Langsung ke konten utama

HUBUNGAN · KONFLIK & PERBAIKAN

Saat sebuah pertengkaran sebenarnya soal hal lain

Piring tak pernah benar-benar soal piring. Kebanyakan pertengkaran berjalan di atas arus tersembunyi di balik kata-kata, dan begitu kamu bisa merabanya, pertengkaran lama yang sama berhenti berputar. Inilah cara menemukan apa yang sebenarnya kamu pertengkarkan, dan apa yang harus dilakukan setelah menemukannya.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Pria dan perempuan duduk berpose untuk foto

Foto oleh Ayo Ogunseinde di Unsplash

Kamu sedang berdiri di dapur dan pertengkarannya soal cucian piring yang menumpuk. Atau pesan yang tak dibalas selama enam jam. Atau siapa yang seharusnya menelepon tukang ledeng. Lima menit berjalan, suara kalian berdua sudah jauh lebih keras dari yang pantas untuk urusan piring, dan ada bagian kecil dalam dirimu yang tahu itu. Kamu pernah mengalami pertengkaran persis seperti ini sebelumnya. Kamu mungkin akan mengalaminya lagi bulan depan, dengan baju yang berbeda.

Ketika hal kecil meledak jadi hal besar, biasanya itu tanda bahwa hal kecil itu memang bukan masalah sebenarnya. Di balik piring itu ada pertanyaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan piring. Kamu lihat nggak sih, betapa beratnya beban yang aku pikul? Aku berarti nggak sih buat kamu? Aku menghadapi ini sendirian aja ya? Pertanyaan-pertanyaan itu jarang diucapkan langsung. Mereka menyelinap masuk, menyamar sebagai keluhan soal pekerjaan rumah, karena keluhan terasa lebih aman daripada pertanyaan itu sendiri.

Belajar mendengar pertanyaan di balik keluhan mengubah segalanya tentang bagaimana pertengkaran berjalan. Bukan karena itu membuat konflik hilang. Tapi karena itu membuatmu bisa merespons apa yang sebenarnya menyakiti, bukan menyerang umpan yang salah.

Dua jenis pertengkaran, dan kenapa yang satu nggak akan pernah benar-benar selesai

Para peneliti hubungan John dan Julie Gottman, yang sudah puluhan tahun meneliti pasangan di laboratorium, membedakan dua jenis konflik. Sebagian masalah bisa diselesaikan. Masalah ini soal situasi tertentu, dan percakapan yang baik menghasilkan solusi yang bertahan: kita akan bagi tagihan seperti ini, kita akan hadapi mertua seperti itu. Sekali diselesaikan, ya selesai.

Lalu ada jenis yang lain. Gottman menyebutnya masalah abadi (perpetual problems), dan inilah bagian yang mengejutkan banyak orang: menurut perhitungan mereka, sekitar 69 persen konflik yang terus-menerus terjadi pada pasangan sifatnya abadi. Ini adalah perbedaan pendapat yang berakar dari siapa diri kalian masing-masing sebenarnya. Satu orang butuh lebih dekat, yang lain butuh lebih banyak ruang. Satu selalu datang lebih awal, yang lain selalu telat. Satu belanja untuk merasa aman, yang lain menabung untuk merasa aman. Kamu tidak akan bisa menyelesaikan ini, karena tidak ada yang rusak untuk diperbaiki. Ini adalah gesekan dari dua manusia utuh yang berbagi hidup.

Angka itu layak direnungkan sejenak. Kalau sebagian besar hal yang kamu pertengkarkan memang tidak bisa diselesaikan secara permanen, maka "menang" dalam pertengkaran itu memang bukan tujuannya sejak awal. Gottman menemukan bahwa yang benar-benar membedakan pasangan yang baik-baik saja dengan yang tidak, bukanlah apakah mereka berhasil menyelesaikan masalah ini. Tapi apakah mereka bisa terus membicarakannya tanpa percakapan itu berubah jadi racun. Kebalikannya adalah kebuntuan (gridlock), tempat pertengkaran yang sama mengeras, masing-masing orang bertahan di parit pertahanannya, dan percakapan terasa seperti tidak akan pernah membawa ke mana-mana.

Jadi kalau kamu terus mengalami pertengkaran yang sama, kamu tidak sedang gagal. Kamu baru saja menemukan salah satu masalah abadimu. Tugasnya bukan mengalahkannya. Tugasnya adalah belajar berada di sisi yang sama saat menghadapinya.

Apa yang tersembunyi di balik keluhan permukaan?

Bayangkan pertengkaran belakangan ini punya dua lapisan. Ada isinya, yaitu apa pun yang jadi topik pembicaraan. Dan ada maknanya, yaitu apa yang pertengkaran itu buat kalian berdua rasakan tentang diri sendiri dan tentang satu sama lain. Pertengkaran memanas ketika kamu ributkan isinya dan abaikan maknanya.

Sebagian besar makna sebenarnya ada di beberapa tempat ini. Coba lihat apakah ada yang terasa familiar dari pertengkaranmu sendiri:

  • Upaya minta perhatian yang terlewat. "Kamu selalu main hp" jarang benar-benar soal hp-nya. Itu cara seseorang bilang, aku ingin merasa dipilih dan aku nggak merasakan itu.
  • Luka lama yang tertekan lagi. Kalau seorang pasangan tumbuh besar dengan merasa tidak dianggap, satu rencana yang terlupakan bisa terasa jauh lebih berat dari seharusnya. Reaksinya sepadan dengan luka lama, bukan kejadian barunya.
  • Nilai atau kebutuhan yang tidak dilihat. Pertengkaran soal uang terkenal bukan sebenarnya soal uang. Itu soal rasa aman, kebebasan, keadilan, gambaran hidup yang baik menurut apa yang diajarkan sejak dulu ke masing-masing kalian.
  • Permintaan untuk berbaikan yang keluar dengan cara yang salah. Kadang pertengkaran sebenarnya adalah upaya untuk bilang, aku masih sakit hati soal kejadian yang kemarin dan kita belum pernah menuntaskannya.

Perhatikan, tidak satu pun dari ini bisa diselesaikan seperti urusan cucian piring. Kamu tidak bisa memperbaiki "aku ingin merasa dipilih" dengan mencuci piring lebih cepat. Tapi kamu bisa mendengarnya. Dan merasa didengar seringkali memang itulah yang sebenarnya dicari orang itu sejak awal.

Kenapa bisa cepat sekali berubah jadi saling teriak?

Ada alasan fisik kenapa pertengkaran seperti ini melesat jauh dari topik awalnya, dan itu bukan cacat karakter di salah satu dari kalian. Ketika konflik cukup intens, tubuh jadi kebanjiran. Para peneliti yang mempelajari pasangan menggambarkan flooding emosional sebagai kondisi kewalahan di mana gairah emosi naik begitu tinggi sampai kemampuan berpikir jernih hilang. Dalam kondisi itu, kamu mulai menafsirkan setiap gerak-gerik pasanganmu dengan cara yang paling buruk, dan kemampuanmu untuk benar-benar menyelesaikan apa pun jadi hilang.

Kondisi flooded itu kondisi yang buruk banget untuk bernegosiasi. Jantungmu berdebar kencang, penalaranmu menyempit jadi cuma bertahan dan menyerang balik, dan entah bagaimana urusan piring yang awal tadi sudah lenyap sepenuhnya. Itulah kenapa "ayo kita bicarakan sekarang juga" seringkali malah memperburuk keadaan. Kamu tidak bisa menjangkau hal lembut yang sebenarnya di balik pertengkaran itu kalau tubuh kalian berdua meyakini sedang terancam.

Yang perlu dilakukan di sini lebih sederhana daripada menyelesaikan apa pun. Ketika kamu merasa dirimu mulai flooded, langkah baiknya adalah minta jeda, bukan memaksakan diri terus. "Aku mau lanjutin ngobrolin ini, tapi aku butuh waktu dua puluh menit dulu." Lalu benar-benar ambil waktu itu, dan benar-benar kembali. Jeda tanpa kembali itu cuma bentuk pergi yang lebih sopan. Jeda dengan janji untuk kembali adalah salah satu tindakan paling penuh kasih yang bisa kamu lakukan di tengah pertengkaran.

Bagaimana menemukan hal sebenarnya, saat kejadian?

Kamu tidak perlu jadi terapis untuk melakukan ini. Kamu hanya butuh beberapa pertanyaan jujur dan kemauan untuk bertanya, meski kamu lebih ingin merasa benar.

  1. Tanya diri sendiri, apa yang sebenarnya kamu rasakan, di balik amarah itu. Amarah biasanya cuma penjaga pintu. Di baliknya seringkali ada sakit hati, ketakutan, atau kesepian. "Aku marah banget karena kamu lupa" seringkali sebenarnya "aku merasa nggak penting." Sebut itu pada dirimu sendiri dulu. Itu melunakkan cara kamu menyampaikan hal berikutnya.
  2. Katakan perasaannya, bukan vonisnya. "Kamu nggak pernah mikirin aku" itu vonis, dan itu mengundang pembelaan diri. "Malam ini aku merasa sendirian" itu perasaan, dan itu mengundang uluran tangan. Gottman menyebut cara lembut dan tanpa menyalahkan untuk mengangkat sebuah isu sebagai soft start, dan soft start adalah prediktor terbaik untuk bagaimana keseluruhan percakapan akan berjalan.
  3. Ikut penasaran dengan hal di balik reaksi pasanganmu juga. Ketika pasanganmu bereaksi berlebihan terhadap sesuatu yang kecil, itu tandanya kamu menginjak sesuatu yang lebih penting dari yang terlihat. Daripada bilang "kenapa sih dibesar-besarin," coba bilang "ini kelihatannya berarti banget buat kamu, bantu aku ngerti ya." Pertanyaan itu bisa meredakan pertengkaran hanya dengan satu kalimat.
  4. Dengarkan harapan yang tersembunyi di balik keluhan. Hampir setiap keluhan menyimpan kerinduan tersembunyi. "Kamu nggak pernah di rumah" ingin lebih banyak waktu bersamamu. "Kamu nggak bantu" ingin tidak merasa sendirian menanggung beban. Kalau kamu bisa menjawab harapan itu, keluhannya biasanya akan mencair dengan sendirinya.

American Psychological Association, dalam rangkuman riset tentang apa yang menjaga pasangan tetap sehat, sampai pada kesimpulan yang serupa: perbedaan pendapat itu wajar dan bukan tanda hubungan yang buruk, tapi cara kamu bertengkar sangat berpengaruh. Mendengarkan sudut pandang pasanganmu dan berusaha memahami perasaan mereka adalah jalan yang membangun. Penghinaan, mendiamkan (stonewalling), dan menyerang habis-habisan adalah hal-hal yang merusak. Bedanya bukan pada apakah kamu bertengkar. Tapi apakah, di tengah pertengkaran, kalian tetap menjadi orang yang berusaha memahami satu sama lain.

Perbaikan lebih penting daripada pertengkarannya

Ini yang tidak diberitahukan pada siapa pun saat masih muda: tujuannya memang bukan berhenti bertengkar. Pasangan yang bertahan lama tetap bertengkar. Yang mereka lebih pandai lakukan adalah memperbaiki, langkah-langkah kecil yang menarik dua orang kembali mendekat setelah retak. Upaya perbaikan bisa berupa lelucon yang memecah ketegangan, tangan di bahu, suara yang lebih lembut, atau sekadar kalimat jujur "aku nggak suka arah pembicaraan ini." Tidak perlu elegan. Cukup jadi sinyal yang bilang, aku masih mau kita, bahkan sekarang, bahkan saat marah.

Yang membuat upaya perbaikan berhasil adalah apakah orang lain menyambutnya balik. Kamu bisa menawarkan tanda damai dengan sempurna dan diabaikan begitu saja, dan itu menyakitkan. Jadi bagian ini butuh kalian berdua. Ketika pasanganmu melakukan upaya canggung untuk melunakkan suasana, lelucon yang garing atau permintaan maaf setengah hati itu, nilainya lebih besar dari yang terlihat. Menerima upaya perbaikan yang menurutmu belum cukup baik pun adalah bentuk kasih sayang tersendiri.

Bagian lainnya adalah apa yang terjadi setelah panasnya reda. Jangan biarkan pertengkaran yang sebenarnya berat itu menguap begitu saja tanpa pernah menyebut apa sebenarnya masalahnya. Sehari atau dua hari kemudian, ketika kalian berdua sudah tenang, ada baiknya kembali membahasnya. Bukan untuk mengungkit lagi siapa yang benar. Tapi untuk mengatakan bagian yang tersembunyi tadi: "aku rasa aku jadi kesal banget karena aku merasa menanggung semuanya sendirian." Kalimat itu, yang diucapkan saat sudah damai, adalah yang benar-benar bisa menggerakkan masalah abadi. Itu kalimat yang tidak bisa kamu jangkau saat sedang flooded. Banyak pasangan tidak pernah sampai ke sana karena kelegaan setelah pertengkaran berakhir sudah terasa cukup. Padahal belum, sebenarnya. Berakhirnya pertengkaran cuma menghentikan pendarahan. Percakapan setelahnyalah yang menutup lukanya.

Beberapa hal yang membantu perbaikan itu benar-benar bertahan:

  • Mulai dari bagianmu sendiri. "Aku kasar tadi, maaf ya" melunakkan hampir semua orang. Ini tidak merugikanmu sama sekali.
  • Jangan menuntut permintaan maaf dibalas saat itu juga. Berikan punyamu dan biarkan mereka datang dengan permintaan maafnya sendiri, di waktu mereka sendiri.
  • Sebutkan hal yang mendasarinya sekali kalian sudah tenang, dengan lembut, sebagai informasi tentang dirimu sendiri, bukan tuduhan terhadap mereka.
  • Sepakati bersama, katakan langsung, bahwa masalahnya adalah lawannya, bukan satu sama lain. Dua orang melawan masalah selalu lebih baik daripada dua orang saling melawan.

Bagaimana kalau pertengkaran yang sama tidak kunjung selesai?

Sebagian masalah abadi bisa dijalani begitu kalian bisa membicarakannya dengan baik-baik. Sebagian lagi berdiri di atas mimpi atau kebutuhan yang begitu penting sehingga kebuntuannya tidak akan bergerak sekeras apa pun kamu memulai dengan lembut. Ini penting untuk disadari daripada terus-menerus dipaksakan. Kalau kamu sudah mengalami pertengkaran yang persis sama selama bertahun-tahun, kalau itu membuat salah satu atau kalian berdua merasa kecil, atau kalau percakapannya tidak bisa lagi terjadi tanpa berubah kejam, itu bukan tanda kamu rusak. Itu tanda kalian berdua sudah menabrak sesuatu yang lebih besar dari yang bisa ditampung obrolan di dapur.

Terapis pasangan bukan pilihan terakhir atau pengakuan kegagalan. Mereka adalah orang yang terlatih untuk membantumu menemukan hal di balik hal, ketika kamu terlalu dekat untuk melihatnya sendiri, dan untuk menjaga kalian berdua cukup tenang agar benar-benar bisa berbicara. Banyak orang yang saling mencintai sampai di titik ini. Meminta bantuan adalah yang dilakukan orang-orang yang berniat untuk tetap bersama.

Dan kalau pertengkaran itu berhenti terasa seperti konflik dan mulai terasa seperti kamu tidak aman, itu percakapan yang berbeda, dan bukan sesuatu yang harus dihadapi sendirian. Hubungi orang yang kamu percaya atau tenaga profesional yang bisa membantumu memikirkannya.

Lain kali cucian piring itu meledak entah dari mana, coba tetap penasaran satu detik lebih lama. Piringnya memang berisik, tapi jarang jadi inti masalahnya. Inti masalahnya biasanya lebih diam, berdiri tepat di belakangnya, berharap kamu akan menyadari keberadaannya.

Sumber

  1. The Gottman Institute, Managing Conflict: Solvable vs. Perpetual Problems
  2. American Psychological Association, Happy Couples: How to Keep Your Relationship Healthy
  3. National Center for Biotechnology Information, Breaking the cycle of emotional flooding in couple's conflict

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi