Langsung ke konten utama

HUBUNGAN · KENCAN & CINTA BARU

Membangun sesuatu yang nyata saat kalian sama-sama membawa beban masa lalu

Membangun hubungan yang nyata saat kalian berdua sama-sama membawa "bagasi" emosional, dimulai dari mengenali pola dirimu sendiri dulu, sebelum pola pasanganmu. Tidak ada orang yang memulai hubungan baru dengan tangan kosong. Kalian berdua membawa masa lalu, luka lama, dan kebiasaan yang dulu membuat kalian merasa aman. Berikut cara dua orang dengan masa lalu masing-masing tetap bisa membangun sesuatu yang stabil.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Pasangan muda tertawa di luar ruangan pada hari yang cerah.

Foto oleh Land O'Lakes, Inc. di Unsplash

Kira-kira di kencan ketiga atau keempat, masa lalu biasanya ikut datang dan duduk di meja. Mungkin lewat cerita tentang mantan yang keluar dengan nada agak tajam. Mungkin lewat caranya diam setelah bertengkar, atau mengirim tiga pesan padahal cukup satu saja. Kamu sedang mengenal seseorang secara utuh, dan itu berarti kamu juga sedang mengenal semua hal yang pernah terjadi padanya sebelum kamu hadir.

Itu bisa terasa seperti masalah. Padahal biasanya bukan. Gagasan tentang menemukan seseorang tanpa luka, tanpa kebiasaan bertahan, tanpa bab-bab yang rumit, adalah fantasi yang kebanyakan dimiliki orang yang belum banyak makan asam garam kehidupan. Orang dewasa yang sesungguhnya datang dengan sejarah. Pertanyaan yang layak diajukan bukan soal ada atau tidaknya beban masa lalu itu. Tapi apakah kalian berdua bisa belajar memikulnya bersama, tanpa saling menjatuhkannya ke satu sama lain.

Sebenarnya, dari mana beban masa lalu itu berasal?

Banyak dari apa yang kita sebut “beban masa lalu” sebenarnya hanyalah hasil belajar. Sistem sarafmu memperhatikan dengan saksama hubungan-hubungan pertamamu, lalu menarik kesimpulan soal apakah orang lain aman, apakah kedekatan itu nyaman, apakah kamu bisa mengandalkan seseorang untuk tetap tinggal. Psikolog menyebut pola ini sebagai gaya kelekatan (attachment style), yang kira-kira terbagi menjadi beberapa bentuk: aman (secure), di mana kedekatan terasa cukup nyaman; cemas (anxious), di mana kamu takut ditinggalkan dan terus mencari kepastian; dan menghindar (avoidant), di mana keintiman terasa seperti sesuatu yang perlu dijaga jaraknya. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa pola-pola ini terbentuk sejak dini, sebagian besar dari cara pengasuh pertama kita merespons kita.

Tapi ceritanya tidak berhenti di masa kecil. Hubungan-hubungan berikutnya juga ikut menulis ulang catatan itu. Sebuah pengkhianatan bisa membuat orang yang tadinya merasa aman jadi waspada. Sebaliknya, waktu yang panjang dipenuhi kasih sayang yang tulus bisa melunakkan seseorang yang dulu terbiasa menduga yang terburuk. Menurut liputan Scientific American atas sebuah studi besar terbaru, pola kelekatan itu bisa berubah, dan seperti kata salah satu peneliti, “Kamu sama sekali tidak ditakdirkan begitu-begitu saja.”

Ini penting karena dua alasan. Pertama, saat pasanganmu tiba-tiba jutek, menjauh, atau jadi lengket, biasanya itu bukan tentang kamu. Itu alarm lama yang sedang berbunyi. Kedua, karena pola-pola ini bisa berubah, kamu tidak sedang menandatangani kontrak untuk mengurus luka permanen orang lain. Kamu sedang bertemu dengannya di tengah cerita.

Kenali dulu polamu sendiri

Godaannya adalah jadi ahli soal masalah pasanganmu. Tahan dulu. Hal paling berguna yang bisa kamu lakukan di awal adalah jujur soal pola dirimu sendiri, karena hanya itulah yang benar-benar bisa kamu ubah.

Beberapa pertanyaan yang layak direnungkan:

  • Saat kamu merasa tidak aman dalam hubungan ini, apa yang biasanya kamu lakukan? Mengirim pesan lebih sering, menarik diri, memancing pertengkaran, atau bersikap dingin?
  • Apa ketakutan di balik reaksi itu? Takut ditinggalkan? Takut dikendalikan? Takut dianggap terlalu banyak menuntut?
  • Reaksi mana yang benar-benar tentang orang ini, dan mana yang cuma pengulangan dari luka lama dengan orang lain?

Kamu tidak perlu langsung punya jawaban yang jelas. Cukup dengan menyadari polanya saat itu terjadi, bahkan setelah kejadiannya pun tidak apa-apa, kamu sudah memberi ruang untuk memilih respons yang berbeda lain kali. Kesadaran adalah awal dari segalanya. Kamu tidak bisa mengubah refleks yang tidak kamu sadari.

Kepercayaan dibangun dari hal-hal kecil

Saat orang mengkhawatirkan hubungan baru, mereka cenderung membayangkan ujian-ujian besar. Pengkhianatan besar, momen dramatis yang terbongkar. Padahal kenyataannya, kepercayaan dibangun dan dihancurkan lewat momen-momen kecil yang bahkan hampir tidak terlihat kalau direkam sekalipun.

Psikolog John Gottman menghabiskan puluhan tahun mengamati pasangan-pasangan di laboratorium, dan salah satu temuannya yang paling jelas adalah soal apa yang ia sebut “bids”, ajakan kecil untuk terhubung. Sebuah bid itu sangat sederhana: helaan napas, sebuah pertanyaan, tangan di bahu, atau “eh, lihat deh ini.” Yang penting adalah apakah pasangan menyambutnya atau malah mengabaikannya. Dalam penelitiannya, pasangan yang tahun-tahun kemudian masih bahagia bersama, ternyata saling menyambut bid satu sama lain sekitar 86 persen dari waktu. Sementara pasangan yang berpisah hanya berhasil melakukannya sekitar sepertiga dari waktu.

Ini rasanya cukup melegakan buat kalian yang sama-sama membawa masa lalu. Artinya, luka lama tidak sembuh lewat satu percakapan yang sempurna. Rasa aman dibangun dari ratusan momen biasa, di mana kalian berdua hadir, memperhatikan, dan merespons. Hal-hal kecil itulah yang sebenarnya paling nyata.

Seperti apa bentuknya saat kamu menyambut bid pasangan

  1. Dia menyebut sesuatu yang mengganjal pikirannya. Kamu meletakkan ponselmu dan benar-benar mendengarkan, meski itu bukan hal besar.
  2. Kamu sedang mudah tersinggung dan jutek. Nanti kamu kembali dan bilang, “Tadi bukan soal kamu kok. Cuma hari yang berat.”
  3. Dia bercerita tentang sesuatu yang berat dari masa lalunya. Kamu tidak kaget atau buru-buru mencari solusi. Kamu cukup tetap ada di situ.
  4. Kamu bilang apa yang kamu butuhkan secara jelas, alih-alih berharap dia menebak sendiri lalu kamu kecewa saat dia tidak berhasil menebaknya.

Tidak ada satu pun dari itu yang dramatis. Tapi kalau ditumpuk selama berminggu-minggu, begitulah cara dua orang yang sama-sama berhati-hati akhirnya perlahan yakin bahwa yang lain aman untuk dipercaya.

Keterbukaan diri, secukupnya

Tidak ada kedekatan tanpa sedikit risiko. Kamu tidak bisa benar-benar dikenal seseorang kalau terus menyembunyikan setiap hal yang rapuh dalam dirimu. Tapi di sisi lain, menumpahkan seluruh sejarah hidupmu ke seseorang yang baru kamu kenal tiga minggu bukanlah keintiman, itu semacam beban.

Versi yang lebih sehat adalah bertahap. Kamu berbagi sesuatu yang sedikit nyata, lalu perhatikan bagaimana dia menanggapinya. Apakah dia jadi lebih lembut, atau justru canggung? Apakah dia menjaga ceritamu, atau malah memakainya sebagai senjata di kemudian hari? Seperti dicatat Psych Central, keterbukaan cenderung mengundang keterbukaan balik dari orang lain, dan begitulah kepercayaan tumbuh dari dua arah. Kamu membuka sedikit, dia menyambut, kamu membuka sedikit lagi.

Anggap saja ini serangkaian percobaan kecil, bukan satu pengakuan besar. Sesuaikan langkahmu dengan kepercayaan yang benar-benar sudah kalian bangun bersama, bukan kepercayaan yang kamu harap sudah ada sejak awal.

Bagaimana kalau masa lalu mulai mengambil alih kendali?

Ada beban masa lalu yang terlalu berat untuk ditopang hanya dengan pasangan yang baik dan kebiasaan yang sehat. Itu bukan berarti kamu gagal, dan itu bukan vonis untuk hubunganmu. Itu cuma sebuah informasi.

Mungkin ini saatnya mencari bantuan kalau kamu melihat tanda-tanda seperti ini:

  • Pertengkaran yang sama terus berulang, dan kalian berdua tidak menemukan jalan keluarnya.
  • Salah satu dari kalian terus-menerus mengingat pengkhianatan lama dengan begitu hidup, sampai pasangan yang sekarang tidak pernah mendapat kesempatan yang adil.
  • Rasa cemburu, sikap mengecek-cek, atau perilaku mengontrol mulai muncul, dari salah satu atau kedua pihak.
  • Kamu jadi menciut, berjalan seperti menginjak telur, atau takut mengatakan apa yang sebenarnya kamu rasakan.
  • Hubungan sebelumnya meninggalkan bekas berupa rasa panik, mati rasa, atau kekhawatiran yang tidak kunjung reda.

Terapis pasangan yang baik bisa membantu kalian berdua melihat pola yang membuat kalian terjebak, dan berlatih pola yang berbeda. Terapi individu bisa membantumu mengerjakan bagian yang kamu bawa sendiri. Dan kalau ada hubungan yang membuatmu merasa tidak aman, itu bukan beban masa lalu yang perlu diselesaikan bersama. Itu alasan untuk bicara dengan orang yang kamu percaya, atau profesional, tentang cara keluar dari hubungan itu.

Meminta bantuan bukan tanda bahwa hubunganmu rusak. Justru sering kali itu tanda bahwa kalian berdua cukup serius menganggap hubungan ini, dan ingin hubungan itu bertahan.

Dua orang dengan sejarah masing-masing benar-benar bisa membangun sesuatu yang stabil. Bukan dengan menghapus masa lalu, dan bukan dengan berpura-pura masa lalu itu tidak ada di ruangan itu, tapi dengan jujur soal apa yang masing-masing bawa, dan belajar, dalam ratusan momen kecil, untuk bersikap lembut terhadapnya. Itu bukan cinta kelas dua. Bagi kebanyakan dari kita, itulah satu-satunya jenis cinta yang ada.

Sumber

  1. Cleveland Clinic, Attachment Styles: Causes, What They Mean
  2. Scientific American, How Childhood Relationships Affect Your Adult Attachment Style, according to Large New Study
  3. The Gottman Institute, An Introduction to Emotional Bids and Trust
  4. Psych Central, Vulnerability in Relationships: Benefits and Tips

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi