Jika kamu sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri, kamu tidak sendirian. Di AS, telepon atau SMS 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), SMS HOME ke 741741 (Crisis Text Line), atau telepon 911 dalam keadaan darurat. Di mana pun kamu berada di dunia, findahelpline.com memuat daftar layanan krisis yang gratis dan rahasia di negaramu sendiri dan dalam bahasamu sendiri. Kalau kamu sedang dalam bahaya langsung, hubungi nomor darurat setempat.
Ada orang yang kamu sayangi sedang tidak baik-baik saja. Mungkin dia sudah bilang. Mungkin kamu cuma menyadarinya sendiri. Dia jadi pendiam, menghilang dari grup chat, berhenti membalas pesan, atau mulai mudah tersinggung soal hal-hal kecil. Dan sekarang kamu terjebak dengan kekhawatiran yang sama seperti kebanyakan orang: harus ngomong apa, ya?
Ini bagian yang melegakan. Yang benar-benar membantu hampir tidak pernah berupa kalimat sempurna. Yang membantu adalah kenyataan bahwa kamu menyadari, dan kamu tidak memalingkan wajah. Kamu bisa canggung dan tetap menjadi apa yang orang itu butuhkan. Orang akan mengingat siapa yang tetap ada di ruangan itu, bukan siapa yang punya nasihat paling pintar.
Jadi, mari kita bikin ini praktis. Bukan naskah, tapi cara untuk benar-benar hadir dengan tulus.
Mulai dengan satu kalimat yang jujur
Bagian tersulit adalah membuka percakapan, jadi buat sesederhana dan sejujur mungkin. Kamu tidak perlu menyebut diagnosis apa pun atau menyelesaikan masalahnya. Kamu cuma perlu membuat mereka tahu bahwa kamu melihat mereka, dan kamu tidak akan ke mana-mana.
Pembuka yang baik terdengar seperti ini:
- "Belakangan ini kamu kelihatan agak beda. Aku nggak mau ikut campur, cuma pengin nanya kabar."
- "Aku kepikiran kamu terus. Kamu sebenarnya baik-baik aja nggak?"
- "Kamu nggak harus cerita kalau nggak mau. Tapi aku di sini, dan aku punya waktu."
Pilih momen tanpa penonton dan tanpa batas waktu. Jalan kaki bersama biasanya pas, karena kalian berjalan berdampingan, bukan saling menatap di seberang meja, dan jalanan yang sepi bikin tidak ada tekanan untuk saling tatap mata. Kalau dia mengabaikanmu, tidak apa-apa. Kamu sudah menanam sesuatu. Sering kali orang akan kembali ke percakapan itu beberapa hari kemudian, saat dia sudah siap.
Dengarkan seolah itu satu-satunya tugasmu, karena memang begitu
Saat seseorang akhirnya membuka diri, naluri kita adalah ingin membenarkan. Kita langsung menawarkan nasihat, mencari sisi positifnya, atau cerita tentang saudara yang pernah mengalami hal serupa. Tahan dulu keinginan itu. Kebanyakan waktu, orang itu tidak butuh solusi darimu. Dia butuh merasa didengarkan olehmu.
Panduan Mayo Clinic untuk mendukung teman yang sedang berjuang sampai pada poin yang sama seperti yang selalu ditegaskan para klinisi: bersedialah untuk mendengarkan, dan jangan terburu-buru memberi opini atau penilaian. Mendengarkan itu sendiri adalah obatnya.
Dalam praktiknya, ini artinya:
- Biarkan ada keheningan. Jangan mengisi setiap jeda. Diam memberi ruang bagi mereka untuk menemukan hal yang lebih sulit dan lebih jujur yang sebenarnya ingin mereka katakan.
- Ulangi kembali apa yang kamu dengar. "Kedengarannya kamu lelah banget dan rasanya nggak ada harapan buat lebih baik." Satu kalimat itu memberi tahu mereka bahwa kamu benar-benar mengikuti, bukan cuma menunggu giliran bicara.
- Sesuaikan iramamu dengan mereka. Kalau mereka bicara pelan dan berat, ikut pelan bersama mereka. Jangan bersikap ceria dan cepat pada orang yang sedang bertahan sekuat tenaga.
- Bertanya, jangan berasumsi. "Bagian apa yang paling berat?" jauh lebih baik daripada "Untung kamu masih punya kerjaan."
Perhatikan apa yang tidak ada dalam daftar itu: rencana, kata-kata penyemangat, atau perbandingan dengan hidupmu sendiri. Semua itu bisa menyusul nanti, kalau memang perlu. Percakapan pertama adalah untuk memahami, bukan untuk memperbaiki.
Hindari kalimat yang membuat orang menutup diri
Ada beberapa ucapan yang niatnya baik tapi justru melukai, karena menyampaikan pada orang yang sedang berjuang bahwa rasa sakitnya merepotkan. Contoh klasiknya: "Tetap positif aja." "Orang lain ada yang lebih parah, lho." "Udah coba olahraga belum?" "Udah, jangan dipikirin." Bahkan "semua yang terjadi pasti ada alasannya" bisa menyakitkan saat seseorang sedang berada di titik terberatnya.
Kalimat-kalimat itu terasa seperti pintu yang tertutup. Orang itu mendengarnya sebagai: ini terlalu berat buatmu, jadi cepat selesaikan saja. Gantilah dengan sesuatu yang membuat pintu tetap terbuka. "Itu kedengarannya berat banget." "Aku senang kamu cerita ke aku." "Aku nggak sepenuhnya ngerti gimana rasanya ini, tapi aku pengin coba." Kamu bukan sedang membenarkan rasa putus asa dengan mengucapkan itu. Kamu cuma menolak untuk membantah perasaan orang lain, yang toh memang tidak pernah berhasil.
Tawarkan sesuatu yang konkret
"Kabari aja kalau kamu butuh apa-apa" itu niatnya baik, tapi hampir tidak pernah dipakai. Orang yang sudah kehabisan tenaga tidak sanggup menyusun daftar penyelamatan untuk dirinya sendiri. Mengambil keputusan pun jadi satu hal lagi yang tidak punya energi untuk dia lakukan.
Jadi buat tawaranmu konkret dan mudah untuk diterima. "Aku bawain makan malam hari Kamis, jam enam oke, kan?" "Sabtu pagi aku free, kalau kamu mau ada yang nemenin jalan kaki." "Mau aku temenin waktu kamu bikin telepon yang selama ini kamu takutin itu?" Kecil, nyata, spesifik. Kamu yang mengambil beban perencanaannya, dan menyerahkan sesuatu yang bisa dia terima begitu saja.
Dan kalau dia sudah menjalani perawatan, peran yang paling berguna adalah bantuan logistik yang tenang. Antar ke sesi konsultasi. Pengingat yang terasa seperti perhatian, bukan omelan. Sekadar jadi kehadiran yang stabil di hari yang berat. Kamu bukan terapisnya. Kamu adalah orang yang membuat langkah berikutnya sedikit lebih mudah untuk diambil.
Kapan ini lebih dari sekadar masa sulit biasa?
Kadang masa sulit ya cuma masa sulit, dan kehadiranmu sudah cukup untuk membantu seseorang melewatinya. Tapi kadang, ini lebih dari itu, dan hal baik yang bisa kamu lakukan adalah membantu mereka mencari bantuan profesional. Arahkan mereka dengan lembut ke dokter, terapis, atau konselor, dan tawarkan bantuan untuk bagian yang terasa mustahil (mencari nama dokter, menelepon, atau menemani ke kunjungan pertama).
Perhatikan tanda-tanda bahwa ini sudah lebih berat dari yang bisa ditanggung seorang teman sendirian: kesulitan ini sudah berlangsung berminggu-minggu, dia menjauh dari hampir semua orang, dia tidak makan atau tidak tidur, dia menggunakan alkohol atau obat-obatan untuk mengatasi rasa sakitnya, atau bebannya sama sekali tidak berkurang. Semua ini bukan berarti kamu gagal untuk mereka. Ini berarti mereka pantas mendapatkan lebih dari yang bisa diberikan satu orang saja, dan menghubungkan mereka dengan bantuan itu adalah salah satu tindakan paling penuh kasih yang bisa kamu lakukan.
Kalau kamu khawatir soal keselamatannya
Kalau kamu merasa seseorang mungkin sedang berpikir untuk mengakhiri hidupnya, langkah paling berani dan paling membantu adalah bertanya secara langsung. "Apakah kamu berpikir untuk mengakhiri hidupmu?" Rasanya berat sekali untuk diucapkan. Tapi bukti-bukti yang ada jelas dan meyakinkan: bertanya tidak menanamkan ide itu atau memperburuk keadaan. Justru sering terjadi sebaliknya. Pertanyaan itu memberi tahu orang tersebut bahwa rasa sakitnya bisa diungkapkan, dan ada seseorang yang bisa mendengarnya tanpa gentar.
NIMH menyusun serangkaian langkah sederhana untuk momen seperti ini. Tanyakan secara langsung. Temani dan dengarkan tanpa menghakimi. Bantu jaga keselamatannya dengan menjauhkan dia dari apa pun yang berbahaya. Bantu dia terhubung dengan dukungan yang berkelanjutan, termasuk 988 Suicide and Crisis Lifeline, yang bisa dihubungi lewat telepon atau pesan teks oleh siapa saja di AS, kapan pun, siang atau malam, termasuk kamu, kalau kamu sendiri butuh bicara soal cara membantu. Dan setelah itu, tetap follow up. Pesan singkat untuk menanyakan kabar beberapa hari kemudian bukan hal kecil. Tetap terhubung adalah bagian dari yang membuat orang tetap aman.
Kalau kamu yakin seseorang dalam bahaya langsung, jangan coba menanganinya sendirian. Tetap temani dia dan segera cari bantuan darurat.
Jangan lupa, kamu juga manusia
Menemani seseorang melewati masa gelap itu kerja yang nyata, dan bisa perlahan menguras dirimu. Kamu berhak punya batas. Kamu berhak merasa takut, sedih, atau merasa tidak sanggup. Menjaga dirimu sendiri, tidurmu, orang-orang di sekitarmu, dan ruang untuk bernapas, bukan berarti egois di sini. Justru itulah yang membuatmu tetap bisa hadir tanpa kehabisan tenaga atau ikut tenggelam bersama mereka.
Kamu tidak pernah ditakdirkan untuk jadi satu-satunya sistem pendukung seseorang. Kamu adalah satu orang yang stabil dalam jaringan yang seharusnya lebih luas. Jadilah itu, jaga dirimu sendiri, dan bantu mereka menemukan dukungan yang lain. Itu bukan hal paling minim yang bisa kamu lakukan. Di hari yang berat, bagi seseorang yang merasa sendirian, itu bisa berarti segalanya.
Sumber
- National Institute of Mental Health, 5 Action Steps to Help Someone Having Thoughts of Suicide
- Mayo Clinic, Depression: Supporting a family member or friend
- 988 Suicide & Crisis Lifeline, Help Someone Else