Ada pagi-pagi yang bagian paling beratnya justru kesunyian. Sisi lain ranjang, sikat gigi kedua yang sudah tidak ada di sana, kopi yang dulu kamu buat untuk dua orang. Bahkan ketika keputusan berpisah itu benar, bahkan ketika kamu sendiri yang menginginkan perpisahan itu, kesendirian yang begitu biasa bisa tiba-tiba menghantam tanpa aba-aba. Kamu menandatangani surat untuk mengakhiri sebuah pernikahan. Yang tidak pernah diberitahukan siapa pun adalah betapa banyak hal lain yang ikut berakhir bersamanya: kalender bersama, lelucon yang hanya kalian berdua paham, rencana yang sudah separuh kamu susun untuk tiga puluh tahun ke depan.
Rasa sakit itu punya nama, dan itu bukan tanda kelemahan. Itu adalah duka.
Kenapa rasanya seperti kematian padahal tidak ada yang meninggal?
Duka bukan hanya milik pemakaman. Cleveland Clinic mengatakannya dengan sederhana: duka bisa muncul setelah peristiwa apa pun yang mengganggu rasa normal atau jati dirimu, dan perceraian ada di daftar itu, sejajar dengan kehilangan pekerjaan dan sakit berat. Kamu tidak berduka untuk seseorang. Kamu berduka untuk sebuah masa depan. Hari-hari libur yang sudah kamu bayangkan, peran yang kamu jalani, cara kamu memahami hidupmu sendiri. Semuanya harus ditulis ulang, dan itu kehilangan yang nyata, terlepas dari apakah ada orang yang mengirimimu kartu belasungkawa atau tidak.
Yang membuat duka pasca-perceraian terasa aneh adalah betapa kacaunya semua bercampur. Kamu bisa merasa lega yang tulus dan kesedihan yang dalam dalam jam yang sama. Kamu bisa marah pada seseorang dan sekaligus merindukannya. Kamu mungkin berduka untuk pernikahan yang, di akhir-akhirnya, sebagian besar terasa menyakitkan. Semua itu bukan kontradiksi yang perlu diselesaikan. Itu hanya rasanya kehilangan sesuatu yang rumit.
Tubuh juga ikut mencatat. Duka adalah pemicu stres yang berat, dan bisa muncul secara fisik: susah tidur, sakit kepala, perut yang tidak tenang, kelelahan yang tidak hilang meski sudah cukup istirahat, lebih sering sakit dari biasanya. Kalau kamu merasa lemas dan sulit fokus, kamu tidak sedang hancur. Kamu sedang memikul beban yang berat.
Biarkan tahap awal ini berantakan
Minggu-minggu dan bulan-bulan awal bukan waktunya untuk membuktikan apa pun. Mental Health America, dalam panduannya tentang perpisahan dan perceraian, menekankan hal yang penting untuk dipegang: wajar merasa sedih, marah, lelah, frustrasi, dan bingung, dan perasaan itu bisa sangat intens. Biarkan dirimu berfungsi dengan kapasitas yang lebih sedikit untuk sementara waktu. Kamu sedang menyembuhkan diri. Itu butuh energi yang kalau tidak, akan kamu habiskan untuk hal lain.
Beberapa hal ini membantu lebih dari yang kamu kira:
- Pertahankan rutinitas sederhana harianmu. Bangun sekitar jam yang sama, makan makanan yang benar-benar mengisi perut, gerakkan tubuhmu meski sedikit. Rutinitas tidak akan menyembuhkan duka, tapi memberimu sesuatu yang stabil untuk berpijak saat yang lain terasa goyah.
- Jangan lari ke alkohol, rokok, atau apa pun untuk mematikan perasaan. Itu memang bekerja untuk satu malam, tapi kamu akan membayarnya esok pagi, dan biasanya justru memperdalam lubang yang sedang kamu coba naiki keluar darinya.
- Kalau obrolan dengan mantanmu mulai berubah jadi pertengkaran, kamu berhak berhenti. "Kita lanjutkan lagi nanti" adalah kalimat yang lengkap. Menjaga ketenanganmu bukan berarti menghindar.
- Pilih satu hal kecil yang benar-benar milikmu. Jalan kaki sendirian, tontonan yang tidak dipilih orang lain, makanan yang benar-benar kamu suka. Merebut kembali wilayah-wilayah kecil ini adalah cara hidupmu mulai terasa jadi milikmu lagi.
Kesepian itu nyata, dan ia bisa membohongimu
Kesepian setelah perceraian bukan cuma soal merindukan mantanmu. Ini tentang hilangnya seluruh bentuk sosialmu: teman-teman pasangan, keluarga dari pihak mantan, orang yang tadinya selalu ada di kamar sebelah. Ketika semua itu menyusut, rasa berhargamu bisa ikut turun. Itulah bagian yang perlu diwaspadai, karena kesepian suka bercerita (bahwa kamu adalah beban, bahwa lebih baik kamu tidak merepotkan siapa pun) dan cerita itu hampir selalu salah.
Langkah yang terasa berlawanan dengan insting tapi justru membantu adalah tetap menjangkau orang lain, terutama di hari-hari kamu paling tidak ingin melakukannya. Ceritakan pada satu teman kondisimu yang sebenarnya. Terima undangan yang sebenarnya ingin kamu tolak. Membicarakan apa yang kamu rasakan, dengan orang-orang yang membiarkanmu mengatakannya berkali-kali sesuai kebutuhanmu, adalah salah satu cara paling ampuh untuk melonggarkan cengkeraman duka. Kelompok dukungan berisi orang-orang yang mengalami hal yang sama bisa melakukan sesuatu yang teman tidak bisa, yaitu mengingatkanmu bahwa kamu sama sekali tidak aneh karena semua ini.
Mencari tahu siapa dirimu sekarang
Pada titik tertentu, pertanyaannya bergeser. Bukan lagi "bagaimana aku bisa melewati ini", tapi "siapa aku ketika tidak lagi menjadi separuh dari pasangan itu". Bagi banyak orang, ini adalah bagian yang diam-diam penuh harapan dari sebuah perceraian, meskipun awalnya tidak terasa begitu.
Mulailah dari hal-hal yang sempat kamu tinggalkan. Biasanya ada sesuatu yang kamu letakkan begitu saja selama pernikahan. Hobi, persahabatan, jenis musik tertentu, cara kamu dulu menghabiskan hari Sabtu. Ambil lagi salah satunya, bukan karena itu akan menyelesaikan semuanya, tapi karena itu mengingatkanmu bahwa kamu sudah ada sebelum hubungan itu, dan kamu akan terus ada setelahnya.
Lalu biarkan dirimu menambahkan sesuatu yang benar-benar baru. Sebuah kelas, kerja sukarela, keterampilan yang selalu ingin kamu pelajari. Intinya bukan tentang menyempurnakan diri. Intinya, melakukan satu hal yang belum kamu kenal, sendirian, membangun satu bukti kecil dan nyata bahwa kamu memang bisa. Bukti-bukti kecil ini akan bertambah lebih cepat dari yang kamu kira.
Pelan-pelan saja dengan kebiasaan membanding-bandingkan diri. Ada orang yang kamu kenal menikah lagi dalam setahun, dan ada yang lain masih berjuang setelah tiga tahun, dan tidak ada satu pun dari itu yang bisa menjelaskan alur waktumu. Sembuh dari perceraian tidak berjalan sesuai jadwal, dan "tertinggal" itu sebenarnya bukan tempat yang nyata.
Kalau ada anak yang menyaksikan
Kalau kamu sedang menjalani co-parenting, kamu sedang berduka sekaligus menenangkan anak-anak kecil yang juga berduka dengan cara mereka sendiri, dan itu tuntutan besar untuk satu orang. Kamu tidak harus terus-terusan terlihat baik-baik saja untuk mereka. Yang paling membantu anak bukan orang tua yang berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tapi orang tua yang pada dasarnya stabil, menjaga rumah tetap tenang, dan melindungi mereka dari terjebak di tengah-tengah. Jauhkan konflik dari mereka. Biarkan mereka mencintai kedua orang tuanya secara terbuka. Dan rawat dirimu sendiri, demi mereka sama seperti demi dirimu, karena kestabilanmu adalah hal yang mereka pinjam.
Kapan sebaiknya mencari bantuan yang lebih serius?
Duka akibat perceraian seharusnya mereda seiring waktu, meskipun jalannya tidak selalu lurus. Mencari bantuan bukan tanda bahwa kamu gagal menghadapinya. Itu justru sering menjadi langkah selanjutnya yang tepat.
Ada baiknya kamu berbicara dengan dokter atau terapis kalau beratnya perasaan itu sama sekali tidak berkurang setelah beberapa bulan, kalau kamu tidak bisa melewati hari-hari biasa, kalau kamu tidur jauh terlalu banyak atau hampir tidak tidur sama sekali, kalau kamu mengandalkan alkohol atau hal lain untuk bertahan, atau kalau kamu kehilangan minat pada hal-hal yang dulu penting dan rasa hampa itu tidak mau hilang. Terapis yang baik tidak akan mengatakan bahwa perceraianmu adalah sebuah kegagalan atau memberimu batas waktu penyembuhan. Mereka akan membantumu memikul duka itu dan perlahan-lahan membantumu berdiri lagi dengan kakimu sendiri.
Dan kalau suatu saat rasa sakit itu terasa terlalu berat untuk ditanggung, atau kamu mulai memikirkan untuk tidak ingin ada lagi, tolong anggap itu sebagai alasan untuk menjangkau bantuan sekarang, bukan nanti. Bicaralah dengan seseorang malam ini. Ada orang-orang yang ingin membantumu melewati ini, dan kamu tidak perlu menahannya sendirian.
Kamu tidak akan selamanya merasa seperti yang kamu rasakan hari ini. Sisi ranjang yang kosong akan berhenti menjadi hal pertama yang kamu sadari. Kesunyian itu, pada akhirnya, akan mulai terasa bukan seperti kekosongan, melainkan seperti ruang.
Sumber
- Mental Health America, Coping with Separation and Divorce
- Cleveland Clinic, Grief: Types, Symptoms & How To Cope
- Mayo Clinic News Network, 7 Steps for Managing Grief and Loss