Langsung ke konten utama

KONEKSI · MENDENGARKAN

Cara menjadi pendengar yang lebih baik tanpa mencoba memperbaiki segalanya

Menjadi pendengar yang lebih baik, tanpa harus buru-buru memperbaiki semuanya, sebagian besar soal kebiasaan kecil yang bisa kamu latih. Banyak dari kita langsung mencari solusi begitu seseorang cerita soal masalahnya. Hasilnya biasanya malah kurang pas dari yang kita harapkan. Berikut cara benar-benar mendengarkan seseorang, dan alasan kenapa menahan diri dari memberi solusi justru hal paling membantu yang bisa kamu lakukan.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Pasangan beradu mulut sambil duduk di sofa.

Foto oleh Vitaly Gariev di Unsplash

Jika kamu sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri, kamu tidak sendirian. Di AS, telepon atau SMS 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), SMS HOME ke 741741 (Crisis Text Line), atau telepon 911 dalam keadaan darurat. Di mana pun kamu berada di dunia, findahelpline.com memuat daftar layanan krisis yang gratis dan rahasia di negaramu sendiri dan dalam bahasamu sendiri. Kalau kamu sedang dalam bahaya langsung, hubungi nomor darurat setempat.

Orang yang kamu sayangi sedang cerita tentang harinya yang berat. Baru setengah jalan, kamu sudah punya jawabannya. Sudah coba ngomong sama atasan? Coba deh pasang batasan. Kamu harus benar-benar temui ahli soal itu. Kata-kata itu keluar sebelum kamu sempat memikirkannya, dan kamu melihat lawan bicaramu jadi agak meredup. Mereka cuma ingin kamu mengerti. Yang kamu beri malah daftar tugas.

Ini terjadi pada hampir semua orang, dan biasanya berasal dari rasa sayang. Saat orang yang kita sayangi sedang terluka, kita pun merasakan ketidaknyamanan itu, dan mencari solusi adalah cara kita menghentikan rasa tidak nyaman tersebut. Masalahnya, solusi instan sering membuat orang lain merasa perasaannya dianggap masalah yang harus diselesaikan, bukan sesuatu yang layak untuk dihayati bersama. Akhirnya mereka berhenti cerita. Bukan karena saranmu salah. Tapi karena mereka belum selesai merasa didengar.

Mendengarkan dengan baik itu sebuah keterampilan, dan seperti kebanyakan keterampilan lainnya, ia dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa kamu latih. Berikut ini yang benar-benar bikin perbedaan.

Kenapa solusi cepat malah jadi bumerang?

Ada asumsi diam-diam di balik kebiasaan memberi saran: bahwa tujuan sebuah percakapan adalah mencapai hasil. Kadang memang begitu. Tapi seringnya tidak. Kebanyakan orang sebenarnya sudah tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Yang mereka butuhkan adalah rasa bahwa ada orang yang mengerti kenapa itu terasa berat.

Saat kamu langsung melompat ke solusi, beberapa hal jadi salah sekaligus. Kamu memberi sinyal bahwa kamu sudah berhenti mendengarkan dan mulai menyiapkan penilaian. Kamu menyiratkan bahwa masalah itu lebih sederhana daripada yang mereka rasakan. Dan kamu menaruh dirimu selangkah di atas mereka, seolah kamu ahli yang tenang menghadapi kekacauan mereka, padahal jarang ada orang yang ingin merasa seperti itu di tengah pergumulannya.

Para klinisi yang meneliti hal ini menggambarkan mendengarkan aktif sebagai proses dua arah, dan bagian besar darinya adalah menahan penilaian, mendengar seluruh pesan sebelum kamu menanggapi. Bagian terakhir itu lebih penting daripada yang terlihat. Kebanyakan dari kita mulai menyusun jawaban saat orang lain masih bicara, artinya kita sudah tidak benar-benar mendengarkan lagi. Kita cuma menunggu giliran.

Mendengarkan itu lebih aktif dari yang terlihat

Ada gambaran lama tentang pendengar yang baik: orang yang duduk tenang, mengangguk, dan tidak ikut campur. Penelitian membuat gambaran itu tidak sesederhana itu. Dalam sebuah studi terhadap ribuan orang, peneliti kepemimpinan Jack Zenger dan Joseph Folkman menemukan bahwa pendengar yang dinilai paling baik bukanlah mereka yang diam menyerap setiap kata seperti spons. Mereka lebih seperti trampolin: menerima apa yang disampaikan, lalu memberikan sesuatu kembali yang menambah energi pada percakapan. Orang-orang yang dianggap pendengar terbaik mengajukan pertanyaan yang perlahan membuka ruang, dan membuat percakapan terasa aman dan mendukung, bukan seperti sebuah tes.

Ini mengubah cara kita memandang tugas mendengarkan. Kamu tidak sedang berusaha menghilang. Kamu sedang membantu orang lain berpikir dan merasakan jalannya sendiri melewati apa yang ada di benak mereka. Rasa ingin tahu bisa melakukan itu. Saran biasanya malah menutup itu.

Jadi, apa yang sebaiknya kamu lakukan?

Ini semua bukan berarti kamu harus jadi terapis atau tidak boleh sama sekali memberi pemikiran yang berguna. Artinya, dahulukan pemahaman, dan biarkan bantuan datang belakangan, kalau memang dibutuhkan. Beberapa hal yang benar-benar membantu:

  1. Simpan ponselmu, benar-benar simpan. Bukan sekadar dibalik di meja. Sampai tidak terlihat. Ponsel yang terlihat pun, secara diam-diam, memberi tahu orang lain bahwa sebagian dirimu ada di tempat lain. Cleveland Clinic menyampaikan ini dengan tegas: jika ponsel itu ada di sana, orang yang bicara akan membacanya sebagai tanda bahwa kata-katanya tidak terlalu penting.
  2. Ulangi kembali apa yang kamu dengar, dengan kata-katamu sendiri. Kalimat sederhana seperti "jadi kedengarannya kamu merasa kaget banget sama itu" punya dua fungsi. Ini membuktikan kamu benar-benar memperhatikan, dan memberi kesempatan bagi mereka untuk mengoreksi kalau kamu salah menangkap. Langkah ini, merefleksikan dan memparafrasekan, muncul di hampir semua panduan serius tentang mendengarkan, dan bukan tanpa alasan.
  3. Ajukan satu pertanyaan terbuka, bukan satu jawaban. "Bagian apa yang paling berat buat kamu?" atau "Kamu berharap apa yang terjadi?" menjaga pintu tetap terbuka. Pertanyaan tertutup dan saran, keduanya cenderung menutup pintu itu.
  4. Biarkan keheningan ada. Diam bukan masalah yang harus segera diisi. Orang sering mengucapkan hal paling jujur beberapa detik setelah momen kamu biasanya buru-buru menyahut. Kalau kamu bisa menahan diri diam sejenak, kamu memberi ruang untuk itu muncul.
  5. Sadari saat kamu mulai defensif atau bosan, lalu reset diri. Tugasmu saat itu adalah memahami, bukan memenangkan argumen atau merasa benar. Menyadari ini dalam hati, meski cuma diam-diam, membantu kamu kembali fokus.

Kamu akan menyadari, tidak satu pun dari poin-poin ini adalah "berikan saran yang bagus". Itu memang tujuannya. Saran, kalau memang diinginkan, hampir selalu lebih diterima setelah orang itu merasa dipahami, dan seringnya, mereka ternyata tidak membutuhkannya.

Hal-hal yang diam-diam merusak semuanya

Ada baiknya kamu mengenali kebiasaan-kebiasaan yang bisa membuat orang menutup diri, karena kebanyakan dari kita melakukannya tanpa sadar. Perhatikan ini dalam dirimu sendiri:

  • Membalas dengan cerita yang "lebih besar". "Ah, itu belum apa-apa, tahun lalu aku pernah ngalami," dan tiba-tiba kamu sudah cerita soal dirimu sendiri. Rasanya seperti berempati. Kedengarannya seperti mengambil alih. Percakapan itu milik mereka, biarkan tetap milik mereka.
  • Menenangkan terlalu cepat. "Pasti baik-baik aja kok" bisa terdengar seperti pintu yang tertutup. Ini memberi kesan kekhawatiran mereka tidak boleh ada di ruangan itu. Kamu bisa tetap optimis tanpa mendorong mereka melewati perasaan itu terlalu cepat.
  • Menginterogasi. Deretan pertanyaan cepat mengubah percakapan jadi seperti pemeriksaan. Satu pertanyaan terbuka yang baik, lalu beri ruang, lebih berarti daripada lima pertanyaan beruntun.
  • Sanggahan diam-diam. Mengangguk-angguk sambil wajahmu sibuk menyiapkan bantahan. Orang bisa merasakan itu. Kalau kamu sudah berhenti mendengarkan dan mulai menyusun argumen, mereka tahu.

Semua ini tidak membuatmu orang jahat. Ini membuatmu manusia biasa. Solusinya sebagian besar hanyalah menyadari dirimu sendiri, dan memilih rasa ingin tahu daripada reaksi, satu kali lebih sering dari kemarin.

Cara sederhana untuk bertanya

Ada satu kalimat kecil yang bisa mencegah banyak hal ini terjadi. Saat seseorang membawa sesuatu yang berat kepadamu, tanyakan: "Kamu mau aku cuma dengerin aja, atau mau bantu mikirin ini bareng-bareng?" Rasanya terlalu sederhana untuk berhasil. Tapi ini berhasil. Ini mengembalikan pilihan ke tangan orang yang benar-benar punya masalah itu, dan menghindarkanmu dari salah menebak.

Kebanyakan waktu, terutama di awal percakapan yang berat, orang akan bilang mereka cuma ingin didengarkan. Percayai kata-kata mereka. Solusi bisa menunggu, dan seringnya, itu tidak pernah benar-benar dibutuhkan.

Bagaimana kalau mendengarkan saja tidak cukup?

Mendengarkan adalah pemberian yang berharga, tapi punya batas. Kalau seseorang terus-menerus bilang mereka merasa tanpa harapan, tidak aman, atau seperti tidak bisa melanjutkan hidup, itu sudah di luar jangkauan percakapan yang baik saja, dan hal paling penuh kasih yang bisa kamu lakukan adalah membantu mereka menjangkau dukungan yang nyata, bukan membiarkan mereka memikulnya sendiri. Tetaplah bersama mereka, anggap serius, dan bantu mereka terhubung dengan dokter, terapis, atau layanan krisis. Kamu tidak perlu punya kata-kata yang sempurna. Kamu hanya perlu tidak membiarkan mereka menghadapinya sendirian.

Dan kalau kamu adalah orang yang selalu mendengarkan tapi tidak pernah merasa didengarkan balik, itu juga layak untuk diakui. Menjadi pendengar yang setia untuk orang lain seharusnya tidak membuatmu kehilangan dukungan untuk dirimu sendiri. Hubungan yang paling sehat saling bergantian mendengarkan.

Lain kali saat orang yang kamu sayangi mulai bercerita, coba lakukan lebih sedikit dari yang biasanya ingin kamu lakukan. Diam sedikit lebih lama. Tanyakan satu pertanyaan lagi. Tahan dulu solusinya. Kamu mungkin akan menyadari bahwa benar-benar didengar adalah bantuan yang mereka cari sejak awal.

Sumber

  1. Harvard Business Review, What Great Listeners Actually Do
  2. Cleveland Clinic, 7 Ways To Improve Your Active Listening Skills
  3. StatPearls (NIH/NCBI Bookshelf), Active Listening

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi