Langsung ke konten utama

HUBUNGAN · BATAS DIRI

Cara melindungi ketenanganmu di sekitar orang yang negatif

Melindungi ketenanganmu dari orang-orang yang bersikap negatif dimulai dari satu fakta: mood itu menular, dan mood mereka tidak harus jadi mood kamu juga. Ada orang yang bikin kamu merasa terkuras habis, dan kamu enggak selalu bisa menghindarinya. Ini caranya menetapkan batasan tanpa harus berujung ribut, dan cara membedakan antara masa yang memang berat dengan hubungan yang justru menyakitimu.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Seorang wanita berdiri di ladang saat matahari terbenam

Foto oleh Hosein Sediqi di Unsplash

Ada satu jenis lelah yang tidak ada hubungannya dengan berapa jam kamu tidur. Kamu selesai mengobrol dengan seseorang dan malah terasa lebih berat dari sebelumnya. Rahangmu mengeras. Ada rasa cemas kecil yang menyusup diam-diam. Kamu memutar ulang kata-kata mereka sepanjang sore. Kalau ada seseorang yang langsung terlintas di pikiranmu sekarang, kamu pasti sudah tahu ini tentang siapa.

Mungkin itu orang tua yang mengubah setiap telepon menjadi daftar keluhan. Rekan kerja yang menjadikan kantor terasa seperti helaan napas panjang. Teman yang hanya menelepon saat langit runtuh, tidak pernah saat cerah. Kamu bukan orang jahat karena merasa terkuras oleh mereka. Kamu orang biasa yang bereaksi terhadap sesuatu yang nyata.

Sesuatu yang nyata itu punya nama, dan memahaminya bisa mengubah cara kamu menghadapinya.

Kamu tidak membayangkannya. Mood itu menular.

Perasaan menyebar antar orang, biasanya tanpa ada yang sengaja menularkannya. Psikolog menyebutnya *emotional contagion*, penularan emosi. Cleveland Clinic menjelaskannya dengan sederhana: emosi dan perilaku orang lain membentuk emosimu sendiri, seringkali tanpa kamu sadari itu terjadi. Ini dimulai sejak bayi, saat seorang bayi membalas senyum orang yang tersenyum padanya, dan itu tidak pernah benar-benar berhenti. Kita terus-menerus membaca satu sama lain, lewat nada suara, postur tubuh, bentuk bibir seseorang, dan tubuh kita diam-diam menyesuaikan diri.

Sebagian besar waktu, ini adalah berkah. Ini yang membuat ruangan penuh tawa ikut menarikmu, atau teman yang tenang bisa membuatmu ikut tenang. Tapi jalur yang sama juga bekerja sebaliknya. Habiskan satu jam dengan seseorang yang penuh kekesalan, dan kamu bisa ikut menangkap sedikit dari itu, seperti berdiri terlalu dekat dengan api unggun dan pulang dengan bau asap.

Ini bagian yang perlu direnungkan. Kemungkinan besar, energi negatif lebih mudah menular. Sebuah studi tahun 2024 di jurnal PLoS One menemukan bahwa kerentanan terhadap penularan emosi *positif* dan *negatif* sebenarnya adalah dua sifat yang berbeda, dan yang negatif berkaitan erat dengan kecemasan, depresi, dan stres. Menangkap kemuraman orang lain adalah kerentanan tersendiri, dan itu benar-benar merusak mood kamu dalam jangka panjang.

Jadi kalau kamu merasa terseret ke bawah setelah menghabiskan waktu dengan orang yang berat, itu bukan kelemahan atau kepekaan berlebihan. Itu sistem sarafmu bekerja sesuai fungsinya. Tujuannya bukan berhenti merasakan apa pun. Tujuannya adalah berhenti menyerap hal-hal yang bukan milikmu.

Cek diri sejenak sebelum bertindak

"Negatif" itu istilah yang luas, dan tidak semua orang di dalamnya butuh respons yang sama. Sebelum menarik garis tegas, ada baiknya kamu tahu dulu apa yang sebenarnya kamu hadapi.

Ada orang yang sedang melewati sesuatu yang berat. Kedukaan, sakit yang mengejutkan, masa yang berat di kerjaan. Beratnya mereka adalah musim, bukan sifat, dan yang mereka butuhkan adalah kesabaran, bukan batasan. Harvard Health menyampaikan hal ini dengan lembut: banyak tekanan dalam hubungan berasal dari keadaan, bukan dari hubungan itu yang bermasalah. Teman yang sedang di bulan gelap bukan masalah yang harus dikelola.

Ada juga orang yang memang membawa energi rendah. Mereka mengeluh, terpaku pada hal buruk, dan sulit dihadapi dalam dosis besar. Mereka bukan orang kejam. Mereka hanya menguras sesuatu darimu, dan solusinya biasanya soal seberapa banyak dan seberapa sering, bukan soal mengakhiri apa pun.

Dan ada orang yang membuatmu konsisten merasa lebih buruk, apa pun yang sedang terjadi dalam hidup mereka. Mereka mengkritik, menyimpan dendam, menghukummu karena punya kebutuhan, membuatmu merasa kecil. Itu situasi yang berbeda, dan itu memerlukan batasan yang lebih tegas, jarak yang lebih jauh, dan kadang bantuan dari luar.

Kamu tidak perlu memberi label pada siapa pun selamanya. Cukup sadari, dengan jujur, kamu sedang berdiri di posisi mana. Langkah yang tepat bergantung pada itu.

Menjaga ketenanganmu, dalam praktik

Apa pun kategorinya, ada beberapa hal yang benar-benar membantu. Pilih yang paling cocok untukmu.

Tentukan siapa yang mengatur suhumu

Perubahan paling berguna itu bersifat internal. Mood orang lain adalah informasi tentang *mereka*, bukan instruksi untuk *kamu*. Saat seseorang datang dengan kesal, tubuhmu ingin ikut menyesuaikan. Kamu bisa menyadari tarikan itu dan menolaknya. Ada kalimat kecil yang bisa kamu simpan: *itu cuaca mereka, bukan cuacaku.* Terdengar sederhana. Tapi ini menghentikan proses penularan otomatis tepat di saat mulai terjadi.

Beri sedikit jarak

Kamu bisa peduli pada seseorang dan tetap membatasi porsinya. Harvard Health, dalam pembahasan tentang kelelahan hubungan, menyarankan hal ini secara langsung: tetap ada untuk seseorang, tapi buat batasan supaya hubungan itu tidak terlalu menguras. Kalau seorang teman selalu menelepon saat krisis, kamu tidak harus menghentikan semuanya setiap kali. "Aku mau dengar soal ini. Bisa aku telepon kamu nanti jam tujuh?" memberi mereka perhatian yang tulus, dan mengembalikan sore harimu padamu. Kunjungan yang lebih singkat. Lebih jarang. Jalan santai daripada duduk lama-lama. Jarak bukan kekejaman. Itu cara kamu tetap mampu hadir sama sekali.

Jangan terpancing untuk memperbaiki mereka

Orang yang kronis negatif sering menarikmu ke dalam lingkaran: mereka mengeluh, kamu menawarkan solusi, mereka menjelaskan kenapa setiap solusi tidak akan berhasil, kamu mencoba lebih keras, mereka makin terpuruk, dan kamu pergi dalam keadaan lelah dan entah bagaimana merasa bertanggung jawab atas mood yang bukan kamu yang ciptakan. Kamu bisa keluar dari lingkaran itu. Kamu boleh mendengarkan dengan penuh kehangatan tanpa harus ikut memperbaiki perasaan yang bukan tanggung jawabmu. "Itu kedengarannya berat banget" sudah cukup sebagai respons. Kamu tidak berutang penyelamatan.

Perhatikan di mana kamu memikul hal yang bukan milikmu

Banyak tekanan di sini muncul dari menyerap tanggung jawab yang sebenarnya bukan milikmu. Mayo Clinic Health System mencatat bahwa banyak kecemasan sehari-hari tumbuh dari mengambil alih emosi, perilaku, dan pikiran orang lain sebagai milik sendiri. Saat kamu menyadari dirimu mengatur perasaan orang lain, berjalan seperti menginjak telur, melembutkan kabar sebelum menyampaikannya supaya mereka tidak kesal, itu tandanya. Reaksi mereka adalah beban yang harus mereka pikul sendiri.

Sampaikan batasan dengan jelas, dan lewati permintaan maaf

Saat kamu memang perlu menetapkan batasan yang sesungguhnya, cara yang didukung riset itu sederhana dan efektif. Sampaikan apa yang kamu butuhkan, dengan tenang dan langsung. Jangan menaikkan suara, jangan berlebihan menjelaskan, dan lawan dorongan untuk membenarkan dirimu habis-habisan. "Aku nggak akan bahas perceraianku saat makan malam." "Aku ada sekitar dua puluh menit hari ini." "Kerjaan tetap di kantor aja ya." Batasan yang dijelaskan sepuluh cara berbeda mengundang perdebatan pada setiap caranya. Batasan yang disampaikan sekali, dengan baik dan tanpa permintaan maaf, hanyalah fakta soal bagaimana kamu menjalani hidup.

Wajar kalau setelahnya kamu merasa sedikit bersalah. Rasa bersalah itu normal dan bukan tanda kamu melakukan sesuatu yang salah. Itu rasanya otot baru yang mulai dilatih. Rasa itu akan berkurang dengan latihan.

Isi ulang apa yang mereka kuras

Kalau kamu tidak bisa benar-benar menghindari seseorang yang menguras energi, kerabat yang selalu ada atau teman sebangku kerja, sengajalah untuk mengisi ulang. Waktu dengan orang-orang yang membuatmu ringan bukan kemewahan di sini. Itu perawatan. Penularan yang sama yang menangkap mood berat mereka bisa juga menangkap mood yang lebih baik, jadi carilah teman yang membuatmu tertawa, keluarga yang nyaman diajak bersama. Pulang dengan bau asap itu satu hal. Duduk di dekat api yang berbeda setelahnya membantu baunya hilang.

Sebenarnya, apa yang harus kamu katakan?

Kebanyakan orang tidak kesulitan dengan ide sebuah batasan. Mereka kesulitan di setengah detik ketika wajah asli seseorang ada di depan mereka dan kata-kata tidak keluar. Jadi ada baiknya menyiapkan beberapa kalimat sebelum kamu membutuhkannya. Kamu tidak menghafal skrip. Kamu hanya menghindarkan diri dari kepanikan mendadak.

Ketika seseorang terus mengulang keluhan yang sama:

  • "Aku bisa lihat ini benar-benar membebani kamu. Aku nggak punya solusinya, tapi aku senang kamu cerita ke aku."
  • "Aku mau jadi pendengar yang baik untuk ini. Bisa kita simpan dulu sebentar dan lanjutkan lagi nanti?"

Ketika curhat berubah jadi gosip atau membicarakan seseorang yang sebaiknya tidak kamu ikut bahas:

  • "Aku sebenarnya lebih baik nggak ikut bahas mereka."
  • "Itu urusan kalian berdua. Aku nggak ikut campur ya."

Ketika kamu harus pergi tapi mereka terus melanjutkan:

  • "Aku harus pergi, tapi aku mikirin kamu kok."
  • "Kita stop di sini dulu hari ini ya. Aku sudah di batas untuk hal berat."

Ketika sebuah permintaan akan menguras lebih dari yang kamu punya:

  • "Aku nggak bisa ambil itu sekarang."
  • "Itu nggak akan cocok buat aku."

Perhatikan apa yang tidak ada dalam semua kalimat ini. Tidak ada pembelaan panjang, tidak ada daftar alasan, tidak ada permintaan maaf yang bertumpuk. American Psychological Association menunjukkan gerakan yang sama dalam praktik klinis: berhenti sejenak sebelum menyetujui, dan beri dirimu ruang dengan sesuatu seperti "biar aku kabari lagi soal itu." Jawaban singkat itu kokoh. Semakin banyak kata yang kamu tambahkan, semakin banyak pegangan yang kamu beri orang lain untuk berdebat.

Kalau mengucapkan hal-hal ini terasa kasar, itu layak direnungkan. Banyak dari kita dibesarkan untuk memperlakukan batasan diri sebagai sesuatu yang harus dimintakan maaf. Padahal bukan begitu. Batasan yang disampaikan dengan baik adalah salah satu hal yang paling menghargai seseorang, karena itu memberi tahu mereka kebenaran tentang apa yang bisa dan tidak bisa kamu lakukan, bukan menyimpan kebencian diam-diam nanti.

Versi yang ada di genggaman tanganmu

Banyak energi negatif tidak lagi datang secara langsung. Ia datang lewat layar, di grup chat yang tidak pernah tidur, di feed yang menghargai kemarahan, di kerabat yang hanya muncul untuk berdebat di kolom komentar. Penularan itu bekerja sama saja lewat ponsel seperti melintasi meja makan, dan kadang lebih parah, karena tidak ada ujungnya dan tidak ada nada suara yang bisa melembutkan.

Saran Cleveland Clinic sendiri untuk mengelola penularan emosi termasuk mengurangi volume media sosial dan berita. Ini bukan soal bersembunyi dari dunia. Ini soal memilih seberapa banyak dunia itu mengalir ke dalam dirimu, dan kapan. Beberapa langkah kecil sudah sangat membantu. Bisukan chat yang menguras energimu daripada keluar dan bikin masalah baru. Putuskan bahwa kamu tidak membaca berita di tempat tidur, atau pertama kali bangun, atau sebelum tidur. Unfollow akun yang selalu membuatmu pahit, meskipun kamu setuju dengan isinya. Semua ini bukan penghindaran. Ini batasan yang sama seperti yang kamu tetapkan pada seseorang, hanya diterapkan pada perangkat yang pas di genggaman tanganmu dan selalu mengikutimu.

Kapan ini lebih dari sekadar orang yang sulit dihadapi?

Ada garis yang perlu disebut dengan jelas. Sulit itu satu hal. Menyakitkan itu hal lain.

Kalau seseorang dalam hidupmu secara rutin merendahkanmu, mengontrol apa yang kamu lakukan atau siapa yang kamu temui, membuatmu takut, memutarbalikkan kata-katamu sampai kamu ragu pada ingatanmu sendiri, atau membuatmu terus-menerus merasa kecil dan cemas selama berbulan-bulan, itu bukan keunikan sifat yang harus dihadapi. Itu hubungan yang merusak kesehatanmu, dan kamu tidak perlu menyelesaikannya sendiri. Seorang terapis bisa membantumu melihat pola itu dengan jelas dan mencari tahu pilihan nyatamu, termasuk bagaimana caranya lebih aman. Kalau ada rasa takut untuk keselamatanmu di dalamnya, itu alasan untuk mencari bantuan sekarang, bukan nanti.

Dan kalau tekanan terus-menerus dari hubungan yang berat sudah menarikmu ke tempat yang lebih gelap, kalau kamu kehilangan tidur, takut menjalani hari-hari, merasa tanpa harapan atau seperti bebannya sudah tidak sanggup lagi dipikul, tolong perlakukan itu sebagai sinyal yang memang seharusnya. Bicaralah dengan dokter atau profesional kesehatan mental. Ceritakan pada orang yang kamu percaya. Semua ini tidak berarti kamu menangani hal-hal dengan buruk atau kamu terlalu sensitif. Ini berarti kamu telah memikul lebih banyak dari yang seharusnya dipikul satu orang, dan ada orang-orang yang memang tugasnya membantumu menaruhnya.

Menjaga ketenanganmu tidak pernah soal menjadi keras hati atau menutup diri dari orang lain. Ini soal menjaga cukup banyak dari dirimu tetap utuh, sehingga masih ada yang bisa diberikan, kepada orang-orang yang memang pantas, dan yang paling utama, kepada dirimu sendiri.

Sumber

  1. Cleveland Clinic, Your Emotions Are Contagious
  2. PLoS One, Susceptibility to positive versus negative emotional contagion (via PubMed Central)
  3. Harvard Health, Coping with relationship fatigue
  4. American Psychological Association, The benefits of better boundaries

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi