Mungkin itu saudara yang selalu membenarkan setiap ucapanmu. Yang membahas politik bahkan sebelum makanan tersaji di meja. Orang tua yang persetujuannya sudah lama kamu berhenti kejar, tapi entah kenapa masih terasa tariknya. Kamu pasti sudah tahu siapa orangnya. Mungkin dadamu sedikit sesak begitu membaca ini.
Ada satu hal yang perlu diucapkan sebelum kita lanjut: merasa cemas menghadapi acara keluarga bukan berarti kamu dingin, tidak tahu berterima kasih, atau anak yang buruk. Itu hanya berarti kamu punya sejarah panjang dengan orang-orang tertentu. Musim liburan sering menyeret semua orang kembali ke peran lama masing-masing. Sepanjang tahun kamu orang dewasa, tapi begitu melewati satu pintu tertentu, kamu langsung kembali jadi anak empat belas tahun yang bersiap menahan diri.
Kamu tidak bisa mengontrol siapa orang itu atau bagaimana dia akan bersikap. Itu bukan tanggung jawabmu untuk diperbaiki. Yang bisa kamu lakukan adalah menentukan, dari awal, seberapa banyak dirimu yang akan kamu serahkan pada jam-jam yang berat itu. Itu intinya. Yuk, kita susun rencananya.
Tentukan apa yang sebenarnya kamu inginkan dari hari itu
Sebelum memikirkan logistiknya, jujurlah dulu soal tujuanmu. Kebanyakan dari kita datang membawa harapan diam-diam yang tak pernah kita ucapkan: tahun ini akhirnya mereka akan melihat kita, minta maaf, atau berubah. Ketika itu tidak terjadi, kekecewaannya terasa seperti luka baru, padahal sebenarnya luka lama.
Coba tukar harapan itu dengan sesuatu yang benar-benar bisa kamu capai. Bukan "aku dan ibuku akan akhirnya benar-benar terhubung." Lebih ke arah "aku akan tetap ramah, tidak akan terpancing, dan pulang jam sembilan dengan perasaan baik-baik saja." Tujuan yang realistis punya dua manfaat. Ia melindungimu dari kekecewaan yang memang tidak pernah bisa kamu cegah, dan memberimu cara pasti untuk tahu, di akhir malam, bahwa kamu sudah melakukannya dengan baik. Kamu berhasil mempertahankan dirimu. Itu sudah menang, dan tidak ada yang bisa merenggutnya darimu.
Kenali dulu pemicumu sendiri
Orang-orang yang kaget dan terpukul saat acara keluarga biasanya adalah mereka yang datang dengan asumsi kali ini akan berbeda. Sementara yang tetap tenang biasanya sudah tahu betul di mana letak ranjau-ranjaunya.
Jadi, buat daftar diam-diam sebelum berangkat. Apa sih yang selalu berhasil membuatmu terganggu? Mungkin nada bicara tertentu yang meremehkan. Komentar soal berat badanmu, pekerjaanmu, status hubunganmu, anak-anakmu, atau pilihan hidupmu. Dipotong saat bicara. Atau caranya satu orang menguasai seluruh percakapan. Menyadari hal-hal ini sejak awal bukan pesimisme. Itu persiapan. Saat komentar itu akhirnya muncul, kamu tidak akan kaget. Kamu akan berpikir, nah, ini dia, yang memang sudah kuduga akan datang, dan kesadaran kecil itu memberimu waktu sepersekian detik untuk memilih respons, bukan langsung membalas secara refleks.
Tetapkan batasan sebelum tiba, bukan saat suasana sudah memanas
Batasan hanyalah pernyataan jelas tentang apa yang akan dan tidak akan kamu lakukan. Bukan hukuman, dan bukan usaha mengontrol orang lain. Seperti yang dijelaskan Cleveland Clinic, batasan yang sehat menyampaikan kebutuhanmu sendiri, sekaligus tetap mengakui kebutuhan orang-orang di sekitarmu. Batasan itu soal dirimu, bukan soal menang.
Kuncinya, batasan jauh lebih efektif kalau disampaikan lebih awal dan dengan tenang, bukan di tengah pertengkaran dengan rahang mengeras. Beberapa contohnya seperti ini:
- Batasi durasinya. Kamu tidak wajib menghabiskan seluruh hari. Tentukan waktu datang dan pulang sejak awal, bawa kendaraan sendiri atau siapkan jalan pulangmu sendiri, dan kamu diam-diam sudah memberi dirimu jalan keluar tanpa perlu izin siapa pun.
- Sebutkan topik yang tidak ingin dibahas, dengan santai. "Aku nggak mau bahas politik hari ini, mending nikmatin makanannya aja." Katakan sekali, dengan hangat, sebelum emosi memanas. Mungkin kamu perlu mengulanginya. Tidak masalah. Mengulang bukan berarti kasar.
- Gunakan "aku" bukan "kamu". "Aku perlu keluar sebentar" tidak memicu perdebatan. "Kamu selalu begini" justru memulainya. Menjaga fokus pada kebutuhanmu sendiri membuat orang lain tidak merasa perlu bertahan, dan itulah yang kamu inginkan.
- Buat singkat saja. Kamu tidak perlu penjelasan sepanjang paragraf. "Itu nggak cocok buatku" sudah cukup sebagai kalimat lengkap. Menjelaskan berlebihan hanya memberi orang lain banyak hal untuk didebat.
Kebenaran yang jarang diucapkan soal batasan adalah, batasan hanya berarti kalau kamu benar-benar menjalankannya. Kalau kamu bilang akan pergi saat suasana mulai berteriak, ya pergilah. Menepati kata-katamu, dengan lembut dan tanpa drama, itulah yang mengajarkan orang lain di mana batas sebenarnya.
Soal ranjau politik, secara khusus
Banyak ketegangan liburan sekarang bermuara pada satu hal: ada yang ingin berdebat soal berita. Dan ini bukan perasaanmu saja, hal ini memang makin umum terjadi. American Psychological Association melaporkan bahwa hampir dua dari lima orang dewasa berencana menghindari kerabat yang berbeda pandangan selama liburan, dan lebih dari separuh lainnya hanya berharap bisa lolos dari obrolan politik di meja makan. Kamu ada di tengah kerumunan besar yang sama-sama lelah.
Kamu berhak untuk tidak ikut. Psikolog Tania Israel punya poin yang berguna di sini: jangan mengunci dirimu pada aturan kaku, entah diam total atau terus-menerus berdebat. Tetap fleksibel dan baca situasinya. Kalau percakapan terasa bisa mengarah ke sesuatu yang baik, cerita pribadi biasanya lebih membuka pikiran orang dibanding deretan fakta. Kalau jelas-jelas cuma umpan, kamu tidak perlu memakannya. "Kita nggak akan pernah sepakat soal itu, tapi aku tetap sayang kamu, tolong ambilkan kentangnya" menutup pintu tanpa membantingnya.
Siapkan beberapa jalan keluar di saku belakangmu
Saat momennya tiba, pikiranmu bisa langsung blank. Jadi, siapkan dari sekarang beberapa langkah kecil yang bisa diulang, yang bisa kamu ambil tanpa perlu berpikir keras:
- Ganti topik. Tanyakan sesuatu yang memang disukai orang itu. Orang jarang terus menyindirmu saat mereka sedang membahas kebun, cucu, atau pertandingan favoritnya.
- Cari kesibukan. Tawarkan diri membantu di dapur, membawa hidangan, atau mengajak anjing jalan-jalan. Bergerak adalah cara yang benar-benar sah untuk keluar dari sebuah percakapan.
- Ambil waktu ke kamar mandi meski tidak butuh. Dua menit sendirian, satu tarikan napas panjang, bahu diturunkan, dan kamu sudah mengatur ulang tubuhmu sebelum kembali.
- Temukan sekutumu. Hampir setiap acara punya setidaknya satu orang yang aman, sepupu, saudara, atau pasanganmu sendiri. Tangkap tatapan matanya. Mengetahui ada satu orang yang memahami situasi bisa jadi kekuatan besar.
Semua ini tidak dramatis. Memang begitu tujuannya. Bukan untuk menguasai ruangan, tapi untuk tetap berdiri kokoh di atas kakimu sendiri.
Setelahnya, berpihaklah pada dirimu sendiri
Sesampainya di rumah, tahan keinginan untuk memutar ulang setiap percakapan dan menilai dirimu sendiri atas itu. Kamu sudah berada dalam situasi yang berat dan berhasil melewatinya. Itu sudah cukup berarti. Lakukan sesuatu yang benar-benar mengisi ulang energimu, jalan santai, tontonan favorit, atau menelepon seseorang yang nyaman diajak bicara. Saran sederhana dari APA soal stres liburan adalah menjaga hal-hal dasar, tidur, bergerak, dan sedikit waktu yang benar-benar untuk dirimu sendiri, karena itulah yang mencegah stres menumpuk hari demi hari.
Dan izinkan dirimu merasakan dua hal sekaligus. Kamu bisa merasa lega semuanya sudah berakhir, dan tetap sedikit sedih karena tidak lebih hangat. Keduanya boleh dirasakan. Sebagian besar urusan keluarga memang hidup di antara dua perasaan itu.
Kapan ini lebih dari sekadar liburan yang berat?
Ada perbedaan antara kerabat yang melelahkan dan hubungan yang benar-benar menyakitimu. Kalau berada di dekat anggota keluarga membuatmu benar-benar takut, kalau ada kekerasan dalam bentuk apa pun, atau kalau rasa cemas itu sampai mengganggu tidurmu, nafsu makanmu, atau kemampuanmu menjalani hari-hari selama berminggu-minggu di musim ini, itu butuh lebih dari sekadar rencana mengatasi. Seorang terapis bisa membantumu memahami apa yang benar-benar menjadi tanggung jawabmu, apa yang bukan, dan seperti apa jarak yang lebih sehat, termasuk, bagi sebagian orang, kontak yang jauh lebih sedikit atau bahkan tidak sama sekali. Memilih keselamatanmu sendiri di atas rasa wajib bukanlah egois. Kadang itu justru hal paling penuh cinta yang bisa kamu lakukan, untuk dirimu sendiri, dan pada akhirnya, untuk hubungan itu juga.
Kamu tidak perlu memperbaiki seluruh keluargamu tahun ini. Kamu hanya perlu melewati beberapa jam dengan ketenangan yang sebagian besar masih terjaga. Itu sudah cukup. Bersikap baiklah pada dirimu sendiri saat masuk, dan lebih baik lagi saat keluar.
Sources
- American Psychological Association, Political tensions threaten to compound holiday stress
- Cleveland Clinic, How To Set Boundaries in Healthy Ways
- American Psychological Association, Holidays don't have to mean excess stress. It's time to reframe your thoughts