Jika kamu sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri, kamu tidak sendirian. Di AS, telepon atau SMS 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), SMS HOME ke 741741 (Crisis Text Line), atau telepon 911 dalam keadaan darurat. Di mana pun kamu berada di dunia, findahelpline.com memuat daftar layanan krisis yang gratis dan rahasia di negaramu sendiri dan dalam bahasamu sendiri. Kalau kamu sedang dalam bahaya langsung, hubungi nomor darurat setempat.
Ada satu jenis pagi tertentu yang datang setelah putus cinta. Kamu bangun, dan selama sekitar tiga detik semuanya normal. Lalu semua itu datang lagi. Orangnya sudah tidak ada, rencananya sudah tidak ada, masa depan yang setengah kamu bangun di kepala juga sudah tidak ada, dan kamu tetap harus bangun dan menjalani hari.
Kalau itu yang sedang kamu rasakan sekarang, kami senang kamu ada di sini. Dua minggu pertama biasanya adalah bagian yang paling berat. Bukan karena kamu lemah atau melakukannya dengan salah, tapi karena memang begitu cara kerja dirimu di dalam. Tulisan ini soal melewati hari-hari itu. Bukan soal "menyelesaikannya", bukan soal "melupakannya", hanya soal melewatinya. Itu sudah cukup untuk sekarang.
Kenapa rasanya sesakit ini?
Penting untuk tahu bahwa rasa sakit ini bukan tanda kamu rusak atau berlebihan. Putus cinta adalah kehilangan yang nyata, dan otakmu memperlakukannya seperti itu.
Saat peneliti di Rutgers, dipimpin antropolog Helen Fisher, memasukkan orang-orang yang baru saja ditolak ke dalam alat pemindai otak dan menunjukkan foto orang yang meninggalkan mereka, hasil pemindaian menyala di area yang berkaitan dengan penghargaan, motivasi, dan keinginan kuat (craving). Area yang sama yang aktif saat kecanduan. Itu bukan kiasan. Kehilangan orang yang kamu lekat secara emosional bisa membuat otakmu berada dalam kondisi yang mirip putus zat (withdrawal), itulah kenapa kamu bisa merasa gelisah, terobsesi, tidak bisa makan atau tidur, mengecek profilnya jam dua pagi meski kamu sendiri tahu itu tidak baik. Kamu tidak menyedihkan. Kamu sedang kekurangan sesuatu yang tubuhmu benar-benar rasakan.
Ada temuan yang lebih melegakan di penelitian yang sama. Semakin banyak hari yang berlalu sejak penolakan itu, semakin tenang pula sirkuit kelekatan di otak. Waktu memang benar-benar bisa mengecilkan volumenya. Di hari ketiga rasanya tidak seperti itu. Tapi itu sedang terjadi, perlahan, di dalam, baik kamu bisa merasakannya sekarang atau belum.
Ini juga soal tubuh, bukan hanya pikiran
Banyak orang terkejut betapa fisiknya rasa sakit putus cinta ini. Nafsu makanmu menghilang, atau makanan jadi tak berasa apa-apa. Tidurmu berantakan, kamu terjaga mengulang-ulang percakapan yang sama, atau kamu tidur sepuluh jam tapi bangun tetap lelah. Dadamu terasa sesak. Perutmu mulas. Kamu tidak bisa fokus membaca satu paragraf email. Semua itu bukan karena kamu rapuh. Itu adalah beban stres dan withdrawal yang sama yang terlihat di pemindaian otak, hanya saja kali ini muncul di tubuh yang harus membawanya sepanjang hari.
Penting untuk disebut karena, di saat-saat seperti ini, gejala-gejala tersebut bisa terasa seperti bukti bahwa ada yang sangat salah dengan dirimu. Tidak. Itu adalah respons normal atas kehilangan yang nyata, dan itu akan mereda seiring minggu berjalan. Sambil menunggu, perlakukan tubuhmu dengan lembut, seperti saat kamu sedang flu. Turunkan standar. Makan makanan sederhana kalau itu yang bisa kamu lakukan. Minum air putih. Tidur siang saja. Maafkan dirimu untuk pekerjaan yang tidak bisa kamu fokuskan. Kamu sedang pulih dari sesuatu, meski tidak ada gips yang bisa menunjukkannya.
Apa yang sebenarnya harus kamu lakukan minggu ini (dan apa yang tidak)?
Mari buat ini sekecil mungkin, karena semuanya terasa berat sekarang.
Kamu tidak perlu memahami apa arti semua ini. Kamu tidak perlu memutuskan apakah kalian akan tetap berteman, apakah kamu membuat kesalahan, atau apakah kamu akan bisa mencintai orang lain lagi. Itu semua pertanyaan yang nyata, tapi bukan pertanyaan untuk minggu ini. Tugas minggu ini jauh lebih kecil: pastikan kamu makan, pastikan kamu cukup istirahat, dan jaga jarak dari lukanya agar bisa mulai menutup.
Ini yang biasanya benar-benar membantu di hari-hari awal.
1. Beri jarak antara kamu dan mantanmu
Ini yang paling sulit, dan juga yang paling penting. Psikolog Cleveland Clinic, Adam Borland, mengatakannya dengan jelas: di masa awal setelah putus, jaga akses kamu ke mantan pasanganmu. Mute, unfollow, atau kalau perlu hapus dulu nomornya untuk sementara. Bukan karena marah atau dendam. Tapi karena setiap kali melihat feed-nya, itu seperti sengatan kecil yang mengulang lagi jam withdrawal dan membuat lukanya tetap terbuka.
Kalau kamu masih terus merasa ingin menghubunginya, cari satu orang yang bisa kamu ajak chat sebagai gantinya. Borland menyarankan punya semacam "sponsor", orang yang bisa kamu kirimi pesan, "Aku benar-benar ingin menghubunginya sekarang," supaya dorongan itu punya tempat untuk disalurkan selain ke nomornya. Rasa ingin itu akan datang bergelombang. Ia berlalu lebih cepat dari yang kamu kira kalau tidak kamu beri makan.
2. Bangun kerangka rutinitas
Saat struktur yang biasa diberikan hubungan pada hari-harimu menghilang, jam-jam bisa jadi tanpa bentuk, dan itu punya keburukannya sendiri. Kamu tidak perlu jadwal yang sempurna. Kamu hanya perlu beberapa titik tetap. Waktu bangun. Satu makanan yang benar-benar kamu makan. Jalan kaki sebentar. Tidur di jam yang kurang lebih normal walau tidur tidak datang dengan mudah.
Intinya bukan soal produktivitas. Intinya, tindakan kecil yang berulang memberimu pegangan saat semuanya terasa seperti runtuh. Setiap yang kamu selesaikan adalah bukti kecil yang diam-diam menunjukkan kamu masih bisa menjalankan hidupmu sendiri.
3. Gerakkan tubuhmu, walau sedikit
Ini kedengarannya seperti hal terakhir yang ingin kamu dengar, tapi justru salah satu yang paling bisa diandalkan. NHS mencatat bahwa bergerak secara teratur bisa memperbaiki mood, dan kamu tidak perlu gym atau rencana khusus. Bahkan jalan cepat sepuluh menit saja bisa membuat pikiranmu lebih jernih dan sedikit meredakan tegangnya. Bergerak memberi otakmu sumber kimia lain yang lebih sehat, menggantikan yang sedang hilang saat ini. Jalan kaki keliling blok tidak akan memperbaiki hatimu. Tapi mungkin bisa membantumu melewati satu jam ke depan, dan sekarang, satu jam itu berarti.
4. Biarkan orang lain masuk
Insting setelah putus cinta biasanya adalah menghilang, tidak mau jadi beban, menunggu sampai "lebih baik" sebelum bertemu siapa pun. Cobalah lawan itu. Beri tahu dua atau tiga orang yang kamu percaya apa yang terjadi dan bahwa kamu sedang berat. Kamu tidak perlu pura-pura baik-baik saja. Biarkan mereka membawakanmu kopi, menemanimu di telepon, mengajakmu keluar supaya apartemenmu tidak terlalu sepi. Kesendirian membuat semuanya terasa lebih berat. Kehadiran orang lain mengecilkan volumenya.
Rasakan, secukupnya
Ada mitos bahwa kamu harus menangis sekaligus habis-habisan atau bertahan kuat dan tidak pernah runtuh. Bukan keduanya yang menjadi tujuan. Kesedihan biasanya datang bergelombang, dan kamu tidak harus menunggangi setiap gelombang sampai selesai.
Beri dirimu izin sungguh-sungguh untuk merasa sedih. Menangis bukan kemunduran. Itu adalah cara sistemmu memproses kehilangan, dan menahannya justru cenderung membuatmu terjebak lebih lama, bukan lebih cepat. Di sisi lain, kamu juga boleh tertawa mendengar lelucon, menikmati makanan enak, punya satu jam di mana kamu lupa sejenak. Itu bukan pengkhianatan atas betapa sakitnya ini. Itu adalah proses pemulihan yang sedang bekerja diam-diam.
Kalau perasaannya jadi terlalu besar di satu momen, tidak masalah untuk meletakkannya sebentar. Tonton acara TV. Telepon teman. Jalan-jalan seperti tadi. Kamu bisa kembali ke rasa sedih itu nanti. Ia akan menunggu. Kamu tidak harus merasakan semuanya hari ini.
Satu hal lagi tentang perasaan: jangan terlalu percaya pada kesimpulan yang diberikannya sekarang. Kesedihan adalah narator yang keras. Di tengah-tengahnya, pikiranmu mungkin bersikeras bahwa kamu akan selalu sendiri, bahwa kamu merusak segalanya, bahwa tidak akan ada yang mencintaimu seperti itu lagi. Pikiran-pikiran itu terasa seperti fakta karena datang dengan bobot yang begitu berat. Tapi bukan. Itu adalah rasa sakit yang berbicara, dan rasa sakit bukan saksi yang bisa dipercaya soal masa depanmu. Kamu bisa menyadari pikiran itu, bahkan berkata "itu kesedihan, bukan kebenaran," dan biarkan ia berlalu tanpa kamu setujui.
Beberapa hal yang sebaiknya dihindari
Tidak ada orang yang menjalani hari-hari awal ini dengan sempurna bersih, jadi baca ini sebagai pagar pengaman yang lembut, bukan aturan yang kalau dilanggar berarti gagal.
- Chat jam dua pagi. Apa pun yang ingin kamu kirim saat tidak bisa tidur, tulis dulu di notes app, jangan langsung di kolom chat. Hampir tidak ada pesan tengah malam ke mantan yang membuat pagi jadi lebih baik.
- Menggunakan sesuatu untuk mematikan rasa. Menambah minum alkohol, atau apa pun lainnya, untuk menumpulkan rasa sakit itu bisa dimengerti, tapi biasanya justru memperdalam lubangnya. Borland menandai penggunaan zat sebagai risiko nyata di masa ini. Berhati-hatilah pada dirimu sendiri di sini.
- Terburu-buru dengan orang baru. Pelarian (rebound) bisa terasa seperti kelegaan untuk satu malam. Tapi jarang memberi kehilangan itu waktu yang sebenarnya ia butuhkan untuk mengendap.
- Memutar ulang momen terbaik. Pikiranmu akan menyodorkan kenangan terbaik berulang kali. Kalau membantu, tulis catatan singkat dan jujur soal mengapa hubungan ini berakhir, dan baca itu saat pikiranmu mulai memutar cerita seolah semuanya sempurna.
Menemukan kembali batas-batas dirimu
Ada kesedihan yang lebih diam di balik kesedihan yang jelas terlihat. Saat kamu jadi bagian dari sebuah pasangan, banyak kehidupan harianmu terbentuk di sekitar orang lain. Siapa yang kamu chat saat ada hal lucu terjadi. Apa yang kamu tonton di hari Minggu. Ritual-ritual kecil, lelucon berdua, sisi tempat tidur mana yang biasa kamu tempati. Saat orang itu pergi, kamu bisa merasa aneh dan kabur, seperti tidak yakin lagi siapa dirimu sendirian.
Masa awal ini bukan waktunya untuk mengubah total hidupmu atau "menemukan jati diri" secara besar-besaran. Lebih kecil dari itu. Ini soal menjangkau kembali bagian-bagian dirimu yang mungkin terdesak oleh hubungan itu. Teman yang jadi jarang kamu temui. Hobi yang sempat kamu tinggalkan. Jenis musik, tempat, atau rutinitas yang benar-benar milikmu. Kamu tidak melakukan ini untuk membuktikan apa pun ke mantanmu atau supaya lebih cepat "move on". Kamu melakukannya karena bagian-bagian dari dirimu itu sebenarnya tidak pernah hilang, dan mengambil kembali salah satunya saja sudah mengingatkanmu bahwa kamu ada sebelum orang ini, dan kamu akan tetap ada setelahnya.
Pelan-pelan saja. Satu hal kecil sudah cukup untuk minggu pertama. Tujuannya bukan menjadi diri yang baru. Tujuannya adalah mengingat kembali diri yang sudah selalu ada di sana.
Kapan ini lebih dari sekadar dua minggu yang berat?
Putus cinta memang seharusnya menyakitkan, dan merasa hancur untuk sementara waktu adalah respons yang sehat atas kehilangan orang yang berarti. Kebanyakan orang menemukan bahwa titik paling tajam dari rasa sakit ini melunak di minggu-minggu pertama, meski kesedihannya sendiri bisa bertahan lebih lama.
Ada beberapa tanda yang berarti sudah waktunya mencari dukungan lebih, lebih cepat daripada menunggu. Kalau kamu tidak bisa makan atau tidur untuk jangka waktu yang panjang, kalau kamu tidak bisa berfungsi di kerja atau merawat dirimu sendiri, kalau mood rendah itu bertahan dan tidak mau hilang, atau kalau kamu mendapati dirimu sangat bergantung pada alkohol atau zat lain untuk melewati hari, itu semua alasan yang baik untuk berbicara dengan dokter atau terapis. Meminta bantuan bukan berarti kamu mengaku kalah pada putus cinta ini. Itu adalah cara mendapatkan bantuan yang tepat untuk luka yang nyata.
Dan kalau kamu pernah mencapai titik di mana rasa sakitnya terasa tak tertahankan, atau kamu mulai punya pikiran untuk tidak ingin ada lagi, tolong perlakukan itu sebagai keadaan darurat dan beri tahu seseorang hari ini. Hotline krisis, dokter, orang yang kamu percaya. Kamu tidak harus menahannya sendirian, dan kamu tidak seharusnya begitu.
Untuk sekarang, tugasnya kecil dan itu sudah cukup. Makan sesuatu. Minum air. Keluar sebentar selama sepuluh menit. Beri tahu satu orang bahwa kamu sedang kesulitan. Otak yang sedang sakit sebegini hari ini adalah otak yang sama yang sudah, diam-diam, mulai memulihkan diri. Dua minggu dari sekarang, kamu tidak akan merasa sama seperti yang kamu rasakan pagi ini. Beri kesempatan itu terjadi.
Sumber
- Cleveland Clinic, How To Get Over a Breakup: 11 Tips for Healing
- Rutgers University, Study Finds Romantic Rejection Stimulates Areas of Brain Involved in Motivation, Reward and Addiction
- NHS, Exercise for depression