Langsung ke konten utama

KEPEMIMPINAN · MENCEGAH KELELAHAN

Menyelipkan pemulihan ke dalam pekerjaan

Kebanyakan tim memperlakukan istirahat sebagai sesuatu yang kamu dapatkan di akhir pekan, setelah pekerjaan selesai. Itu terbalik. Kalau kamu memimpin orang, pemulihan adalah bagian dari rancangan pekerjaan, dan kamu lebih bisa mengaturnya daripada yang kamu kira.

Perempuan duduk di depan meja kayu cokelat

Foto oleh Brooke Cagle di Unsplash

Bayangkan hari Jumat sebelum long weekend. Separuh timmu sudah kehabisan tenaga, meyakinkan diri sendiri bahwa mereka akan tidur cukup, ketemu teman, akhirnya benar-benar istirahat. Mereka sungguh-sungguh berniat begitu. Lalu Senin tiba, dan tangki energinya nyaris tidak lebih penuh dari sebelumnya. Kelelahan itu bukannya pulih. Ia cuma ditunda.

Ini jebakan yang dialami banyak tim kerja keras. Kita memperlakukan pemulihan sebagai hadiah setelah pekerjaan selesai, sesuatu yang terjadi jauh dari pekerjaan dan hanya setelahnya. Jadi ia terus terdesak ke pinggir. Deadline selalu menang. Istirahat selalu menunggu.

Kalau kamu memimpin siapa pun, bahkan satu orang saja, ini adalah salah satu hal terpenting yang akan kamu lakukan kuartal ini. Sebab burnout bukan kelemahan orang-orangmu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikannya sebagai sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak dikelola dengan baik, ditandai dengan kelelahan, sikap sinis yang makin membesar terhadap pekerjaan, dan perasaan menjalar bahwa apa pun yang kamu lakukan tidak pernah cukup baik. Baca lagi kalimat itu. Yang disebut adalah tempat kerjanya, bukan pekerjanya. Itu juga sinyal tentang di mana solusinya harus dicari.

Istirahat tidak bekerja seperti yang kita kira

Ada satu hal menjengkelkan yang sudah diberi nama oleh para peneliti: paradoks pemulihan. Momen kamu paling butuh pulih, saat kamu terkuras dan terforsir habis, justru momen kamu paling tidak mampu melakukannya dengan baik. Orang yang lelah cenderung meraih hal yang paling gampang. Mereka doomscrolling. Mereka setengah nonton acara TV sambil membalas satu email lagi. Mereka ambruk, bukannya pulih.

Jadi pemulihan tidak terjadi otomatis, dan waktu libur bukan berarti sama dengan istirahat. Kamu bisa mengambil libur akhir pekan penuh dan tiba di hari Senin dalam kondisi tidak lebih baik, karena tubuh dan pikiranmu sebenarnya tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk tenang.

Gagasan yang lebih berguna di sini adalah detasemen psikologis (psychological detachment). Artinya benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan secara mental. Menutup laptop itu bagian yang mudah. Bagian yang sulit adalah menghentikan pergolakan di kepala, latihan diam-diam untuk percakapan sulit besok, email yang terus kamu susun ulang dalam perjalanan pulang. Riset soal ini konsisten: orang yang bisa benar-benar menjauh secara mental saat jam kerja usai melaporkan kepuasan hidup yang lebih tinggi dan tekanan yang lebih rendah, dan yang menarik, mereka tidak jadi kurang berdedikasi saat kembali bekerja. Melepaskan diri tidak membuat orang jadi kurang peduli. Ia membuat kepedulian itu bisa bertahan lama.

Nah, ini bagian yang jadi tanggung jawab pemimpin. Apakah orang-orangmu bisa melepaskan diri sangat dipengaruhi oleh tuntutan yang kamu tetapkan. Tumpuk beban kerja, ping di luar jam kerja, dan target yang terus berubah, maka detasemen jadi hampir mustahil, sebaik apa pun niat seseorang. Batas yang mereka butuhkan adalah batas yang kamu bantu tetapkan.

Pemulihan kecil mengalahkan pemulihan heroik

Naluri kita mengira pemulihan harus besar. Liburan panjang. Cuti sabatikal. Jeda total. Semua itu membantu, tapi jarang terjadi, dan tim tidak bisa berjalan hanya mengandalkannya.

Yang benar-benar menjaga orang tetap utuh adalah hal-hal kecil, yang dilakukan berulang. Jeda singkat di siang hari sungguh berdampak. Bahkan jeda sebentar dari tugas berat bisa memulihkan fokus dan menstabilkan suasana hati, dan orang yang sempat menjauh sejenak kembali dengan pikiran lebih tajam dibanding mereka yang terus memaksakan diri tanpa henti. Tubuh perlu keluar dari siaga tinggi dan kembali ke kondisi normal secara rutin, bukan cuma setahun sekali.

Jenis jeda juga penting. Scroll ponsel tetap menyalakan sirkuit otak yang sama dan nyaris tidak bisa disebut istirahat. Jalan kaki sebentar, beberapa menit di luar ruangan, obrolan yang benar-benar lepas dari urusan proyek, peregangan tanpa menatap layar: semua itu membiarkan sistem tubuhmu benar-benar mereda. Yang penting bukan aktivitasnya. Yang penting adalah jeda yang sungguh-sungguh memutus hubunganmu dengan pekerjaan.

Ini kabar baik, karena hal-hal kecil ini justru yang bisa dirancang seorang pemimpin ke dalam ritme kerja mingguan. Kamu tidak perlu persetujuan anggaran untuk membiarkan timmu bernapas.

Seperti apa bentuknya kalau kamu yang memimpin?

Semua ini tidak akan terjadi hanya dengan menyuruh orang untuk "menerapkan self-care" lalu berharap yang terbaik. Pemulihan jadi nyata kalau ia dibangun ke dalam cara kerja berjalan. Beberapa langkah yang benar-benar mengubah keadaan:

  1. Jadikan jeda sesuatu yang sah. Jalan kaki sepuluh menit di antara tugas berat bukan kemalasan, dan orang-orangmu perlu melihat bahwa kamu sungguh percaya itu. Ambil jedamu sendiri secara terbuka. Jangan jadwalkan rapat bertumpuk tanpa jeda. Kalau kalender tidak punya ruang kosong sama sekali, kamu sudah merancang kelelahan tanpa kamu sadari.
  2. Lindungi jam di luar kerja seolah ia menopang segalanya, karena memang begitu. Kalau kamu mengirim pesan jam 10 malam, timmu belajar bahwa harinya tidak pernah benar-benar berakhir, walau kamu bersumpah tidak mengharapkan balasan saat itu juga. Simpan pesannya sebagai draf. Kirim jam sembilan pagi. Ketenangan yang kamu jaga untuk mereka itulah yang membuat mereka bisa benar-benar lepas dan kembali dengan utuh.
  3. Perhatikan beban kerja, bukan cuma kalender. Detasemen akan runtuh kalau tuntutannya memang terlalu tinggi. Hal paling menghargai yang bisa dilakukan pemimpin adalah menjaga beban tetap dalam batas kemampuan manusia dan memangkas tekanan waktu yang sebenarnya tidak perlu. Sebagian besar memang tidak perlu.
  4. Beri orang-orangmu suara dalam menentukan cara mereka bekerja. Salah satu penyebab besar burnout adalah tidak punya kendali atas jadwal, penugasan, atau ritme kerja sendiri. Sebisa mungkin, kembalikan sebagian kendali itu. Otonomi adalah salah satu bentuk pemulihan paling murah dan paling kuat yang bisa kamu berikan.
  5. Pulihkan diri secara terbuka. Beri tahu timmu kalau kamu sedang logout, mau lari pagi, atau mengambil cuti setengah hari. Ketika orang paling senior di ruangan memperlakukan istirahat sebagai hal wajar, semua orang di bawahnya akhirnya juga merasa diizinkan. Contohmu jauh lebih menentukan aturan dibanding kebijakan tertulis mana pun.

Perhatikan, hampir semua ini bukan soal mengajari individu untuk lebih pandai bersantai. Ini soal kondisi yang kamu ciptakan. Itulah inti persoalannya. Kamu bisa memberikan semua teknik pernapasan di dunia ini, tapi itu tidak akan bertahan melawan beban kerja yang tidak pernah berhenti.

Bagaimana kalau sudah melampaui sekadar istirahat?

Membangun pemulihan ke dalam cara kerja bisa mencegah banyak hal. Tapi ia tidak menyelesaikan segalanya, dan berpura-pura sebaliknya justru merugikan orang-orangmu.

Kalau ada orang di timmu yang sudah terlalu dalam terjebak, lelah dengan cara yang tidak akan tersembuhkan oleh akhir pekan, takut menghadapi pekerjaan, menarik diri dari orang lain, atau sekadar berjalan tanpa energi apa pun yang dicoba, itu sudah melewati titik di mana perubahan budaya kerja saja bisa menolongnya. Yang perlu dilakukan saat itu adalah meringankan beban kerja yang sebenarnya sebisa mungkin, dan membuatnya benar-benar aman untuk menggunakan dukungan kesehatan atau konseling apa pun yang disediakan organisasimu. Burnout yang sudah mengendap sering kali butuh dokter atau tenaga profesional kesehatan mental, lebih dari sekadar hari Selasa yang lebih baik. Mengarahkan seseorang ke bantuan itu, dan sungguh-sungguh bermaksud begitu, juga bagian dari kepemimpinan.

Dan perhatikan juga dirimu sendiri dalam semua ini. Para pemimpin terkenal pandai merancang istirahat untuk semua orang kecuali diri mereka sendiri, lalu heran kenapa ketenangan mereka habis. Kamu tidak bisa membagikan ketenangan yang tidak kamu punya. Membangun pemulihan ke dalam cara kerja berarti membangunnya dulu ke dalam dirimu sendiri, supaya ada sesuatu yang tersisa untuk kamu andalkan saat tekanan meningkat.

Sumber