Langsung ke konten utama

CINTA YANG BERTAHAN · KETERHUBUNGAN

Keretakan yang sunyi: menyadari keterputusan sebelum terlambat

Perlahan-lahan tergerus, begitulah cara kebanyakan hubungan menipis; menyadari keretakan sebelum terlambat berarti memperhatikan usaha-usaha kecil untuk terhubung. Kebanyakan hubungan tidak berakhir karena satu pertengkaran besar. Hubungan itu menipis pelan-pelan, lewat momen-momen kecil yang tak pernah dicatat siapa pun di kalender. Berikut cara mengenali keretakan itu sejak dini, dan apa yang benar-benar bisa menutup jaraknya.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Perempuan berbusana hitam putih berdiri di samping anjing putih

Foto oleh Sandra Seitamaa di Unsplash

Tidak ada yang menjadwalkan detik saat mereka berhenti saling menjangkau. Jarang ada pertengkaran yang bisa menjelaskannya. Kamu tetap sopan satu sama lain. Kamu masih berbagi tugas rumah, mengingat jadwal ke dokter gigi, dan tidur di kasur yang sama. Dari luar, bahkan dari kebanyakan sisi dalam, hubungan ini terlihat baik-baik saja.

Lalu suatu malam kamu sadar tidak bisa mengingat kapan terakhir kali kalian benar-benar mengobrol. Bukan soal logistik. Bukan soal siapa yang menjemput anak-anak atau makan malam apa. Obrolan yang sebenarnya, yang di dalamnya salah satu dari kalian mengatakan sesuatu yang jujur dan yang lain benar-benar mendengarkan.

Jarak itulah yang kami maksud dengan erosi diam-diam. Prosesnya lambat, wajar terjadi, dan masih bisa diperbaiki kalau disadari sejak dini. Bagian sulitnya, jarak ini hampir tidak pernah memberi tanda.

Kenapa jarak yang perlahan ini justru yang paling berbahaya?

Kita cenderung berpikir hubungan runtuh atau kuat karena hal-hal besar. Perselingkuhan, pertengkaran yang meledak, pengkhianatan. Semua itu memang terjadi. Tapi penelitian tentang apa yang sebenarnya menentukan sebuah pasangan tetap bersama justru menunjuk ke hal yang jauh lebih sederhana.

Di laboratorium risetnya di Seattle, psikolog John Gottman menghabiskan puluhan tahun mengamati interaksi pasangan, lalu mengikuti mereka selama bertahun-tahun untuk melihat siapa yang bertahan. Yang membedakan pasangan yang tetap dekat dari yang akhirnya berpisah bukan cara mereka bertengkar. Melainkan cara mereka merespons satu sama lain di detik-detik biasa yang mudah terlupakan. Seorang pasangan mendongak dari mencuci piring dan berkata, “Lihat, ada burung.” Yang lain menengok. Atau tidak.

Gottman menyebut uluran kecil ini sebagai “bids for connection” (upaya menjalin koneksi), dan responsnya ia sebut “turning toward” (merespons) atau “turning away” (mengabaikan). Angkanya cukup mencolok. Di laboratoriumnya, pasangan yang tetap bahagia bersama merespons upaya koneksi pasangannya sekitar 86 persen dari waktu. Pasangan yang kemudian berpisah hanya merespons sekitar 33 persen dari waktu. Momen-momen kecil yang sama. Masa depan yang jauh berbeda.

Itulah mesin di balik erosi diam-diam. Satu “lihat, ada burung” yang diabaikan tidak berarti apa-apa. Tapi ribuan momen seperti itu, yang menumpuk selama bertahun-tahun, mengajarkan dua orang bahwa menjangkau tidak menghasilkan apa-apa. Jadi mereka berhenti menjangkau. Keheningan yang muncul setelahnya terasa seperti ketenangan. Padahal lebih mendekati kelaparan.

Seperti apa sebenarnya jarak ini terlihat?

Keterputusan hubungan itu licik justru karena tidak tampak seperti konflik. Sering kali ia justru tampak seperti kedamaian. Berikut beberapa tanda halus yang patut diperhatikan, pada dirimu sendiri atau di antara kalian berdua:

  • Obrolan kalian menyusut jadi sekadar logistik. Jadwal, tagihan, anjing peliharaan, mertua. Bagian “administratif” dari hidup bersama berjalan lancar, tapi hampir tidak ada lagi yang benar-benar dibicarakan.
  • Kamu mulai menceritakan hal-hal pada orang lain yang dulu biasa kamu ceritakan ke pasanganmu terlebih dahulu. Teman, rekan kerja, atau saudara kini mendengar kabar baik maupun kabar buruk lebih dulu dari pasanganmu.
  • Kamu merasa sendirian meski berada di ruangan yang sama. Secara fisik bersama, tapi secara emosi entah di mana. Kesepian seperti ini bisa terasa lebih menyakitkan daripada benar-benar sendiri.
  • Rasa ingin tahu memudar. Kamu merasa sudah tahu apa yang akan mereka katakan, jadi kamu berhenti bertanya. Mereka melakukan hal yang sama.
  • Sentuhan menjadi sekadar fungsional atau makin jarang. Tepukan ringan di bahu, pelukan yang sungguh-sungguh, sapaan fisik kecil, semua itu perlahan menghilang tanpa ada yang benar-benar memutuskannya.
  • Kamu diam-diam mulai menghitung siapa yang berbuat lebih banyak. Kekesalan menumpuk di latar belakang, tapi belum cukup keras untuk dijadikan alasan bertengkar.

Tidak satu pun dari tanda-tanda ini membuktikan apa-apa dengan sendirinya. Setiap hubungan jangka panjang pasti melewati fase-fase berjarak, terutama saat stres, punya bayi baru, musim kerja yang berat, sakit, atau duka. Pertanyaannya adalah apakah jarak ini hanya sebuah musim, atau sudah menjadi arah yang dituju.

Harga yang harus dibayar kalau berpura-pura semuanya baik-baik saja

Godaan untuk menunggu saja memang besar. Semuanya terasa tenang. Kenapa harus diusik? Tapi jarak emosional tidak netral, dan dampaknya tidak hanya hidup di dalam perasaanmu.

Sebuah studi jangka panjang pada pasangan suami istri lanjut usia menemukan bahwa kesepian dalam pernikahan berkaitan dengan kesehatan fisik yang lebih buruk untuk kedua pasangan, termasuk ukuran yang terkait dengan gula darah dan kesehatan pembuluh darah. Yang penting, hubungan yang kuat dan saling mendukung meredam dampak tersebut. Kedekatan bukan sekadar pelengkap di atas pernikahan. Ia benar-benar melindungi dua tubuh, bukan cuma dua hati.

Ada juga harga yang lebih diam-diam. Ketika dua orang berhenti merespons satu sama lain, hubungan kehilangan cadangannya. Riset Gottman menunjukkan semacam “laporan keuangan emosional”: pasangan yang stabil dan bahagia menjaga rasio sekitar lima interaksi positif untuk setiap satu interaksi negatif saat berkonflik. Tabungan kecil berupa kehangatan dan perhatian setiap hari itulah yang dipakai hubungan saat pertengkaran sungguhan akhirnya datang. Kalau tabungan itu terus terkuras selama tahun-tahun yang tenang, badai serius pertama tidak punya apa-apa lagi untuk dijadikan pegangan.

Bagaimana cara mulai kembali merespons satu sama lain?

Kabar baiknya, perbaikan yang dibutuhkan bisa sesederhana itu. Kalau kerusakannya terjadi lewat momen-momen kecil, pemulihannya pun bisa lewat momen-momen kecil. Kamu tidak perlu percakapan dramatis atau liburan akhir pekan khusus untuk memulai. Kamu hanya perlu mulai memperhatikan lagi upaya-upaya kecil untuk terhubung, baik dari pasanganmu maupun dari dirimu sendiri.

Beberapa hal yang bisa jadi awal:

Tangkap uluran berikutnya dan tanggapi. Selama satu hari, coba perhatikan saat pasanganmu mengulurkan tangan, entah lewat komentar, helaan napas, kalimat yang tidak selesai, atau cerita tentang harinya. Lalu tanggapi seolah itu penting. Letakkan ponselmu. Dongakkan kepala. Tanyakan lebih jauh. Kamu tidak sedang menyelesaikan apa pun. Kamu hanya hadir untuk momen kecil itu.

Tanyakan satu pertanyaan yang sungguh-sungguh setiap hari. Bukan “Kerjaan gimana?” yang biasanya cuma dijawab “Baik.” Coba tanyakan “Bagian paling menyenangkan hari ini apa?” atau “Belakangan ini kamu banyak mikirin apa?” Intinya adalah menumbuhkan rasa ingin tahu yang tulus pada seseorang yang selama ini kamu anggap sudah kamu kenal seluruhnya. Padahal belum. Tidak ada orang yang pernah benar-benar “selesai” dikenal.

Hidupkan kembali ritual kecil. Enam menit di depan pintu saat salah satu dari kalian pergi atau pulang. Ngopi bersama sebelum rumah mulai ramai. Jalan santai setelah makan malam tanpa ponsel. Ritual-ritual ini yang membuat koneksi tidak lagi bergantung pada mood, tapi berjalan otomatis, dengan cara yang baik.

Ucapkan jaraknya dengan lembut. Ini yang paling butuh keberanian. Bukan sebagai tuduhan, tapi sebagai ajakan. Misalnya, “Belakangan ini aku merasa agak jauh dari kamu, dan aku kangen. Bisa nggak kita cari cara buat lebih dekat lagi?” Kalau diucapkan tanpa menyalahkan, kalimat itu sendiri sudah jadi sebuah uluran. Cara pasanganmu merespons akan banyak bercerita.

Turunkan standar untuk menunjukkan sayang. Kamu tidak perlu menunggu perasaan romantis meluap dulu untuk meletakkan tangan di punggung pasanganmu. Sering kali perasaan itu justru muncul setelah gestur, bukan sebaliknya. Bersikap hangat, dan kehangatan biasanya menyusul.

Perhatikan, tidak satu pun dari ini terasa besar. Justru itulah intinya. Pasangan yang tetap dekat bukan mereka yang terus-terusan penuh gebyar. Mereka adalah yang terus saling merespons di momen-momen kecil, tahun demi tahun, jauh setelah gairah awal memudar.

Kapan hubungan ini butuh lebih dari sekadar usaha kalian berdua?

Kadang jaraknya sudah lebih lebar daripada yang bisa dijangkau perbaikan sehari-hari, dan itu penting untuk diakui secara jujur. Kalau kamu sudah mencoba merespons dan mendekat lagi, tapi selalu menabrak tembok. Kalau setiap usaha untuk mengobrol sungguhan selalu berujung pada pertengkaran atau keheningan yang sama. Kalau ada sikap merendahkan di ruangan, seperti memutar mata dan mencemooh, atau salah satu dari kalian menutup diri sepenuhnya dan pergi begitu saja. Ini adalah pola yang lebih berat, dan terapis pasangan yang terlatih dalam metode berbasis bukti bisa membantu dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh niat baik saja.

Meminta bantuan lebih awal bukan tanda hubungan gagal. Justru itu salah satu hal paling kuat yang bisa dilakukan dua orang yang saling berkomitmen, dan hasilnya jauh lebih baik sebelum kekesalan mengeras selama bertahun-tahun.

Satu catatan penting yang berbeda dan lebih mendesak. Jika hubunganmu melibatkan kekerasan fisik, ancaman, intimidasi, atau rasa takut, ini bukan lagi soal menyambung kembali koneksi, dan saran di atas tidak berlaku untuk situasimu. Keselamatanmu adalah yang utama, dan ada orang-orang yang terlatih untuk membantumu memikirkan langkah selanjutnya secara pribadi dan tanpa menghakimi.

Kebanyakan hubungan yang menjauh sebenarnya tidak pernah benar-benar rusak. Mereka hanya kurang diperhatikan, dua orang yang jadi sibuk dan lelah, lalu berhenti mendongak. Uluran untuk kembali mendekat hampir selalu lebih kecil daripada yang kamu bayangkan. Biasanya semua dimulai dari satu orang yang memutuskan untuk memperhatikan, lalu merespons.

Sumber

  1. The Gottman Institute, Want to Improve Your Relationship? Start Paying More Attention to Bids
  2. The Gottman Institute, The Magic Relationship Ratio, According to Science
  3. PubMed Central, Loneliness, Marital Quality, and Vascular Health Among Older U.S. Couples: A Longitudinal Dyadic Study

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi