Langsung ke konten utama

KONEKSI · ANGKAT SUARA

Cara meminta apa yang kamu butuhkan tanpa memulai pertengkaran

Kemampuan untuk menyampaikan apa yang kamu butuhkan tanpa memicu pertengkaran itu hampir seluruhnya ditentukan di sepuluh detik pertama. Ada cara untuk mengatakan hal yang sulit, yang justru menurunkan tensi, bukan menaikkannya. Mulai dengan lembut, sampaikan satu permintaan yang jelas, dan tarik napas dulu kalau kamu sedang panas. Ini adalah keterampilan yang bisa kamu latih.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Laki-laki dan perempuan tersenyum hendak berciuman

Foto oleh Jonathan Borba di Unsplash

Kamu mungkin sudah melatihnya di kamar mandi. Hal yang perlu kamu katakan ke pasanganmu, atasanmu, ibumu, atau teman yang selalu batal janji. Kamu tahu betul apa yang ingin kamu ucapkan. Lalu momennya datang, dan entah kata-katanya keluar berantakan sampai semuanya jadi pertengkaran, atau kamu menelannya lagi dan membawanya sepanjang minggu berikutnya.

Kebanyakan orang mengira hanya ada dua pilihan itu. Meledak atau diam. Padahal bukan. Ada cara ketiga untuk melakukan ini, dan bedanya dengan dua cara lain bukan soal keberanian atau pilihan kata. Hampir semuanya ditentukan oleh sepuluh detik pertama.

Mengapa kebanyakan permintaan berubah jadi pertengkaran?

Ketika kamu akhirnya menyampaikan sesuatu yang sudah mengganggumu, otak orang lain langsung melakukan pengecekan ancaman secara otomatis, bahkan sebelum kata-katamu benar-benar dicerna. Kalau kalimat pembukamu terdengar seperti serangan, pertahanannya langsung naik, dan itu bukan lagi obrolan. Kamu masuk ke situasi tegang. Mereka membela diri, kamu makin mendesak, dan kebutuhan sebenarnya yang ingin kamu sampaikan justru terkubur oleh perdebatan soal siapa yang mulai.

Peneliti pasangan John dan Julie Gottman menghabiskan bertahun-tahun merekam cara orang benar-benar bertengkar. Salah satu temuan mereka yang paling jelas terasa hampir terlalu sederhana: sebuah percakapan cenderung berakhir dengan nada yang sama seperti saat dimulai. Kalau dibuka dengan kasar, percakapan akan berakhir setidaknya sama tegang, biasanya malah lebih parah. Kalau dibuka dengan lembut, kamu punya kesempatan sungguhan. Dalam penelitian jangka panjang mereka, cara sebuah percakapan sulit dimulai ternyata sangat menentukan bagaimana ujungnya.

Anehnya, ini kabar baik. Artinya, bagian yang paling penting justru bagian yang bisa kamu rencanakan. Kamu tidak perlu mengendalikan seluruh percakapan. Kamu hanya perlu mengendalikan cara memulainya.

Batas antara mengeluh dan menyerang

Ada satu perbedaan yang mengubah segalanya begitu kamu menyadarinya.

Keluhan berbicara soal satu hal spesifik yang terjadi. Serangan berbicara soal siapa orang itu. “Dapurnya berantakan lagi” adalah keluhan. “Kamu memang pemalas” adalah serangan. Keduanya mungkin lahir dari frustrasi yang sama, tapi mendarat di tempat yang sangat berbeda. Keluhan memberi orang lain sesuatu untuk diperbaiki. Serangan memberi mereka sesuatu untuk dipertahankan.

Pasangan Gottman menyebut versi yang lembut ini sebagai soft start-up, dan cara ini berhasil karena melewati pengecekan ancaman itu. Kamu menyebutkan situasi dan dampaknya padamu, bukan mengadili orang lain. Mereka bisa benar-benar mendengarmu, karena kamu tidak memberi mereka alasan untuk bersiap bertahan.

Jebakan yang perlu diwaspadai adalah serangan yang menyamar. “Aku merasa kamu tidak pernah mendengarkanku” terdengar seperti kalimat “aku”, tapi sebenarnya itu “kamu tidak pernah mendengarkan” yang berganti kostum, dan orang lain akan mendengarnya sebagai tuduhan, karena memang begitu adanya. Kata *merasa* tidak bisa menyucikan sebuah penghakiman. Kalau yang muncul setelah “aku merasa” sebenarnya adalah putusan tentang siapa mereka, itu tetap sebuah serangan.

Bentuk sederhana untuk menyampaikan permintaan

Kalau kamu tidak tahu harus mulai dari mana, ada baiknya punya sebuah pola untuk berpegangan. Cleveland Clinic mengajarkan pola tiga bagian yang jelas, dan para klinisi terus memakai versi-versi darinya karena pola ini membuatmu tetap berada di jalurmu sendiri, bukan berdebat soal jalur orang lain. Tiga langkahnya:

  1. Sebutkan situasinya. Cukup fakta, secara jelas. “Tiga akhir pekan terakhir, rencana kita berubah di menit-menit terakhir.” Bukan tafsiranmu soal alasannya. Hanya hal yang benar-benar terjadi.
  2. Ceritakan bagaimana itu berdampak padamu. Ini adalah perasaanmu, bagian yang tidak bisa dibantah siapa pun. Orang bisa membantah faktanya, tapi mereka tidak bisa bilang kamu tidak merasa disisihkan, lelah, atau tidak penting. Mulai dengan “aku”. “Aku merasa seperti bukan prioritas.”
  3. Sampaikan permintaanmu, secara spesifik. Ini langkah yang sering dilewatkan orang, padahal ini intinya. Jangan biarkan mereka menebak apa yang bisa membantu. “Bisa nggak kita pastikan hari Sabtu dari beberapa hari sebelumnya?” Permintaan yang jelas adalah hadiah. Itu memberi tahu orang lain persis bagaimana caranya membuat keadaan lebih baik bersamamu.

Banyak percakapan berantakan di antara langkah dua dan tiga. Kamu sudah mengeluarkan perasaanmu, orang lain merespons, dan tiba-tiba kamu malah memperdebatkan reaksi mereka, bukan menyampaikan apa yang sebenarnya ingin kamu minta. Kalau ini terjadi, kamu bisa kembali ke awal. Pola ini adalah tempat untuk kembali ketika keadaan mulai goyah.

Perhatikan apa yang tidak ada di sini: tidak ada tuduhan, tidak ada “selalu”, tidak ada “tidak pernah”, tidak ada pengulangan enam kejadian sebelumnya. Kamu hanya menceritakan satu hal, satu perasaan, satu permintaan. Kesempitan fokus inilah yang mencegahnya melebar menjadi pertengkaran tentang segalanya.

Sebelum kamu membuka mulut

Ada beberapa hal yang membuat permintaanmu sampai jauh lebih baik, dan kebanyakan terjadi sebelum kamu mengucapkan sepatah kata pun.

Pilih waktunya. Kalimat yang sama yang berjalan baik pada suatu malam Selasa yang tenang bisa langsung meledak kalau salah satu dari kalian lapar, kelelahan, atau sudah kesal soal hal lain. Kalau perasaanmu masih panas, beri jeda sebentar. Salah satu psikolog Cleveland Clinic menyarankan kadang menunggu satu atau dua hari, supaya kamu berbicara dari kejernihan pikiran, bukan dari emosi yang meluap. Kebutuhanmu tidak akan hilang besok, dan kamu akan menyampaikannya dengan lebih baik.

Ketahui apa yang sebenarnya kamu minta. “Aku mau kamu lebih peduli” bukan sesuatu yang bisa dilakukan siapa pun. “Aku ingin dikirimi pesan kalau kamu terlambat lebih dari lima belas menit” bisa. Semakin jelas permintaannya, semakin mudah untuk diiyakan.

Perhatikan bahasa tubuhmu, bukan cuma kata-katamu. Suara yang tenang, posisi berdiri yang mantap, dan bahu yang santai berkata *aku di sini bukan untuk bertengkar* lebih keras daripada kalimat apa pun. Kalau kamu mondar-mandir dan tegang, orang lain akan membaca ancaman itu sebelum mendengar isinya.

Dan izinkan dirimu berkata tidak ketika tiba gilirannya. Mayo Clinic mencatat bahwa banyak stres muncul karena menanggung terlalu banyak hal hanya karena tidak bisa menolak. “Tidak, aku tidak bisa menangani itu sekarang” adalah jawaban yang lengkap. Kamu tidak berutang satu paragraf pembenaran untuk melindungi waktumu sendiri.

Mengapa ini sepadan dengan rasa tidak nyamannya?

Meminta sesuatu bisa terasa egois. Banyak dari kita diam-diam diajari bahwa hal yang baik, mudah, dan membuat kita disayang adalah dengan membutuhkan lebih sedikit dan menampung lebih banyak. Jadi kita jadi pasif, menelan permintaan itu, dan menyebutnya sebagai “tidak merepotkan”.

Harganya muncul kemudian. Kebutuhan yang tidak diucapkan tidak begitu saja menguap. Semua itu berubah jadi kekesalan yang terpendam, jadi kata-kata tajam yang tiba-tiba keluar entah dari mana, jadi jarak yang perlahan tumbuh tanpa bisa kamu jelaskan. Mayo Clinic menempatkan sikap asertif sebagai keterampilan nyata untuk mengelola stres, dan itu memang benar. Mengatakan hal yang jujur dengan baik, sejak awal, hanya menghabiskan beberapa menit rasa tidak nyaman. Tidak mengatakannya menghabiskan hubunganmu, sedikit demi sedikit.

Bersikap asertif bukan berarti bersikap agresif. Agresi menerjang orang lain demi mendapatkan yang diinginkan. Sikap pasif menghapus diri sendiri demi menjaga kedamaian. Sikap asertif melakukan hal yang lebih sulit namun lebih baik: ia mengakui kebutuhanmu dan kebutuhan orang lain sebagai sama-sama nyata. Kamu berhak menginginkan sesuatu. Mereka berhak mengatakan tidak. Percakapan itulah caranya kamu mengetahui jawabannya.

Mulai dari hal-hal kecil yang risikonya rendah. Kembalikan pesanan kopi yang salah. Bilang ke teman kamu lebih suka hari Minggu daripada Sabtu. Latihan-latihan kecil ini membangun otot yang kamu butuhkan untuk percakapan yang benar-benar membuatmu takut. Kamu bukan belajar memenangkan perdebatan. Kamu belajar untuk dikenali.

Bagaimana jika permintaan itu bukan masalah sebenarnya?

Terkadang bukan tekniknya yang jadi masalah. Kalau meminta hal paling kecil sekalipun membuatmu dipenuhi rasa takut, atau kalau selama ini bersuara justru selalu berujung dihukum, dibungkam, atau disakiti, ini layak diambil serius, bukan dihadapi sendirian. Terapis yang baik bisa membantumu memahami dari mana rasa takut itu berasal, dan berlatih di tempat yang aman. Dan kalau ada bagian dari dirimu yang merasa tidak aman untuk jujur pada orang tertentu, percayai sinyal itu. Beberapa situasi membutuhkan dukungan dan rencana, bukan sekadar kalimat pembuka yang lebih baik. Mencari bantuan dalam situasi itu bukan tanda lemah nyali. Itu justru langkah yang asertif.

Sumber

  1. Mayo Clinic, Being assertive: Reduce stress, communicate better
  2. Cleveland Clinic, How To Become More Assertive
  3. The Gottman Institute, How to Fight Smarter: Soften Your Start-Up

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi