Langsung ke konten utama

MEMIMPIN DIRI SENDIRI · KETENANGAN

Kamu adalah termostat, bukan termometer

Termometer membaca suasana ruangan. Termostat memutuskan ruangan itu mau bersuhu berapa. Kebanyakan dari kita menghabiskan hari dengan bereaksi terhadap suasana apa pun yang kita masuki. Ada cara hidup yang lebih mantap, dan itu dimulai dengan menyadari kamu yang mana.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Gedung-gedung modern dengan jendela kaca dan pendingin udara.

Foto oleh Lee Milo di Unsplash

Sebuah rapat berubah jadi berantakan. Ada yang membentak orang lain, angka-angkanya buruk, dan dalam waktu semenit seluruh ruangan sudah menegang. Bahu naik. Orang berhenti melontarkan ide. Kamu bisa merasakan udara berubah. Dan inilah bagian yang aneh: kamu masuk ruangan dalam keadaan baik-baik saja, lalu tiba-tiba kamu ikut tegang, dan kamu tidak bisa menunjuk persisnya kapan itu terjadi.

Itu adalah termometer yang melakukan tugasnya. Ia membaca suhu di sekitarnya lalu melaporkannya kembali. Apa pun suasana ruangan itu, termometer akan mengikutinya. Kebanyakan dari kita berjalan dengan cara ini hampir sepanjang waktu tanpa pernah benar-benar memilihnya. Atasan sedang cemas, kita jadi ikut cemas. Teman sedang panik berlebihan, kita ikut panik bersamanya. Hari memberi kita satu suasana hati, dan kita memakainya begitu saja.

Termostat bekerja dengan cara berbeda. Ia juga membaca ruangan. Tapi ia tidak sekadar melaporkan suhunya. Ia menentukan suhu yang diinginkan. Ia memegang satu angka dan diam-diam berupaya membawa ruangan mendekat ke angka itu. Ketika ruangan jadi dingin, ia tidak ikut-ikutan makin dingin. Ia justru mengeluarkan panas.

Kamu bisa jadi salah satu dari keduanya. Perbedaan di antara keduanya adalah, kurang lebih, apa yang dimaksud orang ketika mereka menyebut seseorang "tenang dan stabil."

Dan ini penting jauh melampaui urusan rapat. Termostat dan termometer ini muncul di meja makan saat remaja pulang ke rumah dengan hati kacau, di dalam mobil saat macet bertemu hari yang sudah buruk, di grup chat saat kepanikan satu teman mengancam menular ke semua orang. Pengaturan yang kamu jalani adalah salah satu pilihan paling diam-diam dan paling konstan yang kamu buat. Kebanyakan dari kita bahkan tidak sadar sedang membuat pilihan itu.

Kenapa suasana ruangan bisa menular begitu saja?

Ini bukan teori kepribadian. Ada mekanisme nyata di baliknya.

Emosi itu menular. Kita menangkapnya dari orang lain seperti menangkap menguap, sebagian besar di bawah alam sadar, lewat nada suara, raut wajah, kecepatan bicara seseorang, ketegangan pada posturnya. Para peneliti menyebutnya *emotional contagion* (penularan emosi), dan salah satu orang yang paling teliti mempelajarinya, mendiang profesor Wharton, Sigal Barsade, menunjukkan bahwa suasana hati satu orang bisa merambat dan mengubah bagaimana seluruh kelompok merasa dan bekerja sama. Suasana hati itu berpindah. Ia tidak minta izin lebih dulu.

Nah, bagian ini yang penting kalau ada orang yang menganggapmu sebagai panutan. Orang memberi perhatian ekstra pada siapa pun yang mereka anggap "yang bertanggung jawab," artinya keadaanmu terasa lebih jauh dari yang kamu duga. Bukan karena kamu berisik, tapi karena kamu sedang diperhatikan sebagai sumber isyarat. Ruangan mengambil "pembacaan" dari dirimu, entah kamu bermaksud memberikannya atau tidak. Kamu sudah memengaruhi suhu, setiap hari, di setiap ruangan. Kamu tidak bisa memilih untuk tidak ikut serta dalam hal itu. Kamu hanya bisa memilih arahnya.

Ini bukan hanya berlaku untuk suasana hati yang buruk. Psikolog Daniel Goleman, menulis di Harvard Business Review tentang apa yang ia sebut *primal leadership*, berpendapat bahwa tugas pertama seorang pemimpin adalah tugas emosional, bahwa ketenangan dan kehangatan di puncak menciptakan sesuatu yang ia namakan *resonance*, semacam pijakan positif bersama yang memunculkan kerja terbaik orang-orang. Sisi sebaliknya sama nyatanya. Ketika orang yang menentukan suasana sedang kacau, kekacauan itu ikut menular, merembes ke bawah, ke semua orang. Suhu yang kamu bawa bukan sistem cuaca pribadi. Itu adalah cuaca awal bagi seluruh ruangan.

Bereaksi terasa seperti mengendalikan keadaan. Padahal bukan.

Ada alasan mengapa menjadi termometer adalah pilihan bawaan. Rasanya produktif. Ketika ruangan memanas dan kamu ikut memanas, tubuhmu yakin sedang melakukan sesuatu yang penting.

Yang sebenarnya terjadi lebih mirip pengambilalihan. Di bawah lonjakan stres yang nyata, pusat alarm kecil di dalam otak, amigdala, bisa memicu respons lawan-atau-lari sebelum bagian dirimu yang berpikir lebih lambat sempat menyusul. Cleveland Clinic menjelaskannya dengan lugas: dalam situasi mengancam, amigdala bisa "mengambil alih kemudi" untuk melindungimu. Detak jantung naik, napas jadi cepat, tubuh bersiaga. Itu anugerah kalau ada beruang sungguhan di depanmu. Itu jadi masalah dalam rapat anggaran, sebab lonjakan yang sama yang membantumu berlari justru membungkam bagian otak yang kamu butuhkan untuk berpikir jernih.

Jadi keadaan reaktif punya biaya nyata. Mahal harganya. Kamu justru paling tidak jernih tepat saat kamu merasa momennya paling penting. Kita semua pernah mengirim email yang tidak akan pernah kita kirim sepuluh menit kemudian, atau mengatakan sesuatu dalam percakapan panas yang butuh waktu seminggu untuk ditarik kembali. Itulah termometer, menyamai panasnya ruangan dan menyebutnya urgensi. Tubuh merasa yakin sedang bertindak tegas. Padahal sebagian besar hanya menyebarkan alarm.

Menjadi termostat bukan berarti kamu berhenti merasakan panasnya. Kamu tetap merasakan semuanya. Kamu hanya tidak harus ikut menjadi panas itu sendiri.

Berapa harga yang harus dibayar jika terus-menerus jadi termometer?

Beberapa orang paling baik hati dan paling peka yang kamu kenal adalah termometer sepenuhnya. Mereka masuk ke rumah yang tegang dan menyerap ketegangan itu. Mereka duduk bersama teman yang sedang krisis dan pulang dengan membawa krisis itu sendiri. Mereka merasakan segala sesuatu di sekitarnya begitu utuh sampai tidak tahu lagi mana batas ruangan dan mana diri mereka. Dari luar, ini bisa terlihat seperti empati. Padahal seringkali ini lebih mirip tidak punya termostat sama sekali.

Biayanya muncul perlahan. Kalau keadaan batinmu selalu ditentukan oleh apa pun yang paling nyaring di dekatmu, kamu sebenarnya tidak pernah benar-benar beristirahat. Kamu terus dikendalikan, jam demi jam, oleh cuaca emosi orang lain. Itu jalan cepat menuju kelelahan jenis yang tidak bisa disembuhkan tidur. Ini juga cenderung membuatmu kurang berguna bagi orang-orang yang sebenarnya ingin kamu bantu, karena seseorang yang ikut tenggelam bersamamu tidak bisa menjangkau dan menarikmu keluar.

Termostat tetap merasakan dingin. Justru intinya adalah ia membaca ruangan dengan akurat. Yang tidak ia lakukan adalah keliru menganggap suhu ruangan sebagai suhunya sendiri lalu menyerah begitu saja. Ada jarak kecil yang kokoh antara "aku bisa merasakan ruangan ini sedang cemas" dan "aku sekarang ikut cemas." Belajar hidup di dalam jarak itulah sebagian besar pekerjaannya. Ini juga, secara diam-diam, adalah bentuk perlindungan diri, bukan sikap dingin. Kamu menjaga pijakanmu sendiri agar punya sesuatu untuk diberikan.

Bagaimana caranya menjaga pengaturan itu?

Kabar baiknya, menjadi termostat bukan berarti punya otak yang lebih tenang secara alami. Ini adalah kumpulan kebiasaan kecil, dilatih saat tidak ada apa-apa yang salah, supaya tersedia saat sesuatu terjadi. Tidak satu pun dari ini membutuhkan jabatan atau ruang kerja mewah. Semuanya berlaku sama baiknya di dapur keluarga dan di grup chat seperti halnya di ruang rapat.

  1. Tentukan angkamu sebelum ruangan memanas. Termostat bekerja karena seseorang sudah mengaturnya lebih dulu. Pilih, di saat tenang, bagaimana kamu sebenarnya ingin bersikap ketika keadaan memburuk. Tenang. Penasaran, bukan defensif. Jadi orang yang mengajukan pertanyaan berikutnya yang berguna. Kalau kamu sudah menetapkannya lebih dulu, kamu punya sesuatu untuk dituju yang bukan sekadar apa pun yang kebetulan kamu rasakan.
  1. Sadari saat "tertular" itu terjadi. Keterampilan inti dari semua ini adalah menangkap momen saat suasana hati ruangan mulai meraih dirimu, rasa panas yang menjalar, dorongan untuk membalas, sesak di dada. Kamu tidak bisa memilih dengan cara berbeda kalau kamu tidak sadar sedang memilih. Menamainya dalam hati membantu. "Ruangan ini sedang cemas. Aku sedang ikut menangkapnya." Sedikit jarak itulah tempat kebebasanmu berada.
  1. Beri jeda antara rasa dan tindakan. Nyaris tidak ada yang benar-benar membutuhkan reaksi instan, meski stres akan bersikeras seolah semuanya mendesak. Satu embusan napas pelan. Satu kalimat penunda: "Coba aku pikirkan dulu sebentar." Jeda itu kecil, tapi cukup untuk membiarkan pikiranmu kembali menyala sebelum kamu bertindak.
  1. Tenangkan tubuh dulu, baru percaya pada pikiran. Kamu tidak bisa berpikir jernih menuju ketenangan selagi tubuhmu masih dalam mode siaga. Embusan napas panjang dan pelan berbuat lebih banyak di momen itu daripada nasihat apa pun. Kaki menapak di lantai. Bahu diturunkan. Redakan dulu alarm fisiknya, dan pikiran yang lebih jernih biasanya menyusul dengan sendirinya.
  1. Sengaja mengeluarkan panas. Inilah bagian yang mengubah termometer yang sangat tenang menjadi termostat sungguhan. Turunkan sedikit volume suaramu ketika orang lain meninggikan suara mereka. Perlambat dirimu ketika ruangan mempercepat. Ajukan satu pertanyaan yang tenang dan jelas. Kamu bukan berpura-pura tidak ada masalah. Kamu menawarkan suhu lain untuk dituju oleh ruangan itu, dan cukup sering, ruangan itu akan mengikutinya.

Ini bukan sama dengan berpura-pura tenang

Perlu diperjelas apa yang bukan termasuk sikap termostat, karena metafora ini kerap disalahpahami. Menjaga pengaturan bukan berarti memasang wajah tenang sementara di dalam kamu diam-diam runtuh. Orang bisa merasakan bedanya antara ketenangan yang asli dan pertunjukan ketenangan, meski mereka tidak bisa menjelaskan apa yang terasa aneh. Ketenangan yang dipaksakan biasanya justru membuat ruangan makin cemas, bukan lebih tenang, karena kini ada ketidaksesuaian di udara dan sistem saraf semua orang berusaha mencari tahu apa yang salah.

Ini juga bukan pura-pura menganggap hal sulit tidak sulit. Termostat dalam krisis yang sungguhan tidak berkata semuanya baik-baik saja. Ia mengatakan sesuatu yang lebih jujur dan lebih kokoh. "Ini masalah yang nyata. Ini hal pertama yang akan kita lakukan untuk mengatasinya." Ketenangannya ada pada pijakan, bukan pada penyangkalan.

Bayangkan bedanya dalam satu percakapan. Seorang rekan kerja bergegas masuk, suaranya tegang, mengatakan seluruh proyek berantakan. Jawaban ala termometer menyamai nadanya: "Tunggu, apa? Berantakan gimana? Wah gawat ini." Sekarang ada dua orang yang sama-sama terbakar. Jawaban ala termostat menjaga angkanya. Satu tarikan napas. Suara yang sedikit lebih pelan. "Oke. Coba ceritakan apa yang baru saja terjadi." Informasi yang sama, taruhan yang sama. Satu respons melipatgandakan panas di ruangan. Yang satu lagi memberi orang itu pijakan yang lebih sejuk untuk berdiri, dan kamu hampir bisa melihat bahunya turun begitu mereka mulai bisa berpikir lagi. Kamu belum memperbaiki apa pun. Kamu mengubah suhu tempat mereka menyelesaikan masalah, dan itu mengubah apa yang mungkin terjadi.

Bagaimana kalau pengaturan itu meleset?

Kadang kamu akan kehilangannya. Ruangan akan menang, kamu akan membentak, dan kamu akan menyadarinya di tengah kalimat yang kamu sesali. Itu bukan kegagalan. Itu artinya kamu manusia.

Yang sebenarnya diingat orang adalah apa yang kamu lakukan setelahnya. "Tadi aku ketus padamu, dan itu tidak adil" mengajarkan semua orang yang mendengarnya bahwa momen panas bukan akhir dari segalanya, bahwa ketenangan adalah sesuatu yang kamu kembali padanya, bukan sesuatu yang kamu punya atau tidak punya begitu saja. Pemulihan juga menular. Kamu tidak harus menjaga suhu dengan sempurna. Kamu hanya harus kembali padanya.

Dan ada batas jujur yang perlu disampaikan dengan jelas. Kalau kamu merasa sama sekali tidak bisa menjaga ketenangan, kamu kebanjiran emosi hampir setiap hari, membentak orang-orang yang kamu sayangi, terjaga di malam hari memutar ulang kejadiannya, atau membawa rasa cemas yang tidak kunjung hilang, itu bukan masalah kemauan, dan sebanyak apa pun kamu bernapas dalam-dalam, itu tidak akan menyelesaikannya. Itulah saatnya bicara dengan dokter atau terapis. Ketenangan adalah keterampilan yang bisa dibangun, dan itu juga sesuatu yang kadang butuh bantuan untuk ditemukan kembali. Mencari bantuan itu adalah tindakan paling "termostat" yang bisa kamu lakukan.

Kebanyakan ruangan yang kamu masuki sedang menunggu diberi tahu suhu apa yang seharusnya. Seseorang akan menentukannya. Sebaiknya, itu adalah orang paling tenang di sana.

Sumber

  1. Knowledge at Wharton, Leadership Influence: Controlling Emotional Contagion
  2. Harvard Business Review, Primal Leadership: The Hidden Driver of Great Performance
  3. Cleveland Clinic, Amygdala: A Small Part of Your Brain's Biggest Abilities

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi