Langsung ke konten utama

KETERHUBUNGAN · KOMUNIKASI

Dari basa-basi ke obrolan sungguhan: menyelami lebih dalam dengan orang-orang yang kamu cintai

Obrolan ringan berubah jadi obrolan yang sungguh-sungguh selapis demi selapis, biasanya ketika ada yang lebih dulu berani berbagi sesuatu yang sedikit rentan. Kamu bisa bertahun-tahun dekat dengan seseorang tapi tetap belum benar-benar mengenalnya. Berikut apa kata penelitian tentang bagaimana obrolan basa-basi bisa berubah jadi obrolan yang dekat, dan beberapa cara jujur untuk menyelami hubungan lebih dalam dengan orang-orang yang kamu sayangi.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Seorang pria dan seorang perempuan tersenyum

Foto oleh Fotos di Unsplash

Bayangkan makan malam dengan seseorang yang sudah kamu kenal seumur hidup. Orang tua, pasangan, atau sahabat lama. Makanannya enak, obrolannya mengalir, dan entah bagaimana di jam kedua kamu sadar kalian sudah membahas cuaca, kemacetan, berita, pekerjaan mereka, pekerjaan kamu, dan sama sekali tidak ada yang benar-benar penting. Kamu pulang dengan perut kenyang tapi hati sedikit kosong. Kalian bersama tiga jam, tapi kamu tidak pernah benar-benar sampai.

Jarak seperti itu lebih umum dari yang orang mau akui. Kita bisa sangat menyayangi seseorang dan tetap membiarkan hampir semua obrolan berkutat di permukaan, sebagian karena kebiasaan, sebagian karena takut, sebagian karena tidak ada yang pernah mengajari kita cara menyelam lebih dalam. Kabar baiknya, berpindah dari obrolan ringan ke obrolan yang sungguh-sungguh bukan bakat bawaan yang hanya dimiliki sebagian orang. Ada polanya, dan pola ini sudah diteliti selama puluhan tahun. Begitu kamu bisa melihat polanya, kamu bisa memakainya dengan sengaja.

Kenapa kita berhenti di permukaan?

Obrolan ringan sering dianggap remeh, tapi sebenarnya ia punya fungsi nyata. Ia adalah pemanasan. Ia menunjukkan bahwa kamu ramah, membuat dua orang saling menyesuaikan diri, dan risikonya rendah, tidak ada yang tersakiti karena membahas cuaca. Masalahnya, banyak hubungan yang tidak pernah naik ke level berikutnya. Pemanasan itu jadi satu-satunya permainan.

Para psikolog yang meneliti bagaimana orang menjadi dekat menjelaskan prosesnya sebagai bergerak di dua arah sekaligus. Satu arah adalah keluasan, yaitu berapa banyak topik berbeda yang kamu bahas dengan seseorang. Arah lainnya adalah kedalaman, yaitu seberapa jauh kamu menyelam di bawah permukaan pada topik itu. Seorang rekan kerja mungkin punya keluasan, kalian mengobrol soal proyek, rencana akhir pekan, tempat baru di ujung jalan, tapi hampir tanpa kedalaman. Sebuah hubungan menjadi lebih dekat saat obrolan berhenti hanya melebar dan mulai menukik: dari apa yang kamu lakukan menjadi bagaimana perasaanmu tentang itu, dari pendapatmu menjadi ketakutanmu, dari kejadian harianmu menjadi apa yang sebenarnya kamu inginkan dari hidupmu. Kerangka ini, yang disebut teori penetrasi sosial, sudah jadi tulang punggung penelitian hubungan sejak tahun 1970-an, dan gagasan intinya sederhana. Kedekatan dibangun dengan menyelam lebih dalam, perlahan dan bersama-sama.

Kata "bersama-sama" ini sama pentingnya dengan kedalaman itu sendiri. Keterbukaan yang sehat itu timbal balik. Satu orang membagikan sesuatu yang sedikit rentan, orang lain membalasnya dengan hal serupa dari dirinya, dan kepercayaan naik selangkah demi selangkah. Kalau hanya satu pihak yang terus terbuka sementara yang lain terus mengalihkan, itu tidak membangun kedekatan. Itu justru membangun rasa tidak nyaman.

Jadi kalau obrolanmu terasa mandek di permukaan, biasanya bukan karena kamu tidak peduli. Biasanya karena belum ada yang mengambil risiko kecil untuk memulai lebih dulu.

Sebenarnya apa yang menahan kamu di permukaan?

Ada baiknya menyebut ketakutan itu dengan jujur, karena hampir selalu itu adalah semacam rasa takut. Beberapa yang paling sering muncul:

Ada kekhawatiran bahwa kamu akan "terlalu berlebihan". Kalau kamu bilang apa yang sebenarnya kamu rasakan, kamu takut membebani orang lain, terlihat butuh perhatian, atau membuat suasana jadi aneh. Hampir semua orang membawa rasa takut ini dalam beberapa bentuknya, dan hampir selalu itu salah. Hal yang kamu takutkan akan membuat orang menjauh biasanya justru hal yang membuat mereka semakin dekat, karena itu menunjukkan kamu percaya pada mereka.

Ada juga rasa takut terlihat tapi tidak disukai. Selama hubungan bertahan di permukaan, tidak ada yang bisa menolak dirimu yang sebenarnya, karena dirimu yang sebenarnya tidak pernah muncul. Bertahan di permukaan bisa terasa seperti pelindung. Tapi pelindung jenis ini juga membuatmu sedikit kesepian.

Dan ada kebiasaan biasa. Beberapa keluarga dan pertemanan memang belum pernah melatih otot ini. Kamu membahas urusan sehari-hari, orang lain, dan berita karena itulah alur yang sudah dijalani hubungan itu selama bertahun-tahun. Alur ini bisa diubah, tapi hanya oleh seseorang yang dengan sengaja membelokkannya.

Semua ini bukan cela karakter. Ini adalah naluri melindungi diri yang dulu memang masuk akal. Yang perlu dilakukan bukan menyalahkan diri karena memilikinya. Yang perlu dilakukan adalah menyadari naluri itu dan, sesekali, tetap memilih melangkah satu langkah lebih jauh darinya.

Hal yang benar-benar membangun kedekatan

Ini salah satu temuan paling diam-diam penuh harapan dalam ilmu tentang hubungan. Pada tahun 1990-an, psikolog Arthur Aron dan rekan-rekannya membawa pasangan orang asing ke dalam laboratorium dan meminta mereka saling mengajukan 36 pertanyaan yang dimulai dari yang ringan lalu makin lama makin personal. Pertanyaan awal mudah ("Apakah kamu ingin terkenal? Dengan cara apa?"). Pertanyaan belakangan menyentuh lebih dalam ("Kapan terakhir kali kamu menangis di depan orang lain?"). Dibandingkan dengan pasangan yang menghabiskan waktu yang sama untuk obrolan ringan, orang-orang yang melewati pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam merasa jauh lebih dekat satu sama lain. Salah satu pasangan dari penelitian itu bahkan akhirnya menikah.

Kamu tidak butuh lembar 36 pertanyaan itu, meskipun mudah ditemukan dan memang seru untuk dicoba. Pelajaran di balik penelitian ini yang layak dipegang. Kedekatan tidak tercipta dari gestur besar atau bertahun-tahun kebersamaan. Kedekatan tercipta dari kejujuran timbal balik yang terus meningkat, dua orang bergiliran melangkah sedikit lebih jauh dari yang terasa nyaman, kira-kira dengan kecepatan yang sama. Struktur pertanyaannya juga penting: dimulai dari yang mudah lalu perlahan berkembang. Tidak ada yang diminta membuka jiwanya di lima menit pertama.

Itulah keseluruhan resepnya, sebenarnya. Menyelamlah sedikit lebih dalam dari biasanya. Biarkan orang lain mengimbangimu. Jangan buru-buru.

Bagaimana caranya membawa obrolan satu lapis lebih dalam?

Obrolan yang sungguh-sungguh jarang datang dengan pengumuman. Biasanya dimulai dengan satu pertanyaan yang sedikit lebih berani, atau satu jawaban yang sedikit lebih jujur dari yang dibutuhkan momen itu. Beberapa cara untuk masuk:

  • Tukar "hari ini gimana" dengan sesuatu yang lebih tajam. "Apa bagian terbaik dari hari kamu?" atau "Apa yang belakangan ini terasa berat buat kamu?" meminta jawaban yang sesungguhnya, bukan jawaban refleks. Pertanyaan seperti ini memberi izin pada orang lain untuk mengatakan sesuatu yang benar.
  • Mulailah lebih dulu, dan berani sedikit rentan. Kalau kamu ingin kedalaman, biasanya kamu harus mengeluarkan modal pertama. Mengatakan "sebenarnya, bulan ini aku sering merasa sendirian" memberi orang lain sesuatu yang nyata untuk dibalas. Orang cenderung mengimbangi level yang kamu tetapkan.
  • Ikuti perasaannya, bukan cuma faktanya. Saat seseorang menceritakan apa yang terjadi, tanyakan bagaimana rasanya. "Gimana rasanya waktu itu?" atau "Apa yang ada di pikiran kamu saat itu?" mengubah sekadar laporan menjadi obrolan sungguhan. Kebanyakan orang sebenarnya menunggu seseorang bertanya.
  • Ajukan pertanyaan kedua. Jawaban pertama hampir selalu jawaban yang sopan dan sudah dilatih. Jawaban yang sesungguhnya ada satu pertanyaan lebih jauh ke dalam. "Kamu bilang baik-baik saja, tapi sebenarnya gimana kamu menjalaninya?" adalah tempat banyak kedekatan tersembunyi.
  • Buat suasana aman untuk jujur lewat cara kamu merespons. Kalau seseorang menceritakan sesuatu yang rentan dan kamu malah ganti topik, langsung mencoba memperbaikinya, atau menandinginya dengan cerita sendiri, mereka akan belajar untuk tidak lagi bercerita ke situ lagi. Respons yang paling menghubungkan biasanya yang paling sederhana: "Kedengarannya berat. Coba ceritain lebih lanjut."

Semua ini tidak butuh suasana serius atau momen khusus. Beberapa obrolan paling dalam justru terjadi di mobil, saat jalan santai, saat mencuci piring, di mana saja yang kontak mata bersifat opsional dan tidak ada tekanan untuk tampil sempurna. Duduk bersebelahan kadang lebih mudah daripada berhadapan langsung.

Bagaimana kalau seseorang terbuka padamu?

Menyelam lebih dalam adalah proses dua arah, dan separuhnya adalah apa yang kamu lakukan saat orang lain mengambil risiko itu. Di sinilah banyak orang yang bermaksud baik justru tanpa sadar menutup pintunya. Seseorang bercerita bahwa mereka sedang berjuang, lalu dorongan untuk membantu langsung muncul, jadi kamu buru-buru menawarkan solusi, atau sisi positifnya, atau cerita tentang saat kamu mengalami hal serupa. Rasanya seperti bentuk kepedulian. Tapi seringnya justru terasa seperti dipotong pembicaraannya.

Saat seseorang membagikan sesuatu yang rentan, hal paling menghubungkan yang bisa kamu lakukan biasanya justru yang paling minim tindakan. Biarkan cerita itu benar-benar sampai. Jangan buru-buru memperbaikinya. Penelitian tentang apa yang membuat orang merasa dekat menunjukkan arah yang sama dengan apa yang sudah dipahami para pendengar terbaik: orang ingin merasa dipahami dulu sebelum ingin diberi nasihat.

Beberapa hal yang membuat pintu tetap terbuka:

  • Ulangi kembali apa yang kamu dengar sebelum menanggapi. "Kedengarannya kamu sudah memikul ini sendirian cukup lama" memberi tahu orang itu bahwa ceritanya benar-benar sampai padamu. American Psychological Association menunjuk jenis mendengarkan seperti inilah, memahami sudut pandang dan perasaan pasanganmu, sebagai salah satu tanda hubungan yang bertahan lama.
  • Tahan diri untuk tidak langsung memperbaiki. Kecuali mereka minta saran, biasanya mereka hanya butuh seseorang yang mendengarkan, bukan konsultan. "Itu kedengarannya berat sekali" berbuat lebih banyak daripada sepuluh saran.
  • Jangan malah jadi tentang dirimu. Sedikit "aku juga pernah begitu" bisa membangun keterhubungan, tapi kalau setiap cerita mereka jadi ajang ceritamu sendiri, orang itu perlahan belajar bahwa ruang bicara ini bukan untuk mereka.
  • Tetap hangat meski ceritanya berat. Ketenanganmu dan perhatianmu yang tidak terburu-buru menunjukkan pada mereka bahwa hubungan ini bisa menampung hal-hal yang sungguhan. Itulah intinya, kamu membuktikan bahwa air yang lebih dalam ini aman.

Cara kamu menerima kejujuran seseorang mengajarkan mereka apakah mereka akan membawa lebih banyak cerita padamu di kemudian hari. Kalau bagian ini kamu lakukan dengan baik, orang akan terus terbuka padamu seumur hidup.

Jangan lewatkan kabar baik

Ada bentuk obrolan sungguh-sungguh yang lebih tenang dan sering terlewat, dan mungkin ini justru tempat paling mudah untuk mulai. Kita cenderung berpikir kedekatan dibangun lewat momen-momen sulit, menghibur seseorang yang berduka atau takut. Itu benar. Tapi penelitian psikolog Shelly Gable menemukan bahwa cara kamu merespons saat seseorang berbagi kabar baik sama pentingnya bagi kesehatan sebuah hubungan, bahkan kadang lebih penting.

Saat pasangan atau temanmu bercerita ada hal baik yang terjadi, ada empat cara kamu bisa merespons. Kamu bisa benar-benar senang dan ingin tahu lebih ("Wah keren banget, cerita dong semuanya"). Kamu bisa merespons dengan datar ("Oh, bagus"). Kamu bisa mencari sisi negatif dari kabar baik itu ("Wah, jadi tambah kerjaan kamu ya"). Atau kamu bisa hampir tidak menanggapi sama sekali. Hanya respons pertama, yang hangat dan penuh minat, yang benar-benar membangun kedekatan. Dalam penelitian Gable, pasangan yang secara konsisten merayakan pencapaian satu sama lain melaporkan keintiman dan kepuasan yang lebih tinggi, dan lebih kecil kemungkinannya untuk berpisah di bulan-bulan berikutnya. Ternyata, hadir untuk kebahagiaan seseorang adalah salah satu cara paling diremehkan untuk menjadi dekat.

Jadi kalau obrolan besar yang rentan terasa terlalu berat untuk hari ini, mulailah dari sini. Lain kali orang yang kamu sayangi bercerita tentang hal kecil yang baik, letakkan ponselmu dan tanyakan hal sungguhan tentang itu. Itu juga obrolan yang sungguh-sungguh.

Bagaimana kalau tidak terbuka juga?

Menyelam lebih dalam butuh dua orang, dan kadang orang lain belum siap, atau belum bisa. Kalau kamu terus mencoba tapi terus-terusan dialihkan, itu layak dihormati, bukan dipaksa. Beberapa orang belajar sejak lama bahwa keterbukaan itu tidak aman, dan itu butuh waktu lama untuk sembuh. Kamu bisa tetap membuka pintu tanpa mendorong siapa pun untuk masuk.

Ada baiknya juga jujur pada dirimu sendiri tentang alasan kenapa permukaan terasa lebih aman. Kalau ide untuk benar-benar dikenal membuat dadamu sesak, kalau kamu sadar diri menghindari kedekatan bahkan dengan orang yang kamu percaya, kalau luka lama membuat keterbukaan terasa sungguh-sungguh berbahaya, itu semua hal yang rentan, dan justru pantas dibawa ke psikolog atau konselor. Menginginkan keterhubungan tapi sekaligus merasa takut akan hal itu adalah salah satu simpul paling manusiawi yang ada, dan seorang profesional yang baik bisa membantumu mengurainya.

Kebanyakan hubungan tidak butuh diperbaiki, tapi diperdalam. Obrolan sungguhan berikutnya biasanya hanya berjarak satu kalimat jujur. Kamu hanya perlu menjadi yang mengucapkannya lebih dulu.

Sumber

  1. American Psychological Association, Happy couples: How to keep your relationship healthy
  2. Greater Good in Action (UC Berkeley), 36 Questions for Increasing Closeness
  3. Greater Good in Action (UC Berkeley), Capitalizing on Positive Events
  4. EBSCO Research Starters, Self-disclosure

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi