Banyak pasangan pernah mengalami versi percakapan seperti ini. Satu orang berkata, "Bahasa cintaku itu waktu berkualitas, dan kamu selalu sibuk sama hp." Yang lain menjawab, "Tapi aku ngelakuin banyak hal buat kamu seharian. Aku isi bensin mobilmu. Aku yang urus telepon asuransi yang kamu takutin itu." Keduanya sama-sama benar. Keduanya sama-sama merasa sedikit tidak terlihat. Dan di balik kata-kata itu, ada pertanyaan sungguhan yang sebenarnya coba dijawab oleh konsep bahasa cinta: bagaimana caranya menunjukkan cinta pada seseorang dengan cara yang benar-benar bisa mereka rasakan?
Pertanyaan itu bagus. Layak dipikirkan serius. Tapi kerangka yang biasa dipakai orang untuk menjawabnya ternyata lebih rapuh dari popularitasnya, dan memahami kenapa, justru bisa membuatmu lebih baik, bukan lebih buruk, dalam mencintai orang-orang di hidupmu.
Lima bahasa cinta berasal dari buku tahun 1992 karya Gary Chapman, seorang pendeta sekaligus konselor pernikahan. Idenya sederhana dan mudah diingat, itu sebagian alasan kenapa gagasan ini menyebar ke puluhan juta pembaca. Chapman berpendapat bahwa orang pada dasarnya memberi dan menerima cinta lewat salah satu dari lima cara: kata-kata afirmasi, waktu berkualitas, tindakan pelayanan, sentuhan fisik, dan menerima hadiah. Menurut pemikiran ini, temukan bahasa cinta utama pasanganmu, gunakan bahasa itu, maka mereka akan merasa dicintai. Pakai bahasa yang salah, pesannya jadi hilang di tengah jalan.
Ini cerita yang berguna. Ia memberi satu generasi pasangan cara yang lebih tenang untuk membicarakan kebutuhan, bukan saling menyalahkan. Masalahnya muncul ketika cerita ini dicocokkan dengan bukti ilmiah.
Apa sebenarnya yang ditemukan penelitian?
Pada 2024, sebuah tim ilmuwan hubungan yang dipimpin Emily Impett dari University of Toronto, bersama Haeyoung Gideon Park dan Amy Muise, meninjau studi-studi yang ada tentang bahasa cinta dan menerbitkan penilaian mereka di jurnal Current Directions in Psychological Science. Mereka meneliti tiga klaim yang menjadi dasar seluruh kerangka ini. Tak satu pun dari ketiganya terbukti kuat.
Klaim pertama adalah bahwa setiap orang punya satu bahasa cinta utama. Ketika peneliti meminta orang menilai kelima kategori itu sendiri-sendiri, alih-alih memaksa mereka memilih satu, terjadi sesuatu yang menarik. Orang-orang menilai kelimanya sama pentingnya. Hampir tidak ada yang hanya mau kata-kata tanpa waktu, atau hanya sentuhan tanpa bantuan di rumah. Kita menginginkan semuanya. Kuis yang membuat ide ini terkenal bekerja dengan memaksamu memilih satu opsi di atas opsi lain, berulang-ulang, sehingga bisa menciptakan preferensi "utama" yang sebenarnya tidak ada kalau pilihan itu tidak dipaksakan.
Klaim kedua adalah bahwa ada tepat lima bahasa cinta. Ketika para ilmuwan menghitung datanya, kategori-kategori ini tidak terpisah rapi menjadi lima. Berbagai studi menghasilkan angka tiga, atau empat, dan ada hal-hal penting yang justru terlewat, seperti sekadar merasa didengarkan, atau merasa dihormati. Lima memang angka yang mudah diingat. Tapi bukan temuan ilmiah.
Klaim ketiga adalah klaim yang paling praktis, alasan orang mengikuti kuisnya sejak awal: bahwa pasangan lebih bahagia kalau bahasa cinta mereka "cocok", atau kalau satu orang belajar bahasa cinta pasangannya. Di sinilah buktinya tipis dan bercampur aduk. Beberapa studi menemukan bahwa pasangan dengan bahasa cinta yang cocok tidak lebih puas dibanding yang tidak cocok. Beberapa studi lain menunjukkan sebaliknya. Kesimpulan jujurnya, efeknya kecil dan tidak konsisten, bukan seperti yang diharapkan dari sebuah ide yang katanya kunci hubungan bahagia. Seperti kata Impett, orang pada dasarnya lebih bahagia dalam hubungan ketika mereka menerima salah satu dari ungkapan cinta ini, apa pun bentuknya.
Kalimat terakhir itulah yang perlu dipegang erat. Ia diam-diam mengubah semuanya. Kalau menerima salah satu dari ungkapan-ungkapan itu saja sudah membuat orang lebih bahagia, berarti tujuannya bukan menemukan satu saluran yang tepat lalu mencurahkan segalanya ke situ. Tujuannya adalah terus hadir dengan berbagai cara, dan terus memperhatikan apakah itu benar-benar sampai.
Metafora yang lebih baik: bukan bahasa, tapi pola makan
Para peneliti Toronto menawarkan gambaran lain, dan ini lebih ramah. Alih-alih membayangkan bahasa yang bisa kamu kuasai atau tidak, bayangkan cinta seperti pola makan yang seimbang.
Tubuhmu tidak bisa hidup dari satu nutrisi saja. Kamu butuh protein, sayur, lemak, dan air, dalam keseimbangan tertentu, sepanjang waktu. Kamu bisa bertahan sebentar dengan satu jenis makanan saja. Tapi kamu tidak akan benar-benar sehat. Hubungan bekerja dengan cara yang sama. Orang butuh kasih sayang, apresiasi, waktu, bantuan praktis, dan rasa dipahami, bukan salah satunya saja sambil mengabaikan yang lain. Seperti dijelaskan Impett, gagasan pola makan ini "menjaga semua bentuk ungkapan cinta tetap ada di menu dan mengajak pasangan untuk saling berbagi apa yang mereka butuhkan di waktu yang berbeda-beda."
Ini penting karena alasan yang nyata. Metafora bahasa bisa jadi alasan untuk berkelit. "Itu bukan bahasaku" berubah jadi alasan untuk mengabaikan hal yang diminta pasanganmu. Metafora pola makan menutup celah itu. Kamu tidak bisa hanya menyajikan menu yang kamu suka masak. Kekurangan kasih sayang dalam waktu lama akan meninggalkan bekas, bahkan pada orang yang "bahasanya" katanya tindakan pelayanan. Kekurangan rasa dihargai dalam waktu lama akan melelahkan orang yang bersumpah hanya peduli pada waktu berkualitas.
Ini juga melepaskan tekanan untuk merasa harus memecahkan kode tertentu. Kamu tidak perlu mendiagnosis pasanganmu lalu tampil sempurna dalam satu perilaku sempit. Kamu hanya perlu menjaga beberapa hal tetap mengalir.
Apa yang sebenarnya ada di baliknya?
Kalau kategori-kategori itu disingkirkan, ada satu temuan yang memang didukung kuat, yang muncul berulang kali dalam puluhan tahun riset hubungan, dengan nama yang lebih sederhana. Istilah yang dipakai psikolog adalah *responsiveness*, atau daya tanggap.
Daya tanggap adalah perasaan bahwa seseorang benar-benar mengerti dirimu. Bahwa mereka paham apa yang sebenarnya kamu butuhkan, mereka peduli, dan mereka melakukan sesuatu untuk itu. Greater Good Science Center di Berkeley, dalam merangkum riset bahasa cinta, menunjuk tepat pada hal ini: yang membuat seseorang merasa dicintai adalah direspons dengan cara yang memenuhi kebutuhan nyata mereka, sehingga mereka merasa dipahami, diakui, dan diperhatikan. Perhatikan urutannya. Pemahaman datang lebih dulu. Sebuah tindakan baru terhitung cinta kalau memang ditujukan pada apa yang benar-benar diinginkan orang itu, bukan pada apa yang kamu kira mereka inginkan atau apa yang kamu inginkan seandainya kamu di posisi mereka.
Itu juga secercah kabar baik yang tersembunyi dalam studi-studi bahasa cinta. Beberapa studi yang meneliti apakah mengetahui preferensi pasangan bisa memprediksi kepuasan, menemukan hubungan yang positif. Bukan karena kategorinya nyata, tapi karena tindakan memperhatikan dengan cukup dalam sampai benar-benar tahu, itulah yang sebenarnya membantu. Bahasa cinta selalu menjadi penunjuk yang agak canggung ke arah daya tanggap. Penunjuknya boleh saja diabaikan. Tapi hal yang ditunjuknya, tidak.
Daya tanggap inilah alasan kenapa pasangan yang urus mobil-dan-asuransi maupun pasangan waktu-berkualitas sama-sama merasa tidak terlihat. Sebenarnya ini bukan soal pelayanan versus waktu. Salah satu dari mereka sedang berkata "aku perlu merasa jadi prioritas" dan tidak didengar. Yang lain sedang berkata "aku terus-menerus hadir untukmu dan itu tidak sampai" dan juga tidak didengar. Solusinya bukan memilih kategori yang tepat. Solusinya adalah masing-masing benar-benar menyerap apa yang diminta yang lain, dan merespons hal itu.
Bagaimana caranya benar-benar membuat seseorang merasa dicintai?
Di sinilah bagian praktisnya. Kamu bisa membangun daya tanggap dengan sengaja. Beberapa hal yang biasanya berhasil:
- Tanya, lalu percaya jawabannya. "Apa yang bikin kamu merasa paling dicintai olehku?" adalah pertanyaan yang lebih baik daripada kuis mana pun, karena ini soal orang ini, bukan sebuah kategori. Tanyakan lebih dari sekali sepanjang tahun-tahun berjalan. Jawabannya bisa berubah. Orang tua baru yang kurang tidur butuh hal yang berbeda dibanding saat awal dulu.
- Perhatikan apa yang benar-benar sampai. Perhatikan momen-momen kecil ketika pasanganmu jadi lebih lembut, matanya berbinar, atau condong mendekat. Itu adalah data. Kalau dia selalu jadi rileks setiap kali kamu menyimpan hp saat makan malam, kamu sudah belajar sesuatu yang lebih bisa diandalkan daripada sekadar label. Kalau secarik catatan kecil di tasnya bisa membuat pagi harinya cerah, ambil pelajaran itu.
- Berhenti membatasi jenis ungkapan cinta yang terasa canggung buatmu. Kebanyakan dari kita cenderung mengandalkan ungkapan yang mudah dan diam-diam menghindari yang tidak. Kalau mengucapkan hal-hal lembut secara langsung terasa kaku, biasanya justru itulah yang paling perlu dilatih, karena kemungkinan besar itu yang paling dirindukan pasanganmu.
- Sesuaikan dengan momennya, bukan dengan buku panduan. Seseorang yang sedang benar-benar susah biasanya lebih butuh kenyamanan dan kehadiranmu dulu, sebelum butuh kamu memperbaiki masalahnya atau memberi hadiah. Baca situasinya. Daya tanggap itu soal waktu yang tepat, sama pentingnya dengan isinya.
- Sampaikan kebutuhanmu tanpa menjadikannya ujian. Memberi kode lalu kecewa karena pasanganmu tidak bisa membaca pikiranmu adalah racun yang lambat. "Aku belakangan merasa jauh darimu, boleh nggak kita punya satu malam tanpa layar minggu ini?" memberi pasanganmu kesempatan nyata untuk memenuhinya. Kebanyakan orang sebenarnya ingin melakukannya. Mereka sering hanya tidak tahu caranya, dan permintaan yang jelas adalah sebuah hadiah.
Perhatikan bahwa semua ini tidak mengharuskanmu jadi satu-satunya sumber segalanya bagi pasanganmu. Teman, keluarga, dan kestabilanmu sendiri juga ikut mengisi pola makan yang sama. Menaruh seluruh beban rasa dicintai pada satu orang saja itu berat, dan bukan itu intinya.
Bagaimana kalau kamu dan pasanganmu memang benar-benar berbeda?
Perlu diakui, ada kasus nyata yang jadi dasar munculnya konsep bahasa cinta. Kadang dua orang memang punya cara bawaan yang berbeda untuk menunjukkan perhatian. Satu meninggalkan catatan kecil dan mengucap "aku sayang kamu" dua puluh kali sehari. Yang lain menunjukkannya dengan memperbaiki sepedamu dan membaca buku manual hp barumu supaya kamu tidak perlu repot. Masing-masing bisa diam-diam merasa dirugikan, dan masing-masing bisa diam-diam mengira yang lain tidak berusaha.
Nasihat lama adalah belajar bahasa yang lain dan menghasilkan lebih banyak dari itu. Itu tidak salah, tapi belum lengkap, dan bisa berubah jadi ajang saling menghitung jasa. Langkah yang lebih tahan lama sifatnya dua arah. Kamu meregangkan diri menuju apa yang pasanganmu butuhkan, dan pasanganmu meregangkan diri menuju apa yang kamu butuhkan, dan kalian berdua jadi sedikit lebih pandai mengenali cinta yang sebenarnya sudah ada, hanya dalam bentuk yang belum terlatih untuk kamu lihat. Catatan kecil itu cinta. Sepeda yang diperbaiki itu cinta. Banyak sakit hati dalam hubungan jangka panjang datang dari cinta yang diungkapkan dalam dialek yang tidak pernah dipelajari orang lain untuk dibaca. Kamu bisa belajar membacanya. Kamu juga boleh meminta, dengan jelas, beberapa kata dalam bahasamu sendiri.
Gerakan dua arah itu, meregangkan diri ke arah mereka dan membantu mereka melihatmu, adalah kerja yang tidak bisa dilakukan kuis mana pun untukmu. Itu juga, seiring bertahun-tahun, yang membuat dua orang yang berbeda terasa seperti satu tim, bukan dua orang yang bergantian merasa kecewa.
Bagaimana kalau jaraknya lebih besar daripada sekadar metafora?
Kadang masalahnya bukan karena kamu memakai bahasa yang salah. Tapi karena koneksinya sudah menipis, pertengkaran yang sama terus berulang, atau salah satu atau kedua orang sudah berhenti mencoba menjangkau yang lain. Ini umum terjadi, sangat manusiawi, dan juga layak ditanggapi serius, bukan sekadar ditunggu sampai reda sendiri.
Terapis pasangan bukan tanda kegagalan. Perannya lebih mirip pelatih yang baik bagi seorang atlet: seseorang di luar situasi yang bisa melihat pola yang tidak bisa kalian berdua lihat karena terlalu dekat. Kalau kamu memikul ini sebagian besar sendirian, merasa terus-menerus rendah, cemas, atau putus asa soal ini, itu juga alasan untuk bicara dengan dokter atau terapismu sendiri. Dan kalau sebuah hubungan pernah membuatmu merasa takut, dikendalikan, atau tidak aman, itu bukan lagi soal ketidakcocokan bahasa cinta. Itu percakapan yang berbeda dan lebih mendesak, dan kamu berhak mendapat dukungan untuk menjalaninya.
Bagian yang benar-benar berguna dari bahasa cinta bukanlah lima kotak rapinya. Melainkan naluri untuk berhenti sejenak dan bertanya bagaimana orang di depanmu sebenarnya merasa diperhatikan, lalu melakukan hal itu dengan sengaja. Kamu bisa menyimpan naluri itu dan melepas rumusnya. Perhatikan, tanyakan, jaga beberapa jenis cinta tetap mengalir, dan tanggapi apa yang kamu dengar. Itulah seluruh keahliannya. Lebih sederhana daripada kuis, dan jauh lebih mudah dijangkau.
Sumber
- University of Toronto, Little evidence linking five 'love languages' to healthy relationships, researchers say
- Impett, Park & Muise, Popular Psychology Through a Scientific Lens: Evaluating Love Languages From a Relationship Science Perspective (Current Directions in Psychological Science, 2024)
- Greater Good Science Center, UC Berkeley, Is There Science Behind the Five Love Languages?