Ada satu jenis lelah yang bukan berasal dari hari yang panjang. Ini datang dari harapan yang terus-terusan dikembalikan padamu. Kamu membuka aplikasi karena sudah jadi kebiasaan, jempolmu melakukan tugas kecilnya, dan entah di titik mana, semua ini berhenti terasa seperti kemungkinan dan mulai terasa seperti kerja sampingan yang tidak pernah kamu lamar. Kamu tidak kurang tertarik pada cinta. Kamu hanya lelah dengan proses mencarinya.
Kalau ini yang kamu rasakan sekarang, ada dua hal yang perlu kamu tahu dari awal. Kamu tidak rusak, dan kamu tidak sendirian mengalami ini. Berbagai survei terus menemukan pola yang sama: sebagian besar pengguna aplikasi kencan jangka panjang mengaku merasa jenuh atau lelah secara emosional karena prosesnya. Pew Research menemukan bahwa di antara orang yang pernah menggunakan aplikasi ini dalam setahun terakhir, hampir sembilan dari sepuluh orang merasa kecewa setidaknya kadang-kadang, dan jauh lebih sering merasa kecewa daripada senang. Kelelahan ini bukan tanda kamu melakukan sesuatu yang salah. Ini justru hampir jadi kondisi bawaan dari cara kencan modern dibangun.
Kenapa ini bikin kamu lelah dengan cara yang khas?
Akan lebih membantu kalau kamu bisa menamai apa sebenarnya yang menguras energimu, karena kata “kencan” sebenarnya menanggung banyak makna sekaligus. Ada beberapa hal yang terjadi bersamaan.
Yang pertama adalah volumenya yang luar biasa banyak. Setiap profil adalah keputusan kecil, dan aplikasi menyajikan deretan tanpa akhir. Psikolog menyebut apa yang terjadi setelahnya sebagai kelelahan keputusan, cara penilaianmu memburuk dan kesabaranmu menipis seiring makin banyak pilihan yang menumpuk. Susan Albers, psikolog di Cleveland Clinic, menjelaskan bahwa menyortir dan menyortir ulang calon pasangan benar-benar membuat otak kewalahan. Perasaan kabur dan mudah tersinggung setelah sesi swipe yang panjang itu bukan cuma perasaanmu saja. Itu tanda pikiran yang lelah, bukan kekurangan pada dirimu.
Yang kedua adalah gejolak emosinya. Pesan yang bagus, lalu sunyi. Kencan pertama yang seru, lalu tidak ada kelanjutan. Formatnya melatihmu untuk menaruh sedikit harapan berulang-ulang, dan menyerap banyak kehilangan kecil. Dalam hitungan bulan, kehilangan-kehilangan kecil itu menumpuk menjadi sesuatu yang rasanya mirip dukacita, meskipun sebenarnya tidak ada satu pun kejadian besar yang “terjadi”.
Yang ketiga lebih halus dan diam-diam menjebak. Aplikasi ini dirancang untuk terus dipakai, bukan untuk membantumu berhenti memakainya. Swipe bisa dengan mudah bergeser dari upaya mencari seseorang menjadi cara untuk menenangkan suasana hati yang sedang berat, sesuatu yang kamu buka saat bosan, kesepian, atau lagi down. Terapis seks Sari Cooper menyebut ini sebagai swipe yang berubah menjadi aktivitas pengatur mood, bukan lagi pencarian koneksi. Ketika pergeseran itu terjadi, kamu bisa menghabiskan banyak waktu dan energi, tapi malah merasa lebih buruk, bukannya lebih dekat dengan siapa pun.
Semua ini tidak berarti kamu sinis atau bahwa romansa sudah mati. Ini berarti alatnya bising dan prosesnya banyak yang terbuang, dan merasa lelah menghadapinya adalah respons yang sangat wajar.
Kamu berhak berhenti sebentar
Ini bagian yang sering dilewatkan orang, karena rasanya seperti menyerah. Mengambil jeda bukan berarti menyerah pada cinta. Itu adalah perawatan.
Saat kamu jenuh, kamu datang ke kencan dalam keadaan kosong, separuh berharap setiap kencan gagal supaya bisa segera pulang. Kamu membaca pesan netral sebagai penolakan. Kamu jadi teman yang lebih buruk dari dirimu yang sebenarnya, dan mengalami waktu yang lebih buruk dari yang seharusnya kamu rasakan. Jeda yang sungguhan, dua minggu, sebulan, satu musim, memberi ruang bagi dirimu untuk terisi ulang. Saran Albers sederhana: kalau kamu merasa jenuh atau frustrasi, mundur sebentar, tanpa harus meninggalkan dunia kencan untuk selamanya. Tujuannya adalah kembali sebagai dirimu sendiri, bukan sebagai versi kelelahan yang sudah memaksakan diri terus bertahan.
Jeda hanya akan berhasil kalau memang dijalani sungguh-sungguh. Hapus aplikasinya dari ponselmu, atau setidaknya pindahkan dari layar utama dan matikan notifikasinya. Beri tahu temanmu bahwa kamu sedang mengambil napas, supaya kamu tidak mudah kembali membuka aplikasi jam 11 malam karena kesepian. Lalu, dan ini inti sebenarnya dari jeda ini, gunakan waktu yang jadi luang itu untuk hal-hal yang mengisi dirimu, bukan menguras dirimu. Temui orang-orang yang sudah menyayangimu. Gerakkan tubuhmu. Buat sesuatu. Tujuannya bukan supaya kamu “memperbaiki diri” agar layak dicintai. Tujuannya supaya kamu ingat bahwa hidupmu sendiri sudah cukup baik untuk ditemani.
Saat kamu kembali, kembalilah dengan lebih pelan
Kalau dan ketika kamu memutuskan untuk kembali, jawabannya biasanya bukan lebih banyak, tapi lebih sedikit dan lebih pelan. Beberapa hal ini benar-benar bisa meringankan bebannya:
- Beri batas yang jelas. Pilih rentang waktu, misalnya tiga puluh menit, beberapa malam dalam seminggu, dan jauhi aplikasi di waktu-waktu lainnya. Cooper secara khusus menyarankan untuk tidak swipe di tempat tidur sesaat sebelum tidur atau begitu bangun, saat kamu paling sulit mengelola perasaan yang muncul karenanya. Perlakukan ini seperti tugas dengan waktu mulai dan berhenti, bukan tab yang terus terbuka di kepalamu.
- Kualitas, bukan kuantitas. Kamu tidak perlu seratus kecocokan. Kamu perlu beberapa percakapan yang benar-benar berkembang. Tidak masalah kalau kamu jadi jauh lebih pilih-pilih dalam swipe dan membiarkan sisanya berlalu.
- Lebih cepat menuju dunia nyata. Chat yang tak berujung adalah tempat energi perlahan mati. Kalau seseorang terasa menjanjikan, ajak bertemu sebentar dengan santai, lebih cepat daripada nanti-nanti. Ngopi singkat bisa memberimu lebih banyak gambaran dalam dua puluh menit dibanding tiga minggu chattingan.
- Jangan jadikan aplikasi satu-satunya jalan. Beberapa cara paling ringan untuk bertemu orang justru lewat hal-hal yang sudah kamu lakukan sehari-hari, kelas, kegiatan sukarela, teman dari teman. Tekanannya lebih ringan, konteksnya nyata, tidak ada skor yang dihitung.
- Perhatikan tubuhmu. Dada yang sesak atau rahang yang mengeras saat kamu scroll adalah informasi yang penting. Itu tandanya sistem tubuhmu memberi tahu bahwa kamu sudah cukup untuk hari ini. Dengarkan sebelum kamu benar-benar habis.
Jaga cara kamu memandang diri sendiri
Kerusakan diam-diam dari kelelahan kencan adalah pengaruhnya pada cara kamu memandang diri sendiri. Setelah cukup banyak kesunyian dan jalan buntu, mudah untuk mulai membaca semuanya sebagai putusan, seolah tidak ada balasan berarti sedang mengukur nilaimu. Padahal bukan begitu. Swipe hanyalah orang asing yang bereaksi pada beberapa foto dan satu kalimat, di platform yang dirancang agar mereka terus melihat lebih dari kamu. Itu bukan data tentang apakah kamu layak dicintai.
Albers menjelaskannya dengan sederhana: nilai dirimu tidak terikat pada hasil dari kecocokan-kecocokan ini. Pegang erat pemahaman itu, karena itulah hal pertama yang tergerus oleh prosesnya. Coba pertahankan beberapa sumber makna yang tidak ada hubungannya dengan romansa, pekerjaan yang membuatmu larut di dalamnya, persahabatan yang dalam, sesuatu yang sedang kamu tekuni dan makin dikuasai. Orang-orang yang tetap menjaga hidup yang utuh sambil menjalani proses kencan biasanya lebih tahan menghadapi penolakan, sebagian karena tidak ada satu ketiadaan balasan yang boleh berarti terlalu besar.
Akan sangat membantu juga kalau kamu berbicara pada dirimu sendiri seperti kamu berbicara pada teman yang mengalami hal serupa. Kamu tidak akan bilang dia tidak layak dicintai hanya karena seseorang menghilang begitu saja. Kamu akan bilang itu kerugian dia, dan kamu sungguh-sungguh percaya itu. Berikan dirimu sendiri perlakuan yang sama. Kedengarannya lembut. Tapi justru itulah yang membuatmu tetap bertahan tanpa harus mengorbankan rasa hormatmu pada diri sendiri.
Kapan lelah berubah jadi sesuatu yang lebih berat?
Sebagian besar kelelahan kencan bisa berkurang dengan jeda yang sungguhan dan kebiasaan yang lebih lembut. Tapi kadang, ini menunjuk pada sesuatu yang lebih besar, dan itu layak untuk diperhatikan serius, bukan sekadar dipaksa dilalui.
Kalau rasa berat itu sudah menjalar ke bagian lain hidupmu di luar urusan kencan, kalau kamu terus-menerus merasa sedih, tanpa harapan, cemas, atau hampa, kalau kamu kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya kamu nikmati, atau kalau kamu mendapati dirimu memakai aplikasi ini secara kompulsif walaupun itu membuatmu merasa lebih buruk, itu tanda untuk bicara dengan seseorang. Seorang terapis bisa membantumu memilah mana yang kelelahan kencan dan mana yang mungkin depresi atau kecemasan yang menyamar sebagai urusan kencan. Keduanya bisa membaik dengan dukungan yang tepat, dan kamu tidak perlu memilah semuanya sendirian. Mencari bantuan bukan reaksi berlebihan. Itu naluri yang sama yang membuatmu lelah sejak awal, bagian dari dirimu yang tahu kamu berhak merasa lebih baik dari ini.
Menginginkan pasangan dan membutuhkan istirahat dari pencarian bukan dua hal yang bertentangan. Kamu bisa tetap menginginkan hal itu dan tetap meletakkan alatnya sejenak. Cinta yang kamu cari, kapan pun dan bagaimana pun itu datang, akan lebih baik disambut oleh dirimu yang sudah cukup istirahat daripada dirimu yang kelelahan.
Sumber
- Pew Research Center, The experiences of U.S. online daters
- Cleveland Clinic, Dealing With Dating App Despair
- Psychology Today, Swiping With Agency: Beating Dating App Fatigue