Langsung ke konten utama

HUBUNGAN · KEDEKATAN

Cara menyambung kembali setelah kalian saling menjauh

Menyambung kembali setelah renggang itu caranya sama seperti saat renggangnya terjadi: lewat momen-momen kecil, yang dilakukan dengan sengaja. Renggang jarang terjadi dalam satu momen. Ia terjadi lewat ratusan momen kecil yang hampir tak kamu sadari, dan renggang bukan berarti selesai. Ini caranya untuk mulai lagi: kirim pesan yang selama ini hampir kamu kirim, hidupkan lagi satu kebiasaan kecil yang dulu kalian jalani bersama, tanyakan hal yang benar-benar ingin kamu tahu, lalu dengarkan.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Seorang pria dan seorang perempuan duduk di sebuah bangku

Foto oleh Olga Nayda di Unsplash

Tidak ada yang sengaja memilih untuk menjauh. Tidak ada pagi di mana kamu bangun lalu memutuskan untuk merasa seperti teman sekamar, atau menjadikan sahabat yang dulu kamu telepon setiap hari sekadar orang yang kamu kirimi ucapan saat ulang tahun. Ini terjadi diam-diam, di balik kesibukan hidup. Beberapa kali lupa saling kabar. Beberapa malam yang dihabiskan dengan scroll ponsel masing-masing. Berbulan-bulan bersikap sopan, bukan dekat. Lalu suatu hari kamu menatap wajah di seberang meja, atau nama di ponselmu yang sudah setahun tak kamu sentuh, dan kamu merasakan jaraknya.

Kalau kamu sedang merasakan jarak itu sekarang, ini hal pertama yang perlu diketahui: menjauh bukan berarti berakhir. Itu cuma gambaran keadaan saat ini, bukan vonis tentang bagaimana keadaan harus tetap begitu. Proses pelan yang membuat kalian menjauh, bisa juga dijalankan mundur. Bedanya, kali ini harus dilakukan dengan sengaja, karena tidak ada satu pun bagian dari hidup modern yang akan melakukannya untukmu.

Tulisan ini membahas caranya memulai.

Kenapa kedekatan bisa memudar padahal tidak ada yang bertengkar?

Yang membuat rasa menjauh ini terasa membingungkan adalah biasanya tidak ada kejadian besar yang salah. Tidak ada pengkhianatan, tidak ada pertengkaran hebat, tidak ada alasan yang jelas. Jadi kamu terus mencari penyebabnya dan tidak menemukannya, sehingga mudah menyimpulkan bahwa masalahnya ada pada hubungan itu sendiri, atau pada dirimu, atau pada mereka.

Kebanyakan penyebab sebenarnya jauh lebih sederhana dari itu. Kedekatan dibangun dari momen-momen kecil yang berulang, momen saling memperhatikan. Begitu momen-momen itu berhenti, kedekatan perlahan meredup dengan sendirinya.

Psikolog John Gottman telah menghabiskan puluhan tahun mengamati pasangan di sebuah apartemen risetnya, dan salah satu temuannya yang paling sering dikutip adalah soal sesuatu yang ia sebut "bid", ajakan untuk terhubung. Bid adalah gerakan kecil apa pun ke arah orang lain. Komentar soal cuaca. Video lucu yang ditunjukkan padamu. Helaan napas yang sebenarnya bertanya bagaimana harimu. Setiap bid adalah pertanyaan kecil: apakah kamu ada untukku? Kamu bisa menyambutnya, dengan merespons penuh kehangatan atau perhatian, atau mengabaikannya begitu saja.

Ini bagian yang mengejutkan. Dalam riset Gottman, pasangan yang masih bersama dan bahagia bertahun-tahun kemudian, ternyata saling menyambut bid sekitar 86 persen dari waktu mereka bersama. Pasangan yang berpisah, hanya berhasil melakukannya sekitar sepertiga dari waktu itu. Bedanya bukan soal romantisme besar. Bedanya adalah apakah mereka menyadari hal-hal kecil itu dan hadir untuknya.

Itulah sebenarnya arti "menjauh". Bukan perpisahan mendadak, melainkan ribuan momen kecil di mana seseorang berpaling, yang tidak disadari siapa pun saat itu. Ponsel saat makan malam. "Nanti cerita ya" yang tidak pernah jadi kenyataan. Bid yang dikirim ke udara tanpa ada yang menangkapnya. Kumpulkan cukup banyak momen seperti itu, dan dua orang yang saling menyayangi bisa berakhir menjalani hidup yang sejajar, secara teknis dekat, tapi sebenarnya sendiri-sendiri.

Sisi baiknya: kalau jarak ini terbentuk dari momen-momen kecil yang terlewat, jarak itu juga bisa ditutup dengan momen-momen kecil yang ditangkap. Kamu tidak perlu momen reuni yang dramatis. Kamu cuma butuh pola yang berbeda, mulai sekarang.

Kekuatan-kekuatan biasa yang membuat orang menjauh

Ada baiknya kamu mengenali apa yang sebenarnya sedang kamu hadapi, karena menjauh biasanya bukan salah siapa pun. Hidup diam-diam mengatur dirinya sendiri untuk melawan kedekatan.

Coba pikirkan apa yang mengisi minggu-minggu biasamu. Pekerjaan yang merembes hingga malam. Anak-anak, atau orang tua yang menua, atau keduanya sekaligus. Seratus urusan mengelola hidup, janji temu, cucian, tagihan, yang menyita ruang untuk obrolan yang sebenarnya tidak wajib. Layar yang selalu ada dalam jangkauan tangan dan selalu sedikit lebih mudah diakses daripada orang di sebelahmu. Tidak satu pun dari ini yang bermusuhan dengan hubunganmu. Semuanya hanya lebih ramai, lebih berisik dari hubungan itu, dan yang paling ramai biasanya menang.

Fase hidup juga melakukan ini. Orang tua baru menjauh karena kelelahan dan harus menjatah setiap sisa tenaga. Sahabat lama menjauh karena salah satu pindah, punya anak, atau ganti pekerjaan, dan ritme mudah yang dulu menyatukan kalian rusak dan tidak pernah dibangun kembali. Pernikahan yang panjang bisa merenggang di masa anak-anak sudah dewasa dan pergi dari rumah, ketika proyek bersama yang selama ini mengatur hari-hari kalian tiba-tiba selesai, dan kalian saling menatap bertanya-tanya sekarang mau membicarakan apa lagi.

Melihat kekuatan ini sebagai hal yang wajar, mengurangi rasa sakitnya. Kamu tidak lalai dan mereka tidak berhenti menyayangimu. Kalian berdua sama-sama sibuk, dan kesibukan itu perlahan mengikis kedekatan dengan cara yang tidak pernah diperingatkan siapa pun. Cara pandang ini penting karena mengubah percakapan dalam kepalamu, dari "apa yang salah dari hubungan kami" menjadi "apa yang ingin kami lindungi dari segala hal lain." Pertanyaan kedua inilah yang bisa kamu tindak lanjuti.

Mulailah lebih kecil dari yang terasa berarti

Ketika orang memutuskan untuk terhubung kembali, mereka sering langsung mengambil langkah besar. Obrolan mendalam. Liburan akhir pekan. Surat panjang yang menyebutkan semua yang salah. Kadang cara-cara itu membantu. Lebih sering, cara-cara itu justru runtuh karena beratnya sendiri, sebab dua orang yang sudah menjauh belum punya pijakan untuk percakapan berat, dan satu usaha besar tetap tidak bisa membalikkan ketidakhadiran kecil selama berbulan-bulan.

Ambil arah sebaliknya. Mulailah dari hal yang begitu kecil, sampai terasa seperti tidak berarti apa-apa.

  • Kirim pesan yang selama ini nyaris kamu kirim. Bukan laporan panjang tentang keadaanmu. Cukup "kepikiran kamu hari ini" atau "ini bikin aku ketawa, jadi ingat kamu." Ringan, tanpa maksud tersembunyi.
  • Hidupkan kembali satu kebiasaan kecil. Ngopi bareng di pagi hari. Jalan santai setelah makan malam. Telepon rutin di hari Minggu. Kebiasaan bekerja diam-diam karena tidak bergantung pada perasaan terinspirasi di momen itu.
  • Tangkap satu bid setiap hari. Cukup sadari saat orang itu membuat gerakan kecil ke arahmu, dan sambutlah. Angkat kepala. Letakkan ponsel. Tanyakan lebih lanjut. Satu per hari lebih cepat bertambah dari yang kamu duga.
  • Berikan apresiasi yang spesifik. Bukan "kamu hebat," yang mudah terlupakan begitu saja. Sesuatu yang tepat: "aku perhatikan kamu menghadapi telepon dari mama dengan sabar banget tadi." Yang spesifik itulah yang benar-benar terasa.

Alasan memulai dari hal kecil bukan soal kesederhanaan. Ini soal cara kerjanya. Kedekatan adalah kebiasaan, dan kebiasaan dibangun kembali lewat pengulangan, bukan intensitas. Sapaan singkat dua menit yang tulus setiap hari akan lebih berarti dari satu malam penuh perasaan sekali dalam beberapa bulan. Kamu tidak sedang mencoba memperbaikinya malam ini. Kamu sedang mencoba mengubah arahnya, pelan-pelan.

Bersikaplah ingin tahu, bukan merasa yakin sudah tahu

Ada jebakan yang menjerat hampir semua orang yang pernah menjauh dari seseorang yang dulu dekat dengannya. Kamu menganggap kamu masih mengenalnya. Kamu membawa gambaran di kepalamu tentang siapa dia terakhir kali kalian benar-benar sejalan, dan kamu memperlakukan gambaran itu, bukan orang yang sebenarnya ada di depanmu sekarang.

Padahal orang berubah selama masa kamu tidak memperhatikan. Mereka punya kekhawatiran baru, ketertarikan baru, pendapat baru, cara baru melihat diri mereka sendiri. Orang di hadapanmu sekarang bukan lagi persis orang yang dulu menjauh darimu. Ini bisa terasa seperti kehilangan. Tapi ini juga sebuah peluang.

Perlakukan mereka seperti seseorang yang sungguh layak untuk kamu kenal kembali, karena memang begitu. Ajukan pertanyaan yang sungguhan dan benar-benar tunggu jawabannya. Apa yang lagi ada di pikiranmu belakangan ini? Apa yang lagi kamu sukai sekarang yang aku belum tahu? Apa yang terasa berat tahun ini? Rasa ingin tahu melakukan dua hal sekaligus. Ini memberimu informasi yang akurat tentang siapa orang ini sekarang, dan mengirim pesan yang jelas: kamu berarti cukup besar bagiku sampai aku ingin mengenalmu, versimu yang sekarang, bukan kenangan tentangmu.

Ada versi yang lebih diam dari ini, yang tetap berhasil bahkan saat kata-kata terasa terlalu berat. Lakukan sesuatu bersama yang dulu kalian sering lakukan, atau sesuatu yang belum pernah kalian coba berdua. Kegiatan bersama menanggung banyak beban yang tidak bisa dipikul percakapan. Masak bersama, jalan-jalan naik mobil, mulai proyek bareng, datang ke acara itu. Orang sering menemukan bahwa obrolan yang tidak bisa dipaksakan malah muncul dengan sendirinya begitu tangan mereka sibuk dan tekanan saling menatap langsung hilang. Kamu sedang membangun kembali pengalaman sederhana menjadi satu tim, dan pengalaman itulah yang membentuk kedekatan.

Kapan kamu butuh obrolan yang lebih besar?

Kadang momen-momen kecil saja tidak cukup, karena ada sesuatu yang spesifik mengganjal di antara kalian. Luka lama yang tidak pernah disebutkan. Kekesalan yang diam-diam terus berjalan di latar belakang. Perbedaan nyata yang selama ini kalian hindari karena menyebutkannya terasa berisiko. Menghindar terasa lebih aman dalam jangka pendek, dan biasanya justru itulah yang memperlebar jarak seiring waktu.

Kalau ada percakapan yang selama ini kamu hindari, beberapa hal ini bisa membuatnya berjalan lebih baik.

Pilih momen ketika kalian berdua cukup tenang dan tidak sedang buru-buru pergi. Bicaralah dari pengalamanmu sendiri, bukan tuduhan. "Aku merasa jauh dari kamu belakangan ini dan aku kangen" membuka pintu. "Kamu nggak pernah luangkan waktu buat aku" menutup pintu itu. Yang pertama mengundang mereka masuk. Yang kedua membuat mereka bersikap defensif, dan orang yang bertahan tidak bisa terhubung kembali.

Lalu lakukan bagian yang lebih sulit: dengarkan apa yang mereka katakan tanpa buru-buru memperbaiki atau membela diri. Kamu mungkin mendengar bahwa mereka juga merasakan jarak itu, bahkan mungkin lebih lama darimu. Itu bukan tuduhan. Itu justru hal yang selama ini sama-sama kalian tunggu untuk diucapkan. Sering kali, hanya dengan jujur bahwa kalian saling merindukan, itulah momen terhubung kembali. Obrolan itu bukan rintangan sebelum kedekatan datang. Obrolan itu sendiri adalah kedekatan yang sedang datang.

Kenapa ini layak diperjuangkan?

Mudah saja membiarkan jarak ini terus melebar. Menghubungi kembali butuh keberanian, dan hubungan itu sepertinya sudah cukup baik-baik saja walau timpang tanpa usaha itu. Tapi hubungan yang dekat bukan kemewahan tambahan di atas hidup yang sehat. Hubungan yang dekat adalah bagian dari fondasi hidup yang sehat itu sendiri.

Riset soal ini sulit diabaikan. Menurut CDC, hubungan sosial yang kuat dikaitkan dengan risiko lebih rendah terkena penyakit serius, termasuk penyakit jantung, stroke, dan depresi, dan orang dengan ikatan yang lebih kuat cenderung hidup lebih lama dan lebih sehat. Kedekatan bukan cuma baik untuk hati dalam artian puitis. Ini juga baik untuk jantung secara harfiah. Orang-orang yang kamu rasa dekat, sedang melakukan kerja nyata untuk kesehatan dan kestabilanmu, seringkali tanpa kalian berdua sadari.

Itulah kenapa jarak ini layak dihentikan sebelum mengeras menjadi permanen. Sebagian besar hubungan yang membuat orang berduka saat kehilangannya, tidak berakhir dengan pertengkaran. Semuanya berakhir dalam diam, dalam rentetan momen kecil di mana seseorang berpaling, yang tidak dimaksudkan siapa pun dan tidak dihentikan siapa pun.

Kapan sebaiknya kamu mencari bantuan lebih?

Kebanyakan menjauh yang biasa merespons baik terhadap usaha yang biasa juga: momen-momen kecil, kata-kata jujur, sedikit kesabaran terhadap satu sama lain dan terhadap dirimu sendiri. Beberapa situasi membutuhkan lebih dari itu, dan menyadarinya adalah kekuatan, bukan kegagalan.

Kalau percakapan menyakitkan yang sama terus terulang tanpa ada perubahan, terapis pasangan bisa membantumu menemukan pola di baliknya dan mencoba sesuatu yang baru. Kalau usahamu untuk menghubungi malah menabrak tembok rasa jijik, sikap menutup diri, atau perasaan terus-menerus merasa kecil di dekat orang ini, hal-hal itu layak ditanggapi serius, dan seorang profesional bisa membantumu memilah mana yang masih bisa diperbaiki dan mana yang tidak. Dan kalau jarak yang kamu rasakan adalah bagian dari kelelahan yang lebih luas, di mana sebagian besar hal terasa datar atau jauh dan menghubungi kembali terasa mustahil untuk kamu kumpulkan tenaganya, itu bisa jadi tanda depresi, bukan masalah hubungan, dan layak dibicarakan dengan dokter atau terapis tentang dirimu, bukan cuma tentang hubunganmu.

Menjangkau kembali seseorang adalah tindakan yang diam-diam berani. Kamu tidak bisa mengontrol apakah mereka akan menjangkau balik. Yang bisa kamu lakukan adalah memberi bid itu, hari ini, dan melihat siapa yang menyambutnya. Sering kali, itu saja sudah cukup untuk memulai.

Sumber

  1. The Gottman Institute, Want to Improve Your Relationship? Start Paying More Attention to Bids
  2. Psych Central, How to Reconnect After Growing Apart: 8 Relationship Tips
  3. Centers for Disease Control and Prevention, About Social Connection

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi