Skip to main content
Sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri? Kamu tidak sendirian. Cari layanan bantuan →

TENANG SEKARANG · DI SAAT INI

Menunggangi gelombang 90 detik: berapa lama sebenarnya sebuah perasaan bertahan

Emosi yang kuat mencapai puncaknya lebih cepat dari yang kamu kira. Reaksi kimia dari gelombang pertama bergerak melewati tubuhmu kira-kira dalam satu setengah menit. Inilah cara membiarkan gelombang itu berlalu tanpa memberinya makan gelombang kedua.

Orang melakukan yoga di tepi pantai pada siang hari

Photo by processingly on Unsplash

Tips singkat

  • Biarkan ledakan pertama memuncak sebelum bereaksi.
  • Sebutkan perasaannya dengan kata-kata sederhana.
  • Embuskan napas panjang, dua kali, sebelum membalas.

Sebuah email masuk. Tiga baris, tanpa peringatan, dan wajahmu memanas. Jantungmu berdetak lebih cepat. Ada tekanan di belakang matamu dan dorongan tiba-tiba untuk membalas sesuatu yang belum kamu pikirkan matang-matang. Kamu tidak memutuskan untuk merasakan semua ini. Ia datang begitu saja.

Ini sesuatu yang membantu tepat pada momen itu. Gelombang fisik pertama dari sebuah perasaan lebih pendek dari yang terlihat. Ilmuwan otak Jill Bolte Taylor, yang mempelajari pikirannya sendiri dengan cermat setelah mengalami stroke, memberikan angka yang kini banyak dibagikan: saat sebuah emosi terpicu, zat-zat kimia yang membanjiri tubuhmu memuncak dan mulai surut dalam sekitar sembilan puluh detik. Panasnya, dada yang sesak, getaran di tanganmu. Bagian itu adalah gelombang. Ia naik, memuncak, dan kalau tidak ada yang mengisinya ulang, ia mulai turun.

Sembilan puluh detik versi Taylor adalah kerangka yang berguna, bukan stopwatch yang harus kamu patuhi. Perasaan yang berbeda dan tubuh yang berbeda berjalan pada jam yang berbeda. Tapi polanya nyata, dan polanya itulah yang penting: reaksi kimia mentah dari sebuah perasaan bersifat sementara, dan banyak dari yang membuat kita terjebak bukanlah perasaannya sendiri.

Gelombang dan putaran

Bayangkan dua hal terpisah yang terjadi saat kamu kesal.

Yang pertama bersifat otomatis. Pemicu datang, sistem stresmu menyala, dan tubuhmu melepaskan ledakan hormon stres. Cleveland Clinic menggambarkan rangkaian itu dengan jelas: detak jantung naik, napas mempercepat, otot menegang, darah mengalir ke bagian-bagian dirimu yang dibangun untuk melawan atau lari. Kamu tidak memilih ini dan kamu tidak bisa membantahnya di tengah ledakan. Ia lebih tua dari berpikir.

Hal kedua adalah putaran. Begitu gelombang pertama itu mulai memudar, pikiranmu bisa diam-diam menyalakannya lagi. Kamu memutar ulang emailnya. Kamu menyusun balasan di kepalamu, lalu balasan yang lebih baik. Kamu membayangkan rapat tempat kamu akhirnya mengatakan hal itu. Setiap putaran memberi tahu otakmu bahwa ancamannya masih ada di sini, dan otakmu dengan patuh mengirim satu dosis lagi zat kimia yang sama. Gelombang yang seharusnya sudah memuncak dan turun terisi ulang dari atas.

Itulah mengapa sebuah emosi bisa tampak bertahan satu jam, atau sepanjang sore. Sering kali ia bukan satu perasaan panjang. Ia adalah perasaan pendek yang sama, terpicu berulang-ulang oleh perhatianmu sendiri.

Seperti apa "menungganginya" yang sebenarnya

Menunggangi gelombang bukan berarti mengabaikan perasaanmu, dan jelas bukan berarti menelannya. Artinya membiarkan ledakan pertama bergerak melewatimu, bukan menindaklanjutinya atau memberinya makan. Tiga hal membuat itu mungkin.

Sadari bahwa ia mulai. Begitu kamu bisa berpikir "oke, ia datang," kamu sudah selangkah keluar dari perasaan itu. Kamu sedang menonton gelombangnya, bukan tersapu olehnya. Trik Taylor sendiri hampir harfiah: amati reaksinya dengan rasa ingin tahu, seperti melihat jam, dan biarkan ia menjalani prosesnya.

Beri tubuhmu satu menit, bukan mulutmu. Ledakan itu ingin kamu melakukan sesuatu sekarang juga. Kamu jarang harus. Letakkan ponselnya. Berjalanlah mengambil air. Perlambat embusan napasmu supaya lebih panjang dari tarikan napasmu, yang mengarahkan tubuhmu ke mode menenangkannya. Kamu tidak menekan apa pun. Kamu menolak bertindak di puncak.

Sebutkan apa yang kamu rasakan, dengan kata-kata sederhana. Yang ini punya sains nyata di baliknya. Sebuah studi UCLA yang dipimpin Matthew Lieberman menemukan bahwa sekadar menuangkan perasaan ke dalam kata-kata mengubah otak: saat orang melabeli sebuah emosi, aktivitas di amigdala (pusat alarm) menurun, sementara area berpikir di bagian depan otak menyala. Mengatakan "aku sangat marah" atau "aku terluka dan agak takut" bukan melampiaskan. Itu tuas kecil yang menurunkan volume alarm.

Kamu tidak butuh ketiganya setiap kali. Di hari yang berat, bahkan satu saja cukup untuk mencegah gelombang berubah jadi putaran.

Versi yang bisa kamu pakai sekarang juga

Lain kali sebuah perasaan melonjak dan kamu tergoda untuk bereaksi, coba ini. Waktunya kira-kira sama dengan lama gelombangnya.

  1. Sebutkan namanya. Dengan lantang kalau bisa, dalam hati kalau tidak. "Ini kemarahan." "Ini panik." "Ini duka." Spesifik saja.
  2. Temukan di tubuhmu. Di mana? Rahang, dada, perut, punggung tangan. Cukup temukan letaknya. Kamu sedang mengamati, bukan memperbaiki.
  3. Embuskan napas perlahan, dua kali. Embusan panjang, bahu turun. Biarkan hal berikutnya yang kamu ucapkan atau kirim menunggu sampai kamu selesai melakukan ini.
  4. Biarkan ia memuncak. Ingatkan dirimu bahwa bagian terkuat akan berlalu. Kamu boleh merasakannya sepenuhnya dan tetap belum bergerak.
  5. Lalu pilih. Begitu puncaknya melembut, putuskan apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan. Keputusan itu akan lebih bijak dari yang diinginkan ledakan tadi.

Tujuannya bukan merasa tenang seketika. Tapi menyisipkan jeda kecil antara perasaan dan responsmu, supaya responsnya benar-benar milikmu.

Ketika gelombang terus terisi ulang

Jujurlah pada dirimu sendiri soal putaran, karena itulah bagian yang bisa kamu ubah, dan juga bagian yang diam-diam bisa lepas kendali.

Kadang sebuah pikiran terus menyalakan ulang perasaan yang sama sepanjang hari. Itu namanya ruminasi, dan melelahkan. Jalan keluarnya biasanya bukan memenangkan perdebatan di kepalamu. Tapi dengan lembut mengalihkan perhatianmu ke sesuatu yang memakai tanganmu atau tubuhmu atau orang lain, supaya putaran itu kehabisan bahan bakar. Sebuah jalan kaki, percakapan sungguhan, tugas yang butuh fokus. Bukan sebagai pengalih dari perasaanmu, tapi sebagai cara untuk berhenti memproduksi yang baru.

Rangkaian stres penuh juga butuh waktu untuk benar-benar mereda. Bahkan setelah gelombang sembilan puluh detik pertama berlalu, tubuhmu mungkin perlu dua puluh atau tiga puluh menit untuk kembali sepenuhnya ke kondisi dasar. Jadi kalau kamu masih merasa terguncang setelah puncaknya, kamu tidak salah. Itu air laut yang sedang surut. Sabarlah dengannya.

Ketika sembilan puluh detik bukan keseluruhan cerita

Alat ini dibuat untuk emosi biasa yang tajam. Kilatan kemarahan, perih rasa malu, sentakan dari pesan yang bikin stres. Untuk yang itu, menunggangi gelombang sungguh bisa mengubah harimu.

Beberapa hal tidak muat dalam sembilan puluh detik, dan memang tidak seharusnya. Duka bergerak pada lini waktunya sendiri. Begitu pula beratnya depresi, cengkeraman gangguan kecemasan, atau dampak trauma, ketika sebuah perasaan bisa membanjir kembali jauh setelah momen yang menyebabkannya. Kalau kamu mencoba menunggangi hal-hal itu seperti gelombang yang lewat dan mereka terus menghantam, itu bukan kegagalan kemauan. Itu berarti kamu sedang menanggung sesuatu yang layak lebih dari teknik satu menit.

Kalau perasaan yang kuat secara rutin mengatur hari-harimu, kalau putarannya tidak melonggar apa pun yang kamu coba, atau kalau kamu merasa putus asa atau tidak aman, tolong bicaralah dengan dokter atau terapis. Orang yang terlatih bisa menawarkan apa yang tidak bisa diberikan trik pernapasan. Meraih bantuan semacam itu adalah salah satu hal paling kokoh yang bisa dilakukan seseorang.

Gelombang berikutnya akan datang. Selalu begitu. Yang sedang kamu pelajari adalah bahwa kamu bisa berdiri di dalam satu gelombang tanpa terjatuh, merasakannya seutuhnya, dan tetap bisa memilih apa yang terjadi berikutnya.

Sumber

Sebelum kamu pergi, sepatah kata soal perawatan

KEEP CALM menyediakan alat bantu diri edukatif yang gratis. Ini bukan nasihat medis, diagnosis, atau terapi, dan bukan pengganti perawatan profesional. Jika ada sesuatu di sini yang terasa lebih dari sekadar stres sehari-hari, menghubungi profesional adalah langkah yang kuat dan masuk akal.

If you are in crisis or thinking about harming yourself, you are not alone. In the US, call or text 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), text HOME to 741741 (Crisis Text Line), or call 911 in an emergency.