Langsung ke konten utama

CINTA YANG BERTAHAN · KEMITRAAN

Membagi beban mental: berbagi pekerjaan yang tak terlihat

Membagi beban mental berarti berbagi kerja yang tak terlihat: hal-hal yang harus diingat, direncanakan, dan diperhatikan yang tidak muncul di daftar tugas rumah mana pun. Salah satu dari kalian selalu ingat jadwal ke dokter gigi, kado ulang tahun, dan bahwa susu di rumah sudah mau habis. Kalau yang selalu ingat itu kamu, rasa lelahnya nyata, meskipun tugas rumah tampak sudah dibagi rata. Berikut cara mengenali kerja tak terlihat ini dengan jelas dan mulai memikulnya bersama-sama.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Pasangan berswafoto di tempat tidur

Foto oleh Vitaly Gariev di Unsplash

Pasangan kamu yang cuci piring. Dia yang jemput anak-anak setiap Selasa. Kalau ditanya, dia akan bilang, jujur saja, kalian berdua membagi tugas dengan cukup seimbang. Tapi tetap saja, kamu yang terbaring tak bisa tidur sambil memikirkan daftar itu. Siapa yang butuh sepatu baru. Kapan mobil harus diservis. Apakah perlu bawa kado untuk pesta hari Sabtu, dan apakah kamu benar-benar sudah RSVP.

Kesenjangan itu punya nama. Pekerjaan rumah yang bisa kamu lihat cuma separuh dari keseluruhan kerja. Separuh lainnya adalah menyadari, merencanakan, mengingat, dan kekhawatiran diam-diam yang menjaga rumah tangga dan keluarga tetap berjalan. Para peneliti menyebutnya beban kognitif (cognitive labor). Kebanyakan orang menyebutnya beban mental. Ini jarang muncul di daftar tugas rumah, dan penting untuk dibicarakan, karena ketika beban ini jatuh ke satu orang saja, ia menguras energi dengan cara yang sulit ditunjukkan tapi mudah diremehkan.

Sebenarnya, apa itu kerja yang tak terlihat?

Sosiolog Allison Daminger mewawancarai puluhan pasangan dan menemukan bahwa sisi pemikiran dalam mengurus rumah tangga terbagi menjadi empat langkah. Kamu mengantisipasi kebutuhan sebelum jadi masalah (persediaan popok mulai menipis). Kamu mengidentifikasi pilihan yang ada (yang mana, dari mana, dengan harga berapa). Kamu memutuskan. Lalu kamu memantau untuk memastikan hal itu benar-benar ditangani dan tidak diam-diam terlewat.

Mencuci piring adalah satu tugas. Piring selesai kalau sudah bersih. Tapi mengantisipasi dan memantau tidak pernah selesai. Keduanya terus berjalan di latar belakang, sepanjang hari, setiap hari, dan justru paling berat saat kamu sedang mencoba beristirahat.

Ini bagian yang mengejutkan banyak orang. Daminger menemukan bahwa bahkan pada pasangan yang membagi pekerjaan fisik dengan cukup adil, dua dari empat langkah itu hampir selalu jatuh ke perempuan: mengantisipasi dan memantau. Bagian memutuskan biasanya dibagi bersama. Tapi menyadari dan mengingat, tidak. Jadi, sebuah pasangan bisa membagi rata pekerjaan yang terlihat, tapi tetap ada satu orang yang menanggung seluruh beban dari apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya.

Mengapa ini terasa begitu melelahkan padahal terlihat sepele?

Dari luar, beban mental terlihat seperti bukan apa-apa. Tidak ada yang melihat kamu mengingat bahwa surat izin harus dikumpulkan hari Jumat. Tidak ada wastafel penuh bukti. Ketidaktampakan itu justru inti masalahnya. Sulit merasa dihargai untuk pekerjaan yang tidak dilihat siapa pun, dan sulit meminta bantuan untuk sesuatu yang tidak bisa kamu tunjukkan.

Dampaknya bisa diukur. Sebuah studi terhadap lebih dari 300 ibu di USC menemukan bahwa perempuan menanggung sekitar tiga perempat dari beban kognitif rumah tangga, kesenjangan yang lebih besar dibanding pekerjaan fisik. Dan justru beban mental, bukan tugas fisik, yang paling berkaitan dengan stres yang lebih tinggi, kepuasan hubungan yang lebih rendah, dan burnout. Para peneliti di Radcliffe Institute, Harvard, menggambarkannya sebagai kebocoran “ruang pikiran” dan “bandwidth”, sumber daya yang tidak terlihat kalau kamu hanya menghitung jam yang dihabiskan untuk bersih-bersih.

Semua ini bukan berarti pasangan kamu pemalas atau tidak peduli. Sering kali, orang yang menanggung beban lebih ringan memang benar-benar tidak melihatnya, karena inti dari beban mental adalah sifatnya yang tak terlihat. Dan ini juga kabar baiknya. Apa yang tak terlihat bisa dibuat terlihat. Begitu dua orang bisa melihatnya bersama, mereka bisa benar-benar membaginya.

Ada alasan lain mengapa beban ini menumpuk diam-diam. Rumah tangga cenderung punya satu orang “default”, orang yang jadi tujuan semua orang saat sekolah menelepon, saat anak tidak menemukan sepatu bolanya, saat sesuatu harus segera diputuskan. Menjadi orang “default” itu sendiri sudah jadi pekerjaan. Artinya kamu tidak pernah benar-benar libur, karena sewaktu-waktu kamu bisa dibutuhkan untuk tahu jawabannya. Membagi beban ini bukan sekadar membagi tugas. Artinya ada dua orang yang benar-benar bisa diandalkan oleh rumah tangga itu.

Membawanya ke permukaan

Kuncinya bukan melimpahkan beberapa tugas rumah tambahan. Kuncinya adalah melimpahkan bagian menyadari dan mengingat, bagian yang hidup di kepala kamu. Ini butuh percakapan yang sungguh-sungguh, bukan komentar sekilas di tengah malam yang penuh tekanan.

  1. Pilih momen yang tenang, bukan saat suasana memanas. Jangan bahas ini di tengah pertengkaran atau saat kamu sedang berdiri di depan wastafel. Coba katakan sesuatu seperti, “Ada sesuatu yang selama ini aku tanggung, dan aku ingin kita lihat bersama-sama.” Kamu mengajak rekan setim untuk masuk, bukan mengajukan keluhan.
  2. Buat yang tak terlihat menjadi terlihat. Selama satu minggu, catat tugas-tugas mental begitu muncul di kepala kamu. Pesan singkat yang kamu kirim, jadwal yang kamu buat, catatan mental tentang apa yang mulai habis. Kebanyakan orang terkejut melihat panjangnya daftar itu, termasuk pasangan yang tidak tahu daftar itu ada.
  3. Serahkan seluruh tugas, bukan cuma langkah-langkahnya. Ini yang benar-benar mengubah keadaan. Jangan minta pasangan kamu “membantu” soal baju anak-anak. Serahkan seluruhnya kepada mereka, dari awal sampai akhir: menyadari mana yang sudah kesempitan, ukurannya, budgetnya, sampai memesannya, semuanya. Kalau kamu hanya mendelegasikan bagian mengerjakan tapi tetap memegang bagian memutuskan, kamu masih jadi manajernya, dan bagian mengelola itulah yang paling berat.
  4. Lepaskan soal cara mereka melakukannya. Kalau kamu langsung mengambil kembali satu tugas begitu dikerjakan tidak sesuai caramu, tugas itu diam-diam jadi milikmu lagi. Cara yang berbeda dalam menanganinya adalah harga yang harus dibayar untuk benar-benar membagi beban. Sistem mereka tidak perlu sama persis dengan sistemmu agar tetap dihitung.
  5. Sepakati, lalu tinjau kembali. Sepakati siapa yang benar-benar memegang apa, lalu cek lagi beberapa minggu kemudian. Beberapa pelimpahan tugas tidak akan langsung berhasil di percobaan pertama. Itu wajar. Kamu sedang membangun ulang kebiasaan yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun.

Kalau kamu yang selama ini menanggung lebih ringan

Kalau saat membaca ini kamu menyadari bahwa kamulah pasangan yang menanggung beban lebih ringan, kesadaran itu sendiri sudah jadi titik balik. Jangan bersikap defensif, dan jangan menunggu diberi daftar tugas. Pilih satu bidang dan pegang penuh, termasuk bagian yang hidup di kepala. Tanyakan, “Apa yang tidak aku lihat?”, lalu benar-benar cari jawabannya. Mengambil kepemilikan penuh atas satu bidang saja, dari awal sampai akhir, memberikan sesuatu yang sangat dibutuhkan pasanganmu: kesempatan untuk benar-benar berhenti memikirkannya.

Kalau ini terus berulang

Sebagian dari ini bisa diselesaikan lewat beberapa percakapan yang jujur. Sebagian lagi berakar pada hal yang lebih dalam dan lebih lama, keyakinan yang tak terucap bahwa ini “memang tugas perempuan”, atau kebiasaan lama dari cara kalian masing-masing dibesarkan. Kalau kalian terus terjebak dalam pertengkaran yang sama, atau salah satu mulai bergeser ke arah kebencian yang sungguhan atau burnout, terapis pasangan bisa membantu mengubah pola itu, bukan cuma daftar tugasnya. Itu bukan tanda hubungan sedang gagal. Itu tanda dua orang memutuskan bahwa hubungan ini layak untuk dirawat.

Dan kalau beban yang kamu tanggung sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih berat, rasa cemas yang terus menetap, kelelahan yang tidak hilang meski sudah tidur, kehampaan yang tidak bisa kamu kibaskan, tolong bicara dengan dokter atau profesional kesehatan mental. Merasa terlalu tertekan dalam waktu lama bukan kekurangan karakter, dan kamu tidak perlu menahannya sendirian.

Tujuannya di sini bukan mencari catatan yang benar-benar seimbang, dihitung tugas demi tugas. Tujuannya adalah kelegaan karena tahu ada orang lain yang ikut mengawasi jalan bersamamu, bahwa kamu bukan satu-satunya yang harus mengingat. Beban yang dibagi terasa lebih ringan karena alasan yang jelas. Tapi juga terasa lebih ringan karena akhirnya kamu bisa meletakkannya.

Sumber

  1. American Sociological Review, The Cognitive Dimension of Household Labor (Allison Daminger)
  2. USC Dornsife, Moms think more about household chores, and this cognitive burden hurts their mental health
  3. Radcliffe Institute, Harvard University, The Unseen Inequity of Cognitive Labor

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi