Langsung ke konten utama

CINTA YANG BERTAHAN · UANG

Bicara soal uang tanpa berakhir jadi pertengkaran

Membicarakan uang tanpa berujung bertengkar dimulai dari memahami bahwa pertengkaran soal uang jarang benar-benar soal uang. Uang jadi salah satu hal yang paling sering diperdebatkan pasangan, dan pertengkarannya cenderung berulang. Ini alasan kenapa obrolan soal uang bisa cepat memanas, dan cara membicarakannya supaya justru mendekatkan, bukan menjauhkan: jadwalkan waktu khusus untuk ngobrol, ceritakan dulu pengalaman masing-masing soal uang sebelum saling beri pendapat, dan pakai istilah rencana pengeluaran, bukan anggaran.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Perempuan berkemeja lengan panjang abu-abu dan celana abu-abu berdiri di samping pintu kayu putih

Foto oleh HiveBoxx di Unsplash

Biasanya dimulai dari hal kecil. Tagihan di rekening yang tidak kamu duga. Helaan napas saat pasanganmu mengeluarkan kartunya. Tagihan yang datang di saat yang salah. Dalam satu dua menit, kamu berdua sudah tidak lagi membicarakan empat ratus ribu rupiah itu. Kamu membicarakan soal rasa hormat, keadilan, atau siapa yang berhak memutuskan sesuatu, dan tak satu pun dari kalian yakin bagaimana pembicaraan ini bisa sampai ke sana.

Kalau alur ini terasa akrab, kamu tidak sendirian. Uang adalah salah satu hal yang paling sering diperdebatkan pasangan, dan pertengkaran soal uang punya sengatan tersendiri. Ia selalu kembali. Pertengkaran soal pekerjaan rumah bisa selesai dan terasa tuntas. Tapi pertengkaran soal uang yang sama punya cara untuk muncul lagi di tagihan berikutnya, liburan berikutnya, pembelian besar berikutnya, dengan wajah yang sedikit berbeda.

Kabar baiknya, tersembunyi di balik semua itu: pertengkaran yang berulang ini bukan tanda hubunganmu bermasalah. Ini tanda bahwa uang menyentuh sesuatu yang penting bagi kalian berdua. Kuncinya adalah belajar membicarakan apa yang ada di baliknya.

Pertengkaran soal uang jarang sekali soal uang

Saat kamu bertengkar soal sebuah pembelian, kamu hampir tidak pernah benar-benar bertengkar soal barangnya. Kamu bertengkar soal apa yang diwakili oleh uang itu. Rasa aman. Kebebasan. Merasa dianggap serius. Bisa bersantai. Ketakutan akan kekurangan yang mungkin dialami salah satu dari kalian sejak kecil, atau justru tidak pernah dirasakan sama sekali.

Sebagian besar cara pandang kita soal uang sudah terbentuk jauh sebelum kita bertemu pasangan, dari rumah tempat kita dibesarkan, dari melihat orang dewasa di sekitar kita cemas, boros, atau tiba-tiba diam setiap kali topik ini muncul. Salah satu dari kalian belajar bahwa menabung adalah cara untuk tetap aman. Yang lain belajar bahwa sesekali membelanjakan uang adalah cara untuk akhirnya menikmati hasil kerja kerasnya. Tak satu pun dari itu salah. Keduanya hanya dua cerita berbeda tentang untuk apa uang itu ada, duduk di meja makan yang sama, sering kali tanpa disadari keduanya sedang menjalankan skrip yang ditulis bertahun-tahun lalu.

Itulah sebabnya percakapan lima menit soal langganan streaming bisa meledak jadi pertengkaran besar. Bagi salah satu dari kalian itu cuma nominal kecil. Bagi yang lain, itu soal prinsip, jalan menuju kebiasaan buruk, bukti bahwa kalian tidak sepaham. Kalian masing-masing sedang membela sebuah nilai, bukan sebuah angka.

The Gottman Institute, yang sudah puluhan tahun meneliti cara pasangan bertengkar, menyampaikan hal yang sama dengan lebih sederhana: ketika pasangan berselisih soal uang, perselisihan itu biasanya mewakili sesuatu yang lebih dalam, sebuah ketakutan, sebuah harapan, sebuah gambaran tentang seperti apa hidup yang baik itu. Bertengkar di level angka rupiah, kamu hanya akan berputar-putar. Tapi jadilah penasaran soal mimpi atau kekhawatiran yang ada di baliknya, dan seluruh percakapan akan berubah bentuk.

Masalah keheningan

Ini kejutan yang sering membuat banyak pasangan lengah. Orang-orang yang mengalami tekanan finansial paling berat justru sering menjadi yang paling jarang membicarakannya.

Para peneliti di Cornell meneliti hal ini secara khusus dan menemukan bahwa tekanan finansial cenderung membuat pasangan diam, bukan mendorong mereka untuk merencanakan sesuatu bersama. Ketika keuangan sedang ketat dan kekhawatiran tinggi, orang justru menarik diri dari percakapan tepat saat mereka paling membutuhkannya. Sebagian karena stres menghabiskan energi mental yang dibutuhkan untuk percakapan berat. Sebagian lagi karena rasa takut: kamu berasumsi ini akan berubah jadi pertengkaran, jadi kamu memilih diam, dan diam itu diam-diam menjadi jaraknya sendiri.

Penelitian yang sama juga menunjukkan apa yang membantu. Ketika pasangan mulai melihat masalah uang sebagai sesuatu yang mereka hadapi bersama, bukan kebuntuan permanen di antara mereka, mereka jadi lebih terbuka untuk benar-benar bicara. Pergeseran itu, dari "aku melawan kamu" menjadi "kita melawan masalah ini", ternyata membawa perubahan besar.

Pertengkaran di balik pertengkaran

Ada beberapa titik pemicu yang terus berulang, dan akan membantu jika kamu mengenalinya apa adanya, karena masing-masing sebenarnya adalah benturan dua cerita yang sama-sama masuk akal.

Si penabung dan si pembelanja

Ini pasangan klasik, dan pasangan sering kali bertemu justru karena garis pemisah ini. Salah satu dari kalian memperhatikan saldo dan merasa makin tenang saat angkanya makin tinggi. Yang lain memperhatikan hidup yang berjalan dan ingin menikmati sebagiannya sekarang. Masing-masing cenderung melihat yang lain sebagai masalah. Si penabung terlihat tidak sembrono di mata siapa pun kecuali dirinya sendiri yang merasa bertanggung jawab; si pembelanja terlihat tidak bisa menikmati hidup dari satu sisi, dan bijaksana dari sisi lain. Kamu tidak akan menang dengan berdebat soal ini. Kamu hanya bisa memahaminya dan bertemu di tengah, yang biasanya berarti ada sebagian uang yang dilindungi dan sebagian lagi yang benar-benar bebas dinikmati tanpa perlu diperdebatkan setiap kali membeli secangkir kopi.

Punyamu, punyaku, dan punya kita

Cara kamu mengelola uang, rekening bersama, rekening terpisah, atau campuran keduanya, sebenarnya kurang soal logistik dari yang terlihat. Bagi satu orang, menggabungkan semuanya adalah inti dari menjadi satu tim. Bagi yang lain, menyimpan sedikit uang milik sendiri adalah cara mempertahankan jati diri. Keduanya bisa benar dalam pasangan yang sama. Tidak ada satu struktur yang benar, hanya struktur yang kalian berdua pilih dengan sengaja dan bisa sama-sama diterima. Bahayanya bukan pada susunannya. Bahayanya adalah hanyut ke dalam suatu susunan tanpa disadari dan menyesalinya kemudian.

Kesenjangan penghasilan

Ketika salah satu dari kalian berpenghasilan jauh lebih besar, atau salah satu tidak berpenghasilan untuk sementara waktu karena mengasuh anak atau mencari kerja, uang diam-diam membawa muatan kekuasaan. Yang berpenghasilan lebih kecil bisa merasa suaranya tidak lagi didengar. Yang berpenghasilan lebih besar bisa merasakan beban tak terucap yang tidak pernah dimintanya. Mengucapkannya dengan terus terang, sebelum semua ini mengeras menjadi kebencian, akan menghilangkan sebagian besar racunnya. Rumah tangga berjalan dengan lebih dari sekadar apa yang tertera di slip gaji, dan menyebutkannya membuat "papan skor" itu tidak mengambil alih hubungan.

Bagaimana memulainya, supaya tidak berakhir jadi pertengkaran?

Bagaimana sebuah percakapan dimulai menentukan ke mana arahnya. Obrolan soal uang yang dibuka dengan tuduhan hampir tidak pernah bisa pulih. Beberapa hal ini membuat awal yang lebih lembut dan sisanya jadi mungkin.

Pilih momennya dengan sengaja. Jangan mulai obrolan besar saat sedang buru-buru keluar rumah, atau saat berbaring di tempat tidur dalam keadaan lelah, atau saat sudah jengkel karena hal lain. Tentukan waktunya. "Bisa nggak kita duduk bareng hari Minggu buat lihat-lihat keuangan kita?" Sesi ngobrol yang terjadwal dan santai jauh lebih baik daripada serangan mendadak, dan ini juga membebaskan kalian berdua dari rasa cemas menunggu kapan topik ini akan muncul tiba-tiba.

Tukar cerita soal uang sebelum tukar pendapat. Sebelum kamu berdebat soal harus bagaimana, jadilah penasaran soal dari mana masing-masing kalian berasal. Seperti apa rasanya uang di rumah tempat kamu dibesarkan? Apa ketakutan finansial terbesarmu? Apa yang bisa benar-benar kamu lakukan kalau merasa "cukup"? Kamu mungkin akan menemukan bahwa pasanganmu sama sekali bukan orang yang suka mengontrol atau ceroboh. Ia sedang melindungi sesuatu yang jadi sangat masuk akal begitu kamu bisa melihatnya.

Sebutkan perasaanmu, bukan vonismu. Coba ucapkan "Aku jadi cemas kalau nggak tahu sisa uang di rekening" daripada "kamu selalu boros." Yang pertama mengundang pasanganmu untuk ikut masuk. Yang kedua mengadili mereka. Salah satu langkah paling berguna dalam percakapan yang tegang adalah membuat masalah itu menjadi sesuatu yang kalian hadapi bersama, bukan saling berhadapan.

Dengarkan untuk memahami, bukan untuk membalas. Saat giliran pasanganmu bicara, tahan keinginan untuk menyusun sanggahanmu sementara ia masih berbicara. Kamu tidak harus setuju untuk bisa mengakui perasaannya. "Itu masuk akal" atau "aku baru sadar itu bikin kamu takut" bisa meredakan percakapan lebih cepat daripada argumen cerdas apa pun yang tadinya ingin kamu sampaikan.

Perhalus pilihan katanya. Pilihan kata kecil membawa bobot yang mengejutkan. American Psychological Association mencatat bahwa mengganti kata "anggaran," yang bisa terasa seperti hukuman, dengan "rencana pengeluaran" saja bisa mengubah suasana seluruh diskusi. Tujuannya adalah rencana yang kalian miliki bersama, bukan buku aturan yang dipaksakan salah satu pihak.

Ambil jeda sebelum kamu benar-benar membutuhkannya. Kalau suara kalian mulai meninggi dan tubuh kalian mulai tegang, kalian sudah keluar dari zona di mana percakapan bisa produktif. Sepakati sejak awal bahwa siapa pun boleh meminta jeda. "Kita lanjutkan lagi setelah makan malam, ya." Jeda bukan penghindaran selama kamu benar-benar kembali membicarakannya.

Jadikan kebiasaan, bukan keadaan darurat

Pasangan yang paling jarang bertengkar soal uang biasanya bukan yang punya uang paling banyak. Mereka adalah yang cukup sering membicarakannya sehingga tidak ada satu percakapan pun yang harus menanggung semua beban itu.

Sesi ngobrol singkat soal uang yang rutin dilakukan bisa membantu ini secara diam-diam. Sebulan sekali, duduk bareng selama dua puluh menit, lihat apa yang masuk dan apa yang keluar, sebutkan hal-hal yang akan datang, lalu sesuaikan. Buat suasananya ringan. Beberapa pasangan menutup sesi ini dengan hal yang mereka nikmati, supaya semuanya tidak terasa seperti dipanggil ke ruang kepala sekolah. Inti dari rutinitas ini adalah masalah bisa tertangkap sejak kecil, selagi masih sebaris angka di kertas dan belum jadi keluhan yang sudah berbunga selama enam bulan.

Membantu juga untuk meletakkan gambaran keuangan kalian di tempat yang bisa dilihat berdua. Tagihan, utang, tabungan, apa yang diam-diam diharapkan masing-masing untuk satu atau lima tahun ke depan. Keterbukaan penuh bisa terasa menelanjangi, apalagi kalau ada utang atau kebiasaan yang selama ini kamu tanggung sendirian dan kamu takut pada saat harus mengucapkannya. Tapi pasangan yang jujur soal keseluruhan gambaran, termasuk bagian yang tidak nyaman, cenderung lebih saling percaya, bukan justru sebaliknya. Hal yang selama ini kamu sembunyikan jarang terasa seburuk penyembunyiannya sendiri, begitu akhirnya terungkap. Kerahasiaan itulah yang menggerogoti. Keterbukaan itulah yang menguatkan.

Ada masalah uang yang memang tidak perlu diselesaikan, dan itu tidak apa-apa

Ini satu hal yang layak kamu damaikan dalam hati. Tidak semua perbedaan di antara kalian adalah masalah yang harus diperbaiki. Penabung sejati dan pembelanja sejati mungkin tidak akan pernah sepenuhnya mengubah pandangan satu sama lain, dan itu tidak masalah. Banyak hubungan yang kuat dan langgeng menyimpan perselisihan kecil yang terus-menerus soal uang, dan mereka mengelolanya dengan humor serta rasa hormat, bukan dengan berusaha memenangkannya.

Tujuannya bukan supaya kalian berpikir sama persis soal setiap rupiah. Tujuannya adalah berhenti memperlakukan perbedaan itu sebagai ancaman. Ketika kamu bisa berkata "kita memandang ini secara berbeda, dan kita mengelolanya bersama" tanpa itu berubah menjadi referendum atas hubungan kalian, kamu sudah memenangkan bagian yang benar-benar penting.

Kapan sebaiknya kamu mencari bantuan?

Kadang percakapan terus berakhir dengan cara yang sama menyakitkannya, sehalus apa pun kamu memulainya, atau uang sudah menjadi topik yang begitu dihindari sampai kalian berhenti membicarakannya sama sekali. Itu layak kamu perhatikan serius. Terapis pasangan bisa membantu kamu menemukan pola di balik pertengkaran itu, dan konsultan keuangan bisa mengurangi rasa takut mentah soal angka-angka dengan memberi kalian rencana untuk berpijak. Mencari bantuan seperti ini bukan pengakuan bahwa kamu gagal. Ini adalah dua orang yang memutuskan bahwa hubungan mereka lebih berharga daripada sekadar menang dalam perdebatan soal anggaran belanja.

Dan kalau kekhawatiran soal uang mulai membebani lebih dari sekadar hubunganmu, kalau tekanannya ikut terbawa sampai ke tidurmu, pekerjaanmu, atau caramu merasakan bangun di pagi hari, tolong jangan tanggung itu sendirian. Bicaralah dengan dokter atau tenaga profesional kesehatan mental. Tekanannya nyata, dan bantuannya pun nyata.

Sumber

  1. American Psychological Association, Happy couples: How to avoid money arguments
  2. Cornell Chronicle, The cost of silence: Financial stress mutes couples' communication
  3. The Gottman Institute, Talking About Finances: A Touchy Topic Made Easier for Couples

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi