Ada jenis lelah tertentu yang muncul dari satu pertemanan tertentu. Kamu menutup telepon setelah satu jam dan sadar bahwa seluruh percakapan itu tentang dia. Krisisnya, pekerjaannya, mantannya, rencananya. Kamu memberi perhatian penuh, jenis perhatian yang juga ingin kamu terima, tapi entah bagaimana, ceritamu sendiri tentang minggu ini tidak pernah muncul. Sama seperti percakapan sebelumnya.
Mungkin kamu mulai membiarkan teleponnya masuk ke voicemail. Mungkin ada sedikit rasa bersalah karena berpikir seperti ini, karena dia bukan orang jahat dan kamu memang menyayanginya. Dua hal ini bisa sama-sama benar. Kamu bisa menyayangi seseorang dan tetap merasa kehabisan energi saat bersamanya.
Tulisan ini dibuat untuk titik itu, persis di situ. Bukan untuk memutus hubungan, dan bukan juga untuk terus tersenyum menahan diri selamanya. Tapi untuk jalan tengah yang lebih sulit sekaligus lebih berguna: memahami kenapa sebuah pertemanan bisa jadi berat sebelah, meminta lebih tanpa harus bertengkar, dan mengenali tanda-tanda yang menunjukkan apakah kamu perlu bertahan dan memperbaikinya, atau perlahan mundur.
Apa arti teman yang "cuma menerima"?
Ada baiknya kamu tidak buru-buru memberi label pada seseorang. Teman yang terasa "cuma menerima" bisa jadi menyimpan beberapa situasi yang sangat berbeda di balik penampilan yang sama.
Kadang ini cuma masalah musim. Orang yang sedang menghadapi perceraian, bayi baru, orang tua yang sakit, atau kehilangan pekerjaan, bisa benar-benar tenggelam dalam hidupnya sendiri untuk sementara waktu dan tidak punya banyak yang bisa diberikan. Itu bukan cacat karakter. Itu tahun yang berat. Pertemanan yang berat sebelah untuk sementara waktu, lalu kembali seimbang, bukanlah pertemanan satu arah. Itu pertemanan yang wajar, sedang berada di momen yang sulit.
Kadang ini hanya kebiasaan yang tidak pernah dibicarakan oleh kalian berdua. Sejak awal kamu jadi pendengar, dia jadi pembicara, dan pola itu lama-lama mengeras begitu saja. Bisa jadi dia sama sekali tidak sadar timbangannya sudah jadi seperti ini. Banyak orang benar-benar kaget ketika tahu temannya merasa tidak dilihat, karena dari sudut pandangnya sendiri, dia hanya merasa sedang didukung.
Dan kadang, ya, ini memang pola yang tetap, yang tidak berubah apa pun yang sedang terjadi dalam hidupmu. Kamu bisa saja sedang di rumah sakit, dan percakapan tetap akan berbalik ke dirinya dalam lima menit. Versi inilah yang perlu kamu tanggapi dengan serius.
Inti dari memilah semua ini sederhana. Cara mengatasinya berbeda untuk setiap situasi, dan kamu tidak bisa memilih yang tepat sampai kamu tahu kamu sedang berada di situasi yang mana.
Kenapa ketidakseimbangan ini bikin kamu lelah?
Ini bukan berarti kamu terlalu butuh perhatian atau suka menghitung-hitung. Ada alasan nyata kenapa pertemanan yang berat sebelah bikin kamu kehabisan energi, dan itu terlihat dalam riset tentang bagaimana dukungan bekerja antar sesama.
Pertemanan adalah salah satu hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk kesehatanmu. Teman yang baik menurunkan stres, memperbaiki suasana hati, dan dikaitkan dengan hidup yang lebih panjang dan sehat. Mayo Clinic menegaskan bahwa yang penting adalah kualitas pertemanan itu, bukan jumlah nama di kontak teleponmu. Beberapa orang yang benar-benar mendukungmu jauh lebih berarti daripada lingkaran pertemanan luas yang tidak.
Ini bagian yang relevan dengan situasimu. Manfaat itu tampaknya bergantung pada memberi dan menerima yang berjalan dua arah. Sebuah studi besar yang mengikuti ribuan orang dewasa selama lebih dari dua dekade menemukan bahwa orang-orang yang memberi dan menerima dukungannya kurang lebih seimbang punya risiko kematian yang lebih rendah dibandingkan orang yang kebanyakan hanya memberi atau hanya menerima. Memberi terus-menerus ke satu arah bukanlah pilihan yang sehat. Keseimbanganlah yang sehat.
Jadi, rasa berat yang kamu rasakan bukan kekurangan pada dirimu. Tubuh dan pikiranmu sedang menangkap sesuatu yang nyata: hubungan yang dukungannya hanya mengalir satu arah, ada harganya untukmu. Menyadari ini membuat rasa bersalah karena ingin menerima sesuatu kembali jadi hilang.
Sebelum kamu bicara, tanyakan dua hal ini pada dirimu
Kekesalan suka melompati langkah ini dan langsung menuju konfrontasi. Coba pelan-pelan dulu sebentar.
Pertama: apakah aku sudah benar-benar meminta sesuatu? Banyak dari kita terus memberi dan memberi, lalu diam-diam menunggu diperhatikan, dan merasa kecewa ketika orang lain tidak bisa membaca pikiran kita. Kalau kamu belum pernah sekali pun bilang, "Aku lagi capek banget minggu ini, boleh cerita sebentar?", berarti temanmu belum gagal dalam ujian yang kamu buat. Dia cuma belum pernah diberi ujian itu. Kadang, solusinya cukup dengan meminta secara terbuka dan jelas, lalu melihat apa yang terjadi.
Kedua: apa sebenarnya yang aku inginkan di sini? Keseimbangan yang lebih baik dengan orang ini? Ruang yang lebih kecil untuknya dalam hidupmu? Sebuah akhir? Kamu tidak harus tahu jawabannya secara pasti. Tapi kalau tujuanmu adalah "aku ingin merasa tidak terlalu terkuras setelah kita ngobrol", itu akan membawamu ke suatu tempat. Kalau tujuanmu "aku ingin dia akhirnya sadar apa yang sudah dia bikin aku rasakan", biasanya itu cuma memicu pertengkaran.
Bagaimana cara meminta timbal balik?
Tujuannya adalah jelas dan baik hati sekaligus, yang ternyata lebih sulit daripada hanya salah satunya. Panduan Cleveland Clinic soal batasan yang sehat bisa jadi pedoman yang baik di sini: lebih baik spesifik daripada memberi sinyal tidak langsung, dan bicara dari pengalamanmu sendiri, bukan membangun tuduhan terhadap orang lain. Kalimat yang dimulai dengan "aku" sangat membantu, karena kalimat itu menyampaikan bagaimana sesuatu terasa untukmu, tanpa membuat orang lain merasa diadili.
Beberapa cara yang bisa terdengar wajar dalam pertemanan nyata:
- Minta dukungan secara langsung saat kamu membutuhkannya. "Minggu ini berat banget buatku, dan aku benar-benar butuh cerita. Kamu ada waktu dua puluh menit malam ini?" Kamu tidak sedang memberi sinyal tidak langsung. Kamu sedang memberi kesempatan yang jelas untuk dia hadir.
- Sebutkan polanya dengan lembut, tanpa menuduh. Coba katakan, "Aku sadar aku sering jadi pendengar kalau kita ngobrol, dan belakangan ini aku butuh yang lebih dua arah," daripada "kamu enggak pernah tanya soal hidupku." Kalimat pertama mengundang perubahan. Kalimat kedua mengundang pembelaan diri.
- Katakan apa yang kamu butuhkan, bukan cuma apa yang salah. "Bakal berarti banget kalau kamu sesekali nanya kabarku, seperti aku selalu nanya kabarmu" memberi dia pintu yang benar-benar bisa dilewati.
- Biarkan saja kalau terasa sedikit canggung. Keheningan sebentar setelah kamu mengatakan sesuatu yang jujur bukanlah bencana. Itu tanda seseorang sedang mencerna apa yang baru saja kamu katakan.
Setelah itu, perhatikan apa yang dia lakukan, bukan cuma apa yang dia katakan. Teman yang layak dipertahankan mungkin akan kaget, bahkan sedikit malu, lalu dia akan berusaha. Usaha itulah tandanya. Tidak perlu sempurna, dan memang tidak harus sempurna. Yang kamu cari adalah perubahan, bukan permintaan maaf yang sempurna.
Bagaimana kalau polanya tidak berubah?
Kadang kamu sudah meminta dengan jelas, dengan baik-baik, lebih dari sekali, dan tidak ada yang berubah. Percakapan tetap kembali ke dirinya. Minggu beratmu cuma dapat "wah, sedih banget" sebelum dia kembali cerita soal dirinya sendiri. Setelah beberapa waktu, kamu sudah dapat jawabanmu, dan itu jawaban yang jujur.
Kalau ini terjadi, kamu punya lebih banyak pilihan daripada sekadar "bertahan" atau "mengakhiri."
Kamu bisa mengecilkan peran orang ini tanpa perlu perpisahan dramatis. Balas pesan lebih lama. Sediakan satu jam, bukan satu sore penuh. Berhenti jadi orang yang selalu menghubungi duluan, dan lihat apa yang tersisa kalau kamu tidak melakukannya. Banyak pertemanan berat sebelah diam-diam menyesuaikan diri seperti ini, tanpa perlu ada adegan perpisahan besar.
Kamu juga bisa tetap mempertahankan pertemanan ini, tapi berhenti memperlakukan dia seolah dia adalah sosok yang bukan dirinya. Kalau seorang teman menyenangkan saat di pesta tapi tidak banyak membantu saat kamu sedang terpuruk, kamu boleh menikmati pestanya dan membawa masalahmu yang sebenarnya ke tempat lain. Tidak semua orang dibuat untuk menampung segalanya. Rasa sakit sering muncul karena mengharapkan dukungan yang dalam dari seseorang yang memang hanya pernah menawarkan yang dangkal.
Dan kadang, hal yang paling baik untuk dirimu sendiri adalah membiarkan pertemanan itu memudar. Itu tidak membuatmu jadi dingin, atau membuat dia jadi orang jahat. Orang bertumbuh ke arah yang berbeda-beda. Sebuah pertemanan bisa saja pernah nyata dan baik, dan tetap saja sudah selesai.
Sedikit soal rasa bersalah
Kalau kamu adalah tipe yang selalu memberi, kemungkinan besar kamu sudah dipuji seumur hidup karena itu. Bisa diandalkan. Tidak egois. Selalu ada saat dibutuhkan. Menarik diri bisa terasa seperti mengkhianati bagian terbaik dari dirimu sendiri.
Padahal tidak. Menjaga energimu sendiri justru yang membuatmu bisa terus berbaik hati kepada orang-orang yang membalasnya. Batasan bukanlah hukuman yang kamu berikan pada seseorang. Itu adalah garis yang menjagamu tetap utuh, cukup kuat untuk bertahan dalam pertemanan yang memang baik untukmu.
Kalau rasa terkuras dalam hubunganmu ternyata lebih dalam dari sekadar satu pertemanan, kalau kamu selalu memberi berlebihan di mana-mana dan sulit berkata tidak, atau kalau rasa kesepian dan kekesalan mulai terasa berat di dadamu hampir setiap hari, ini layak dibicarakan bersama terapis. Pola seperti itu sering berakar lebih jauh daripada satu pertemanan saja, dan seorang profesional yang tepat bisa membantumu melihat akarnya. Mencari bantuan semacam ini bukan tanda kamu gagal berteman. Justru itu cara kamu jadi lebih baik dalam berteman, termasuk bagian di mana kamu juga membiarkan dirimu dipedulikan.
Sumber
- Cleveland Clinic, How To Set Healthy Boundaries
- Mayo Clinic, Friendships: Enrich your life and improve your health
- Proceedings of the National Academy of Sciences, The balance of giving versus receiving social support and all-cause mortality in a US national sample