Langsung ke konten utama

KELUARGA, TEMAN & MELEPASKAN · PATAH HATI

Cara melupakan seseorang yang masih kamu cintai

Melupakan seseorang yang masih kamu cintai itu berat, karena otak memperlakukan kehilangan itu seperti gejala putus zat. Perpisahan yang paling berat bukanlah yang cintanya sudah hilang. Justru yang paling berat adalah ketika cinta itu masih ada, tapi orangnya sudah tidak ada. Ini alasan kenapa otak kamu tidak bisa langsung "move on" sesuai jadwal, dan apa yang benar-benar membantu kamu pulih, meski perasaan itu masih terasa nyata.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Tiga teman menikmati piknik di rumput

Foto oleh Apartment Life di Unsplash

Jika kamu sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri, kamu tidak sendirian. Di AS, telepon atau SMS 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), SMS HOME ke 741741 (Crisis Text Line), atau telepon 911 dalam keadaan darurat. Di mana pun kamu berada di dunia, findahelpline.com memuat daftar layanan krisis yang gratis dan rahasia di negaramu sendiri dan dalam bahasamu sendiri. Kalau kamu sedang dalam bahaya langsung, hubungi nomor darurat setempat.

Akan jauh lebih mudah kalau kamu sudah berhenti mencintainya. Kalau begitu, berpisah cuma soal berkas. Bagian kejamnya adalah perasaan itu masih ada, utuh, mengarah ke seseorang yang tidak akan kembali. Kamu merindukannya di jam-jam yang aneh. Kamu meraih ponsel untuk cerita hal kecil ke dia. Kamu memutar ulang hari-hari baik dan menghapus yang buruk. Dan sebagian dirimu masih menunggu, meski kamu tahu seharusnya tidak begitu.

Kalau itu yang kamu rasakan sekarang, kamu bukan orang lemah dan bukan orang yang rusak. Kamu hanya orang yang hatinya belum menerima kabar. Jarak antara apa yang kamu tahu dan apa yang kamu rasa, itulah seluruh masalahnya. Dan itu wajar.

Yuk kita bahas dulu kenapa perasaan ini begitu keras kepala, baru setelah itu apa yang bisa kamu lakukan selama masa itu berlangsung.

Otakmu memperlakukan ini seperti gejala putus zat

Ada alasan kenapa merindukan seseorang bisa terasa lebih seperti keinginan yang membakar, bukan sekadar sedih.

Para peneliti yang dipimpin antropolog Helen Fisher memasukkan orang-orang yang baru saja ditolak, dan masih merasa sangat cinta, ke dalam alat pemindai otak, lalu menunjukkan foto orang yang meninggalkan mereka. Bagian otak yang menyala bukan hanya yang berhubungan dengan duka. Ada juga bagian yang berhubungan dengan penghargaan, motivasi, dan keinginan kuat, sirkuit yang sama dengan yang menyala saat seseorang kecanduan obat dan ingin memakainya lagi. Para peserta mengaku menghabiskan lebih dari 85 persen waktu terjaga mereka untuk memikirkan orang yang mengakhiri hubungan itu.

Coba renungkan sebentar, karena ini justru melegakan. Alasan kamu tidak bisa begitu saja memutuskan untuk move on adalah karena sebagian otakmu memproses orang ini seperti memproses sesuatu yang membuatmu bergantung secara fisik. Rasa rindu bukan cacat karakter. Itu sistem keinginan yang bekerja sesuai fungsinya.

Ini bagian yang paling penting. Dalam penelitian yang sama, aktivitas otak yang berhubungan dengan kelekatan makin melemah seiring waktu sejak putus. Rasa tertarik itu tidak hilang di hari pertama. Ia meluruh. Bukan karena kamu memaksanya, tapi karena begitulah cara kerja sistem ini saat berhenti diberi makan.

Berdukalah seperti kehilangan yang sesungguhnya

Kita cenderung menyimpan kata duka hanya untuk kematian. Tapi kehilangan masa depan yang sudah separuh kamu bangun juga kehilangan yang nyata, dan ia meminta hal yang sama seperti kematian. Kamu harus merasakannya untuk bisa menyelesaikannya.

Artinya membiarkan kesedihan datang, bukan lari darinya. Menangislah kalau itu datang. Marahlah kalau itu datang. Tulis pesan panjang yang tidak akan kamu kirim. Perasaan yang kamu tolak untuk dirasakan tidak akan pergi, mereka hanya menunggu. Orang-orang yang membiarkan diri mereka melewati duka, dalam gelombang, tanpa jadwal pasti, cenderung lebih cepat sampai ke sisi lain dibanding orang yang menahan diri sekuat tenaga dan menyebutnya kekuatan.

Tapi ada bedanya antara merasakan dan berputar-putar. Berduka itu bergerak. Merenung berlebihan itu berputar di tempat. Kalau kamu sadar sudah satu jam memutar ulang tiga kenangan yang sama atau menyusun alasan kenapa dia akan kembali, itu tandanya kamu terjebak dalam putaran itu, dan putaran itu membuat lukanya tetap terbuka. Saat kamu menyadarinya, yang perlu dilakukan bukan menyalahkan diri sendiri. Tapi dengan lembut mengalihkan perhatian ke tubuh atau sekitarmu, dan melakukan satu hal kecil yang nyata. Berdiri. Keluar sebentar. Telepon seseorang.

Buat keinginan itu kelaparan, dengan lembut

Di sinilah langkah yang jelas paling membantu, dan juga paling berat dilakukan.

Para tenaga kesehatan mental cukup tegas soal ini: sejauh yang kamu bisa lakukan secara wajar, putus kontak total. Tidak ada pesan, tidak mengecek media sosialnya, tidak sengaja lewat rumahnya, tidak "tetap berteman" saat hatimu masih terbuka lebar. Rasanya bisa dingin, bahkan seperti menyiksa diri sendiri. Padahal bukan. Setiap kali kamu meraih sedikit kontak dengannya, kamu memberi makan sistem yang sama yang membuatmu tetap sakit, dan kamu mengatur ulang waktu untuk ia bisa tenang. Konselor sering menyarankan memberi waktu yang cukup, beberapa minggu atau bulan, sebelum memutuskan apakah kontak apa pun masih masuk akal.

Beberapa hal yang bisa membuat putus kontak terasa bisa dijalani, bukan cuma menyakitkan:

  • Bisukan atau berhenti mengikuti media sosialnya, kalau memblokir secara total terasa terlalu final. Tujuannya mengurangi pengingat, bukan membuat pernyataan.
  • Simpan barang-barang kenangan untuk sementara. Hoodie, daftar putar lagu, foto-foto. Kamu tidak perlu membakar apa pun. Kotak di lemari saja sudah cukup.
  • Tentukan lebih dulu apa yang akan kamu lakukan saat momen pukul sembilan malam datang, saat kamu ingin sekali menghubunginya. Jalan kaki, teman tertentu yang bisa kamu chat, tontonan yang kamu simpan khusus untuk saat itu.
  • Kalau keinginan itu muncul, coba tunggu dua puluh menit sebelum bertindak. Keinginan itu memuncak lalu menurun. Sebagian besar akan lewat kalau kamu tidak menyiraminya dengan bensin.

Dan jujurlah dengan cerita yang kamu ceritakan pada dirimu sendiri di saat-saat lemah. Rasa rindu punya cara untuk memoles hubungan itu sampai hanya bagian baiknya yang tersisa. Kalau membantu, tulis alasan-alasan sebenarnya kenapa hubungan itu berakhir, dengan jujur, dan baca daftar itu saat rasa nostalgia mulai menulis ulang sejarah.

Rawat tubuh yang menanggung semua ini

Saat hatimu hancur, hal-hal dasar terasa tidak penting. Padahal bukan begitu. Itu justru penyangga utamamu.

Patah hati menyerang tubuh, bukan cuma suasana hati. Tidur jadi berantakan, nafsu makan hilang atau malah tak terkendali, semuanya terasa lebih berat. Kamu tidak perlu merasa termotivasi untuk melakukan hal-hal kecil. Kamu cuma perlu melakukannya. Makan sesuatu yang benar-benar makanan. Keluar rumah dan kena cahaya matahari. Gerakkan tubuhmu, sedikit saja. Jaga agar harimu tetap punya bentuk, karena jam-jam kosong adalah tempat spiral itu hidup.

Hati-hati juga dengan pelarian yang tampak menggoda. Segelas atau tiga gelas minuman keras memang mengaburkan rasa sakit untuk semalam, tapi biasanya membuatmu makin terpuruk keesokan harinya, dan justru membuat pesan jam sembilan malam itu semakin mungkin terkirim. Membuat diri kebas hanya menunda duka, bukan menyelesaikannya.

Perlahan menjadi manusia utuh lagi

Saat kamu mencintai seseorang dengan dalam, hidupmu tumbuh mengelilinginya. Kesukaannya, jadwalnya, versi dirimu yang ada saat bersamanya. Jadi sebagian dari rasa sakit ini bukan hanya karena merindukannya. Tapi karena kamu tidak benar-benar yakin siapa dirimu tanpa dia di sana.

Ini juga bagian yang diam-diam penuh harapan. Tugasmu sekarang adalah mengambil kembali ruang itu, sedikit demi sedikit. Ambil kembali sesuatu yang murni milikmu, sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan dia. Temui teman-teman yang menjauh saat kamu sedang berpasangan. Katakan ya untuk rencana yang biasanya kamu lewatkan. Awalnya semua ini akan terasa belum cukup. Lakukan saja. Kamu tidak berusaha menggantikan apa yang hilang. Kamu mengingatkan dirimu sendiri bahwa kamu adalah manusia yang utuh, sendiri, yang, jauh di dalam semua ini, sudah kamu ketahui sejak awal.

Kapan kamu perlu lebih dari sekadar waktu?

Duka karena putus cinta memang seharusnya menyakitkan, dan seharusnya mereda, tidak rata, selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan. Itu perjalanan yang normal. Teman dan keluarga adalah bagian dari cara kamu melewatinya, biarkan orang-orang yang menyayangimu benar-benar hadir, meski menyendiri terasa lebih mudah.

Tapi terkadang, ini lebih besar dari yang bisa ditanggung seorang teman. Kalau minggu-minggu berlalu dan kamu tidak kunjung membaik, kalau kamu tidak bisa bekerja, makan, atau tidur, kalau kamu berhenti peduli pada hal-hal yang dulu penting bagimu, atau kalau rasa sakitnya sudah berubah menjadi perasaan tidak ingin ada di dunia ini lagi, itulah saatnya mencari bantuan profesional. Terapis yang baik bukan tanda kamu gagal move on. Mereka orang yang terlatih untuk membantumu menanggung ini dan menyusun dirimu kembali, dan duka karena putus cinta adalah hal yang mereka tangani setiap hari. Kalau kamu pernah merasa tidak aman dengan pikiranmu sendiri, jangan menunggu sendirian. Hubungi hotline krisis atau seseorang yang kamu percaya, hari ini.

Kamu tidak akan merasa seperti ini selamanya, meski sekarang seluruh tubuhmu yakin kamu akan begini terus. Cinta itu mungkin butuh waktu lama untuk memudar, dan mungkin tidak akan hilang sepenuhnya. Itu tidak masalah. Kamu masih bisa membangun hidup yang baik di sampingnya. Rasa sakitnya makin kecil. Kamu makin besar. Suatu pagi biasa, tidak lama dari sekarang, kamu akan sadar dia bukan lagi hal pertama yang kamu pikirkan, dan kamu akan mengerti bahwa bagian tersulitnya sudah berlalu.

Sumber

  1. Cleveland Clinic, How To Get Over a Breakup: 11 Tips for Healing
  2. Rutgers University, Study Finds Romantic Rejection Stimulates Areas of Brain Involved in Motivation, Reward and Addiction
  3. HelpGuide.org, Coping with a Breakup or Divorce

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi