Jika kamu sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri, kamu tidak sendirian. Di AS, telepon atau SMS 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), SMS HOME ke 741741 (Crisis Text Line), atau telepon 911 dalam keadaan darurat. Di mana pun kamu berada di dunia, findahelpline.com memuat daftar layanan krisis yang gratis dan rahasia di negaramu sendiri dan dalam bahasamu sendiri. Kalau kamu sedang dalam bahaya langsung, hubungi nomor darurat setempat.
Sebuah tim jadi diam dengan cara tertentu ketika keadaan sedang buruk. Pesan di Slack jadi singkat-singkat. Orang berhenti bertanya. Seseorang yang biasanya penuh pertimbangan mengirim balasan satu kata, dan kamu bisa merasakan seluruh kelompok menahan napas. Kamu mungkin sudah belajar membacanya tanpa sadar.
Yang lebih sulit dilihat adalah peranmu sendiri di dalamnya. Stres dalam sebuah kelompok bukan sekadar kumpulan stres masing-masing orang yang berdiri sendiri-sendiri. Ia bergerak. Ia berpindah dari satu orang ke orang lain, makin cepat seiring waktu, dan orang yang paling banyak diperhatikan menyebarkannya paling cepat. Kalau kamu adalah orang yang jadi rujukan orang lain, stresmu menjalar lebih jauh dari siapa pun. Sisi baiknya, hal yang sama berlaku untuk ketenanganmu.
Tulisan ini bicara soal melakukan sesuatu dengan itu secara sengaja. Bukan mengelola ketenanganmu sendiri (itu penting, dan itu keterampilan yang berbeda) tapi secara aktif menciptakan momen-momen tenang untuk orang-orang di sekitarmu, seperti menyodorkan segelas air ke tangan seseorang. Kecil, konkret, bisa diulang. Hal yang bisa kamu lakukan di hari Selasa biasa saat sebuah peluncuran produk sedang berantakan dan kamu tak punya kabar baik untuk disampaikan.
Kenapa kehadiran yang tenang benar-benar membantu, bukan sekadar gestur baik?
Ada godaan untuk memperlakukan "tetap tenang demi tim" sebagai saran yang lunak, versi korporat dari menyuruh orang berpikir positif. Riset mengatakan sebaliknya.
Stres terbukti menular, bahkan hanya dengan menyaksikannya. Para ilmuwan di Max Planck Institute meminta satu orang mengerjakan tugas yang membuat stres, sementara orang kedua hanya menonton. Seperempat dari para pengamat itu, yang sama sekali tidak menghadapi tekanan apa pun, menunjukkan lonjakan kortisol nyata hanya karena menyaksikan. Ketika pengamat itu adalah pasangan romantis dari orang yang stres, angkanya melonjak jadi empat puluh persen. Bahkan menyaksikan orang asing yang kesulitan sudah cukup untuk membuat sekitar satu dari sepuluh pengamat ikut stres. Stres berpindah ruangan dengan sendirinya.
Sisi baiknya, dan ini yang menguatkan, adalah apa yang bisa dilakukan ketenangan dan dukungan ke arah sebaliknya. Dalam satu eksperimen yang cukup terkenal, orang-orang yang mendapat kontak yang menenangkan dari pasangan mereka sebelum menyampaikan pidato yang membuat stres, menghasilkan kortisol lebih rendah saat berbicara, meski saat itu mereka sudah sendirian di panggung. Dukungan itu sudah melakukan tugasnya lebih dulu. Kehadiran yang menenangkan sebelumnya mengubah cara tubuh mereka menghadapi hal yang berat, bahkan setelah kehadiran itu sudah tidak ada.
Letakkan dua fakta ini berdampingan. Stres yang kamu bawa masuk ke sebuah ruangan bisa menaikkan hormon stres orang-orang yang cuma menyaksikanmu. Ketenangan dan dukungan yang kamu tawarkan bisa menurunkannya, dan efeknya bisa bertahan lebih lama dari momen itu sendiri. Ini bukan kiasan. Ini kimia tubuh, dan artinya beberapa menit ketenangan yang disengaja adalah bentuk pertolongan yang sungguhan.
Unit ketenangan paling kecil: jeda yang kamu jaga
Sebagian besar ketenangan yang bisa kamu tawarkan tidak butuh retreat atau anggaran wellness. Yang dibutuhkan hanyalah menyadari momen-momen ketika semua orang hampir kolaps, lalu memperlambat momen itu barang beberapa detik saja.
Perhatikan titik-titik peralihan. Awal rapat setelah kabar buruk pecah. Enam puluh detik pertama setelah seseorang mengakui kesalahan. Semenit sebelum panggilan telepon yang berat. Ini titik-titik ketika suasana hati kelompok terbentuk, dan momen-momen ini hampir selalu terburu-buru. Memperlambatnya adalah hal terbaik yang bisa kamu lakukan.
Beberapa contoh bagaimana ini terlihat dalam praktik:
- Mulai rapat yang tegang dengan menyebut yang sudah jelas. "Minggu ini berat ya. Yuk kita ambil waktu semenit dulu sebelum masuk ke pembahasan." Kamu tidak perlu berpura-pura optimis. Cukup turunkan sedikit tingkat urgensinya dan biarkan orang-orang mengendap dulu di kursi mereka.
- Ketika seseorang membawa masalah kepadamu, turunkan bahumu dan perlambat suaramu sebelum menjawab. Orang membaca tubuhmu sebelum mendengar kata-katamu. Kalau kamu tegang, mereka ikut tegang.
- Bangun satu jeda sungguhan dalam sehari yang bukan soal hasil kerja. Check-in dua menit di awal standup yang benar-benar membahas keadaan orang-orang, bukan status pekerjaan. Jaga ini bahkan saat kamu sibuk, terutama saat kamu sibuk.
- Tutup hari, atau minggu, dengan menutup satu lingkaran secara terbuka. "Kita sudah lewati itu. Yuk pulang." Orang membawa ketegangan yang belum selesai ke malam hari mereka kalau tidak ada yang menandai titik berhentinya.
Perhatikan bahwa tak satu pun dari ini menyelesaikan masalah yang mendasarinya. Itulah intinya. Kamu tidak berpura-pura apinya sudah padam. Kamu memberi sistem saraf orang-orang beberapa detik untuk turun dari mode siaga, supaya mereka benar-benar bisa berpikir, dan kamu juga.
Satu orang dalam satu waktu
Kelompok mendapat perhatian, tapi kebanyakan ketenangan yang akan kamu berikan justru terjadi dalam satu percakapan sunyi. Seseorang mencegatmu setelah rapat. Kamera rekan kerja mati dan pesan-pesannya jadi datar. Seorang direct report berkata "boleh ngobrol sebentar?" dengan nada yang sudah kamu kenali.
Momen satu-lawan-satu inilah tempat kehadiran yang tenang bekerja paling presisi, dan yang diminta darimu lebih sedikit dari yang kamu kira. Kebanyakan yang diminta hanyalah memperlambat langkah dan berhenti mencari solusi.
Ketika seseorang stres dan datang kepadamu, insting pertama adalah langsung melompat ke solusi. Tahan dulu sebentar. Hal pertama yang dibutuhkan orang yang stres adalah merasa ada seseorang yang benar-benar bersamanya, dan kamu tidak bisa memberikan itu kalau pikiranmu sudah tiga langkah di depan menyusun solusi. Biarkan dia selesai bicara. Ulangi kembali apa yang kamu dengar sebelum memberi saran. "Kedengarannya itu banyak sekali yang harus kamu tanggung" akan lebih mengena daripada rencana paling cerdik sekalipun, karena kalimat itu memberi tahu sistem sarafnya bahwa dia tidak sendirian lagi menghadapi hal itu. Rencana bisa menyusul belakangan, dan akan jadi rencana yang lebih baik begitu dia cukup tenang untuk mendengarkannya.
Beberapa gerakan kecil menopang sebagian besar bebannya:
- Turunkan tempo mereka, jangan naikkan. Kalau mereka bicara cepat dan cemas, jangan ikuti energi itu. Bicaralah sedikit lebih pelan dan lebih lembut dari mereka. Orang cenderung bergeser mengikuti irama yang lebih tenang di ruangan itu.
- Tanya dulu sebelum memperbaiki. "Kamu mau dibantu mikirin ini, atau cuma butuh cerita saja?" Setengah dari waktu itu, mereka sama sekali tidak ingin solusi, dan menebak salah malah menambah tekanan, bukan menguranginya.
- Jangan buru-buru menyuruh mereka baik-baik saja. Menyuruh orang yang stres untuk tenang, atau buru-buru melompat dari kekhawatirannya ke sisi positif, terasa seperti "perasaanmu merepotkan." Duduk sebentar bersama perasaan itu justru yang membuatnya bisa berlalu.
Bagaimana kamu bisa tenang kalau kamu sendiri tidak merasa tenang?
Keberatan yang jujur di sini jelas. Bagaimana kamu bisa memancarkan ketenangan untuk semua orang, sementara kamulah yang terjaga jam 3 pagi?
Kamu tidak harus tenang. Kamu hanya perlu cukup teregulasi, dalam momen spesifik saat kamu bersama orang lain, agar tidak menularkan kegelisahanmu ke mereka. Itu dua tugas yang berbeda. Yang pertama soal cuaca batinmu, yang tidak sepenuhnya bisa kamu kendalikan. Yang kedua soal beberapa menit saja, yang sebagian besar bisa kamu kendalikan.
Beberapa hal yang sungguh membantu di momen itu:
Tenangkan tubuhmu dulu sebelum menenangkan ruangan
Kamu tidak bisa membujuk diri sendiri untuk tenang selagi tubuhmu masih dalam mode fight-or-flight. Sebelum kamu masuk, tarik satu napas pelan dengan embusan panjang, pijakkan kakimu, lepaskan ketegangan rahangmu. Tubuh yang teregulasi adalah sinyal yang ditangkap tubuh orang lain. Urus tubuhmu dulu.
Pinjam bahasa "kita"
Di bawah tekanan, para pemimpin sering terjerumus ke perintah dan tenggat waktu, yang justru menaikkan suhu. Beralih ke "ini yang kita tahu, ini yang akan kita lakukan selanjutnya" melakukan dua hal sekaligus. Memberi orang pijakan kepastian, dan memberi tahu mereka bahwa mereka tidak menghadapi ini sendirian. Keduanya lebih menenangkan sistem saraf yang stres dibanding kata-kata penenang mana pun.
Ucapkan kalimat yang menenangkan, bahkan saat kamu sendiri ragu
Hal paling menenangkan yang bisa kamu tawarkan seringkali adalah pernyataan kecil yang jujur tentang kestabilan. "Kita pernah hadapi yang lebih berat dari ini." "Tidak ada yang akan dipecat gara-gara ini." "Waktu kita lebih banyak dari yang terasa." Ucapkan versi yang benar. Penenangan palsu akan langsung ketahuan dan justru memperburuk keadaan. Tapi orang biasanya haus akan pembacaan situasi yang akurat dan tenang, dan kamu berada di posisi yang bisa memberikannya.
Biarkan mereka melihatmu pulih, bukan cuma berpura-pura
Kadang kamu akan kehilangan ketenanganmu. Ketika itu terjadi, sebutkan saja dan kembali normal. "Tadi di rapat aku terlalu tegang, maaf ya." Itu bukan kelemahan yang bocor keluar. Itu mengajarkan orang-orang di sekitarmu bahwa stres bisa dilewati dan dipulihkan, salah satu hal paling menenangkan yang bisa dipelajari sebuah kelompok.
Buat ruang yang aman untuk tidak baik-baik saja
Ada versi yang lebih dalam dari semua ini, dan di situlah letak ketahanan yang sesungguhnya. Kamu bisa membagikan menit-menit tenang sepanjang hari, tapi kalau orang takut memberitahumu ketika mereka sedang tenggelam, kamu hanya menenangkan permukaan sementara arus di bawahnya terus mengalir.
Peneliti dari Harvard, Amy Edmondson, sudah puluhan tahun mempelajari apa yang dia sebut keamanan psikologis (psychological safety), rasa bersama bahwa kamu bisa bersuara, bertanya, atau mengakui kesalahan tanpa dihukum atau dipermalukan karenanya. Riset-risetnya terus menemukan tema yang sama untuk para pemimpin. Suasana lebih banyak dibentuk bukan oleh apa yang kamu katakan ingin kamu wujudkan, tapi oleh bagaimana kamu bereaksi di momen seseorang mengambil risiko untuk jujur. Ketika seseorang mengakui bahwa dia tertinggal, atau takut, atau kesulitan, hal berikutnya yang keluar dari mulutmu bisa membuat timmu merasa lebih aman untuk menjadi manusia, atau diam-diam mengajarkan semua orang untuk bersembunyi.
Jadi ketenangan yang kamu ciptakan bukan cuma ada di jeda-jeda itu. Ia ada di wajahmu ketika seseorang menyampaikan kabar buruk. Ia ada di kemampuanmu menahan dorongan untuk memperbaiki atau menegur, dan malah berkata, "Makasih sudah bilang. Ayo kita cari jalan keluarnya." Seorang pemimpin yang konsisten tetap tenang ketika diberi kebenaran yang berat, menjadi tempat orang bisa bernapas lega. Seiring waktu, itu lebih berharga dari rapat setenang apa pun, karena itu mengubah apa yang orang mau ceritakan kepadamu sebelum keadaan makin buruk.
Kapan ketenangan bukan alat yang tepat?
Satu peringatan, karena ketenangan bisa disalahgunakan. Ketenangan diberikan untuk membantu orang berpikir dan pulih. Bukan untuk menutupi hal-hal yang memang harus dihadapi, dan bukan cara untuk membujuk seseorang agar melupakan kekhawatiran yang sungguhan. Kalau timmu cemas karena sesuatu memang benar-benar rusak, langkah yang menenangkan adalah mengakuinya secara jelas dan bertindak, bukan meredam orang sampai diam. Ketenangan yang meminta orang mengabaikan kenyataan bukanlah ketenangan. Itu tekanan dengan suara yang lebih lembut.
Dan sadari batas dirimu. Kalau seseorang yang kamu pimpin sedang berjuang dengan cara yang melampaui sekadar minggu yang berat, keputusasaan yang terus-menerus, tanda-tanda dia mungkin menyakiti dirinya sendiri, tingkat distres yang tak kunjung mereda, tugasmu bukan menjadi terapisnya. Tugasmu adalah tetap hangat, menanggapinya dengan serius, dan membantunya menjangkau dukungan yang sesungguhnya, seorang profesional, dokternya, atau layanan krisis. Hal yang sama berlaku untukmu. Kalau kamulah yang berjalan dengan sisa tenaga terakhir demi menopang semua orang, itu layak diucapkan kepada seseorang yang benar-benar bisa membantu memikulnya. Menjadi orang yang tenang adalah pemberian yang bisa kamu berikan, tapi itu tak pernah dimaksudkan untuk dipikul sendirian.
Orang-orang di sekitarmu tidak akan mengingat sebagian besar hari-hari yang kalian lewati bersama. Mereka akan mengingat bagaimana rasanya berada di dekatmu ketika keadaan sedang sulit. Kamu punya pengaruh lebih besar atas itu daripada yang kamu kira, beberapa menit demi beberapa menit.
Sumber
- Max Planck Society, Your stress is my stress
- National Center for Biotechnology Information, Social Support Can Buffer against Stress and Shape Brain Activity
- Harvard Business Review, What People Get Wrong About Psychological Safety
- Mayo Clinic, Social support: Tap this tool to beat stress