Ada rasa nyeri tersendiri yang datang dari saudara kandung yang hubungannya sudah renggang. Bukan orang asing, bukan mantan. Orang yang dulu berbagi kamar mandi, nama keluarga, dan orang tua yang sama di hari-hari sulit yang sama. Kamu bisa berbulan-bulan tidak bicara, tapi tetap saja, saat lagu tertentu diputar atau hari raya tiba, kamu merasakan kursi kosong yang dulu ditempatinya.
Mungkin semuanya berakhir karena satu pertengkaran besar. Mungkin juga perlahan menipis selama bertahun-tahun sampai kamu sadar tidak ingat lagi kapan terakhir kali kalian benar-benar mengobrol. Apa pun yang terjadi, kalau kamu sedang membaca ini, ada bagian dirimu yang bertanya-tanya, mungkinkah ini bisa berbeda? Pertanyaan itu layak untuk diseriusi.
Pertama, hal yang jarang diucapkan orang secara terbuka: ini hal yang umum. Sebuah survei nasional terhadap lebih dari 1.300 warga Amerika yang dipimpin peneliti Cornell, Karl Pillemer, menemukan bahwa sekitar seperempat orang dewasa hidup dengan keretakan keluarga, dan sekitar 8% terputus hubungan dengan saudara kandung. Apa pun yang terjadi antara kamu dan saudaramu, kamu bukan pengecualian yang aneh. Kamu bagian dari klub yang sangat besar, dan sangat sunyi.
Kenapa keretakan dengan saudara kandung terasa begitu dalam?
Ikatan dengan saudara kandung itu tidak biasa. Bagi kebanyakan orang, ini adalah hubungan terpanjang yang akan pernah mereka miliki, dimulai sebelum ingatan terbentuk dan bertahan lebih lama dari orang tua, bahkan sering lebih lama dari pernikahan. Kalian berbagi sejarah yang tidak dimiliki siapa pun lagi di dunia ini. Ketika hubungan itu rusak, yang hilang bukan cuma satu orang. Rasanya seperti kehilangan saksi atas seluruh hidupmu.
Sejarah itu jugalah yang membuat perbaikan hubungan jadi sulit. Kalian berdua membawa puluhan tahun "bukti" yang terkumpul tentang satu sama lain. Peran-peran lama ditentukan sejak kecil dan menempel seperti label basah. Si anak yang bertanggung jawab. Si biang masalah. Si anak kesayangan. Si anak yang tak pernah dilihat. Kamu bisa berusia empat puluh lima tahun dan tetap kembali merasa jadi anak sebelas tahun begitu kakakmu memakai nada bicara itu.
Para peneliti yang mempelajari keluarga menunjuk beberapa hal yang cenderung membuat saudara kandung dewasa saling menjauh. Ketegangan yang berakar dari masa kecil, termasuk cara orang tua menerapkan disiplin dan apakah salah satu anak jelas-jelas dianakemaskan. Uang dan warisan, terutama saat orang tua menua atau sakit keras. Ipar dan pasangan baru yang menggeser keseimbangan lama. Dan perbedaan sederhana soal nilai hidup atau bagaimana masing-masing pihak merasa yang lain seharusnya bersikap. Kalau keretakanmu punya lebih dari satu benang ini yang terjalin, itu juga wajar. Biasanya memang saling kusut.
Ada alasan kenapa ini penting bagi kesehatanmu, bukan cuma bagi hatimu. Riset pada orang dewasa yang lebih tua menemukan bahwa kualitas hubungan dengan saudara kandung terkait dengan rasa kesepian, dan lewat itu, terkait juga dengan depresi dan kecemasan. Sisi baiknya, ada kabar yang lebih lembut. Hubungan yang hangat dengan saudara kandung bisa jadi perlindungan nyata dari rasa sendirian di dunia ini, terutama seiring kalian berdua menua dan lingkaran orang yang mengenalmu sejak muda makin menyusut.
Peran yang diberikan padamu sejak kecil
Ini hal yang terus muncul dalam riset tentang saudara kandung. Dinamika yang membuatmu terjebak sekarang seringkali terbentuk sejak masa kecil, dan orang tua ikut berperan di dalamnya. Ilmuwan keluarga yang mempelajari saudara kandung menemukan bahwa rasa dianakemaskan, perasaan bahwa ayah atau ibu lebih menyayangi atau lebih memercayai satu anak, adalah salah satu prediktor terkuat konflik yang bertahan sampai dewasa. Kalau sejak kecil kamu yakin adikmu adalah anak emas, keyakinan itu tidak menguap begitu saja di usia dua puluh satu. Ia hanya bersembunyi dan diam-diam mengendalikan hubungan kalian dari sana.
Bagian yang berguna dari mengetahui ini adalah, sebuah peran bukanlah fakta. Itu cerita yang diulang-ulang oleh keluarga sampai semua orang mulai hidup di dalamnya. "Dia memang tidak bertanggung jawab." "Dia memang suka bikin drama." "Aku yang selalu menjaga semuanya tetap utuh." Saat kamu mencoba menyambung hubungan lagi, kamu akan merasakan gravitasi label-label lama itu menarik kalian berdua kembali ke peran masing-masing. Kamu bisa menyadari tarikan itu tanpa harus menurutinya.
Ada juga temuan yang lebih tenang dan penuh harapan, yang patut dipegang. Para peneliti menunjuk titik-titik peralihan alami, sebuah pernikahan, bayi baru lahir, orang tua yang sakit, kepindahan, sebagai peluang saat saudara kandung sering kali mengevaluasi ulang dan memilih untuk berbeda. Kehilangan bersama bisa membuka kembali pintu yang selama ini ditutup oleh gengsi. Kalau hidup baru saja memberimu salah satu momen itu, mungkin ini waktu yang lebih tepat untuk menghubungi mereka daripada yang kamu kira.
Sebelum menghubungi, jujurlah pada diri sendiri dulu
Menyambung kembali hubungan tidak selalu langkah yang tepat, dan perbaikan yang baik dimulai darimu, bukan dari mereka. Ada beberapa pertanyaan yang layak direnungkan lebih dulu.
Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Hubungan yang utuh, dengan hari raya dan telepon rutin? Atau cukup ketenangan agar kamu tidak lagi tegang setiap kali namanya disebut? Itu dua tujuan yang berbeda, dan butuh percakapan yang berbeda pula. Menginginkan versi yang lebih kecil itu boleh saja.
Apakah ini aman? Ini satu-satunya hal yang perlu kamu tegaskan. Kalau hubungan itu melibatkan kekerasan, kekejaman yang terus berulang, atau seseorang yang secara konsisten membuat keadaanmu makin buruk, menyambung kembali bukan kewajiban, dan tidak ada hadiah moral untuk kembali masuk ke dalam api. Melepaskan bisa jadi pilihan yang sehat. Bagian selanjutnya dari tulisan ini ditujukan untuk banyak keretakan yang menyakitkan, tapi tidak berbahaya.
Apa bagianmu? Hampir tidak ada keretakan hubungan yang sepenuhnya salah satu pihak, bahkan ketika satu orang memang paling banyak menimbulkan kerusakan. Kamu tidak harus memikul kesalahan yang bukan milikmu. Tapi ada baiknya menemukan satu atau dua hal yang benar-benar akan kamu lakukan berbeda, karena itulah bagian yang sungguh bisa kamu kendalikan.
Seperti apa perbaikan yang sesungguhnya?
Ketika tim Pillemer mewawancarai orang-orang yang berhasil bangkit dari keretakan keluarga, beberapa pola muncul berulang kali. Tak satu pun dari pola itu ajaib. Semuanya bisa dilakukan.
Berhenti berusaha memenangkan masa lalu
Ciri yang paling umum di antara orang-orang yang berhasil berdamai adalah mereka berhenti bertengkar untuk menentukan versi sejarah siapa yang benar. Kamu mungkin tidak akan pernah sepakat soal apa yang sebenarnya terjadi di pernikahan itu, siapa yang memulai, atau apakah orang tuamu memang lebih menyayangi salah satu dari kalian. Orang-orang yang berhasil menyambung kembali hubungannya kebanyakan berhenti bermain hakim. Mereka memutuskan bahwa hubungan ke depan lebih berharga daripada vonis atas masa lalu. Itu bukan berarti berpura-pura sakit hati itu tidak pernah terjadi. Itu berarti menolak menjadikan pengungkitan kembali luka lama sebagai syarat untuk melanjutkan hubungan.
Kecilkan ekspektasi dengan sengaja
Banyak perbaikan hubungan yang berhasil justru berjalan dengan "mesin" yang lebih kecil daripada yang mereka harapkan semula. Alih-alih menuntut ikatan yang dekat dan penuh kepercayaan seperti yang selalu mereka inginkan, mereka menerima sosok saudara yang sesungguhnya ada, dengan segala kekurangannya, dan membangun sesuatu yang nyata meski sederhana. Hubungan yang menyenangkan saat berkumpul dan saling mengabari beberapa kali setahun bukanlah kegagalan. Bagi banyak keluarga, itu justru sebuah kemenangan sejati.
Tetapkan batasan dengan jelas
Perbaikan hubungan cenderung bertahan ketika kedua pihak jelas soal apa yang akan dan tidak akan termasuk di dalamnya. Kamu bisa menyayangi saudaramu dan tetap menyatakan topik mana yang tidak boleh dibahas, seberapa sering kontak yang terasa nyaman, dan apa yang tidak akan kamu toleransi lagi. Batasan di sini bukan tembok. Itu adalah syarat yang justru membuat pintu tetap bisa terbuka.
Cara mengambil langkah pertama
Menghubungi lebih dulu adalah bagian yang paling menakutkan. Beberapa hal yang bisa membantu:
- Mulai dari yang kecil dan ringan. Sebuah pesan singkat atau kartu ucapan lebih baik daripada surat empat halaman yang mendaftar seluruh sejarah hubungan kalian. "Aku belakangan ini jadi kepikiran kamu. Aku ingin ngobrol kalau kamu terbuka untuk itu." Itu sudah cukup untuk membuka pintu tanpa memaksa siapa pun melewatinya.
- Arahkan kontak pertama pada masa kini dan masa depan, bukan bedah masa lalu. Hal-hal berat bisa dibahas nanti, secara langsung, saat sudah ada sedikit kepercayaan sebagai pijakan.
- Pilih momen, bukan vonis. Ngopi bareng. Jalan-jalan. Telepon dengan batas waktu yang jelas. Tekanan yang rendah membuat kalian berdua lebih mudah hadir sebagai orang dewasa, bukan sebagai diri kalian saat masih kecil.
- Mulai dengan satu kalimat jujur tentang bagianmu sendiri, kalau memang ada. "Aku tahu aku menghilang cukup lama, dan aku minta maaf soal itu" bisa berdampak lebih besar daripada daftar kesalahan mereka.
- Lepaskan hasil akhirnya. Kamu bisa mengendalikan undangannya. Kamu tidak bisa mengendalikan apakah mereka menerimanya, seberapa cepat, atau apakah semuanya berjalan seperti yang kamu bayangkan. Kirimkan pesan yang membuatmu tenang meski sudah terkirim, lalu beri ruang bagi mereka untuk bersikap manusiawi soal itu.
Duka punya ritmenya sendiri, begitu juga kepercayaan. Saudara yang pernah terluka mungkin perlu waktu untuk memikirkan ide ini sebelum mau mendekat lagi. Lambat bukan berarti tidak.
Kalau mereka tidak mau
Kamu bisa melakukan semuanya dengan benar dan tetap mendapat kebisuan sebagai balasan. Perbaikan butuh dua orang, dan kamu hanya mengendalikan satu di antaranya. Ini bagian yang berat untuk diterima, jadi perlu dikatakan dengan jelas: penolakan mereka bukan penilaian atas harga dirimu, dan bukan akhir dari ketenanganmu.
Ketika pintu tetap tertutup, yang perlu berubah adalah dari upaya memperbaiki hubungan menjadi upaya menjalani dukamu sendiri. Yang sedang kamu ratapi itu nyata, kadang lebih tentang sosok saudara yang kamu harapkan ketimbang saudara yang benar-benar kamu miliki. Sebutlah itu apa adanya. Orang yang terus memperlakukan keretakan ini sebagai keadaan darurat yang belum selesai, terus mengecek, berharap, memuat ulang, cenderung tetap terjebak di dalamnya. Orang yang membiarkan dirinya berduka biasanya menemukan bahwa rasa sakit itu melunak menjadi sesuatu yang bisa mereka bawa.
Akan membantu kalau kamu memperluas lingkaranmu selagi menunggu, atau sebagai gantinya. Riset yang sama yang mengaitkan hubungan saudara kandung yang buruk dengan kesepian, juga menunjukkan betapa besar peran kesepian itu dalam memperparah dampaknya. Jadi rawatlah hubungan-hubungan yang masih terbuka bagimu. Sahabat dekat, sepupu, keluarga pilihan yang selalu hadir. Tak satu pun dari mereka bisa menggantikan seorang kakak atau adik. Tapi mereka mengingatkan sistem sarafmu bahwa kamu sebenarnya tidak sendirian di dunia ini. Pengingat itu melindungi, dan kamu tidak perlu mendapatkannya dari orang yang tidak mau memberikannya.
Biarkan pintu tidak terkunci tanpa harus berjaga di depannya. Orang bisa berubah. Keadaan bisa berubah. Penolakan tahun ini tidak selalu berarti penolakan selamanya. Kamu bisa memberi tahu saudaramu, sekali saja dan tanpa tekanan, bahwa kamu ada di sini kalau suatu hari mereka ingin bicara, lalu jalani hidup yang utuh yang tidak bergantung pada jawaban mereka.
Kapan sebaiknya mencari bantuan?
Ada keretakan yang terlalu lama, terlalu menyakitkan, atau terlalu kusut untuk diurai sendirian, dan itu bukan kegagalan usaha. Terapis keluarga bisa membantumu melihat pola yang membuat kalian berdua terjebak, memilah mana yang jadi tanggung jawabmu untuk diperbaiki dan mana yang bukan, serta melakukan percakapan yang selama ini kamu hindari tanpa harus meledak. Terapi juga bisa sama bergunanya saat pintu tetap tertutup. Kalau saudaramu tidak bersedia atau hubungan itu tidak aman, terapis yang baik bisa membantumu meratapi hubungan yang kamu inginkan dan berhenti memikulnya sendirian sebagai beban pribadi.
Carilah dukungan itu lebih cepat daripada menunda, kalau keretakan ini terasa berat menekanmu, kalau ini menarikmu ke depresi atau kecemasan yang terus-menerus, atau kalau setiap usaha untuk bicara selalu berakhir kacau dengan cara yang sama. Kamu tidak perlu tahu dulu apakah rekonsiliasi ini mungkin terjadi untuk pantas mendapat bantuan dalam memikulnya.
Apa pun keputusanmu, kamu tidak berutang akhir cerita yang sempurna kepada siapa pun. Hubungan saudara kandung yang pulih adalah satu hasil yang baik. Hubungan yang lebih kecil dan lebih tenang juga baik. Begitu pula ketenangan hati yang jernih dengan kenyataan bahwa hubungan ini memang tidak akan kembali. Tujuannya bukan untuk memaksakan rujuk. Tujuannya adalah agar kesunyian itu berhenti mengendalikan hidupmu.
Sumber
- American Psychological Association, Improving sibling relationships
- The Conversation, Family rifts affect millions of Americans, research shows possible paths from estrangement toward reconciliation
- Cornell Chronicle, Pillemer: Family estrangement a problem 'hiding in plain sight'
- National Library of Medicine (PMC), Sibling Relationships in Older Adulthood: Links with Loneliness and Well-being