Langsung ke konten utama

PACARAN & CINTA BARU · MEMUTUSKAN

Bertahan atau pergi? Berpikir jernih tentang hubungan yang baru

Berpikir jernih tentang apakah kamu harus tetap atau pergi dimulai dengan sebuah kelegaan: separuh orang yang disurvei merasa benar-benar terombang-ambing. Setelah beberapa bulan berjalan, keraguan pun muncul, dan itu bisa sulit dibaca. Yang kamu butuhkan bukan kepastian mutlak. Berikut cara yang lebih tenang untuk melihat apa yang sedang kamu hadapi, memilah sinyal yang nyata dari kebisingan, dan membuat keputusan yang bisa kamu pertanggungjawabkan.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Seorang pria dan seorang perempuan berdiri bersebelahan

Foto oleh Marius Muresan di Unsplash

Biasanya ini dimulai sebagai pertanyaan kecil dan tenang yang enggak bisa kamu lepaskan begitu saja. Sebagian besar hal-hal baik-baik saja. Tapi tetap saja, ada bagian dari dirimu yang terus bertanya apakah ini benar. Kamu memutar ulang sebuah percakapan di kepala. Kamu mengetik pesan panjang ke teman lalu menghapusnya lagi. Kamu bertanya-tanya apakah keraguan ini artinya ada yang salah, atau keraguan memang cuma bagian dari rasanya cinta di masa awal, buat semua orang.

Pertama, ada sedikit kelegaan buat kamu: merasa enggak yakin bukan berarti kamu gagal dalam hubungan ini. Para peneliti yang mempelajari bagaimana orang memutuskan untuk bertahan atau tidak dengan pasangannya menemukan bahwa sekitar separuh dari orang yang mereka survei punya alasan nyata untuk bertahan dan alasan nyata untuk pergi, di waktu yang sama. Penelitian itu, yang dipimpin oleh psikolog Samantha Joel, menemukan 27 alasan berbeda yang disebutkan orang untuk bertahan, dan 23 alasan untuk pergi. Separuh dari mereka benar-benar merasa terombang-ambing. Jadi kalau kamu membawa satu “ya” dan satu “tidak” di dada yang sama, kamu enggak sendirian, ini sangat normal.

Yang kamu butuhkan bukan kepastian. Kepastian jarang datang tepat waktu, dan menunggunya bisa membuatmu terjebak selama bertahun-tahun. Yang kamu butuhkan adalah berpikir jernih soal ini, cukup jernih sampai pilihan yang kamu buat benar-benar milikmu, bukan sekadar jalan termudah yang memilih untukmu.

Kenapa ini rasanya sulit dipahami?

Hubungan yang baru itu ramai, penuh gejolak. Sistem sarafmu bekerja keras di banyak hal sekaligus: rasa senang, keterikatan, dan rasa takut yang wajar kalau-kalau kamu salah langkah. Belum lagi, bulan-bulan awal itu seperti sasaran yang terus bergerak. Kamu masih belajar mengenal orang ini saat dia lelah, stres, atau kecewa, dan dia juga sedang belajar hal yang sama tentang kamu.

Penelitian yang sama juga menemukan hal yang berguna. Kalau hal-hal baik dan hal-hal berat timpang jauh, keputusan biasanya terasa jelas. Yang bikin sakit itu justru yang nyaris seimbang. Kalau plus dan minusnya kurang lebih setara, kamu terjebak dalam rasa ambivalen itu, dan rasa ambivalen itu mulai terasa seperti sebuah keputusan akhir. Padahal bukan. Itu cuma bunyi dari situasi yang memang benar-benar punya dua sisi.

Ada juga tarikan diam-diam untuk bertahan, sekadar karena bertahan lebih mudah daripada pergi. Semakin lama kamu berada di dalamnya, semakin berat tarikan itu. Ini penting untuk disadari, supaya kamu bisa membedakan antara *aku memang mau ini* dan *aku cuma enggak mau menghadapi percakapan yang berat.*

Bedakan yang enggak bisa ditawar dari yang cuma bagian dari proses tumbuh

Enggak semua masalah punya bobot yang sama, dan menganggapnya setara adalah cara paling cepat untuk terus bingung. Akan membantu kalau kamu memisahkan mana yang biasanya masih bisa diselesaikan, dan mana yang biasanya enggak.

