Jika kamu sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri, kamu tidak sendirian. Di AS, telepon atau SMS 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), SMS HOME ke 741741 (Crisis Text Line), atau telepon 911 dalam keadaan darurat. Di mana pun kamu berada di dunia, findahelpline.com memuat daftar layanan krisis yang gratis dan rahasia di negaramu sendiri dan dalam bahasamu sendiri. Kalau kamu sedang dalam bahaya langsung, hubungi nomor darurat setempat.
Ini jarang dimulai dengan pertengkaran. Ini dimulai dari hal-hal kecil yang hampir terdengar seperti perhatian. Mereka lebih suka kamu tidak menemui teman itu, cukup kali ini saja. Mereka ingin tahu kamu sudah pulang dengan aman, jadi bisa bagikan lokasimu. Mereka jadi diam kalau kamu bikin rencana tanpa bertanya dulu, dan keheningan itu lebih menyakitkan daripada suara keras sekalipun.
Bulan demi bulan, duniamu jadi sedikit lebih kecil. Kamu mulai memikirkan pilihan-pilihanmu di kepala, seolah menimbang reaksi mereka, sebelum kamu benar-benar mengucapkannya. Dan suatu hari kamu sadar kamu tidak ingat lagi kapan terakhir kali kamu memutuskan sesuatu yang sederhana, mau pakai baju apa, mau menelepon siapa, mau menghabiskan sore yang bebas dengan cara apa, tanpa lebih dulu bersiap menghadapi reaksi mereka.
Kalau ada dari semua itu yang terasa familier, kamu tidak membayangkannya, dan kamu tidak terlalu sensitif. Perilaku mengontrol itu nyata, ada bentuknya, dan ada hal-hal yang bisa kamu lakukan.
Sebenarnya, seperti apa bentuk kontrol itu?
Kontrol bukan soal satu momen buruk. Ini soal pola. Satu orang secara perlahan mengambil kendali hidup orang lain, dan tidak mau mengembalikannya.
Bentuknya bisa banyak, dan seringnya bercampur:
- Memutuskan hal-hal yang bukan urusan mereka, apa yang kamu pakai, siapa yang kamu temui, ke mana kamu pergi, bagaimana kamu membelanjakan uang.
- Menjauhkanmu dari orang lain. Mengganggu waktumu dengan teman dan keluarga, membuat rencana jadi sulit, ngambek sampai jalan paling mudah adalah tetap di rumah.
- Mengawasi. Memeriksa ponselmu, minta lokasimu, ingin tahu detail harimu.
- Mengubah cerita yang sebenarnya terjadi. Kamu menyampaikan sesuatu yang menyakitimu, tapi entah bagaimana kamu malah yang minta maaf, jadi ragu dengan apa yang kamu ingat sendiri. (Terapis menyebut ini gaslighting.)
- Kecemburuan yang dibungkus sebagai cinta. "Aku cuma khawatir sama kamu" jadi alasan kamu tidak bisa melakukan hal-hal biasa.
- Mengontrol keuangan. Mengatur uang sehingga pergi, atau bahkan sekadar tidak setuju, jadi terasa mustahil.
Cleveland Clinic menyampaikan hal penting untuk diingat di sini: banyak perilaku mengontrol berasal dari kecemasan orang itu sendiri, bukan dari niat mendominasi. Itu tidak membuatnya jadi boleh. Itu juga bukan berarti tugasmu untuk memperbaikinya. Tapi ini bisa melunakkan keinginan untuk terus berdebat, karena biasanya kamu tidak bisa menalar seseorang keluar dari ketakutan yang bahkan tidak mereka sebutkan.
Batasan bukan hal yang sama dengan kontrol
Banyak orang salah paham soal ini, kadang memang disengaja. Pasangan yang mengontrol kadang menyebut tuntutan mereka sebagai "batasan". Padahal keduanya berbeda, dan perbedaannya jelas.
Batasan adalah tentang dirimu. Ini menyatakan apa yang akan dan tidak akan kamu lakukan, apa yang kamu nyaman dengannya, bagaimana kamu ingin diperlakukan. "Aku tidak nyaman kalau kita saling membaca pesan satu sama lain." "Aku butuh satu malam dalam seminggu untuk teman-temanku sendiri."
Kontrol adalah tentang mereka mengatur dirimu. Ini memberitahumu apa yang boleh kamu lakukan.
Organisasi love is respect menjelaskannya dengan jelas: batasan yang sehat melindungi dan menghormati seseorang, sementara batasan yang tidak sehat mencoba mengontrol atau menyakiti orang lain. Yang satu membuatmu sedikit lebih bebas. Yang satu lagi menutup pintu.
Apa yang bisa kamu coba?
Kalau kamu sudah membaca sampai sini dan merasa aman dengan pasanganmu, hanya lelah, ada langkah-langkah nyata yang bisa membantu. Tidak satu pun soal mengubah orang lain. Semuanya soal menemukan pijakanmu kembali.
Sadari dulu untuk dirimu sendiri
Sebelum kamu bicara pada siapa pun, coba pahami dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Tulis beberapa momen spesifik kalau itu membantu. Menyadari pola ini adalah cara untuk berhenti meragukan penilaianmu sendiri, yang justru itulah yang terkikis kalau seseorang terus-menerus mengubah cerita.
Sampaikan apa yang menjadi hakmu, dengan tenang dan pada saatnya
Kamu tidak perlu berpidato panjang. Versi batasan yang paling berguna itu singkat, disampaikan dekat dengan momen kejadiannya, dan tentang dirimu, bukan tentang kesalahan mereka. "Aku mau tetap pakai malam Kamis untuk teman-temanku." "Aku tidak akan membagikan kata sandiku." Perhatikan, tidak satu pun dari itu adalah hinaan atau ultimatum. Itu cuma fakta tentang dirimu.
Wajar kalau kamu dapat penolakan di beberapa kali pertama. Batasan yang belum pernah diuji belum benar-benar jadi batasan. Bertahan dengan tenang, tanpa perdebatan panjang, itulah keahlian sesungguhnya.
Berhenti minta izin untuk hidupmu sendiri
Kalau seseorang sudah melatihmu untuk selalu bertanya dulu pada mereka, kamu bisa perlahan berhenti. Nyatakan, jangan meminta. "Aku ketemu Sam untuk makan siang hari Sabtu" terasa berbeda dari "Boleh nggak ya kalau aku ketemu Sam?" Kamu tidak bersikap dingin. Kamu cuma mengambil kembali ruang yang wajar untuk dirimu.
Jaga orang-orangmu
Isolasi adalah bahan bakar kontrol, jadi koneksi adalah penawarnya. Jangan biarkan pertemanan meredup. Pertahankan satu atau dua orang dalam hidupmu yang benar-benar mengenalmu dan akan berkata jujur padamu. Kalau kamu sudah menjauh dari mereka, satu pesan yang tulus bisa membuka pintu itu lagi, lebih mudah daripada yang kamu kira.
Jangan berharap bisa memenangkan perdebatan
Kamu mungkin tidak akan bisa membuat pasangan yang suka mengontrol melihat dari sudut pandangmu, dan mencoba sering justru memperburuk keadaan. Kamu bisa memutuskan bagaimana kamu merespons, apa yang akan dan tidak akan kamu lakukan, dan biarkan itu berlaku tanpa perlu persetujuan mereka. Persetujuan mereka bukan hal yang selama ini menjagamu aman.
Kapan ini menjadi lebih besar dari sekadar masa sulit?
Ini garis yang paling penting, dan patut untuk dijujuri. Ada perbedaan antara pasangan yang cemas dan agak mengontrol, dengan pasangan yang kontrolnya sudah berubah jadi sesuatu yang membuatmu takut.
Ketika pola itu digunakan untuk membuatmu semakin kecil, memutusmu dari orang lain, mengawasimu, menghukummu, itu punya nama. Di Inggris, itu adalah tindak pidana yang disebut coercive control, dan NHS mendeskripsikannya sebagai pola tindakan yang bertujuan mengisolasi, mengeksploitasi, dan mengatur kehidupan sehari-hari orang lain. Nama ini penting karena memberitahumu sesuatu yang benar: ini bukan masalah komunikasi yang bisa diperbaiki dengan percakapan yang lebih baik.
Beberapa tanda sudah waktunya mencari bantuan dari luar, bukan cuma mencoba lebih keras:
- Kamu takut dengan bagaimana mereka akan bereaksi kalau kamu menetapkan batasan sekecil apa pun. love is respect menyebut ini secara langsung, kalau kamu takut menyampaikan kebutuhanmu sendiri karena mereka mungkin merespons dengan kemarahan, itu sendiri sudah menjadi tanda peringatan.
- Perilaku mengontrol itu disertai ancaman, intimidasi, atau apa pun yang bersifat fisik.
- Kamu merasa tidak bisa pergi dengan aman, atau kamu tidak punya akses ke uangmu sendiri.
- Kamu mulai kehilangan rasa tentang apa yang nyata, atau siapa dirimu.
Kalau kamu mengenali tanda-tanda itu, tolong jangan coba tangani sendirian, dan tolong jangan sampai memberi tahu pasangan yang mengontrol bahwa kamu sedang mencari jalan keluar sebelum kamu bicara dengan orang yang memang ahli di bidang ini. Advokat kekerasan dalam rumah tangga atau konselor bisa membantumu memikirkan dan membuat rencana yang menjagamu tetap aman. Semua ini tidak berarti kamu gagal dalam cinta. Ini berarti kamu bertemu dengan perilaku orang lain, dan kamu pantas mendapatkan dukungan untuk menghadapinya.
Kontrol cenderung membuatmu percaya bahwa kamulah masalahnya. Kamu bukan masalahnya. Menginginkan teman-temanmu sendiri, pilihan-pilihanmu sendiri, dan pasangan yang menganggap serius kata "tidak" darimu, itu bukan meminta terlalu banyak. Itu adalah standar dasar. Fakta bahwa kamu membaca ini sampai akhir menunjukkan sebagian dirimu sudah tahu itu.
Sumber
- Cleveland Clinic, How To Deal With a 'Control Freak'
- love is respect, What are my boundaries?
- love is respect, Relationship Spectrum
- NHS, Getting help for domestic violence and abuse