Langsung ke konten utama

KELUARGA, TEMAN & MELEPASKAN · PERSAHABATAN

Cara mengakhiri persahabatan dengan anggun

Sebagian persahabatan sudah selesai jalannya, dan ada beberapa yang diam-diam mulai memberimu lebih banyak ongkos daripada yang ia berikan. Inilah cara mundur, atau pergi sepenuhnya, dengan cara yang bisa kamu terima di kemudian hari.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Tiga teman tersenyum sambil saling merangkul

Foto oleh Apartment Life di Unsplash

Tidak ada rak kartu ucapan untuk yang satu ini. Ketika sebuah hubungan asmara berakhir, semua orang di sekitarmu tahu skripnya: obrolan putus, lagu-lagu sedih, teman-teman yang datang bawa makanan. Persahabatan yang berakhir tidak punya semua itu. Kamu cuma mengalami kesadaran perlahan yang sangat pribadi, bahwa sesuatu yang dulu kamu andalkan kini malah menguras energimu, membuatmu cemas, atau membuatmu merasa lebih kecil dari sebelumnya.

Dan karena tidak ada yang memberimu skrip, kamu bisa saja tidak melakukan apa-apa selama bertahun-tahun. Kamu tetap muncul karena sudah kebiasaan. Kamu balas chat-nya. Kamu bilang ke diri sendiri semuanya baik-baik saja, walau kamu merasakan jarak antara siapa orang ini dulu bagimu dan siapa dia sekarang.

Kalau kamu membaca ini, sebagian dirimu mungkin sudah tahu. Itu bukan bentuk pengkhianatan terhadap kesetiaan. Orang bertumbuh dengan kecepatan dan arah yang berbeda-beda, dan persahabatan yang pas buatmu di usia dua puluh dua mungkin sudah tidak pas dengan dirimu sekarang. Kamu berhak menyadari itu. Kamu berhak bertindak atas kesadaran itu tanpa harus menjadi "penjahat" dalam cerita ini.

Pertama, kenali dulu apa yang sebenarnya kamu inginkan

Sebelum melakukan apa pun, coba renungkan satu pertanyaan ini. Apa yang sebenarnya kamu cari di sini?

Ada perbedaan nyata, dan menyadarinya akan mengubah semua langkah selanjutnya. Para peneliti yang mempelajari bagaimana persahabatan berakhir menggambarkan beberapa jalur yang berbeda. Salah satunya adalah mengakhiri persahabatan sepenuhnya. Yang lain adalah menjaga jarak, di mana kamu tetap sesekali berhubungan tapi menurunkan jauh tingkat kedekatannya. Yang ketiga adalah memilah-milah: kamu tetap membiarkan orang itu ada dalam hidupmu untuk bagian-bagian yang masih terasa cocok, dan diam-diam berhenti membawa bagian-bagian yang sudah tidak cocok.

Kebanyakan orang mengira "mengakhiri" berarti putus total dan dramatis. Biasanya tidak begitu. Sering kali, langkah yang paling baik dan paling jujur adalah mengubah bentuk persahabatannya, bukan menghancurkannya.

Jadi coba tanyakan pada dirimu sendiri:

  • Apakah aku ingin orang ini benar-benar hilang dari hidupku, atau aku cuma ingin lebih sedikit kehadirannya?
  • Apakah ada hal spesifik yang merusak persahabatan ini (pengkhianatan, kebiasaan merendahkan), atau memang perlahan memudar begitu saja?
  • Apakah aku bereaksi terhadap satu masa yang buruk saja, atau terhadap sesuatu yang memang sudah lama begitu?

Jawabannya akan menunjukkan jalan keluar yang tepat. Teman yang pernah menyakitimu dengan cara yang tidak bisa kamu lupakan mungkin memang butuh akhir yang sungguhan. Teman yang jalannya sekadar berbeda arah denganmu mungkin cuma butuh tali yang dilonggarkan pelan-pelan.

Kapan menghilang perlahan menjadi pilihan yang jujur?

Kita cenderung berpikir hal yang berani itu selalu berupa konfrontasi besar. Tidak selalu benar. Kadang, cara mengakhiri yang paling lembut dan paling menghormati justru dilakukan secara perlahan, dan penelitian tentang bagaimana orang dewasa benar-benar mengakhiri persahabatan mendukung hal ini. Ketika para peneliti mempelajari strategi yang kita pakai, pola yang paling umum bukanlah pertengkaran besar atau menghilang begitu saja tanpa kabar. Yang paling umum adalah pengurangan bertahap dan saling dipahami: kontak yang makin jarang, jarak waktu balas chat yang makin lama, rencana ketemuan yang makin sedikit.

Untuk persahabatan yang memang sudah kehabisan alasan untuk berlanjut, tanpa ada luka nyata di kedua pihak, cara ini bisa jadi yang paling manusiawi. Kamu tidak menghukum siapa pun. Kamu cuma berhenti terlalu sering memulai kontak. Kamu biarkan ritmenya melambat. Kamu tetap membalas dengan hangat kalau dia menghubungi, tapi kamu tidak memaksakan kedekatan yang memang sudah tidak ada lagi.

Meski begitu, ada garis antara menghilang perlahan dan "ghosting", dan itu penting. Ghosting adalah menghilang dari orang yang masih berusaha menjangkaumu, membuatnya bingung dan terluka diam-diam. Menghilang secara elegan itu sifatnya saling dan lembut. Kalau temanmu jelas masih peduli dan terus berusaha menghubungi, menghilang darinya bukanlah kelembutan. Itu penghindaran yang dibungkus seolah kebaikan, dan dia akan merasakan bedanya.

Kapan persahabatan butuh obrolan yang sungguhan?

Beberapa akhir memang pantas diucapkan dengan kata-kata. Kalau ini adalah teman dekat, seseorang yang pernah ada saat momen-momen besar, atau kalau ada luka spesifik yang kalau dibiarkan memudar saja justru akan terus membusuk, maka obrolan langsung adalah jalan yang lebih menghormati, meski lebih berat.

Kamu tidak perlu menjatuhkan "vonis". Kamu bukan sedang membangun argumen tentang kesalahan-kesalahannya. Fokuskan pada pengalaman dan kebutuhanmu sendiri.

Beberapa hal yang membantu:

  1. Pilih momen yang privat dan tanpa tekanan. Bukan di tengah krisis, bukan lewat chat singkat, bukan saat salah satu dari kalian sedang rapuh.
  2. Bicaralah dari sisimu. "Aku sadar aku perlu mundur dari persahabatan ini" terasa sangat berbeda dari "Kamu selalu bikin semuanya soal kamu." Yang satu jujur. Yang lain mengundang perdebatan.
  3. Sampaikan dengan jelas apa yang kamu minta. Jarak. Waktu untuk berhenti sebentar. Perpisahan yang sungguhan. Ketidakjelasan bisa meninggalkan pintu terbuka dengan cara yang justru menyakiti kalian berdua nanti.
  4. Biarkan dia merasakan apa yang dirasakannya. Dia mungkin sedih, bingung, atau marah. Kamu bisa tetap tenang dan baik tanpa harus menarik kembali keputusanmu. Reaksinya adalah informasi, bukan instruksi untuk berubah pikiran.
  5. Kamu bisa hangat dan tegas di waktu yang bersamaan. Rasa syukur atas apa yang pernah nyata dan batasan yang tegas bukanlah dua hal yang berlawanan.

Kalau persahabatan itu memang punya kebaikan yang nyata, katakan itu. "Kamu penting buatku, dan banyak hal di antara kita yang memang nyata" bisa berdampingan dengan "dan aku tidak bisa terus menjalani ini." Keduanya bisa sama-sama benar.

Menetapkan batasan alih-alih mengakhirinya

Tidak semua persahabatan yang sulit harus berakhir. Kadang yang sebenarnya kamu butuhkan adalah batasan, garis yang jelas tentang bagaimana kamu mau diperlakukan, dan persahabatan itu bisa bertahan melewatinya.

Cleveland Clinic menjelaskan batasan yang sehat dengan sederhana: batasan menyampaikan kebutuhanmu sendiri tanpa mencoba mengendalikan orang lain. Itu adalah kerangka yang kamu tetapkan untuk cara kamu ingin diperlakukan, bukan tali kekang untuk perilaku orang lain. "Aku tidak akan membahas pernikahanku denganmu lagi" adalah batasan. "Kalau kamu terlambat satu jam lagi, aku akan langsung pulang" adalah batasan. Kamu tidak menuntut mereka berubah menjadi orang lain. Kamu memberi tahu apa yang akan dan tidak akan kamu lakukan.

Batasan hanya berarti sesuatu kalau diikuti dengan konsistensi yang tenang. Kalau kamu bilang akan pergi saat obrolan berubah menjadi kasar, tapi kamu tetap tinggal dan menahannya, batasan itu jadi sekadar harapan kosong. Konsistensi itulah yang membantumu benar-benar memahami persahabatan ini sebenarnya seperti apa. Ada orang yang akan menyesuaikan diri dan persahabatan jadi lebih sehat. Ada juga yang tidak, dan itu pun sudah menjawab pertanyaanmu.

Izinkan dirimu berduka

Ini bagian yang hampir tidak pernah diperingatkan siapa pun. Bahkan ketika mengakhirinya benar-benar tepat, bahkan ketika kamu sendiri yang memilihnya, rasanya masih bisa sangat menyakitkan.

Itu bukan berarti kamu ragu dengan keputusanmu. Kehilangan persahabatan yang dekat bisa terasa seberat putusnya hubungan asmara, dan orang-orang yang merasakannya paling dalam biasanya adalah mereka yang sejak dulu belajar untuk bersiap keras menghadapi penolakan dan ditinggalkan. Duka itu nyata, dan jadi lebih berat karena dunia di sekitarmu hampir tidak menganggapnya sebagai kehilangan sama sekali. Kamu mungkin tidak akan dapat kiriman makanan dari tetangga. Kamu bahkan mungkin tidak akan mendapat satu pun "kamu baik-baik saja?" Orang-orang akan mengira karena tidak ada yang meninggal dan tidak ada yang bercerai, berarti tidak ada apa-apa yang terjadi.

Padahal ada sesuatu yang terjadi. Kamu bisa merindukan seseorang dan tetap tahu bahwa melepaskannya adalah keputusan yang tepat. Keduanya boleh hidup bersamaan di dalam dirimu. Bersabarlah dengan rasa sakitnya. Biarkan dirimu mengingat bagian-bagian baiknya tanpa menjadikannya alasan untuk membatalkan keputusan yang sudah kamu buat dengan alasan yang baik.

Dan dekatkan dirimu pada orang-orang yang memang masih cocok denganmu. Duka karena kehilangan persahabatan mereda dengan cara yang sama seperti duka lainnya, perlahan, dan lebih ringan bersama orang-orang yang membuatmu merasa jadi dirimu sendiri.

Kapan ini lebih dari sekadar perpisahan yang berat?

Kebanyakan akhir persahabatan memang menyedihkan tapi bisa dilewati. Kamu merasa terpuruk untuk sementara, lalu menemukan pijakan lagi, dan hidup kembali mengisi ruang yang kosong itu. Tapi perhatikan kalau rasa berat itu tidak juga hilang. Kalau kamu merasa tenggelam dalam kesedihan yang tidak mau pergi, menjauh dari semua orang, bukan cuma dari satu persahabatan itu saja, atau merasa kehilangan ini mengguncang sesuatu yang lebih besar tentang nilai dirimu sendiri, itu patut diperhatikan dengan serius.

Terapis yang baik bisa membantumu memahami mengapa akhir yang satu ini terasa begitu berat, apalagi kalau ini membangkitkan luka lama soal penolakan atau kepercayaan. Mencari dukungan seperti itu bukan tanda kamu salah menjalani persahabatan ini. Itu tanda kamu memperlakukan rasa sakitmu sendiri dengan kepedulian yang sama seperti yang kamu berikan pada seorang teman, yang, pada akhirnya, adalah inti dari belajar melepaskan dengan penuh keikhlasan.

Sumber

  1. Cleveland Clinic, How To Set Boundaries in Healthy Ways
  2. Psychology Today, 7 Strategies People Use to End Friendships (Grant Hilary Brenner, MD)
  3. Psychology Today, Why Are Some of Us More Affected by Friendships Ending? (Kaytee Gillis, LCSW)
  4. National Center for Biotechnology Information, Relationship dissolution in the friendships of emerging adults: How, when, and why?

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi