Langsung ke konten utama

MENGGERAKKAN HASIL · MOMENTUM

Merayakan kemenangan dan membangun momentum

Merayakan kemenangan kecil adalah cara momentum terbangun, karena kemajuan dalam pekerjaan yang berarti adalah bahan bakarnya, bukan hadiahnya. Tujuan besar memang jadi pusat perhatian. Tapi hal-hal kecil yang selesai itulah yang sebenarnya membuat orang terus melangkah. Inilah alasan mengapa menyadari kemajuan adalah salah satu alat paling praktis yang dimiliki seorang pemimpin, dan bagaimana melakukannya tanpa terasa dipaksakan atau hampa.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Tim yang beragam merayakan keberhasilan di meja kantor.

Foto oleh Vitaly Gariev di Unsplash

Banyak orang baik dan gigih terjebak dalam satu kebiasaan. Begitu satu target tercapai, sebelum momennya benar-benar terasa, kamu sudah menoleh ke target berikutnya. Kemenangan itu nyaris tak sempat dirasakan. Kamu bilang pada diri sendiri, nanti saja rayakannya kalau semuanya sudah selesai, kalau proyeknya sudah rilis, kalau tahunnya sudah tutup buku, kalau angkanya sudah sesuai target. Jadi kamu terus menunduk dan tancap gas.

Masalahnya, "selesai" itu terus bergeser. Selalu ada hal berikutnya. Dan tim yang tidak pernah merasa sedang menang, lama-lama kehabisan tenaga, walau di atas kertas pekerjaannya baik-baik saja.

Ini bukan topik ringan. Cara kamu menandai kemajuan menentukan apakah orang tetap termotivasi sepanjang perjalanan panjang, dan apakah mereka masih punya tenaga saat keadaan jadi berat. Ada riset yang mendukung ini, dan ada cara sederhana untuk mempraktikkannya.

Kemajuan itu bahan bakar, bukan hadiah

Untuk waktu yang lama, anggapannya adalah pengakuan itu hal yang diberikan di garis akhir. Kerja dulu, baru dapat hadiah. Dua peneliti Harvard, Teresa Amabile dan Steven Kramer, meneliti ini lebih dalam daripada hampir siapa pun. Mereka mengumpulkan hampir 12.000 catatan harian dari orang-orang yang benar-benar bekerja di bidang pengetahuan, lalu mengajukan pertanyaan sederhana: di hari-hari ketika orang merasa paling termotivasi dan terlibat, apa yang sebenarnya terjadi?

Jawabannya mengejutkan bahkan bagi mereka sendiri. Pendorong terbesar dari hari yang baik bukanlah bonus, bukan pujian sekilas, bukan juga strategi yang jelas. Melainkan membuat kemajuan dalam pekerjaan yang benar-benar berarti. Amabile dan Kramer menyebut ini prinsip kemajuan (progress principle). Ketika orang merasa telah menggerakkan sesuatu ke depan, sekecil apa pun itu, suasana hati, semangat, dan pandangan mereka terhadap pekerjaan itu ikut terangkat bersama-sama. Mereka menamai kondisi batin ini "inner work life", dan ternyata inilah mesin diam-diam di balik kinerja.

Sisi sebaliknya sama pentingnya. Kemunduran terasa lebih menyakitkan dibanding kemenangan yang setara ukurannya. Satu kekalahan kecil bisa merusak seharian penuh, lebih dari satu kemenangan kecil bisa mencerahkannya. Ketimpangan ini penting untuk diingat, karena artinya, denyut tetap dari kemajuan kecil yang terlihat bukanlah sekadar pelengkap. Itulah cara menjaga energi tim tetap di atas permukaan.

Jadi merayakan kemenangan sebenarnya bukan soal mengadakan pesta. Ini soal membuat kemajuan itu terlihat, sehingga orang bisa merasakan hal yang menurut riset paling mereka butuhkan.

Kenapa yang kecil dan sering lebih baik daripada yang besar dan jarang?

Kebanyakan organisasi menyimpan pengakuan untuk momen-momen besar. Peluncuran. Akhir kuartal. Evaluasi tahunan. Momen-momen itu memang penting, tapi kalau itu satu-satunya saat orang mendengar bahwa pekerjaannya berjalan baik, pengakuan jadi seperti cuaca langka, bukan iklim yang terus ada.

Gallup telah meneliti ini pada jumlah pekerja yang sangat besar, dan polanya konsisten: orang yang mendapat pengakuan dari atasannya kira-kira sekali seminggu jauh lebih terlibat dibanding mereka yang hanya sesekali mendengarnya. Ritme mingguan tampaknya yang paling terasa. Bukan terus-menerus, bukan juga berlebihan. Cukup teratur.

Ada alasan kenapa yang kecil dan sering lebih efektif daripada yang besar dan jarang. Tujuan jangka panjang, secara definisi, sebagian besar waktunya belum selesai. Kalau yang dihitung cuma puncaknya saja, maka selama berbulan-bulan semua orang terasa "belum sampai". Memecah pendakian menjadi penanda-penanda yang terlihat mengubah satu tujuan jauh dan abstrak menjadi rangkaian tujuan nyata yang bisa dicapai. Setiap penanda yang terlewati adalah bukti bahwa hal itu mungkin, dan buktilah yang membawa orang melewati bagian tengah yang berat.

Momentum sebagian besar adalah perasaan. Rasa bahwa usaha yang dikeluarkan benar-benar bertambah menjadi sesuatu. Kamu membangun perasaan itu dengan menunjukkan pada orang garis yang sudah mereka gambar, bukan cuma ruang kosong di depan.

Ada trik menarik tentang perhatian manusia yang tersembunyi di sini. Orang jauh lebih termotivasi oleh tujuan yang sudah punya sedikit kemajuan, dibanding tujuan yang mulai dari nol, meskipun jarak yang tersisa sebenarnya sama persis. Kartu member yang sudah distempel dua kali dari sepuluh lebih sering diselesaikan daripada kartu kosong yang minta delapan stempel, padahal keduanya sama-sama butuh delapan stempel lagi. Momentum awal itu yang menarik orang maju. Pemimpin yang baik menciptakan efek ini dengan jujur, dengan menyebutkan kemajuan awal secara terbuka, supaya pekerjaan tidak pernah terasa mulai dari nol.

Seperti apa perayaan yang sesungguhnya?

Di sinilah banyak pemimpin salah langkah. Mereka dengar "rayakan kemenangan", lalu langsung berpikir confetti, emoji di Slack, atau "kerja bagus, tim!" yang generik. Orang bisa membedakan pengakuan yang spesifik dari yang cuma refleks. Yang refleks nyaris tidak berarti apa-apa, dan lama-kelamaan malah mengajarkan orang bahwa pujian di sini cuma bunyi kosong.

Yang benar-benar membekas itu konkret dan sedikit personal:

  • Sebutkan hal spesifiknya. "Kerja bagus" cepat menguap. "Cara kamu menangkap kesalahan itu sebelum sampai ke klien menyelamatkan kita dari minggu yang berat banget" justru melekat. Hal spesifik memberi tahu seseorang bahwa kamu benar-benar melihat apa yang mereka lakukan.
  • Kaitkan dengan alasan kenapa itu penting. Sebuah kemenangan terasa lebih besar kalau orang paham apa yang jadi mungkin karenanya. Hubungkan hal kecil itu dengan tujuan besar yang dilayaninya.
  • Buat terlihat oleh orang lain, kalau bisa. Pengakuan di depan rekan-rekan lebih berbobot dibanding kata-kata pelan berdua saja, dan itu mengajarkan seluruh kelompok seperti apa hasil kerja yang baik. Tapi kenali dulu orangnya. Ada yang senang dipuji di depan umum, ada juga yang lebih memilih menghilang saja rasanya.
  • Tandai juga kemenangan yang masih dalam proses, bukan cuma yang sudah selesai. Masalah sulit yang berhasil dipecahkan, percakapan berat yang ditangani dengan baik, draf yang akhirnya cukup layak untuk dilanjutkan. Momen-momen inilah inti dari prinsip kemajuan.
  • Biarkan singkat saja. Perayaan tidak perlu seremoni. Tiga puluh detik yang tulus di awal rapat sering kali berdampak lebih besar daripada acara yang tercatat di kalender.

Satu hal lagi yang gampang terlewat: biarkan orang merasakan kemenangannya dulu sebelum kamu bergeser ke hal lain. Kalau satu-satunya responmu terhadap sebuah penyelesaian adalah "bagus, sekarang lanjut ke berikutnya", secara diam-diam kamu memberi tahu semua orang bahwa pekerjaan itu tidak pernah benar-benar cukup baik. Beri momen itu ruang untuk bernapas. Jeda itu bagian dari intinya.

Bangun penanda sebelum kamu membutuhkannya

Kalau merayakan kemenangan bergantung pada apakah kamu ingat melakukannya saat itu juga, itu tidak akan terjadi. Niat baik itu akan terkubur di bawah masalah berikutnya yang mendesak. Pemimpin yang berhasil menjaga momentum tidak mengandalkan ingatan. Mereka membangun penanda-penanda itu ke dalam pekerjaan sejak awal.

Artinya, memecah tujuan panjang menjadi tahap-tahap yang benar-benar bisa dicapai dan terlihat. Bukan angan-angan samar, tapi checkpoint nyata dengan batas yang jelas, sehingga semua orang tahu kapan sesuatu sudah terlewati. Draf yang disetujui. Pelanggan pertama yang aktif. Jumlah bug yang turun sampai nol. Inti dari sebuah checkpoint adalah mengubah tujuan jauh menjadi sesuatu yang bisa diselesaikan minggu ini, dan menyelesaikan sesuatu adalah seluruh jalur pasokan motivasi.

Beberapa kebiasaan praktis akan memudahkan ini bertahan lama:

  1. Tetapkan tonggak pencapaian bersama tim, bukan untuk tim. Ketika orang ikut menentukan apa yang dianggap kemajuan, mereka jauh lebih terlibat untuk mencapainya, dan kamu pun tidak akan salah merayakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka anggap penting.
  2. Buat kemajuan terlihat di tempat bersama. Papan sederhana, tracker, atau catatan rutin dalam rapat. Orang perlu bisa melihat sendiri garis itu bergerak, tanpa harus kamu jelaskan setiap saat.
  3. Jadwalkan momen rutin untuk menengok ke belakang. Lima menit di awal check-in mingguan untuk bertanya "apa yang bergerak maju?" mengubah pengakuan dari sesuatu yang cuma kamu harap ingat, menjadi sesuatu yang otomatis terjadi.
  4. Pisahkan masukan yang membangun dari pengakuan. Mencampur keduanya membuat orang jadi was-was menanti kata "tapi" setiap kali kamu memuji, dan pujian pun berhenti membekas. Ada tempat untuk keduanya. Cuma bukan dalam satu napas yang sama.

Semua ini tidak rumit. Yang dibutuhkan hanyalah keputusan untuk melakukannya dengan sengaja, lalu memberinya tempat untuk hidup, supaya bertahan di minggu-minggu sibuk saat kamu biasanya akan lupa.

Bagaimana kalau kemenangannya langka?

Kadang tidak banyak yang bisa dirayakan. Sebuah proyek berjalan berat. Hasilnya belum kelihatan. Tim lelah dan agak patah semangat, dan pengakuan yang riang gembira justru akan terasa palsu.

Sikap positif yang dipaksakan di masa sulit justru berbalik jadi buruk. Orang tahu kalau mereka sedang "dikelola". Yang lebih membantu adalah kejujuran yang dipadukan dengan sudut pandang yang lebih kecil. Ketika papan skor besar terlihat suram, carilah kemenangan yang masih nyata: masalah yang kini lebih dipahami dibanding minggu lalu, hubungan yang diperbaiki, seseorang yang tetap hadir dengan mantap padahal lebih mudah untuk menyerah. Usaha dan pembelajaran juga termasuk kemajuan, meski hasilnya belum datang.

Inilah juga saat kestabilanmu sendiri paling berarti. Tim mengambil isyarat emosional dari siapa pun yang memimpin, dan pemimpin yang bisa menemukan serta menyebutkan kemajuan yang sungguh nyata di masa sulit, memberi orang lain pijakan yang kokoh. Bukan keceriaan palsu. Melainkan kejujuran yang jernih: "ini yang sebenarnya sedang berjalan baik, dan ini yang akan kita lakukan berikutnya."

Ini baik untuk orangnya, bukan cuma untuk angka

Gampang sekali menganggap semua ini sekadar alat produktivitas, dan memang benar itu salah satu fungsinya. Tapi ada lapisan manusiawi di baliknya yang patut diperhatikan serius.

Merasa bahwa pekerjaanmu dilihat dan berarti, itu melindungimu. Satu studi yang terbit di jurnal kesehatan masyarakat menemukan bahwa karyawan yang benar-benar merasa dihargai di tempat kerja memiliki risiko kardiovaskular yang secara terukur lebih rendah, bahkan setelah para peneliti memperhitungkan faktor-faktor lain. Rasa dihargai tampaknya berfungsi hampir seperti sumber daya kesehatan. Sebaliknya, bekerja keras berbulan-bulan tanpa merasa itu diperhatikan, adalah jalan cepat menuju kelelahan total.

Jadi ketika kamu membangun kebiasaan memperhatikan kemajuan, kamu sebenarnya melakukan dua hal sekaligus. Kamu menjaga tim tetap cukup termotivasi untuk menghasilkan kerja terbaiknya, dan kamu menjaga orang-orang yang melakukannya. Dua hal itu bukan bersaing satu sama lain. Itu tujuan yang sama, dilihat dari dua sisi.

Pemimpin yang dikenang orang biasanya bukan yang paling keras mendorong. Melainkan yang membuat pekerjaan itu terasa sedang menuju ke suatu tempat, yang bisa menunjuk pada jarak yang sudah ditempuh, saat orang lain hanya melihat betapa jauhnya sisa perjalanan. Kemampuan itu kecil dan bisa dipelajari. Intinya cuma soal memperhatikan, mengucapkannya dengan lantang, secara teratur, terhadap kemajuan yang sebenarnya sudah terjadi di depan matamu.

Kalau pengakuan sudah lama sepi di timmu, kamu tidak perlu program besar untuk memulainya. Kamu cuma butuh satu hal yang spesifik dan jujur, dikatakan pada satu orang minggu ini. Lalu satu lagi minggu depan. Momentum yang sesungguhnya dimulai sekecil itu.

Sumber

  1. Harvard Business Review, The Power of Small Wins (Teresa Amabile dan Steven Kramer)
  2. Gallup, Organizations Can Redefine Feedback by Including Recognition
  3. Frontiers in Public Health (PMC), Taking appreciation to heart: appreciation at work and cardiovascular risk in male employees

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi