Kamu mungkin sudah pernah mengalami ini tanpa pernah menamainya. Kamu buntu soal sesuatu, entah email yang kata-katanya nggak ketemu-ketemu, keputusan yang muter-muter terus di kepala, atau simpul kekhawatiran yang nggak mau lepas. Kamu menatap layar. Kamu memaksakan diri. Nggak ada yang datang. Lalu kamu keluar sebentar untuk menjernihkan pikiran, dan entah di blok kedua, pikiran yang tadinya kamu cari-cari itu tiba-tiba muncul begitu saja, seperti sudah menunggu kamu berhenti mencengkeram terlalu erat.
Itu bukan kebetulan, dan bukan juga keunikan pribadi kamu. Berjalan kaki benar-benar memengaruhi cara pikiran bekerja, dan ini salah satu alat paling bisa diandalkan, paling murah, yang kamu punya untuk berpikir lebih jernih sekaligus menjaga suasana hati tetap stabil. Nggak perlu aplikasi, nggak perlu jadi member, nggak perlu belajar keterampilan baru. Kamu sudah tahu caranya.
Apa yang dilakukan berjalan kaki pada pikiran yang buntu?
Bukti paling kuat soal ini datang dari serangkaian eksperimen Stanford oleh Marily Oppezzo dan Daniel Schwartz. Mereka memberi orang-orang tugas berpikir kreatif, sambil duduk dan sambil berjalan, dan bedanya sulit diabaikan. Berjalan kaki meningkatkan hasil berpikir kreatif secara signifikan. Dalam satu eksperimen, orang-orang menghasilkan ide orisinal kira-kira dua kali lipat lebih banyak dibanding saat mereka duduk. Tim Stanford menerbitkan penelitian ini dengan judul yang pas, *Give Your Ideas Some Legs*.
Ada dua detail dari penelitian ini yang layak diingat.
Pertama, ini bukan soal pemandangan. Mereka membandingkan orang yang berjalan di treadmill menghadap tembok kosong dengan orang yang berjalan di luar ruangan, dan kedua kelompok ini sama-sama berpikir lebih baik dibanding yang duduk diam. Gerakan berjalannya sendiri yang bekerja, bukan pemandangannya. Jadi kamu nggak butuh hutan atau jalur yang indah. Koridor, area parkir, beberapa putaran mengelilingi blok rumah, semua itu tetap berlaku.
Kedua, efeknya bertahan lama. Orang-orang yang berjalan lalu duduk kembali tetap berpikir lebih kreatif untuk sementara waktu setelahnya. Jalan kaki sebelum percakapan berat atau menghadapi layar kosong bisa menyiapkan kamu hampir sebaik berjalan saat itu juga. Ini kabar baik untuk siapa pun yang ide-ide terbaiknya harus muncul di meja kerja.
Gerakan berjalannya sendiri yang bekerja, bukan pemandangannya.
Kenapa menggerakkan kaki bisa membebaskan pikiran? Sebagian karena suasana hati. Gerakan mendorong tubuh menuju keadaan yang lebih tenang dan terbuka, dan pikiran yang tidak sedang siaga menghadapi ancaman punya lebih banyak ruang untuk mengembara dan menyambungkan hal-hal. Sebagian lagi karena ritme lembutnya sendiri, yang tampaknya melonggarkan cengkeraman ketat dan usaha keras yang kita bawa saat menghadapi masalah terlalu serius. Kamu berhenti memaksa, dan jawabannya menyelinap masuk lewat pintu samping.
Bagian suasana hati juga sama nyatanya
Berpikir lebih jernih hanyalah separuh cerita. Berjalan kaki adalah salah satu cara paling banyak diteliti untuk menstabilkan pikiran yang berat atau cemas, dan besarnya bukti ini melegakan.
Sebuah tinjauan besar yang diterbitkan pada 2024 menggabungkan 75 uji coba dengan lebih dari delapan ribu orang, dan menemukan bahwa berjalan kaki berkaitan dengan berkurangnya gejala depresi dan kecemasan secara berarti. Orang-orang yang paling berat kondisinya di awal justru cenderung paling banyak merasakan manfaatnya. Dan para peneliti mencatat sesuatu yang menenangkan: bahkan jalan kaki singkat pun berkaitan dengan manfaat kesehatan mental yang nyata. Kamu nggak perlu berjalan sejam penuh untuk merasakan hasilnya.
Ini penting untuk hari-hari ketika sekadar keluar rumah saja rasanya berat. Batasnya memang dibuat rendah dengan sengaja. Jalan kaki sepuluh menit bukan hadiah hiburan. Itu dosis yang sah.
Bagaimana cara memanfaatkan ini?
Kuncinya adalah memperlakukan jalan kaki bukan sebagai olahraga yang harus dijadwalkan, tapi sebagai alat yang kamu ambil di momen-momen tertentu. Beberapa cara untuk memasukkannya ke rutinitas:
- Kalau kamu buntu, tinggalkan meja kerja. Jangan tunggu sampai masalahnya terselesaikan. Jalan kaki itu strateginya, bukan hadiah setelah selesai. Sepuluh menit sudah cukup.
- Jalan kaki sebelum hal yang berat, bukan cuma sesudahnya. Berkeliling sebentar sebelum rapat yang menegangkan atau tugas kreatif memberi kamu manfaat yang bertahan lama seperti temuan Stanford.
- Bawa masalahnya, lalu lepaskan. Pegang pertanyaannya dengan longgar di pikiran saat kamu mulai berjalan, lalu berhenti memikirkannya terus-menerus dan cukup berjalan saja. Biarkan perhatianmu melayang. Jawaban biasanya muncul justru saat kamu tidak sedang menatapnya.
- Sesekali, matikan audio. Podcast boleh jadi teman yang baik, tapi kalau kamu sedang mencoba mengurai sesuatu, keheningan (atau sekadar suara jalanan) memberi ruang bagi pikiranmu untuk berkembang.
- Buat semudah mungkin untuk memulai. Sepatu diletakkan dekat pintu. Jadwal tetap lima menit setelah makan siang. Jalan kaki yang benar-benar membantu adalah yang benar-benar kamu jalani, artinya rencananya harus tetap bisa dilakukan bahkan di hari Selasa yang melelahkan.
Kalau jalan kaki panjang nggak memungkinkan
Kamu nggak butuh ruang terbuka atau waktu luang untuk mendapatkan manfaatnya. Mondar-mandir di koridor sambil memikirkan sebuah panggilan telepon. Ambil jalan memutar ke toilet. Melangkah ke balkon atau turun ke lobi lalu kembali. Tiga menit bergerak lebih berarti daripada tiga puluh menit menggeretakkan gigi di depan layar. Tubuh nggak menilaimu berdasarkan jarak tempuh.
Beberapa catatan penting
Berjalan kaki umumnya lembut dan aman untuk kebanyakan orang, tapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tetap begitu. Kalau kamu punya gangguan jantung, masalah sendi atau keseimbangan, atau baru pulih dari cedera atau sakit, tanyakan dulu ke dokter tentang yang paling sesuai untukmu, dan jangan ragu menggunakan tongkat, treadmill dengan pegangan, atau teman jalan. Nggak ada nilai tambah dari memaksakan diri sendirian.
Dan meskipun berjalan kaki sungguh membantu suasana hati yang sedang turun atau cemas, ini bukan pengganti perawatan saat kamu membutuhkannya. Kalau rasa sedih, putus asa, atau kecemasan bertahan selama berminggu-minggu, mengganggu tidur, pekerjaan, atau hubunganmu, atau membuat kamu susah berfungsi seperti biasa, itu layak dibicarakan dengan dokter atau terapis. Meminta bantuan adalah bentuk kekuatan tersendiri, dan keduanya bisa berjalan bersamaan. Jalan kaki tetap, dan telepon juga tetap dilakukan.
Keindahan tenang dari hal ini ada pada betapa sederhananya. Nggak perlu alat, nggak perlu keahlian, nggak perlu beli apa pun. Lain kali pikiranmu kusut dan layar sudah nggak membantu, langkahnya sederhana. Berdiri. Keluar rumah, atau sekadar berjalan ke ujung koridor. Biarkan kakimu ikut berpikir selama beberapa menit. Lebih sering dari yang kamu duga, saat kamu duduk kembali, ada sesuatu yang sudah melonggar.
Sumber
- American Psychological Association, Taking a walk may lead to more creativity than sitting, study finds
- National Library of Medicine (PMC), The Effect of Walking on Depressive and Anxiety Symptoms: Systematic Review and Meta-Analysis