadwal:
Variasikan wadahnya. Kebanyakan terima kasih kita terjadi dengan suara dan secara spontan, dan itu baik, tapi saluran yang sama setiap kali berubah jadi statis. Sebuah pesan di tengah hari, catatan yang ditinggalkan di tempat yang akan dia temukan, terima kasih yang diucapkan di depan orang lain, masing-masing jatuh berbeda karena ia memecah polanya. Ada temuan terkenal dari psikologi positif bahwa menulis dan menyampaikan surat terima kasih yang tulus kepada seseorang yang tak pernah benar-benar diberi terima kasih menghasilkan angkat suasana hati yang nyata dan bertahan lama, bagi si penulis sama besarnya seperti bagi si pembaca. Kamu tidak butuh surat lengkap di sebagian besar hari. Tapi asasnya tetap: sedikit usaha tambahan dalam cara kamu menyampaikannya itu terasa.
Tangkap saat itu juga. Apresiasi yang datang tepat setelah perbuatannya, alih-alih sebagai rangkuman umum di penghujung hari, membawa bobot lebih karena ia membuktikan kamu hadir untuknya.
Ucapkan alasannya dengan suara. Kita cenderung mengira orang-orang yang paling dekat dengan kita sudah tahu bagaimana perasaan kita. Sering kali mereka tidak tahu, atau dulu tahu dan bisa terbantu dengan pengingatnya. Pikiran di kepalamu tidak melakukan apa pun untuk mereka. Kalimatnya yang melakukannya.
Dan biarkan dirimu menerimanya juga. Ketika seseorang berterima kasih padamu, tahan refleks untuk menampiknya dengan "ah, nggak ada apa-apanya kok." Itu mengibaskan gesturnya. "Aku seneng banget itu membantu" membiarkan apresiasinya benar-benar jatuh, yang membuat mereka lebih mungkin menawarkannya lagi.
Saat kata-katanya sulit ditemukan
Kadang alasan apresiasi jadi datar bukan kemalasan. Melainkan sesuatu di bawahnya yang sudah jadi senyap. Kalau kamu sungguh-sungguh tak bisa menemukan apa pun untuk disyukuri dalam sebuah hubungan, atau setiap upaya berubah jadi dendam, itu layak diperhatikan alih-alih memaksakan catatan ceria. Penghinaan yang terus-menerus, rasa tak terlihat apa pun yang kamu lakukan, atau hubungan yang sudah lama dingin adalah jenis hal yang memang dirancang untuk dibantu oleh terapis pasangan atau konselor. Apresiasi adalah praktik harian yang indah. Ia bukan tambalan untuk luka yang butuh lebih dari sekadar kata-kata yang baik.
Dan kalau kedataran itu ada dalam dirimu, bukan dalam hubungannya, kalau tak ada yang terasa layak diperhatikan belakangan dan kelabu telah menyelimuti segalanya, itu bisa jadi sinyalnya sendiri. Rentang panjang mati rasa, kehilangan minat pada orang dan hal-hal yang dulu kamu pedulikan, layak disebutkan pada dokter atau profesional kesehatan mental. Kadang masalah dengan apresiasi bukan kata-katanya. Melainkan bahwa kamu sendiri pantas mendapat dukungan.
Bagi kebanyakan kita, namun, hubungan yang kita pedulikan tidaklah rusak. Ia cuma jadi senyap di tempat-tempat yang lupa kita rawat. Perbaikannya nyaris memalukan saking sederhananya. Perhatikan satu hal yang spesifik hari ini, dan ucapkan dengan suara, dengan detailnya masih melekat.
Sumber
- Harvard Health Publishing, Giving thanks can make you happier
- The Gottman Institute, The Gifts of Showing Your Gratitude for Each Other
- UNC College of Arts and Sciences, Gratitude and shared laughter are like probiotics for your relationship
- Sara B. Algoe, Find, Remind, and Bind: The Functions of Gratitude in Everyday Relationships (Social and Personality Psychology Compass)