Ada jenis kelelahan tertentu yang muncul karena menanggung beban orang lain. Ini berbeda dari lelah setelah hari kerja yang berat. Ini lebih berat, lebih diam-diam, dan ia ikut pulang bersamamu. Kamu membalas pesan jam 10 malam karena seseorang sedang cemas dan kamu tidak ingin dia menunggu. Kamu masuk ke rapat dengan tenang karena ruangan itu butuh sosokmu yang tenang, meski minggu-mingumu sendiri sedang berantakan. Kamu menampung kekhawatiran orang lain agar mereka yang di bawahmu tetap bisa bekerja. Sampai hari Jumat, kamu sendiri sudah tidak yakin ke mana dirimu menghilang.
Kalau semua itu terasa familiar, kamu sudah tahu berapa harga dari memimpin. Bagian yang tidak pernah diberitahukan siapa pun adalah, harga itu nyata, ia menumpuk, dan menjadi tanggung jawabmu sendiri untuk mengelolanya. Tidak ada yang akan datang mengurusnya untukmu.
Ini bukan tulisan tentang melakukan lebih sedikit atau peduli lebih sedikit. Ini tentang bertahan lama. Pemimpin yang timnya berkembang dalam jangka panjang hampir selalu bukan mereka yang membakar diri paling panas dan paling cepat habis. Mereka adalah orang-orang yang belajar menjaga ketenangan dirinya sendiri, agar masih ada sosok manusia di dalam peran itu.
Pekerjaan tersembunyi di dalam pekerjaan
Sebagian besar hal yang menguras energi seorang pemimpin bersifat tak terlihat, bahkan oleh pemimpin itu sendiri. Dua peneliti, Dina Denham Smith dan Alicia Grandey, menjelaskannya dengan tepat di *Harvard Business Review*: pemimpin melakukan kerja emosional yang terus-menerus. Kamu menampilkan rasa percaya diri yang tidak selalu benar-benar kamu rasakan. Kamu menyemangati tim menuju sebuah rencana yang diam-diam kamu sendiri ragukan. Kamu menahan ekspresi wajah tetap tenang saat kabarnya buruk. Semua kerja mengelola perasaan itu adalah kerja juga, dan ia menguras sesuatu, meski tidak pernah tercatat di kalender atau daftar tugas.
Inilah alasan mengapa hal ini penting bagi ketenanganmu. Ketika usahanya tak terlihat, kamu tidak memperhitungkannya. Kamu menyusun harimu seolah-olah yang kamu lakukan hanya menghadiri enam rapat, padahal sebenarnya kamu juga tetap tenang saat membicarakan PHK, menenangkan seseorang yang hampir putus asa, dan dua kali menahan rasa frustrasimu sendiri. Lalu kamu bertanya-tanya mengapa kamu merasa hancur oleh jumlah kerja yang, di atas kertas, terlihat wajar saja.
Langkah pertama untuk menjaga dirimu adalah sekadar melihat beban yang sesungguhnya. Kamu tidak lemah karena merasa lelah. Kamu sudah melakukan lebih banyak dari yang tertulis di jadwal.
Sebenarnya kamu melindungi diri dari apa?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan burnout sebagai sindrom yang muncul akibat stres kerja kronis yang tidak dikelola dengan baik. Ia muncul dalam tiga bentuk: kamu merasa terkuras dan hampa, kamu jadi sinis atau menjauh dari pekerjaan yang dulu kamu sukai, dan kamu mulai merasa tidak ada satu pun hal yang kamu lakukan dengan baik lagi. Bacalah daftar itu sebagai seorang pemimpin, dan bahayanya jadi jelas. Ketiga hal itu justru membuatmu semakin sulit melakukan satu hal yang paling dibutuhkan dari peranmu, yaitu menjadi sosok yang stabil bagi orang lain.
Bagian kejamnya adalah lingkaran setannya. Makin terkuras dirimu, makin sulit menetapkan batasan yang bisa mengisimu kembali, jadi kamu memberi lebih banyak, dan makin kosong. Sinisme terasa seperti bentuk perlindungan. Padahal sebenarnya itu adalah lampu peringatan dini.
Menjaga ketenanganmu adalah cara agar kamu berada di sisi yang menguntungkan dari lingkaran itu, bukan tercengkeram olehnya.
Menjaga batas tanpa kehilangan kehangatan
Banyak pemimpin menolak batasan karena mengira itu berarti tidak peduli. Yang benar justru sebaliknya. Batasan adalah yang membuatmu bisa terus peduli untuk waktu yang lama. Beberapa yang bertahan bahkan saat tekanan tinggi:
- Tentukan lebih dulu apa yang benar-benar mendesak. Kebanyakan hal yang terasa mendesak jam 9 malam sebenarnya hanyalah kecemasan orang lain yang meminjam malammu. Pilih daftar pendek hal-hal yang benar-benar tidak bisa menunggu sampai pagi, masalah keselamatan yang nyata, keadaan darurat sungguhan, dan biarkan sisanya menunggu. Hampir semua hal bisa menunggu lebih baik dari yang kamu kira.
- Jaga satu titik berhenti yang jelas dalam harimu. Pilih waktu untuk benar-benar berhenti kerja dan tepati itu, bahkan hanya beberapa malam dalam seminggu untuk awal. Bukan soal jam berapa persisnya. Yang penting ada tembok antara pekerjaan dan sisa hidupmu, agar pikiranmu benar-benar bisa keluar dari kantor.
- Biarkan orang lain duduk sebentar dengan ketidaknyamanan kecil. Kamu tidak harus menyelesaikan setiap kekhawatiran saat itu juga muncul. Ketika kamu buru-buru menenangkan segalanya secara instan, kamu justru mengajarkan tim untuk membawa segalanya padamu secara instan. Kadang, respons paling baik adalah kalimat tenang, "Kita lihat ini besok ya."
- Tolak permintaannya, bukan orangnya. "Aku belum bisa ambil ini sekarang" tetap menjaga hubungan tetap hangat, sambil tetap melindungi waktumu. Kamu bisa tetap murah hati sekaligus tetap punya batas.
- Berhenti minta maaf karena menjadi manusia. Kamu berhak butuh istirahat, punya hari yang buruk, tidak bisa dihubungi setiap saat. Pemimpin yang mencontohkan hal ini membuat semua orang di sekitarnya merasa aman untuk juga menjadi manusia.
Tidak satu pun dari ini menuntutmu jadi lebih keras. Semua ini hanya menuntutmu jadi lebih jelas.
Istirahat adalah bagian dari kerja, bukan hadiah setelahnya
Ada banyak riset tentang bagaimana orang benar-benar pulih dari stres kerja, sebagian besar berlandaskan penelitian psikolog Sabine Sonnentag. Satu temuan menonjol: jenis istirahat paling ampuh menurut peneliti disebut *psychological detachment*, atau pelepasan psikologis. Bukan sekadar tidak sedang bekerja secara jam kerja. Tapi benar-benar lepas di dalam kepalamu, tidak memutar ulang rapat tadi saat mandi, tidak menyusun draf email dalam tidurmu. Studi mengaitkan jarak mental itu dengan energi yang lebih besar dan kesejahteraan yang lebih baik, lebih konsisten dibanding hampir semua hal lain yang kamu lakukan di luar jam kerja.
Bagi seorang pemimpin, inilah bagian yang paling mudah dilewatkan dan paling mahal kalau hilang. Kalau tubuhmu di sofa tapi pikiranmu masih di ruang rapat, kamu belum benar-benar pulih. Kamu hanya berpindah lokasi. Pelepasan yang sesungguhnya adalah yang mengembalikan kejernihan pikiranmu, kesabaranmu, dan ruang untuk tetap baik hati di hari Senin.
Beberapa cara memulainya:
- Buat ritual kecil yang menandai akhir hari kerja, bahkan cukup lima menit, yang memberi tahu otakmu bahwa shift sudah selesai. Tutup laptop, ganti baju, jalan-jalan sebentar keliling blok rumah. Sinyalnya lebih penting daripada ukurannya.
- Alihkan perhatianmu ke sesuatu yang benar-benar menyerapmu, sesuatu yang tidak menyisakan ruang untuk pekerjaan menyusup masuk. Jenis aktivitasnya kurang penting dibanding seberapa penuh ia menarikmu keluar.
- Jaga satu bagian hidupmu yang tidak pernah disentuh pekerjaan. Sebuah hubungan, sebuah kebiasaan, sebuah tempat. Kamu butuh diri yang tetap ada meski jabatanmu tidak ada.
Dan perhatikan ini: ketika kamu benar-benar menganggap serius pemulihan dirimu, kamu memberi izin bagi seluruh timmu untuk melakukan hal yang sama. Riset tentang pemimpin dan istirahat terus menemukan bahwa orang mengambil contoh dari atasan mereka. Kalau kamu membalas email tengah malam, mereka pun akan begitu. Kalau kamu benar-benar berhenti kerja tepat waktu, mereka belajar bahwa mereka juga diperbolehkan.
Kapan ini lebih dari sekadar masa berat?
Ada perbedaan antara kuartal yang berat dan sesuatu yang lebih dalam. Masa berat akan mereda saat tekanannya mereda. Tapi kalau kelelahan itu ikut sampai ke akhir pekan dan waktu liburmu, kalau kamu sudah merasa hambar terhadap pekerjaan yang dulu kamu sukai, kalau kamu tidak bisa tidur, kalau rasa cemas sudah jadi hal biasa setiap Minggu malam, itu layak ditanggapi serius, bukan sekadar ditahan terus.
Kamu tidak perlu menunggu sampai berada dalam krisis untuk mencari dukungan. Dokter, terapis, bahkan seorang coach yang sudah pernah melihat hal serupa bisa membantumu memilah mana yang situasional dan mana yang butuh perhatian lebih. Anehnya, para pemimpin sering justru paling buruk dalam meminta bantuan yang selama ini mereka berikan dengan begitu mudah kepada orang lain. Meminta bantuan bukan tanda kegagalan atau kelemahan. Itu justru kebijaksanaan yang sama yang ingin kamu lihat dari siapa pun yang kamu pimpin.
Menjaga ketenanganmu bukan langkah menjauh dari pekerjaan. Itu caranya kamu tetap cukup baik, dan cukup manusia, untuk terus melakukannya bagi orang-orang yang mengandalkanmu.
Sumber
- World Health Organization, Burn-out an "occupational phenomenon": International Classification of Diseases
- Harvard Business Review, The Emotional Labor of Being a Leader
- National Center for Biotechnology Information, Relationships between recovery experiences and well-being among younger and older teachers
- Spanish Journal of Psychology, Psychological Detachment from Work during Nonwork Time and Employee Well-Being: The Role of Leader's Detachment