Tips singkat
- Sisipkan satu embusan napas pelan antara merasa dan membalas.
- Tuliskan tiga nilai yang akan kamu jadikan dasar bertindak.
- Pertanyakan ceritanya sebelum kamu memercayai suasana hati.
Saat itu pukul 4 sore di hari yang berantakan. Kamu lelah, hatimu agak rapuh, dan seseorang baru saja mengirim pesan yang membuatmu meledak. Ibu jarimu sudah bergerak menuju balasan yang kamu tahu bakal tajam. Dalam setengah detik itu, salah satu dari dua sosok ini akan menjawab: sosok yang sebenarnya ingin kamu jadi, atau suasana hatimu.
Kebanyakan dari kita membiarkan suasana hati yang menjawab. Lebih cepat, lebih nyaring, dan pada saat itu rasanya seperti kebenaran. Masalahnya, suasana hati itu seperti cuaca. Ia datang, terasa total selama berlangsung, lalu berlalu dan meninggalkanmu berdiri di tengah apa pun yang kamu ucapkan saat hujan turun.
Pilihan lainnya lebih tenang dan jauh lebih tahan lama. Kamu bisa memutuskan, jauh-jauh hari, apa yang kamu perjuangkan, lalu membiarkan itu yang mengemudi saat perasaanmu terlalu nyaring untuk dipercaya. Itulah inti dari memimpin berdasarkan nilai, bukan suasana hati. Ini bukan soal berpura-pura kamu merasa tenang. Ini soal tidak menyerahkan kemudi kepada perasaan yang toh akan hilang sebelum makan malam.
Suasana hatimu itu informasi, bukan perintah
Inilah cara pandang baru yang melakukan sebagian besar pekerjaannya. Sebuah perasaan adalah data tentang keadaan batinmu. Ia bukan instruksi tentang apa yang harus dilakukan berikutnya.
Saat kamu cemas, itu informasi nyata: ada sesuatu yang penting bagimu dan terasa terancam. Saat kamu jengkel, itu juga informasi. Tapi lompatan yang kita lakukan otomatis adalah dari "aku marah" langsung ke "jadi aku akan bertindak marah", seolah-olah perasaan itu datang dengan instruksi yang menempel. Tidak begitu. Kamu sendiri yang menambahkannya.
Psikolog Susan David menyebut momen kita melupakan hal ini sebagai keadaan "terkait" (hooked). Dalam karyanya tentang kelincahan emosi, ia menggambarkan bagaimana kita terjebak oleh sebuah pikiran atau perasaan seperti ikan yang terkait di kail. Begitu terkait, kita memperlakukan perasaan itu sebagai fakta dan membiarkannya mengatur segalanya. Keterampilannya, menurut dia, adalah belajar melepaskan diri: menyadari perasaan itu, menamainya, memberi sedikit ruang di sekitarnya, lalu memilih langkah berikutnya berdasarkan apa yang kamu hargai alih-alih apa yang kamu rasakan. Bertindak sesuai nilaimu itulah yang melepaskanmu dari kail.
Langkah terakhir itu yang sering dilewati orang. Menyadari perasaanmu itu bagus. Menamainya lebih baik lagi. Tapi kalau kamu berhenti di situ, kamu hanya orang yang sangat sadar diri tapi tetap saja membentak rekan kerja. Tujuan dari kesadaran itu adalah memberimu kebebasan untuk melakukan sesuatu selain bereaksi.
Kenapa perasaan jadi bos yang buruk
Perasaan itu jujur, sekaligus picik. Ia dirancang untuk menanggapi saat ini: ancaman di depanmu, sindiran yang baru saja kamu rasakan, tenggat waktu yang mengembus di tengkukmu. Ia tak punya pandangan ke minggu depan, dan tak punya ingatan tentang siapa yang kamu bilang ingin kamu jadi.
Itulah persis kenapa perasaan tak bisa diandalkan sebagai panduan tentang cara memperlakukan orang. Versi dirimu yang berjalan dengan tidur tiga jam dan makan siang yang terlewat akan punya pendapat kuat dan spesifik tentang nada bicara seorang rekan kerja. Pendapat itu akan terasa seperti penilaian yang jernih. Padahal sebagian besarnya cuma gula darah yang rendah.
Nilai tak punya masalah itu, karena kamu menetapkannya saat kamu tenang. Nilai adalah versi dirimu yang penuh pertimbangan berbicara kepada versi yang reaktif. Saat kamu memutuskan di momen yang stabil bahwa kamu ingin jadi orang yang tetap penasaran sebelum membela diri, kamu sedang meninggalkan catatan untuk dirimu di masa depan yang sedang kalut. Catatan itu ada di sana justru supaya kamu tak perlu mengambil keputusan dari nol pada pukul 4 sore saat kamu paling tak siap mengambilnya dengan baik.
Ada banyak karya klinis di balik ini, ngomong-ngomong. Terapi penerimaan dan komitmen (acceptance and commitment therapy), pendekatan yang sudah banyak diteliti untuk kecemasan dan depresi, dibangun di sekitar gerakan serupa: bertindak selaras dengan nilai yang kamu pilih bahkan saat emosi sulit sedang hadir, alih-alih menunggu merasa lebih baik dulu atau membiarkan emosi yang memutuskan. Cleveland Clinic menggambarkan tujuannya dengan gamblang: perilakumu jadi selaras dengan nilaimu alih-alih emosimu yang menyetir perilakumu. Kamu tak perlu memenangkan pertarungan dengan perasaan itu. Kamu cukup tidak menurutinya.
Cerita yang tak kamu sadari sudah kamu tulis
Biasanya ada langkah tersembunyi antara hal yang terjadi dan suasana hati yang sekarang kamu rasakan. Kamu tidak bereaksi terhadap peristiwa. Kamu bereaksi terhadap cerita yang kamu ceritakan kepada dirimu tentang peristiwa itu, dan kamu menceritakannya begitu cepat sampai tak sadar kamu yang menulisnya.
Seorang rekan kerja membalas pesanmu dengan satu kalimat ketus. Peristiwanya adalah balasan singkat. Ceritanya adalah "mereka pikir ini ide bodoh" atau "mereka kesal sama aku". Suasana hati datang dari cerita itu, bukan dari kalimatnya. Lalu kamu menanggapi suasana hati itu. Karya pengembangan kepemimpinan kadang menyebut lompatan cepat ini sebagai tangga inferensi (ladder of inference), cara kita melompat dari sepotong data mentah langsung ke kesimpulan yang mantap dalam sepersekian detik, lalu memperlakukan kesimpulan itu seolah jelas-jelas benar.
Mengetahui ini memberimu titik kedua untuk turun tangan. Kamu bisa mempertanyakan cerita itu bahkan sebelum sampai ke perasaan. "Sebenarnya apa yang terjadi di sini, terpisah dari makna yang sedang kuberikan padanya?" Sering kali jawabannya lebih kecil dan lebih membosankan daripada ceritanya. Balasan itu ketus karena dia sedang sibuk dengan ponselnya, bukan karena dia berbalik melawanmu. Memegang tafsiranmu atas suatu situasi sedikit lebih longgar, tetap terbuka untuk keliru tentangnya, itu sendiri keterampilan kepemimpinan, dan itu mencegah satu pesan ketus menjadi suasana hati buruk sepanjang sore.
Suasana hatimu tak tinggal jadi milikmu sendiri
Ada alasan kenapa ini makin penting begitu ada orang lain yang mengandalkanmu. Keadaan emosimu tak diam dengan sopan di dalam kepalamu sendiri. Orang membacanya, dan menularinya. Mereka memperhatikan dengan sangat saksama suasana hati siapa pun yang mereka anggap memimpin, sekalipun secara tak resmi, yang artinya sore burukmu tak cuma memengaruhi dirimu. Itu menetapkan suhu bagi semua orang dalam jangkauan.
Inilah argumen praktis untuk memimpin dari nilai, di luar sekadar membuatmu merasa lebih baik. Saat kamu bertindak dari suasana hati, kamu menyiarkannya, dan di hari yang berat yang kamu siarkan biasanya ketegangan. Saat kamu bertindak dari nilai, kamu memberi orang di sekitarmu sesuatu yang lebih stabil untuk dipinjam. Mereka tak butuh kamu ceria. Mereka butuh bisa menebak dirimu, tahu bahwa versi dirimu yang stabil dan adil adalah yang akan hadir bahkan saat hari sedang buruk. Keterdugaan itulah sebagian besar bahan pembentuk kepercayaan.
Sebut apa yang sebenarnya kamu perjuangkan
Kamu tak bisa bertindak dari nilai yang belum pernah kamu ucapkan. "Jadi pemimpin yang baik" terlalu samar untuk membantumu pada pukul 4 sore. Kamu butuh sesuatu yang cukup spesifik untuk ditindaklanjuti.
Coba sebut tiga atau empat. Buat tetap konkret dan berupa perilaku, seperti cara kamu ingin seseorang menggambarkanmu di hari terbaikmu. Bukan abstraksi yang muluk, tapi hal-hal yang benar-benar bisa kamu lakukan di momen sulit:
- "Aku tetap stabil saat orang lain panik."
- "Aku penasaran dulu sebelum membela diri."
- "Aku mengatakan kebenaran dengan baik, bahkan saat canggung."
- "Aku memperlakukan orang sama saja, entah mereka bisa berbuat sesuatu untukku atau tidak."
Tulis di tempat yang benar-benar akan kamu lihat. Lalu, dan inilah bagian yang membuatnya nyata, putuskan seperti apa wujud masing-masing dalam praktik. Kalau kamu menghargai tetap stabil, apa artinya itu saat berikutnya sebuah rapat keluar jalur? Kemungkinan: turunkan nada suaramu, ajukan satu pertanyaan penjernih, tahan dorongan menyalahkan. Makin spesifik gambarannya, makin besar kemungkinan kamu meraihnya saat tertekan, karena kamu tak perlu menciptakannya dadakan.
Bangun jeda antara merasa dan bertindak
Memimpin dari nilai hampir selalu bermuara pada satu hal mekanis yang kecil: menyisipkan satu ketukan antara perasaan dan tindakan. Perasaannya pasti datang. Kamu tak bisa mencegah itu, dan tak perlu mencobanya. Yang bisa kamu ubah adalah apa yang terjadi di detik-detik sesudahnya.
Tangkap lonjakannya
Pelajari tanda-tanda fisik bahwa kamu sudah terkait. Bagi banyak orang itu berupa wajah memanas, rahang menegang, keyakinan mendadak bahwa kamu benar sepenuhnya. Keyakinan itu sering jadi penandanya. Saat kamu merasakannya, perlakukan sebagai bendera peringatan, bukan lampu hijau.
Beli waktu sejenak untuk dirimu
Kamu jarang berutang respons instan kepada siapa pun. "Beri aku waktu memikirkannya dan aku akan kembali ke kamu" adalah kalimat yang utuh dan profesional. Begitu pula satu embusan napas pelan sebelum kamu bicara. Draf boleh dibiarkan tak terkirim. Jeda itulah tempat memimpin dari nilai benar-benar terjadi, karena di situlah satu-satunya tempat kamu punya pilihan nyata.
Ajukan pertanyaan yang lebih baik
Di dalam jeda itu, tukar pertanyaan dari suasana hati dengan pertanyaan dari nilai. Suasana hati bertanya, "Bagaimana caraku menghentikan perasaan ini sekarang juga?" Nilai bertanya, "Apa yang akan dilakukan sosok yang ingin kujadi di sini?" Situasi sama, jawaban sangat berbeda. Yang satu biasanya melibatkan menembakkan pesan. Yang lain biasanya melibatkan memperlambat diri.
Biarkan tubuhmu memimpin
Kamu tak bisa menalar menuju kestabilan selagi tubuhmu masih dalam keadaan siaga. Embusan panjang, kaki di lantai, bahu turun — ini bukan tambahan yang lembek. Inilah cara kamu mengembalikan cukup banyak akal sehatmu untuk bisa bertindak sesuai nilai sama sekali. Tenangkan tubuh dulu, baru memilih.
Saat kamu tetap saja gagal
Suatu saat kamu akan membiarkan suasana hati menang. Semua orang begitu. Kamu akan mengirim email itu, atau memakai nada itu, atau diam saat kamu ingin hadir. Ini bukan tanda bahwa seluruh hal ini tak cocok untukmu. Ini tanda bahwa kamu seorang manusia.
Yang lebih penting daripada catatan yang bersih adalah apa yang kamu lakukan berikutnya. Kembali dan berkata "Tadi aku ketus padamu, dan itu tidak adil untukmu" itu sendiri tindakan yang berasal dari nilai. Itu memberi tahu semua orang yang menonton bahwa kesalahan bisa dilalui dan bahwa kamu memegang dirimu pada standar yang sama dengan yang kamu pegangkan pada mereka. Orang memercayai itu jauh lebih daripada mereka akan pernah memercayai orang yang mengaku tak pernah lepas kendali. Perbaikan itu bagian dari latihan, bukan kegagalannya.
Dan makin sering kamu memilih nilai ketimbang suasana hati, makin mudah jadinya. Kamu tak akan bergantung pada tekad selamanya. Kamu sedang membangun setelan bawaan. Seratus kali pertama kamu berhenti sejenak sebelum bereaksi, rasanya melelahkan. Setelah itu, jeda itu mulai terasa seperti dirimu apa adanya.
Saat perasaannya lebih dari sekadar suasana hati
Ada batas jujur di sini yang layak disebut. Memimpin dari nilai adalah keterampilan untuk emosi sehari-hari, rasa jengkel dan cemas dan sore-sore buruk biasa yang semua orang kelola. Ini bukan obat untuk emosi yang sudah jadi terlalu besar untuk dikelola sendirian.
Kalau suasana hatimu terasa seperti sedang menjalankan hidupmu alih-alih sekadar mampir, kalau amarah, kecemasan, atau suasana hati yang muram secara rutin merusak hubunganmu atau pekerjaanmu, atau kalau kamu bertahan sambil menahan tegang sepanjang hampir setiap hari, itu bukan masalah nilai dan tekad tak akan menyelesaikannya. Itu layak dibawa ke dokter atau terapis, yang bisa membantumu memilah apa yang ada di baliknya. Meraih dukungan semacam itu bukan tanda bahwa kamu gagal mengendalikan diri. Itu salah satu hal yang paling selaras dengan nilai yang bisa dilakukan seseorang, karena itu menanggapi serius orang-orang yang mengandalkanmu, dan menanggapi serius dirimu juga.
Tujuannya tak pernah untuk tak merasakan apa-apa. Tujuannya adalah memastikan bahwa di hari-hari tersulitmu, sosok yang menjawab tetaplah dirimu.
Sumber
- Harvard Business Review, Emotional Agility (Susan David and Christina Congleton)
- Harvard Business Publishing, From Emotional Triggers to Values-Based Leadership: A Practical Framework
- Cleveland Clinic, Acceptance and Commitment Therapy (ACT)