Mungkin itu nama di ponsel yang sudah tidak lagi terasa aman. Mungkin itu rasa mules di perut saat seseorang yang baru dikenal bersikap terlalu baik, terlalu cepat. Setelah sebuah akhir yang menyakitkan, kamu bisa merindukan kedekatan sekaligus menahan diri darinya di saat yang sama. Sebagian dirimu merasa kesepian. Bagian lain, diam-diam, sudah memutuskan untuk tidak akan lengah lagi.
Bagian kedua itu bukan sesuatu yang rusak. Ia sedang menjalankan tugasnya.
Ketika cinta berakhir karena pengkhianatan, atau tergerus perlahan, atau perpisahan yang tidak kamu pilih sendiri, pikiranmu mencatat semuanya. Ia menyimpan apa yang menyakitkan agar bisa memperingatkanmu lain kali. Percaya terasa berbahaya karena terakhir kali, kepercayaan itu membuatmu kehilangan sesuatu yang nyata. Jadi sebelum bicara soal cara membuka diri lagi, ada baiknya kita pahami dulu sebenarnya apa arti sikap waspadamu itu. Itu bukan cacat dalam dirimu. Itu bentuk perlindungan yang bertahan lebih lama dari yang seharusnya.
Duka datang lebih dulu, sebelum kepercayaan
Orang sering melewati bagian ini begitu saja, lalu bingung kenapa tidak ada yang terasa lebih baik. Berakhirnya sebuah hubungan adalah kehilangan, dan kehilangan butuh diratapi. Cleveland Clinic menjelaskannya dengan sederhana: duka setelah putus cinta punya banyak kemiripan dengan duka setelah kematian. Kamu tidak hanya kehilangan seseorang. Kamu kehilangan masa depan yang sudah setengah kamu bangun dalam kepala, lelucon-lelucon khusus berdua, dan versi dirimu saat bersamanya.
Duka tidak bergerak dalam garis yang rapi. Kamu bisa merasa baik-baik saja hari Selasa, lalu hancur hari Kamis hanya karena sebuah lagu di minimarket. Penyangkalan, amarah, tawar-menawar, kesedihan, dan sesuatu seperti penerimaan cenderung berputar dan bertumpang tindih, bukan datang berurutan. Tidak ada jangka waktu pasti, dan siapa pun yang memberimu satu, sebenarnya hanya menebak.
Inilah alasannya ini penting untuk kepercayaan. Kamu tidak bisa melompati duka begitu saja untuk kembali percaya. Kepercayaan tumbuh kembali di tanah yang sama tempat kehilangan itu dibiarkan ada. Kalau dukanya dipendam, penjagaanmu akan tetap berdiri sendiri, karena sebagian dirimu tahu lukanya belum pernah benar-benar dirawat.
Sebenarnya, apa itu "trust issues"?
Istilah itu sering dilempar seperti hinaan. Padahal bukan. Yang orang sebut trust issues biasanya adalah sistem saraf yang belajar dari pelajaran berat, lalu menerapkannya sedikit terlalu luas.
Kalau hubungan terakhirmu mengajarkan bahwa kedekatan berujung pada rasa sakit, pikiranmu akan menggeneralisasi. Keterlambatan biasa dari orang baru terbaca sebagai awal dari ditinggalkan. Kebaikan kecil terbaca sebagai jebakan. Kamu bukan sedang paranoid. Kamu sedang memutar rekaman lama di wajah yang baru, dan kadang sulit membedakan mana yang mana, di saat itu terjadi.
Tujuannya bukan mematikan ini sepenuhnya. Orang yang sama sekali tidak berhati-hati bukan berarti sudah pulih, ia justru rentan. Tujuannya adalah menurunkan volumenya ke tingkat yang sesuai dengan ruang tempat kamu berada sekarang, bukan ruang yang sudah kamu tinggalkan.
Mulai dari orang yang bisa kamu latih dulu: dirimu sendiri
Sebelum bisa percaya pada orang lain lagi, akan sangat membantu untuk percaya pada dirimu sendiri dulu. Akhir yang menyakitkan sering meninggalkan luka kedua yang diam-diam: "Kenapa aku tidak lihat tanda-tandanya? Kenapa aku bertahan? Apa aku masih bisa percaya penilaianku sendiri?" Keraguan diri itu bisa membekas lebih lama daripada putus cintanya sendiri, karena ia ikut ke mana pun kamu pergi.
Di sinilah self-compassion benar-benar bekerja, dan penelitiannya lebih kuat dari yang terdengar. University of Rochester Medical Center, mengacu pada karya psikolog Kristin Neff, menjelaskan self-compassion sebagai tiga hal sekaligus: bersikap baik pada diri sendiri alih-alih keras, mengingat bahwa berjuang adalah bagian dari menjadi manusia, bukan cacat pribadi, dan menyadari perasaan berat tanpa tenggelam di dalamnya atau menyingkirkannya begitu saja. Orang yang memperlakukan dirinya seperti ini cenderung membawa lebih sedikit kecemasan, depresi, dan stres, serta lebih cepat bangkit dari hal-hal berat.
Beberapa contoh dalam praktiknya:
- Saat mulai menyalahkan diri sendiri, tanyakan apa yang akan kamu katakan pada teman baik yang mengalami situasi persis sepertimu. Lalu katakan itu pada dirimu sendiri, kalau bisa, ucapkan dengan suara keras. Jarak antara cara kita bicara pada teman dan cara kita bicara pada diri sendiri sering kali sangat jauh.
- Perhatikan janji-janji kecil yang kamu tepati pada dirimu sendiri. Tidur tepat waktu seperti yang kamu janjikan. Tidak mengirim pesan ke orang yang sudah kamu bersumpah tidak akan dihubungi lagi. Setiap janji yang ditepati adalah satu bata dalam fondasi kepercayaan pada diri sendiri.
- Berhenti menginterogasi dirimu di masa lalu. Kamu sudah mengambil keputusan terbaik dengan apa yang kamu tahu saat itu. Melihat ke belakang bukan bukti bahwa kamu buruk dalam menilai orang.
Kamu sedang membangun kembali keyakinan bahwa kamu akan membela dirimu sendiri lain kali. Keyakinan itulah yang membuat kamu merasa aman untuk mengambil risiko lagi.
Merawat kehilangan sambil ia pulih
Kepercayaan tumbuh lebih cepat ketika sisi lain dirimu stabil. Hal-hal dasarnya terdengar hampir terlalu sederhana untuk disebutkan, dan justru itulah kenapa orang sering melewatkannya saat sedang paling terluka.
Cleveland Clinic dan HelpGuide sampai pada daftar yang sama, tidak muluk-muluk, karena memang terbukti ampuh:
- Biarkan dirimu merasakannya. Menangis, menulis jurnal, menyebut amarahmu dengan nama, semua itu bukan tanda lemah. Duka yang dihindari tidak akan hilang. Ia hanya bersembunyi dan diam-diam mengendalikan keputusanmu dari sana.
- Jaga rutinitas. Tidur, makan, bergerak, sedikit sinar matahari. Ketika dunia batinmu kacau, rutinitas luar yang bisa diprediksi memberi tubuhmu sesuatu yang kokoh untuk berpijak.
- Bersandarlah pada orang-orang yang terasa aman. Katakan bagian-bagian yang memalukan dengan suara keras pada orang yang tidak akan mengernyit. Kesendirian akan menceritakan kisah yang meyakinkan bahwa kamu satu-satunya yang pernah merasakan ini. Padahal tidak.
- Pelan-pelan dengan kedekatan baru. Tidak ada hadiah untuk siapa yang paling cepat percaya, dan hubungan pelarian yang dibangun di atas luka yang belum sembuh biasanya hanya membuka luka itu lagi.
Membiarkan seseorang masuk, satu hal jujur pada satu waktu
Kepercayaan bukan saklar yang kamu nyalakan begitu merasa siap. Kamu tidak akan pernah merasa benar-benar siap. Kepercayaan dibangun lewat eksperimen-eksperimen kecil yang aman untuk dilalui.
Bagikan sesuatu yang sedikit rentan dan lihat bagaimana orang itu menanggapinya. Apakah dia tetap baik? Apakah dia ingat? Perhatikan apa yang orang lakukan seiring waktu, bukan hanya apa yang mereka katakan di saat suasana sedang baik. Perhatikan apakah kata-kata dan tindakannya sejalan selama berminggu-minggu, bukan apakah dia bisa memikatmu lewat satu kali makan malam. Kepercayaan yang dibangun dengan cara ini lebih tenang dan jauh lebih sulit goyah.
Akan sangat membantu untuk menyebut sikap waspadamu, bukan menyembunyikannya. "Aku benar-benar suka ini, dan aku agak lambat untuk percaya setelah hubungan terakhirku" bukanlah tanda bahaya. Bagi orang yang stabil, itu justru informasi berharga, dan cara dia merespons akan memberitahumu banyak hal. Orang yang tepat tidak butuh kamu untuk sepenuhnya terbuka di hari pertama. Dia bersedia mendapatkannya perlahan-lahan.
Kamu akan tetap merasa takut. Rekaman lama akan tetap sesekali muncul. Tugasnya bukan berhenti merasakan takut itu. Tugasnya adalah berhenti membiarkan rasa takut itu ikut memutuskan setiap hal.
Kapan sebaiknya mencari bantuan lebih lanjut?
Beberapa luka terlalu dalam untuk dilalui sendiri, dan mencari bantuan adalah tanda kekuatan, bukan kegagalan. Jika kesedihan tidak kunjung mereda setelah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, jika kamu kesulitan makan, tidur, atau menjalani hari-hari biasa, jika kamu mendapati dirimu mati rasa dengan zat tertentu atau menjauh dari semua orang, itu adalah tanda untuk bicara dengan dokter atau terapis. Hal yang sama berlaku jika hubungan masa lalu melibatkan kekerasan atau pengkhianatan yang terus kamu alami kembali dalam ingatan, atau jika putus cinta ini membuatmu merasa putus asa untuk bisa baik-baik saja lagi. Terapis yang baik bisa membantumu memisahkan rekaman lama dari kenyataan sekarang, dengan langkah yang tidak akan membebanimu.
Percaya lagi bukan berarti melupakan apa yang terjadi atau berpura-pura kamu tidak pernah terluka. Artinya, rasa sakit itu berhenti menjadi satu-satunya yang mengendalikan. Kamu tetap boleh membawa apa yang kamu pelajari, sambil tetap membiarkan pintu terbuka. Bukan terbuka lebar. Cukup terbuka bagi orang yang tepat untuk masuk saat dia sudah menunjukkan, seiring waktu, bahwa dia aman.
Sumber
- Cleveland Clinic, How To Get Over a Breakup: 11 Tips for Healing
- Cleveland Clinic, Understanding the 5 Stages of Grief After a Breakup
- University of Rochester Medical Center, Self-Compassion and Your Mental Health
- HelpGuide, Coping with a Breakup or Divorce