Beberapa gesekan itu memang harga yang harus dibayar ketika dua orang sungguhan mencoba dekat. Ritme yang berbeda. Pertengkaran pertama yang canggung. Mencari tahu seberapa sering harus chattingan. Satu minggu yang berantakan. Ini biasanya cuma proses tumbuh, dan proses tumbuh bisa dibicarakan baik-baik.

Ada juga pola-pola lain yang lebih berat, dan pantas diperhatikan serius sejak awal. Peneliti hubungan John Gottman menghabiskan puluhan tahun mengamati pasangan-pasangan, dan menemukan empat kebiasaan komunikasi yang begitu merusak sampai ia menyebutnya “Four Horsemen”: kritik yang menyerang karakter orang, bukan perilaku tertentu, sikap meremehkan (contempt), sikap defensif, dan stonewalling (menutup diri dan jadi dingin). Dari keempatnya, ia menemukan bahwa sikap meremehkan, seperti sarkasme, ejekan, memutar mata sebagai tanda sinis, membuat pasangan merasa kecil, adalah prediktor paling kuat bahwa sebuah hubungan enggak akan bertahan.

Ada satu pembeda dari penelitiannya yang benar-benar bikin jelas. Keluhan itu soal sesuatu yang terjadi: “Aku jadi cemas waktu kamu enggak membalas pesan dan aku enggak tahu kamu baik-baik saja atau enggak.” Kritik menyerang orangnya: “Kamu egois banget, enggak pernah mikirin aku.” Kebanyakan pasangan mengeluh, itu wajar. Pola yang perlu diwaspadai adalah ketika keluhan soal masalah bergeser jadi saling menyerang.

Jadi kalau muncul kekhawatiran, kamu bisa bertanya pada dirimu dengan pertanyaan yang lebih tajam daripada *apakah ini buruk?* Tanyakan: apakah ini masalah yang sedang kami selesaikan, atau cara kami memperlakukan satu sama lain?

Beberapa pertanyaan jujur untuk direnungkan

Kamu enggak butuh spreadsheet. Kamu cuma butuh beberapa pertanyaan yang akan kamu jawab dengan jujur, kalau bisa ditulis, supaya perasaan yang berisik enggak terus mengacak-acak jawabannya.

  1. Bagaimana perasaanku terhadap diriku sendiri dalam hubungan ini? Bukan soal perasaanku terhadap dia, tapi bagaimana perasaanku tentang *diriku sendiri* saat bersamanya, dan di jam-jam setelahnya. Apakah aku terasa lebih seperti diriku, atau justru kurang? Lebih tenang, atau lebih gelisah?
  2. Bisa enggak aku membicarakan hal yang berat dengan dia? Kalau ada yang mengganggu, apakah aku merasa cukup aman untuk menyampaikannya, dan apakah itu benar-benar didengar? Atau aku malah memperkecil percakapan supaya enggak terjadi keributan?
  3. Apakah kepercayaan ini bergerak ke arah yang benar? Di awal, kepercayaan memang wajar kalau belum sepenuhnya utuh. Pertanyaannya adalah apakah kepercayaan itu perlahan tumbuh lewat janji-janji kecil yang ditepati, atau justru diam-diam terkikis.
  4. Apakah aku bereaksi terhadap dia, atau terhadap sesuatu yang lebih lama? Kadang pasangan saat ini jadi sasaran dari luka lama yang belum sembuh. Ini penting untuk dijujuri, dari dua arah.
  5. Kalau ini terjadi pada sahabat dekatku, apakah aku ingin dia bertahan? Kita seringkali jauh lebih jernih melihat hidup orang lain daripada hidup sendiri. Pinjam kejernihan itu buat dirimu sendiri.

Perhatikan apa yang sebenarnya kamu ukur. Kamu bukan sedang menilai apakah dia sempurna. Kamu sedang memeriksa apakah hubungan ini baik untuk dirimu, sosok yang kamu jadi di dalamnya.

Seperti apa biasanya hubungan yang stabil itu?

Mudah banget terjebak cuma fokus ke red flags dan lupa apa yang sebenarnya kamu tuju. Cleveland Clinic menjelaskan ciri-ciri hubungan yang sehat dengan bahasa yang lebih sederhana dibanding industri romansa biasanya: saling menghormati dan batasan yang nyata, kepercayaan yang tumbuh dari waktu ke waktu, komunikasi yang tetap kuat saat keadaan sulit, kebaikan yang membuatmu merasa aman dan diprioritaskan, serta cukup ruang untuk tetap menjadi dirimu sendiri yang utuh, dengan teman-teman dan tujuan hidupmu sendiri.

Poin terakhir itu lebih penting daripada yang orang kira. Hubungan yang baik menambah warna dalam hidupmu. Bukan diam-diam mengecilkannya.

Semua ini enggak berarti hubungan harus berjalan tanpa usaha. Hubungan yang sehat juga butuh usaha. Bedanya, usaha itu diarahkan untuk membangun sesuatu bersama, bukan untuk mengatur-atur supaya kamu diperlakukan dengan baik.

Sebelum kamu memutuskan, apa pun pilihannya

Keputusan yang dibuat saat emosi memuncak biasanya akan dipertimbangkan ulang nanti, jadi beri dirimu sedikit jarak dulu.

  • Bicaralah dengan orangnya secara langsung, kalau itu aman untuk dilakukan. Banyak keraguan datang dari percakapan yang cuma berlangsung di kepalamu, bukan diucapkan. Hal yang kamu takut untuk disampaikan seringkali justru hal yang perlu disampaikan.
  • Minta satu sudut pandang dari luar, dari orang yang benar-benar menginginkan yang terbaik untukmu, bukan orang yang cuma ingin kamu lajang atau cuma ingin kamu segera menetap.
  • Perhatikan pola, bukan mood sesaat. Satu malam yang buruk itu cuma data, bukan seluruh cerita. Pola yang terus berulang selama berminggu-minggu, itu yang perlu dipertimbangkan.
  • Bayangkan enam bulan lagi persis seperti ini, tanpa perubahan besar. Kalau bayangan itu membuatmu lega, itu artinya sesuatu. Kalau bayangan itu membuatmu ngeri, itu juga artinya sesuatu.

Kapan kamu perlu mencari bantuan lebih lanjut?

Sebagian dari ini lebih besar daripada sekadar daftar plus-minus, dan kamu enggak harus menghadapinya sendirian. Kalau kamu terus berputar di keputusan yang sama selama berbulan-bulan dan enggak bisa maju, seorang terapis bisa membantumu mendengar pikiranmu sendiri dengan lebih jernih. Kalau hubungan ini mulai mengganggu tidurmu, nafsu makanmu, rasa percaya dirimu tentang siapa kamu, atau caramu hadir untuk orang-orang yang kamu sayangi, itu layak dibicarakan bersama profesional.

Dan tolong, buat garis tegas soal keselamatan. Kalau pasangan mengontrol ke mana kamu boleh pergi atau siapa yang boleh kamu temui, terus mendesak walau kamu sudah bilang tidak, membuatmu takut, atau menyakitimu secara fisik, emosional, maupun finansial, itu bukan teka-teki bertahan-atau-pergi yang harus kamu selesaikan sendiri. Bantuan yang rahasia itu ada, dan meraihnya adalah tindakan yang kuat dan penuh kesadaran.

Apa pun yang kamu pilih nanti, biarlah itu keputusan yang benar-benar kamu buat, dengan mata terbuka, bukan sesuatu yang terjadi begitu saja saat kamu menunggu untuk merasa yakin. Kamu boleh memilih hubungan ini. Kamu juga boleh memilih dirimu sendiri.

Sumber

  1. University of Utah, Should I Stay or Go? (research by Samantha Joel)
  2. The Gottman Institute, The Four Horsemen: Criticism, Contempt, Defensiveness, and Stonewalling
  3. Cleveland Clinic, 12 Signs You're in a Healthy Relationship

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi