Tips singkat
- Pimpin dengan kehangatan sebelum menunjukkan kemampuan.
- Tepati setiap janji kecil yang kamu buat.
- Hargai kejujurannya sebelum kesalahannya.
Biasanya ada satu orang seperti itu di tiap kelompok. Bukan yang paling berisik, dan tak selalu yang paling senior. Saat ada yang tak beres, beberapa kepala menoleh ke arahnya tanpa ada yang memutuskan itu harus terjadi. Sebuah pertanyaan diarahkan padanya. Pesan yang khawatir mendarat di kotak masuknya lebih dulu. Orang sekadar merasa sedikit lebih baik saat orang itu ada di ruangan.
Mungkin kamu pernah mengamati seseorang melakukan itu dan bertanya-tanya bagaimana caranya. Mungkin kamu diam-diam telah menjadi orang itu sendiri dan tak yakin bagaimana itu terjadi. Apa pun itu, yang mereka punya bukan karisma, dan bukan pangkat. Itu kepercayaan. Dan kepercayaan dibangun dari hal-hal yang sebenarnya bisa kamu pelajari untuk dilakukan.
Ini paling penting sebelum kamu punya wewenang formal apa pun, karena saat itulah persisnya pengaruh harus diraih, bukan diberikan. Bagan organisasi itu lambat. Insting orang itu cepat. Mereka sudah menilaimu jauh sebelum promosi mana pun meresmikannya.
Apa yang sedang dibaca orang dalam dirimu
Saat kita bertemu orang baru, kita menjalankan dua penilaian cepat hampir seketika. Yang satu kira-kira: bisakah orang ini peduli padaku? Yang lain: bisakah orang ini benar-benar melakukan tugasnya? Para peneliti menyebut keduanya kehangatan dan kompetensi, dan psikologi sosial selama puluhan tahun mengatakan kita menilai hampir setiap orang di sepanjang dua garis itu.
Inilah bagian yang mengejutkan. Kita membaca kehangatan lebih dulu, dan kita menimbangnya lebih berat. Dalam tulisan Harvard Business Review berjudul "Connect, Then Lead", Amy Cuddy dan para penulis pendampingnya memaparkan tumpukan besar penelitian yang menunjukkan bahwa kehangatan, bukan kekuatan, adalah saluran tempat pengaruh mengalir. Orang memutuskan apakah mereka memercayaimu sebelum memutuskan apakah kamu cakap. Saat kepercayaannya ada, kompetensimu terbaca sebagai hadiah. Saat ia tak ada, kompetensi yang sama itu bisa terbaca sebagai ancaman.
Itu menyusun ulang nasihat yang biasa. Sebagian besar dari kita, apalagi di awal, berusaha keras membuktikan kita pintar dan berguna. Berguna, ya. Tapi kalau kamu mengedepankan kepintaran dan keterampilan sambil terkesan dingin atau mementingkan diri sendiri, orang akan menjaga jarak meski mereka menghormatimu. Jalan yang lebih stabil berjalan ke arah sebaliknya. Tunjukkan pada orang bahwa kamu sungguh-sungguh ada di pihak mereka, dan mereka akan membiarkan kompetensimu masuk.
Tiga hal penyusun kepercayaan
Frances Frei dan Anne Morriss, yang meneliti ini di Harvard, menggambarkan kepercayaan sebagai sesuatu yang bertumpu pada tiga penyangga. Orang memercayaimu saat mereka merasa dirimu yang sebenarnya yang hadir, saat mereka punya keyakinan pada penilaianmu, dan saat mereka percaya kamu peduli pada mereka. Mereka menyebutnya keaslian, logika, dan empati. Saat kepercayaan retak, kamu hampir selalu bisa melacaknya ke salah satu dari ketiganya yang goyah.
Itu diagnostik yang berguna, karena ia memberitahumu ke mana harus melihat saat ada yang terasa janggal.
- Keaslian adalah apakah orang merasa mereka mendapatkan dirimu yang sebenarnya, bukan sebuah pertunjukan. Solusinya bukan mengumbar terlalu banyak. Tapi berhenti mengelola citramu begitu keras sampai tak ada yang nyata yang tembus keluar.
- Logika adalah apakah orang memercayai penalaranmu dan kemampuanmu untuk menyampaikan hasil. Kalau ini titik lemahnya, sering kali lebih sedikit soal salah dan lebih banyak soal bagaimana kamu mengomunikasikan pikiranmu. Sampaikan kesimpulannya dulu, baru alasannya.
- Empati adalah apakah orang percaya kamu memperhatikan mereka dan bukan cuma dirimu sendiri. Inilah yang paling goyah di bawah tekanan, karena stres menarik fokus kita ke dalam.
Kamu tak butuh ketiganya pada level maksimal. Kamu butuh tak satu pun dari ketiganya gagal secara kentara.
Keandalan yang melakukan kerja senyap
Tanyakan pada orang siapa yang sebenarnya mereka percaya di tempat kerja, dan mereka jarang menggambarkan seseorang yang brilian. Mereka menggambarkan seseorang yang melakukan apa yang mereka katakan akan mereka lakukan. Yang membalas pesan. Yang hadir sama saja di hari buruk maupun hari baik.
Keandalan itu tak glamor dan ia berbunga-bunga. Setiap kali tindakanmu cocok dengan kata-katamu, kamu membuat setoran kecil. Orang berhenti perlu menerka-nerka soal dirimu, dan tidak adanya keraguan itu adalah hadiah yang nyata. Ia membebaskan perhatian mereka untuk pekerjaan alih-alih untuk mengelolamu.
Versi praktisnya kecil dan agak membosankan:
- Buat lebih sedikit janji daripada yang ingin kamu buat, dan tepati yang sudah kamu buat.
- Kalau kamu akan melewatkan sesuatu, katakan sejak awal, sebelum ada yang harus mengejarmu.
- Tutup lingkaranmu. "Sudah selesai, ini hasilnya" dan "Aku belum sempat mengerjakan ini, ini posisinya sekarang" sama-sama membangun kepercayaan. Keheningan mengikisnya.
- Jadilah orang yang kurang lebih sama di tiap ruangan. Orang saling membandingkan catatan, dan konsistensi itulah yang memungkinkan mereka.
Tak satu pun dari itu menuntut bakat. Ia menuntut kepedulian, diulang-ulang. Selama berbulan-bulan ia diam-diam berubah jadi reputasi, dan reputasi cuma kepercayaan yang dibangun orang lain atas namamu saat kamu tak sedang melihat.
Buat dirimu aman untuk didatangi
Ada alasan kenapa orang tertentu menjadi tempat orang lain membawa masalah lebih awal, sementara di sekitar yang lain masalah tetap tersembunyi sampai meledak. Bedanya punya nama. Amy Edmondson, profesor di Harvard Business School, menghabiskan bertahun-tahun meneliti apa yang ia sebut keamanan psikologis, yaitu perasaan bersama bahwa kamu bisa mengajukan pertanyaan, mengakui kesalahan, atau menyampaikan kekhawatiran tanpa dibuat merasa kecil.
Penelitiannya menemukan sesuatu yang berlawanan dengan dugaan. Tim yang melaporkan paling banyak kesalahan bukanlah tim yang terburuk. Sering kali justru yang terbaik. Bukan karena mereka membuat lebih banyak kesalahan, tapi karena mereka merasa cukup aman untuk memunculkannya alih-alih menguburnya. Pada tim dengan kepercayaan yang lebih rendah, kesalahan tetap saja terjadi. Cuma tetap tersembunyi sampai jadi mahal.
Kamu menciptakan rasa aman itu lewat cara kamu bereaksi di tiga detik pertama setelah seseorang membawa kabar buruk atau pertanyaan bodoh. Kalau kamu jadi penasaran alih-alih kesal, kalau kamu bilang "untung kamu sampaikan" alih-alih "kok bisa begini", kamu jadi orang yang didatangi orang lebih awal. Akses lebih awal itulah sebagian besar dari apa arti diandalkan yang sebenarnya.
Beberapa hal yang membangunnya:
- Saat seseorang mengakui kesalahan, tanggapi kejujurannya sebelum kamu menanggapi kesalahannya.
- Ajukan pertanyaan yang sungguh-sungguh dan biarkan ketidaktahuanmu sendiri terlihat. Itu memberi izin pada semua orang lain.
- Akui kesalahanmu sendiri dengan lantang. "Aku salah soal itu, ini yang aku ubah" adalah salah satu kalimat paling membangun kepercayaan yang ada.
Edmondson berhati-hati soal satu hal, dan itu layak diulang. Rasa aman bukan kelembekan. Itu bukan menurunkan standar atau bersikap manis tanpa henti. Itu memadukan standar tinggi dengan kebebasan untuk jujur soal bagaimana sebenarnya pekerjaan berjalan. Orang menumpu pada mereka yang memegang keduanya.
Hangat tanpa kehilangan tulang punggungmu
Kekhawatiran yang wajar, saat membaca semua ini, adalah kamu akan berubah jadi orang yang mudah diinjak. Kamu tidak akan, asal kamu menjaga satu perbedaan tetap jelas. Bersikap hangat itu soal cara kamu memperlakukan orang. Punya standar itu soal apa yang kamu harapkan dari pekerjaan. Keduanya tak saling bersaing. Orang yang paling dipercaya yang kamu kenal biasanya baik dan sekaligus sulit dibodohi.
Yang mengikis kepercayaan bukan ketidaksepakatan. Tapi bersikap tak bisa diduga soal itu, atau membuatnya jadi urusan pribadi. Kamu bisa memegang garis yang tegas dan tetap menjadi orang yang ingin orang lain ada di ruangan saat keadaan kacau, asal mereka tak pernah harus menerka apakah kamu menghormati mereka. Tak setuju dengan idenya, tetaplah jelas berdiri di pihak orangnya.
Satu peringatan lembut
Ada versi dari menjadi orang yang andal yang diam-diam berubah jadi memikul beban semua orang. Kalau kamu mendapati orang cuma mendatangimu untuk menumpahkan beban, kalau kamu tak bisa berkata tidak, kalau pekerjaan dan istirahatmu sendiri terus dimakan oleh keadaan darurat orang lain, itu layak diperhatikan. Dipercaya seharusnya memperluas hidupmu, bukan melahapnya. Versi terkuat dari ini mencakup batasan yang baik. "Aku nggak bisa ambil ini sekarang" adalah sesuatu yang sering dikatakan orang yang dipercaya, dan itu tak merenggut kepercayaan mereka.
Dan kalau beban yang kamu pikul mulai terasa lebih dari sekadar musim sibuk, kalau ia merembet ke tidurmu atau suasana hatimu atau orang-orang yang kamu cintai, itu bukan masalah kepemimpinan untuk ditembus dengan tenaga. Itu momen untuk bicara dengan dokter atau terapis. Merawat dirimu sendiri adalah bagian dari menjadi seseorang yang bisa terus diandalkan orang lain.
Orang yang ditumpu orang lain tidak ditunjuk. Mereka menjadi begitu, satu janji yang ditepati dan satu reaksi yang stabil pada satu waktu, biasanya sebelum ada yang mengamati dengan saksama. Kamu bisa mulai hari ini, dengan pesan berikutnya yang kamu balas dan orang berikutnya yang mendatangimu dengan sesuatu yang sulit.
Sumber
- Harvard Business Review, Connect, Then Lead (Amy J.C. Cuddy, Matthew Kohut, John Neffinger)
- Harvard Business Review, Begin with Trust (Frances X. Frei and Anne Morriss)
- TED, Amy C. Edmondson, speaker profile on psychological safety